ezdoubler

BAB 5: LONCENG ANGIN & MENARA YANG TERLUP AKAN

Langit yang Berdarah

Ketika Kiko dan Lula melangkah keluar dari Hutan Sikambang, warna langit berubah menjadi merah tua—seperti luka yang mengering. Bulan purnama kini tergantung di posisi yang salah, terbalik seperti mangkuk yang hendak menumpahkan sesuatu.

"Waktu sudah mulai kacau," Lula berbisik, tubuhnya nyaris tembus pandang. "Kita harus menemukan Menara Awan sebelum fajar. Tapi..."

Dia tidak perlu menyelesaikan kalimatnya.

Di kejauhan, sebuah menara dari kabut berputar menjulang di antara awan, tapi—

Setiap kali Kiko berkedip, menara itu berpindah tempat.


Jalan Menuju Langit

Mereka menemukan tangga dari angin di tebing tertinggi Pegunungan Kabut Biru. Tangga itu terbuat dari:

  • Anak tangga pertama: Batu yang bernyanyi ketika diinjak.

  • Anak tangga kelima: Es yang tidak pernah mencair.

  • Anak tangga kesembilan: Bayangan Kiko sendiri, yang menjadi padat.

"Hati-hati," Lula memperingatkan. "Tangga ini menguji kepantasan. Salah langkah, dan kau akan terjatuh... ke kemarin."

Kiko hampir tergelincir di anak tangga ketujuh belas—sebuah tangan dari awan tiba-tiba menyambar lengannya.


Sang Penjaga Terakhir

Tangan itu milik sosok tanpa wajah, tubuhnya terdiri dari badai yang bergerak pelan.

"Kau datang untuk Lonceng Angin," suaranya seperti gemuruh jauh. "Tapi kau tidak membawa yang kubutuhkan."

Kiko mengeluarkan Gendang Sayap dan Suling Bulan. "Aku sudah melewati ujian dua penjaga!"

"Bukan itu." Sang Penjaga mengangkat tangan. "Kau tidak membawa ketukan jantung ibumu."

Lula tiba-tiba berseru: "Itu ada di Bedug Kuno! Selama ini... Bedug itu berdetak dengan jantungnya!"


Rahasia Bedug Kuno

Kilas balik tiba-tiba menyambar:

  • Ibu Kiko ternyata terkurung di dalam Bedug Kuno, jantungnya dipaksa berdetak untuk menahan Gerbang Mimpi tetap tertutup.

  • Pak Cik Mat tahu—dialah yang menyembunyikannya setelah Perang Nada dahulu kala.

  • Lula adalah separuh jiwa Kiko yang dikorbankan untuk menyeimbangkan dunia.

"Jadi selama ini... kita bukan mencari alat musik," Kiko terisak. "Tapi membebaskan ibu."

Penjaga Terakhir mengangguk. "Lonceng Angin bukan benda. Ia adalah nyanyian terakhir ibumu yang akan menyatukan segalanya."


Keputusan yang Mustahil

Kiko dihadapkan pada pilihan:

  1. Memukul Gendang Sayap—memanggil angin untuk membawanya kembali ke kampung, tapi Lula akan lenyap selamanya karena hukum keseimbangan.

  2. Menghancurkan Suling Bulan—mengembalikan semua memorinya tentang ibu, tapi Gerbang Mimpi akan terbuka lebar.

  3. Meniup Suling Bulan dengan nada terbalik—ia bisa menyelamatkan Lula dan ibu, tapi dirinya sendiri akan terjebak di antara dunia.

"Ada cara keempat," bisik Lula tiba-tiba. "Kau bisa menjadi Lonceng Angin itu sendiri."


Pengorbanan dan Permulaan Baru

Dengan gemetar, Kiko:

  • Memukul Gendang Sayap dengan tangan kanan.

  • Meniup Suling Bulan dengan mulut.

  • Dan berteriak dengan suara yang bukan sepenuhnya miliknya—suara ibunya yang tersimpan di Bedug Kuno.

Lonceng Angin akhirnya berbunyi.

Suaranya bukan dari logam, tapi dari langit yang pecah, dari pohon yang berhenti berjalan, dari laut yang tiba-tiba diam.

Dan kemudian—

Ibu Kiko muncul dari kabut, tapi...

"Kenapa kau tidak memberitahuku, Nak? Kau yang seharusnya tetap di dalam Bedug Kuno—bukan aku."

(Bersambung ke Epilog...)


Kunci Akhir:

  1. Plot Twist: Selama ini Kiko adalah Penjaga Nada sejati yang dikeluarkan dari Bedug Kuno oleh ibunya untuk menyelamatkannya dari kutukan.

  2. Ironi: Semua alat musik adalah penjara—Gendang Sayap mengurung angin, Suling Bulan mengurung memori, dan Lonceng Angin mengurung waktu.

  3. Penyelesaian: Solusi sebenarnya adalah mengembalikan nada-nada yang tercuri ke tempat asalnya.

31 Mar 2025

0 comments:

Powered by DaysPedia.com
Waktu Saat Ini di Bangkok
65024pm
Sel, 4 Maret
6:32am 11:54 6:27pm
 
Top