BAB 8: PERANG NADA BERDARAH
DARURAT DI PULAU BUNYI
Kiko menggenggam erat buku sejarah yang diberikan Lula, ketika tiba-tiba—
Pulau itu mulai berdarah.
Dari celah-celah batu menyembur cairan merah kental bernada, setiap tetesnya menghasilkan suara:
"Kiko... anakku..." (suara ibunya)
"Jangan percaya mereka!" (suara Pak Cik Mat muda)
"Kami dipaksa berbohong!" (rintihan tujuh Penjaga Nada)
Lula menyeret Kiko masuk ke Kubah Telinga Raksasa. Di dalamnya:
Ratusan ibu-ibu tergantung terbalik dari langit-langit seperti kelelawar, perut mereka dijahit membentuk not balok, mengeluarkan nyanyian paksa yang membuat seluruh pulau bergetar.
"Lihat yang ketiga dari kiri," bisik Lula.
Kiko melihat—ibu kandungnya masih memiliki mata yang utuh, dan sedang menatapnya dengan fokus gila.
"Kau terlambat... mereka sudah memindahkan Segel Terakhir ke adikmu," suara ibu itu terdengar langsung di kepala Kiko.
PENGKHIANATAN TIGA SERANGKAI
Sementara itu di Kampung Cahaya:
Boneka Ibu mengeluarkan jarum dari ruas jarinya, hendak menusuk bayi.
Guru Buta memainkan biola tulang dengan dawai terakhir—rambut pirang milik Lula kecil dulu.
Pak Cik Mat justru menikam boneka ibu dari belakang!
"Aku sudah menyesal 30 tahun..." raungnya sambil mengeluarkan bedug mini dari dalam perutnya.
Tapi terlambat—jarum sudah menyentuh kulit bayi.
Segel Terakhir pecah.
IBU VS ANAK
Di Pulau Bunyi, ibu Kiko tiba-tiba terlepas dari ikatan. Tapi sesuatu salah—
Matanya berubah hitam legam
Dari mulutnya keluar tujuh ekor tikus bermuka manusia (wajah para pengkhianat)
Tangannya meraih leher Kiko: "Raga Penjaga terakhir... akhirnya kumiliki!"
Lula menerjang: "Itu bukan ibu kita! Itu Nada Kosong—penjaga sebenarnya dari pulau ini!"
Dengan cepat, Lula merobek luka kunci musik di dadanya sendiri, mengeluarkan:
Sebuah garpu tala berkarat bertuliskan "Nada Asli Kiko - 5 Tahun Lalu".
"Mainkan ini!"
PERTARUNGAN ANTARA DUA DUNIA
Kiko meniup garpu tala—
Seluruh pulau bergetar.
Kubah Telinga Raksasa pecah, mengeluarkan gelombang suara purba.
Para ibu yang tergantung berubah menjadi angsa bernyawa, menyerang Nada Kosong.
Lula mulai menulis sesuatu di udara dengan jarinya yang mulai menghilang—notasi musik yang belum pernah ada sebelumnya.
Tapi Nada Kosong tertawa: "Not baru? Untuk apa? Dunia sudah—"
Notasi itu menyala merah.
Tiba-tiba, di Kampung Cahaya:
Boneka Ibu meledak menjadi ribuan serangga musik
Biola Guru Buta berubah menjadi ular dan menggigit pemiliknya
Bayi adik Kiko menangis—dengan suara yang memulihkan Bedug Kuno
KEPUTUSAN TERAKHIR
Nada Kosong menjerit kesakitan. "Apa yang kau lakukan?!"
Lula yang hampir lenyap tersenyum: "Aku menciptakan nada pertama yang benar-benar baru sejak dunia dibuat—Nada Ketidaksempurnaan."
Kiko memahami:
Nada ini membebaskan para Penjaga dari kesempurnaan
Membuat Nada Kosong kehilangan kekuatannya
Tapi juga akan menghapus semua musik yang pernah ada
"Terima kasih, Kiko," bisik Lula sebelum menghilang sepenuhnya. "Sekarang... mainkan kami untuk terakhir kali."
Dengan air mata, Kiko mengangkat seruling bambu—
Dan dunia pun bernyanyi untuk terakhir kalinya.
EPILOG: DUNIA TANPA NADA
Tiga tahun kemudian
Kiko (16 tahun) duduk di dermaga, memandang laut yang kini benar-benar diam.
Tidak ada lagi nyanyian
Tidak ada lagi alat musik
Tapi juga tidak ada lagi Penjara Nada
Adik kecilnya (3 tahun) menyodorkan benda aneh:
"Koko, aku temuin ini di pasir!"
Itu adalah... seruling bambu yang sama, tapi sekarang:
Berwarna hitam legam
Ada ukiran tanggal lahir adiknya
Dan mengeluarkan desis aneh ketika ditiup angin
Kiko tersenyum.
"Mungkin... nada-nada itu tidak benar-benar pergi."
Mereka hanya berubah bentuk.
[TAMAT]
CATATAN AKHIR:
Nada Ketidaksempurnaan adalah metafora untuk menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari keindahan
Seruling hitam menandakan lahirnya jenis musik baru yang tidak terikat aturan
Kiko dewasa memilih menjadi penjaga kebisuan, bukan penjaga nada
0 comments:
Posting Komentar