Serat Darmagandhul
Cerita berdirinya Negara Islam di Demak, hancurnya Negara Majapahit, dimana saat itulah awal mula masyarakat Jawa meninggalkan agama Buda [Shiwa Buddha] dan berganti memeluk agama Islam.) Prosa dalam bahasa Jawa kasar. Diambil dari catatan induk asli peninggalan K.R.T. Tandhanagara, Surakarta.
Diterjemahkan dan diulas kedalam bahasa Indonesia oleh Damar Shasangka

Tergerak dan terdorong hati ini, setelah mengetahui cerita indah, dari Kyai Kalamwadi (Kalam = Ucapan, Wadi = Rahasia), yang dulu pernah berguru menimba ilmu kepada Raden Budi (Buddhi = Kesadaran), mentaati dan menuruti, apa yang selalu diperintahkan oleh guru, setia menjalankan petunjuk, tekadnya sudah tiada lagi keraguan lahir maupun batin, memuja guru bagaikan dewa itu sendiri.

Apapun petunjuk Raden Budi (Buddhi = Kesadaran) sangat jernih, dijunjung dan diresapi didalam hati, benar-benar dihargai lahir maupun batin, tiada peduli walau harus hancur luluh, itulah tekad (Kyai Kalamwadi) mulai pertama (berguru) hingga akhir nanti, diterima oleh Bathara (Hyang Widdhi), segala keinginannya-pun terwujud, sangat besar anugerah Hyang Suksma (Yang Maha Gaib), selalu diberi petunjuk melalui Alam Sahir (Alam = Dunia, Sahir;Sugrho = Kecil, Alam Kecil, Micro cosmos, Jagad Cilik, Bhuwana Alit maksudnya Badan Manusia) maupun Alam Kabir (Alam = Dunia, Kabir;Kubro = Besar, Alam Besar, Macro cosmos, Jagad Gedhe, Bhuwana Agung maksudnya Alam semesta), sehingga akhirnya menjadi Auliya (Manusia Pilihan).

Mampu membaca segala rahasia Hyang Widdhi, dan selalu bisa mematuhi dengan teguh, segala pesan gurunya, yang memerintahkan agar mengajarkan sebuah pengetahuan, agar membuat tenteram hati sesama, dan juga membuka rahasia agar seluruh ahli sastra, bisa meniru dan menyebarkannya, Kyai Kalamwadi (Kalam=Ucapan, Wadi=Rahasia) menulis, diberikan judul SERAT DARMAGANDHUL (Darma = Kebenaran, Gandhul = Menggantung, Mengambang, Darmagandhul artinya KEBENARAN YANG MENGAMBANG), dirangkai dalam syair-syair tembang Macapat (Tembang kecil)

Saat membaca tulisan beliau, cakupan tembang-nya sangat bagus dan gampang dimengerti, jelas dan terang maksudnya, membuat hati terpana, sehingga ingin memiliki (tulisan tersebut) dan ingin menyimpannya, ingin menulisnya ulang untuk diri sendiri, semua isinya, setelah selesai membaca, segera ditulis ulang, berguna untuk menghibur hati.

Saat berdiam diri dirumah, disela-sela waktu bekerja, tembang ini bisa dinyanyikan, sebagai petunjuk bagi orang bodoh (seperti saya, maksudnya Darmagandhul), dan bisa dibuat untuk menentramkan hati, saat beristirahat, saat menganggur tiada pekerjaan, tembang ini bisa dibuat memupuk rasa kasih kepada Hyang Widdhi, tidak banyak menyita waktu untuk menyanyikannya sehingga tak kelaparan anak istri, sekeluarga tetap sejahtera.

Pada akhirnya pasrah kepada takdir, berserah mengikuti kehendak Hyang (Widdhi), telah tercatat di Lokhilmakpul (Laukhil Makfudz =Kitab yang konon berisi catatan-catatan takdir manusia), saat menulis ulang tepat, tanggal Duapuluh tiga hari Tumpak Manis (Sabtu Legi), bulan RUWAH (Sya’ban) tahun JE (tahun ke-empat dalam satu windu yang terdiri atas delapan tahun, yaitu Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir), windu SANCAYA (nama kumpulan windu pada urutan keempat atau terakhir, yaitu ADI, KUNTARA, SENGARA, SANCAYA), masa ke-VI (Masa adalah perhitungan mirip bulan dan dipergunakan untuk pertanian), wuku Wukir (Wuku adalah hari 30-an, dimana satu hari terdiri dari 7 hari biasa atau satu hari sama dengan satu minggu, Wukir adalah nama hari wuku ke-3), pertanda tahun Wuk Guna Ngesthi Nata (Wuk = 0, Guna = 3, Ngesthi = 8, Nata = 1. Jika dibalik 1830).

