BAB 7: PULAU BUNYI & RAHASIA YANG TERKUNCI
Jalan Batu yang Bernyawa
Kiko menginjakkan kaki di jalan batu yang muncul dari laut. Setiap langkahnya menimbulkan nada-nada kristal yang membentuk tulisan di udara:
"Hanya yang tuli terhadap dunia bisa mendengar kebenaran."
Tiba-tiba—
"Jangan bergerak!"
Suara itu membuat Kiko terpaku. Di depannya, bayangannya sendiri merangkak keluar dari tanah, membentuk sosok mirip dirinya tapi dengan:
Telinga runcing seperti kelelawar
Mulut dijemari yang tersambung dengan tali pusar dari not balok
Mata tanpa pupil, hanya berisi partitur musik kuno
"Akulah Kiko yang ingat segalanya," bisik bayangan itu. "Kau mau tahu apa yang terjadi lima tahun lalu? Sentuh aku—"
Sebelum Kiko bereaksi, tali pusar not balok itu menyentak dan mencekik lehernya!
Guru Musik dengan Rahasia Berdarah
Di Kampung Cahaya, Pak Guru Musik Buta sedang memainkan biola di ruang kelas kosong. Biolanya unik—dibuat dari tulang rusuk manusia, dengan dawai dari rambut pirang.
Setiap kali nada dimainkan:
Satu anak kampung kehilangan suaranya
Lalat-lalat di jendela mati dalam posisi membentuk not musik
Cermin di dinding menangis darah hitam
"Satu lagi... tinggal satu lagi," gumannya sambil memetik dawai terakhir. Wajahnya yang buta tiba-tiba bisa melihat melalui mata telinganya.
Di papan tulis, tergambar peta Kampung Cahaya dengan tanda X di rumah Kiko.
Pertemuan dengan Sang Bayangan
Kiko berhasil melepaskan diri dari cekikan bayangannya dengan memainkan seruling bambu secara insting—nada yang sama persis dengan nyanyian pengantar tidur ibunya dulu.
Bayangan itu menjerit kesakitan lalu berubah wujud menjadi:
Lula versi remaja (16 tahun)
Tubuh setengah transparan dipenuhi luka berbentuk kunci musik
Membawa buku dari kulit pohon bertuliskan "Sejarah Para Penjaga Nada yang Dikhianati"
"Dengarkan," desis Lula yang sudah dewasa. "Pulau ini adalah penjara untuk Penjaga Nada yang gagal. Termasuk... ibu kita yang sebenarnya."
Dia membuka buku ke halaman terakhir—foto ibu Kiko dengan mata dicongkel dan mulut dijahit oleh not balok besi.
Kebenaran yang Memutuskan Jiwa
Ibu Kiko di kampung adalah boneka dari nyanyian yang dibuat oleh Lula sebagai pelindung.
Ibu asli dikhianati oleh tujuh Penjaga Nada (termasuk Pak Cik Mat dan Guru Buta) karena menolak mengorbankan Kiko untuk menyegel Gerbang Mimpi selamanya.
Pulau Bunyi adalah tempat dimana para ibu dari semua Penjaga Nada dikurung—mereka dipaksa melahirkan nada-nada baru untuk kekuatan abadi.
"Kau harus memilih," Lula menangis. "Membebaskan ibu... atau menjadi Penjaga baru yang akan mengunci pulau ini selamanya."
Pengkhianatan di Kampung Cahaya
Sementara itu, Guru Buta sudah berdiri di depan rumah Kiko. Boneka "ibu" Kiko tersenyum aneh:
"Aku tahu kau akan datang, Saudara Ketiga."
Ternyata...
Guru Buta, Pak Cik Mat, dan Boneka Ibu adalah tiga dari tujuh pengkhianat
Mereka menyembunyikan kotak kayu dulu untuk menguji apakah Kiko layak jadi pengganti ibunya
Bedug Kuno sebenarnya adalah alat eksekusi—bukan penjaga
Boneka itu meraih tangan Guru Buta. "Waktunya memanen nada terakhir."
Mereka berdua menatap ke arah adik perempuan Kiko yang baru lahir—bayi yang tak pernah Kiko ingat punya.
BERSAMBUNG KE BAB 8: PERANG NADABERDARAH
Kunci Rahasia:
Bayi adik Kiko adalah reinkarnasi Nyonya Pasang (Penjaga pertama yang dikhianati)
Luka berbentuk kunci musik di tubuh Lula adalah segel untuk Pulau Bunyi
Tali pusar not balok adalah alat untuk mencuri memori musikal makhluk hidup
Pertanyaan untuk Pembaca:
Haruskah Kiko menyelamatkan ibu aslinya yang mungkin sudah gila setelah bertahun-tahun disiksa?
Atau lebih baik mengorbankan pulau untuk menyelamatkan adik bayinya?
Siapa sebenarnya Saudara Ketiga yang disebut boneka ibu?
0 comments:
Posting Komentar