ezdoubler

BAB 6: EPILOG - KAMPUNG YANG BERNYANYI KEMBALI

Dunia yang Disembuhkan

Fajar menyingsing dengan warna yang benar—jingga muda seperti kunyit, bukan merah darah seperti sebelumnya. Kampung Cahaya bangkit dari keheningannya:

  • Bedug Kuno kini berdetak normal, tanpa jantung manusia di dalamnya.

  • Pohon Beringin Tua mengeluarkan kuncup bunga berbentuk genta kecil.

  • Pak Cik Mat duduk termangu di serambi masjid, memeluk kotak kayu kosong dengan erat.

Tapi di tengah kegembiraan itu, ada yang hilang.

Kiko tidak ada di mana-mana.


Di Antara Dua Dunia

Kiko terbangun di tempat yang bukan tempat—sebuah ruang tanpa batas yang dipenuhi:

  • Buku-buku dari awan berisi semua lagu yang pernah ada.

  • Kolam dari kaca memperlihatkan Kampung Cahaya dari masa lalu dan masa depan.

  • Sosok-sosok tanpa wajah yang ternyata adalah para Penjaga Nada sebelumnya, termasuk kakek buyutnya.

"Di mana ibuku?" tanyanya, tapi suaranya hilang ditelan ruangan.

Dari balik kabut, Lula muncul—kini dalam wujud sebenarnya: gadis remaja dengan rambut keperakan dan mata seperti dua bulan purnama.

"Kau memilih jalan ketiga, Kiko. Menjadi Lonceng Angin berarti menjadi batas antara dunia nyata dan Dunia Nada."


Ibu dan Anak, Terpisah oleh Takdir

Ibu Kiko tiba-tiba berjalan mendekat—tubuhnya setengah transparan, seperti Lula dulu.

"Aku seharusnya yang tetap di dalam Bedug Kuno," ujarnya, mengulurkan tangan yang tak bisa disentuh. "Tapi saat kau lahir... kau memiliki nada murni yang bisa menyembuhkan dunia. Aku menyembunyikanmu di Bedug, lalu menciptakan Lula dari separuh jiwamu agar dunia mengira dialah Penjaga Nada."

Kiko menggigit bibir. "Jadi selama ini... Lula adalah bagian dari diriku?"

"Dan kini kau adalah bagian dari langit," jawab Lula. "Tapi ada cara untuk menyeimbangkan semuanya."


Korban Terakhir

Solusinya sederhana dan pedih:

  1. Ibu Kiko harus kembali ke Bedug Kuno sebagai penjaga—selamanya.

  2. Lula akan melebur menjadi angin, menyebarkan nada-nada yang hilang.

  3. Kiko bisa pulang—tapi tanpa ingatan tentang Dunia Nada, musik, atau petualangannya.

"Tidak!" Kiko menjerit. "Aku tidak mau melupakan—"

Tapi ibunya sudah memeluknya—pelukan terakhir yang terasa seperti tiupan angin dingin.

"Kadang penyembuhan terbesar adalah kehilangan,"* bisiknya.


Kiko Kecil yang Kembali

Kiko terbangun di depan Bedug Kuno, peci songkoknya sedikit miring.

"Kiko! Sudah subuh, nak! Ayo bantu ibu jemur pakaian!"

Suara itu... suara ibunya.

Dengan jantung berdebar, Kiko berlari ke rumah—dan melihatnya: ibunya berdiri di beranda, sama seperti dalam foto-foto lama, hidup dan nyata.

"Ibu... aku bermimpi aneh," gumam Kiko sambil mengusap mata.

Ibu itu tersenyum, matanya berkilau aneh. "Mimpi adalah nyanyian dari tempat jauh, Nak."

Dia mengeluarkan seruling bambu tua dari saku—persis seperti yang ada dalam mimpi Kiko.

"Kapan-kapan ibu ajarkan kau main ini, ya?"


Lula yang Kini Menjadi Lagu

Di suatu tempat, sebuah nada baru lahir di antara desau daun:

  • Ia terdengar ketika nelayan melepas perahu di pagi hari.

  • Ia berbisik di balik deru angin yang menerbangkan layang-layang.

  • Dan kadang—hanya kadang—ia seperti tawa kecil yang menggema di telinga Kiko saat ia tertidur.

Kampung Cahaya telah sembuh.

Tapi di sudut tertentu langit, jika kau mendengar dengan sangat seksama... ada sebuah lagu tanpa lirik yang dinyanyikan oleh dua suara:

Satu milik ibu.
Satu milik anak.
Dan satu lagi...
Milik dunia yang pernah mereka selamatkan.

[TAMAT]


Catatan Penutup:

  1. Ironi Halus: Kiko akhirnya mendapatkan ibunya kembali—tapi tanpa tahu bahwa itu hasil pengorbanan besar.

  2. Siklus: Lula yang awalnya "roh seruling" kini menjadi roh alam semesta, menyelesaikan siklus penciptaan.

  3. Warisan: Seruling bambu di akhir adalah alat musik yang sama dari Bab 1—tapi kini hanya menjadi mainan biasa.

Pesan Tersirat:

  • Kehilangan bisa menjadi bentuk penyembuhan.

  • Kadang pahlawan sejati tidak tahu bahwa mereka adalah pahlawan.

  • Setiap nada yang hilang... akan kembali dalam bentuk lain.

Terima kasih telah mengikuti petualangan Kiko!

31 Mar 2025

0 comments:

Powered by DaysPedia.com
Waktu Saat Ini di Bangkok
65024pm
Sel, 4 Maret
6:32am 11:54 6:27pm
 
Top