Terjemahan asli dalam bahasaIndonesia:

Pada suatu hari Darmagandhul bertanya kepada Kalamwadi, begini pertanyaannya,” Apa awal mula penyebab orang Jawa meninggalkan agama Buda (Shiwa Buddha~bukan hanya Buddha) dan berganti memeluk agama Islam?”

Ki Kalamwadi menjawab, “Aku sendiri juga kurang tahu, akan tetapi aku pernah mendapatkan cerita dari guruku, dan guruku adalah orang yang bisa dipercaya, beliau menceritakan awal mula orang Jawa meninggalkan agama Buda (Shiwa Buddha) dan berganti memeluk agama Rasul (Islam).

Bertanya lagi Darmagandhul,”Bagaimanakah ceritanya?”

Ki Kalamwadi lantas berkata,”Hal ini sesungguhnya memang perlu diceritakan agar mereka yang belum mengetahui lantas bisa mengetahuinya.”
Pada jaman dahulu Negara Majapahit sesungguhnya bernama asli Majalengka, sedangkan nama Majapahit itu hanyalah sekedar perlambang, akan tetapi yang belum tahu kisahnya maka nama Majapahit-lah dianggap nama asli.Di Negara Majalengka yang bertahta sebagai Raja terakhir bergelar Prabhu Brawijaya. Kala itu, Sang Prabhu tengah tergila-gila, Sang Prabhu menikah dengan Putri Cempa (Champa), padahal Putri Cempa beragama Islam. Disetiap memadu asmara, Sang Retna (Retna : Intan, maksudnya Putri Cempa) senantiasa menceritakan kepada Sang Raja, tentang keluhuran agama Islam, setiap dipanggil menghadap, tiada lain lagi yang diceritakan, selain memuliakan agama Islam, sehingga membuat ketertarikan hati Sang Prabhu kepada agama Islam.

Tidak berapa lama kemudian, seorang keponakan Putri Cempa yang bernama Sayyid Rahkmat (Sayyid Rakhmad) berkunjung ke Majalengka, serta memohon ijin kepada Sang Raja, agar diperkenankan menyebarkan syariat agama Rasul (Islam). Sang Prabhi mengabulkan apa yang diminta oleh Sayid Rakhmat. Sayid Rakhmat lantas berdiam di Ngampeldenta (daerahSurabaya) dan mensi’arkan agama Rasul (Islam). Mulai saat itu banyak para ulama dari seberang berdatangan, para ulama dan para Maulana menghadap Sang Prabhu di Majalengka, untuk meminta ijin berdiam dipesisir (utara Jawa). Permintaan merekapun dikabulkan oleh Sang Raja. Lama kelamaan apa yang diingini oleh para pendatang mendapat sambutan juga, masyarakat Jawa lantas banyak yang memeluk agama Islam.

Salah satunya adalah Sayit Kramat (Sayyid Karomah) menjadi guru dari orang Jawa yang telah memeluk agama Islam, berkedudukan di daerah Benang wilayah Tuban. Sayit Kramat adalah Maulana dari tanah Arab masih keturunan Nabi Rasulullah (Nabi Muhammad), oleh karenanya dipercayai sebagai seorang guru oleh orang Islam. Banyak orang Jawa yang terpikat dan berguru kepada Sayit Kramat. Seluruh masyarakat Jawa dipesisir utara, mulai ke barat sampai ketimur semua meninggalkan agama Buda (Shiwa Buddha), dan lantas memeluk agama Rasul (Islam). Bahkan mulai daerah Blambangan ke barat hingga daerah Banten, banyak yang pada tertarik ucapan-ucapan Sayit Kramat.

Padahal agama Buda (Shiwa Buddha) telah ada ditanah Jawa selama kurang lebih seribu tahun, semua pengikutnya menyembah kepada Budi Hawa. Budi (Buddhi : Kesadaran ~ disini yang dimaksud adalah Kesadaran Sejati) adalah Dzat Hyang Widdhi, Hawa adalah kehendak hati (maksudnya tanpa paksaan. Menyembah Buddhi Hawa artinya menyembah Kesadaran Sejati tanpa ada paksaan dari siapapun dan apapun : DS), manusia tidak memiliki kekuatan apapun, manusia hanya sekedar menjalani, Buddhi (Kesadaran Sejati ~ Tuhan)-lah yang menggerakkannya.

Sang Prabhu Brawijaya memiliki putra lelaki hasil perkawinannya dengan seorang putrid berkebangsaan Cina, lahir diPalembang, bernama Raden Patah.

Ketika Raden Patah telah beranjak dewasa, berniat menghadap kepada ramandanya, ikut serta saudara lain ayah satu ibu, bernama Raden Kusen. Setibanya di Majalengka Sang Prabhu sempat kebingungan untuk memberikan nama kepada putranya tersebut. Sebab jika mengambil nama dari ramandanya maka harus bernama Jawa Buda karena ramandanya beragama Jawa Buda. Jika mengambil nama menurut para leluhur dahulu, seorang putra Raja yang lahir di wilayah pegunungan harus diberinama Bambang. Jika mengambil nama dari ibunya maka lebih cocok diberinama Kao Tiang, jika mengambil nama dari Arab sesuai dengan agama yang dianut Raden Patah maka pantas diberi nama Sayid atau Sarib. Sang Prabhu lantas memerintahkan Patih dan para nayaka (pejabat) untuk menghadap, semua diminta pertimbangan untuk memberikan nama kepada putranya ini. Sang Patih mengatakan bahwasanya jika menurut leluhur maka pantas diberikan nama Bambang, akan tetapi karena ibunya berasal dari Cina maka lebih baik diberinama Babah, selain pantas juga menyiratkan maksud bahwa Raden Patah ‘pambabare ana Negara liya (lahirnya di daerah luar Jawa)’. Mendengar penuturan Sang Patih yang seperti itu, semua pejabat menyepakati. Dan pada akhirnya Sang Raja kemudian mengumumkan bahwasanya putra beliau yang lahir diPalembang tersebut diberikan gelar dan nama Babah Patah. Hingga sekarang, untuk menyebut anak blesteran Cina Jawa lumrah dinamakan Babah. Pada waktu itu, Babah Patah merasa takut jika tidak menyetujui kehendak ramandanya memberikan nama Babah padanya, sehingga seolah-olah dia juga menyukai nama itu, padahal tidak demikian, sesungguhnya dia tidak menyukai nama Babah tersebut.

Dikala itu Babah Patah lantas diangkat sebagai Bupati didaerah Demak, membawahi seluruh Bupati mulai pesisir Demak ke barat, serta pula Babah Patah dinikahkan dengan putrid dari Ngampelgadhing, cucu dari Kyai Ageng Ngampel (Sayit Rahkmat atau Sunan Ngampel/Ampel ~ keponakan Putri Cempa). Setelah sekian waktu berdiam di Majalengka lantas boyongan ke Demak, berada didesa Bintara. Karena Babah Patah semenjak diPalembang telah beragama Islam, oleh Sang Prabhu diperkenankan tetap menjalankan agamanya di Demak. Sedangkan Raden Kusen waktu itu diangkat sebagai Adipati Terung (daerah Tarik, Mojokerto sekarang), diberikan gelar Raden Arya Pecattandha.

Lama kelamaan syariat Rasul (agama Islam) semakin berkembang pesat, semua ulama meminta perkenanan Sang Prabhu untuk memakai gelar Sunan. Sunan itu artinya budi (buddhi : Kesadaran), akar kecerdasan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, Jika buah budi (Buah Kesadaran) mampu menyadari kepada segala kebaikan, maka manusia seperti itu patut dijadikan tempat ‘sinuwunan (dimintai)’ pengetahuan lahir batinnya. (Maksudnya patut dijadikan guru)

Pada saat itu para ulama budi (kesadaran)-nya masih bagus, belum memiliki keinginan untuk berbuat tidak baik, masih berfokus pada spiritualitas murni. Sang Prabhu Brawijaya melihat dan heran, para ulama Islam kok olah batinnya mirip dengan pengikut agama Buda (Shiwa Buddha), akan tetapi minta disebut Sunan. Spiritualitas yang dijalankan sama dengan pengikut agama Buda. Padahal menurut kabar, penganut sayariat Rasul (Islam) hanya menjalankan puasa tidak sedemikian kerasnya, karena merusak/melanggar syariat (Maksudnya, konon kabar yang diterima Sang Prabhu tentang aturan spiritualitas orang-orang Islam sesuai syariat, tidaklah seketat yang beliau lihat yang dijalankan para Sunan tersebut. Sang Prabhu tidak tahu bahwa para Sunan tersebut menjalankan laku Tassawuf, laku spiritualitas yang memang kadang sedikit berseberangan denga syariat Islam itu sendiri dibeberapa hal). Prabhu Brawijaya-pun mengijinkan permintaan para ulama. Agama Rasul semakin menyebar luas. Semua kejadian diatas memang sangat aneh (maksudnya begitu mudahnya Sang Prabu memberikan ijin), kita tidak menyaksikan sendiri, semua ini berasal dari ingatan para leluhur, manakala kita mendapat cerita ini, sudah sepatutnya otak kita kritis, mau mempercayainya atau tidak, harus benar-benar dipertimbangkan secara matang, sampai sekarang masih Nampak peninggalan-peninggalan sejarah yang berkaitan dengan cerita diatas, masih bisa dinyatakan keberadaannya, oleh karena itu menurutku kejadian diatas bisa dipercaya.

Kala itu Sunan Benang berkeinginan untuk mengunjungikotaKedhiri. Dalam perjalanan tersebut, yang menemani hanya dua orang sahabat (murid). Sesampainya di wilayah Kedhiri bagian utara, tepatnya di wilayah Kertasana (Kertosono), perjalanan mereka terhalang oleh aliran air sungai Brantas yang tengah meluap banjir (namun tidak begitu besar). Sunan Benang beserta dua muridnya masih bisa menyeberang. Sesampainya di sebelah timur sungai mereka mencari tahu agama apa yang dipeluk oleh masyarakat yang tengah berdiam disitu, apakah sudah memeluk agama Islam atau masihkah menjalankan agama Budi (dalam teks asli, tidak tertulis Buda, tapi Budi. Berarti jelas, yang dimaksud adalah agama-agama selain Islam dan keberadaan agama-agama tersebut diikat oleh tali Kesadaran pluralitas. Saling asah asih dan asuh satu sama lain. Agama Budi, kurang lebihnya berarti Agama Kesadaran : DS). Menurut penuturan Ki Bandar (mungkin salah seorang penduduk yang sudah memeluk agama Islam), masyarakat sekitar mayoritas memeluk agama Kalang. Yang memeluk agama Buda hanya beberapa saja, sedangkan syiar agama Rasul (Islam) masih sedikit sekali, tapi sudah mulai merambah kesana. Mayoritas masyarakat disana beragama Kalang, memuliakan Bandung Bandawasa. Bandung dianggap sebagai Nabi. Jika tengah berhari raya, seluruh pengikutnya bersama-sama memakan makanan yang enak-enak, bersuka cita dikediaman masing-masing. Sunan Benang berkata : “Jikalau demikian seluruh masyarakat yang bermukim disini ber-agama Gedhah. Gedhah maksudnya tidak hitam juga tidak putih. Oleh karenanya diwilayah ini patut disebut kota Gedhah.”

Ki Bandar berkata: “Sabda yang telah tuan ucapkan, saya yang menjadi saksinya.” Wilayah di sebelah utarakota Kedhiri lantas terkenal dengan namakota Gedhah. Sampai sekarang-pun masih tetap disebutkota Gedhah. Akan tetapi jarang yang mengetahui asal usul mengapa diberi nama demikian.

Sunan Benang berkata kepada muridnya : “ Kalian berdua carilah banyu imbon (air bersih yang disimpan untuk keperluan memasak) ke pedesaan. Sungai ini masih banjir, airnya masih kotor, jikalau diminum akan membuat sakit perut. Dan lagi, ini sudah masuk waktu shalat Dzuhur, aku hendak berwudlu, hendak menjalankan shalat.”

Salah seorang murid segera pergi kearah pedesaan untuk mencari air bersih. Sesampainya didesa Pathuk dia mendapati sebuah rumah yang terlihat tanpa penghuni lelaki, disana yang ada cuma seorang gadis muda belia. Seorang gadis yang baru beranjak dewasa. Kala itu dia tengah sibuk menenun. Sang murid mendekat serta berkata sopan : “Gadis yang cantik, saya hendak meminta sedikit banyu imbon (air yang disimpan) yang bersih.” Sang perawan terkejut begitu mendengar suara seorang pria yang tiba-tiba menyapanya. Begitu menoleh, seketika terlihat olehnya seorang pria berpakaian santri. Salah mengira sang perawan, dikiranya lelaki tersebut hendak menggodanya, hendak berbuat kurang ajar padanya, oleh karenanya dijawabnya permintaan tersebut dengan ucapan kasar : “Anda ini baru saja melewati sebuah sungai kok malah kesini hendak meminta banyu imbon (air yang disimpan). Disini tidak ada kebiasaan menyimpan air, kecuali air kecing saya ini, jika hendak meminum, minumlah!” (Kesalah pahaman ini terjadi karena memang didaerah dimana sang gadis tinggal, sangat dekat sekali dengan aliran sungai Brantas. Tak mungkin seorang yang berada didaerah situ tidak melihat adanya aliran air sungai disana : DS)

Mendengar jawaban semacam itu, sang santri segera pergi tanpa pamit. Langkah kakinya dipercepat sembari menyumpah serapah sepanjang jalan. Setibanya dihadapan Sunan Benang, segera diceritakannya apa yang baru dialaminya. Mendengar penuturan muridnya, Sunan Benang marah, hingga keluar sumpah-nya. Sumpah yang terucap (darti mulut Sunan Benang) adalah diwilayah tersebut akan sulit mencari air dan setiap gadis serta perjaka yang tinggal disana tidak akan bisa menikah sebelum usianya tua. Begitu usai sumpah terucap, seketika itu juga aliran Sungai Brantas tiba-tiba surut dan lantas meluap menerjang wilayah pedesaan, hutan, ladang dan pesawahan. Banyak desa yang rusak oleh karena terlanggar aliran sungai yang menyimpang jalur. Setelah seluruh air sungai tumpah ke pedesaan, menyusul kemudian menyusut dan lenyap. Hingga sekarang diwilayah Gedhah sangat sulit mencari air, sedangkan para perjaka dan perawan yang tinggal disana banyak yang menjadi perjaka dan perawan tua. Sunan Benang lantas melanjutkan perjalanannya ke Kedhiri.

Pada saat itu tersebutlah seorang makhluk halus (Jin/Asura) bernama Nyai Plencing yang berdiam disebuah sumur diwilayah Tanjungtani. Waktu itu seluruh anak cucunya berdatangan, melaporkan kejadian bahwasanya ada seorang manusia bernama Sunan Benang, sangat suka sekali melakukan kekerasan kepada para makhluk halus yang tidak bersalah, mengunggulkan kesaktiannya. Bahkan aliran sungai yang berasal dari Kedhiri dikutuk sehingga kering seketika. Alirannya sempat keluar dari jalur yang semestinya (sebelum lenyap mengering). Akibatnya banyak desa, hutan, ladang dan pesawahan rusak terlanggar. Semua itu karena ulah Sunan Benang. Bahkan lagi mengutuk penghuni didaerah tersebut agar menjadi perawan dan perjaka tua serta mengutuk didaerah tersebut juga akan kesulitan mencari air dan bahkan mengganti nama wilayah seenaknya dengan nama Gedhah. Sunan Benang memang suka membuat masalah. Begitu mendengar pengaduan anak cucunya seperti itu, Nyi Plencing (diikuti seluruh anak cucunya) segera menyusul kemana Sunan Benang tengah berjalan. Akan tetapi seluruh makhluk halus tadi tidak ada yang bisa mendekati Sunan Benang. Badan mereka terasa panas bagaikan dibakar. Para makhluk halus tadi segera menuju ke Kedhiri. Sesampainya di Kedhiri, segera menghadap Raja mereka dan menceritakan semua yang baru saja terjadi. Raja mereka berdiam di Selabale (sebelah barat kota Kedhiri). Dia bergelar Buta Locaya. Wilayah Selabale tepat berada di kaki pegunungan Wilis. Buta Locaya sesungguhnya adalah (bekas) Patih Sri Jayabaya (Prabhu Jayabaya). Dulu dia bernama Kyai Daha, mempunyai seorang adik bernama Kyai Daka. Kyai Daha adalah penghuni asli Kedhiri semenjak dulu. Begitu Sri Jayabaya bertahta, namanya diambil sebagai nama Negara (yang diperintah oleh Sri Jayabaya), sedangkan dia sendiri diberi nama baru Buta Locaya dan diangkat sebagai Patih, pendamping Sang Prabhu Jayabaya.

Buta artinya : Buteng atau Bodoh, Lo artinya kamu, Caya artinya bisa dipercaya. Kyai Buta Locaya memang bodoh, akan tetapi jujur, setia dan berbakti kepada Raja. Oleh karenanya, dia lantas diangkat sebagai Patih. Awal mula ada gelar Kyai, dimulai oleh Kyai Daha dan Kyai Daka ini. Kyai artinya : Ngayahi anak putune sarta wong-wong ing kana keringe (Orang yang mampu mengiringi/menjaga/momong anak cucu berikut sesama makhluk)

Saat Sri Narendra (Nara : Manusia, Indra : Dewa Indra. Manusia yang bagaikan Dewa Indra. Dewa Indra adalah Raja para Dewa. Manusia yang bagaikan Dewa Indra berarti dia seorang Raja. Disini maksudnya adalah Sri Jayabaya : DS) tengah keluar keraton (maksudnya saat tengah terjadi peperangan dengan Jenggala dan Sri Jayabaya tengah dalam kesulitan) beliau pernah ke kediaman Kyai Daka. Disana beliau beserta para pengikut disambut dengan berbagai persembahan oleh Kyai Daka. Oleh karenanya Sang Prabhu (Jayabaya) sangat mengasihi Kyai Daka. Nama Kyai Daka diambil sebagai nama sebuah desa, selanjutnya Kyai Daka lantas diberi nama baru Kyai Tunggulwulung, dan dikemudian hari (setelah berhasil memenangkan peperangan dengan Jenggala) diangkat sebagai seorang Senopati.

Saat Sang Prabhu Jayabaya moksha, diikuti pula oleh putri beliau yang bernama Ni Mas Ratu Pagedhongan. Buta Locaya dan Kyai Tunggulwulung-pun ikut melakukan moksha (Moksha disini ada dua arti, pertama Moksha menyatunya Atman dengan Brahman seperti yang dialami oleh Sang Prabhu Jayabaya sendiri, kedua moksha hilang raganya berpindah alam. Pemahaman orang Jawa sekarang tentang kata MUKSWO cenderung mengarah ke arti yang kedua, yaitu berpindah alam : DS). Ni Mas Ratu Pagedhongan lantas menjadi Raja makhluk halus pulau Jawa. Pusat pemerintahannya berada di Laut Selatan dan bergelar Ni Mas Ratu Anginangin. Seluruh makhluk halus (Jin/Asura) yang berdiam di lautan serta didaratan berikut yang berdiam di tepi kanan kiri pulau Jawa, semua tunduk kepada Ni Mas Ratu Pagedhongan.

Buta Locaya (setelah moksha ~ maksudnya berpindah alam : DS) berkedudukan di Selabale (kaki pegunungan Wilis, sebelah barat Kedhiri), sedangkan Kyai Tunggulwulung berkedudukan di (Gunung) Kelud (diselatan Kedhiri). (Kyai Tunggulwulung) menjaga kawah dan lahar. Manakala lahar keluar, dia akan menjaganya agar tidak sampai merusak pedesaan beserta seluruh penghuninya.

Pada waktu itu Kyai Buta Locaya tengah duduk diatas kursi kencana yang dialasi dengan permadani gemerlapan, dihiasi dengan bulu-bulu merak. Dia tengah dihadap oleh patih-nya bernama Megamendhung beserta kedua putranya, yang sulung bernama Panji Sektidiguna, yang bungsu bernama Panji Sarilaut.

Buta Locaya tengah berbincang-bincang dengan mereka yang tengah menghadap, mendadak dikejutkan oleh kedatangan Nyi Plencing yang langsung memeluk kaki (Buta Locaya) sembari menghaturkan bahwasanya ada manusia yang tengah membuat kerusakan, berasal dari Tuban yang kini tengah berkelana di wilayah Kedhiri, bernama Sunan Benang. Nyai Plencing menghaturkan segala kesusahan yang dialami para makhluk halus serta manusia (akibat perbuatan Sunan Benang.)

Mendengar pengaduan Nyi Plencing seperti itu Buta Locaya bangkit kemarahannya. Hingga mendidih bagaikan api badannya. Segera dipanggilnya seluruh anak cucu berikut seluruh jin perayangan dan diperintahkannya untuk menghadang Sunan Benang. Seluruh makhluk halus mempersiapkan diri dengan senjata perang. Mereka segera berangkat berjalan seiring hembusan angin. Tidak berapa lama para makhluk halus telah sampai di sebelah utara desa Kukum. Ditempat itu Buta Locaya segera merubah wujudnya menjadi manusia bernama Kyai Sumbre, sedangkan makhluk halus yang lain sengaja tidak menampakkan wujud. Kyai Sumbre lantas berdiri ditengah jalan tepat dibawah naungan pohon Sambi (Kusambi : Scheicheratriyuga Wild, banyak tumbuh disekitar hutan jati. Besarnya kurang lebih 1,75 m dan bisa mencapi tinggi 40 meter : DS) berniat menghadang Sunan Benang yang tengah berjalan dari arah utara.

Tidak menunggu waktu lama Sunan Benang terlihat berjalan dari arah utara. Sunan Benang tidak khilaf melihat sosok manusia yang tengah berdiri dibawah pohon Sambi yang tak lain adalah Raja makhluk halus. Sosok jadi-jadian itu berniat hendak mengganggu perjalanannya, bisa dirasakan dari keberadaan hawa tubuhnya yang sangat panas bagai bara. Sedangkan seluruh makhluk halus yang lain seketika semua menyingkir dan menjauh, tidak betah terkena perbawa Sunan Benang. Sedangkan Sunan Benang sendiri, tidak betah dekat dengan Kyai Sumbre, sebab bagaikan berdekatan dengan bara api. Begitu juga Kyai Sumbre, merasakan hal serupa.

Dua orang murid yang pingsan sedari tadi (karena merasakan hawa yang panas luar biasa), mendadak sekarang kedinginan (begitu mereka telah siuman). Mereka tidak kuat terkena perbawa Kyai Sumbre.

Sunan Benang berkata kepada Kyai Sumbre : “Buta Locaya, apa maksudmu menghadang perjalananku dan menyamar sebagai manusia dan bernama Kyai Sumbre, bagaimanakah kabarmu?”

Terkejut Buta Locaya manakala Sunan Benang mengenali siapa dirinya yang sesungguhnya, terlanjur basah sudah ketahuan, maka lantas bertanya kepada Sunan Benang : “ Bagaimanakah anda bisa tahu kalau saya ini adalah Buta Locaya?”

Sunan Benang menjawab : “Aku tidak akan tertipu, aku tahu kamu adalah Raja makhluk halus diwilayah Kedhiri ini, namamu Buta Locaya.”

Kyai Sumbre bertanya kepada Sunan Benang : “Anda ini orang apa, memakai busana kedodoran tidak praktis, bukan busana orang Jawa. Mirip bentuk walang kadung (Belalang yang kakinya panjang-panjang tidak simetris dengan tubuhnya)?”

Sunan Benang menjawab, “Aku berbangsa Arab, namaku Sayid Kramat, kediamanku di Benang wilayah Tuban. Sesungguhnya yang menjadi keinginanku bertandang ke Kedhiri ini, hanya sekedar ingin melihat petilasan (bekas) kedhaton (istana) Sang Prabhu Jayabaya, dimanakah letaknya?”

Buta Locaya lantas menjawab : “Disebelah timur dari sini terdapat dusun Menang, semua petilasan (bekas) telah sirna, istana beserta pesanggrahan juga sudah tidak ada lagi. Taman Bagendhawati milik Ni Mas Ratu Pagedhongan juga sudah musnah, pesanggrahan Wanacatur juga sudah sirna, hanya tinggal dikenang dalam nama-nama dusun disana. Musnahnya semua petilasan tadi dikarenakan tertimbun pasir yang dimuntahkan oleh gunung Kelud. Sekarang saya hendak bertanya, anda melakukan perbuatan yang menyengsarakan kepada anak cucu Adam (Buta Locaya sengaja menggunakan nama seorang Nabi yang diyakini sebagai nenek moyang manusia oleh orang Islam seperti halnya Sunan Benang yang kini berada dihadapannya : DS), dengan mengeluarkan kutuk yang tidak sepatutnya. Mengutuk agar terjadi perawan tua dan perjaka tua, menamai seenaknya sendiri tempat yang baru anda masuki dengan nama Gedhah, memindahkan aliran sungai, mengutuk agar sulit air, itu semua adalah perbuatan yang bisa disebut menganiaya sesama dan tidak pantas sama sekali. Menimpakan hukuman kepada mereka yang tanpa dosa. Betapa susahnya menjalani sebuah pernikahan jika usia sudah sangat tua, mempersulit mereka untuk meneruskan keturunan makhluk Latawalhujwa (Lattawalhujwa ~ Latta dan Hujwa, adalah nama malaikat yang dipercaya sebagai putra wanita Allah dijaman sebelum Islam lahir di Makkah. Keberadaan Lattawalhujwa sangat ditentang oleh pengikut Islam dikemudian hari setelah Islam mulai berkembang di Makkah, karena Latta dan Hujwa dianggap setara dengan Allah itu sendiri. Buta Locaya sengaja menggunakan nama Lattawalhujja untuk menunjukkan bahwasanya lebih baik menjadi makhluk ciptaan Latta wal hujwa, sosok pencipta yang feminine, dimana sifat feminine yang lembut pastinya akan dominan tergambarkan disetiap makhluk ciptaannya. Daripada diciptakan oleh sosok pencipta yang keras dan penuh intimidasi. Itupun, jika memang manusia diciptakan oleh sosok pribadi super. Karena sesungguhnya tidak ada yang menciptakan manusia. Manusia adalah percikan, bukan ciptaan. Manusia adalah Illahi yang mewujud.). Seluruh kesengsaraan yang tercipta ini semua akibat ulah anda. Betapa susahnya mereka yang tempat tinggalnya terbenam akibat sungai yang berhulu dari Kedhiri beralih alirannya sehingga menerjang pedhusunan, hutan, pesawahan sehingga semuanya menjadi rusak. Ditempat ini telah anda kutuk selamanya sulit air, sungai akan kering, anda telah menganiaya tanpa alasan, menganiaya kepada mereka yang tak mempunyai dosa!”

Sunan Benang menjawab : “Alasanku memberikan nama baru Gedhah ditempat ini, sebab kebanyakan agama yang dipeluk oleh masyarakat disini tidaklah hitam juga tidak putih, tepatnya beragama biru, itulah agama Kalang. Alasanku mengutuk agar susah mendapatkan air ditempat ini, sebab saat aku meminta air, tidak diberikan. Makanya sungai aku pindah alirannya. Sedangkan alasanku mengutuk agar ditempat ini semua perawan dan perjaka akan menikah jika sudah tua usianya, sebab yang aku mintai air dan tidak mau memberikan adalah seorang perawan.”

Buta Locaya berkata, “Itu namanya tidaklah seimbang dengan kutukan yang anda timpakan, tidak begitu besar kesalahan yang dibuat mereka, bahkan hanya sebab kesalahan seorang gadis, akan tetapi yang menerima kesusahan seluruh penghuni disini. Sungguh tidak adil hukuman tersebut. Anda ini bisa disebut telah membuat kemelaratan banyak orang, jikalau dilaporkan kepada yang berwenang memegang pemerintahan, sudah sepantasnya anda ganti dijatuhi hukuman dibuat lebih melarat (dari kemelaratan mereka yang baru saja kehilangan harta benda akibat terlanda aliran air dan kemelaratan para petani akibat kelak kekurangan air karena ditempat itu sulit mencari air). Nah, sekarang lebih baik tariklah kutukan anda, agar supaya ditempat ini gampang memperoleh air, sehingga bisa menghasilkan rejeki berlimpah bagi penduduk, dan agar semua perawan berikut perjaka bisa menikah disaat muda sehingga bisa memperbanyak keturunan makhluk Hyang Manon (Tuhan). Anda bukan seorang penguasa yang mempunyai hak atas wilayah ini sebagaimana seorang Raja, akan tetapi menghakimi agama-agama yang hidup ditanah ini, itu namanya anda manusia sirik!”

Sunan Benang menjawab : “Walau hendak kamu laporkan kepada Raja Majalengka (penguasa sah wilayah ini) aku tidak takut!”

Begitu mendengar ucapan Sunan Benang bahwa dirinya tidak takut kepada penguasa sah tanah Jawa, yaitu Raja Majalengka, bangkitlah amarah Buta Locaya. Seketika dia berkata kasar :

“ Ucapan anda tadi bukan ucapan seorang ahli negara (ucapan bangsawan atau ucapan orang yang berpendidikan), hanya pantas jika diucapkan oleh mereka yang suka berkeliaran ditempat madat (maksudnya preman), yang hanya mengagungkan kekuatan otot semata. Seyogyanya janganlah seperti itu, merasa menjadi kekasih Tuhan, merasa banyak teman Malaikat, lantas berbuat seenaknya tidak memperhitungkan kesalahan orang, menganiaya tanpa dosa. Di tanah Jawa ini sebenarnya banyak yang bisa menandingi kesaktian anda, akan tetapi semua adalah ahli Buddhi (ahli dalam peningkatan Kesadaran) dan takut mendapat hukuman Dewata (Karmaphala). Tidak pantas disebut ahli Buddhi (ahli dalam peningkatan Kesadaran) jika tingkah lakunya aniaya terhadap sesama menghukum tanpa dosa. Apakah anda ini serupa dengan Aji Saka, murid Ijajil (Ijajil : Dajjal ~ Buta Locaya menganggap Aji Saka adalah murid Dajjal atau Iblis. Maksudnya tingkah laku ji Saka dulu-pun kurang patut manakala tinggal di tanah Jawa, sehingga disebut murid Ijajil atau Dajjal atau Iblis : DS)? Aji Saka bertahta di tanah Jawa hanya tiga tahun lamanya lantas minggat dari tanah Jawa, bahkan sumber air bening yang ada di daerah Medhang ikut serta dibawa minggat (sumber air bening maksudnya adalah pengetahuan asli Jawa : DS). Aji Saka orang Hindhu (India), anda orang Arab, kelakuannya sama saja menganiaya sesama manusia, sama-sama membuat sulit mencari ‘sumber air’ (coba anda artikan sendiri maksud kata-kata Buta Locaya yang simbolik ini : DS). Anda menyebut diri Sunan seharusnya memiliki buddhi luhur (Kesadaran yang mulia), bisa menciptakan keselamatan bagi sesama, akan tetapi kok tidak seperti itu, tingkah laku anda inilah sesungguhnya yang disebut tingkah laku Ijajil, tidak tahan digoda oleh anak kecil, gampang keluar amarahnya, Sunan apakah yang semacam itu? Jika memang anda Sunan bagi manusia, pastinya memiliki buddhi luhur (Kesadaran mulia). Anda telah menganiaya sesama tanpa dosa, inilah jalan anda menuju celaka, anda telah menciptakan neraka jahanam bagi diri sendiri (maksudnya karma buruk). Jika nanti sudah jadi (neraka tersebut), kelak akan anda tempati sendiri. Anda akan mandi ditengah air kawah yang panas bergejolak (memetik buah perbuatan yang sangat menyengsarakan dalam kehidupan ini atau kelak setelah kelahiran kembali). Lihatlah, saya ini adalah makhluk halus, berbeda alam dengan manusia, akan tetapi saya masih senantiasa ingat untuk ikut andil mengusahakan keselamatan bagi manusia (makhluk haluspun masih ingin mengumpulkan karma baik demi peningkatan kesadaran pribadinya sendiri : DS). Sudahlah, sekarang semua yang terlanjur rusak tolong kembalikan seperti semula. Mulai dari sungai yang kering hingga seluruh tempat yang terlanggar aliran sungai tolong kembalikan seperti sebelumnya. Jika anda tidak berkenan, seluruh orang Jawa yang telah masuk Islam akan saya teluh biar mati semua, dan untuk keperluan itu saya akan meminta bantuan pasukan dari Kangjeng Ratu Ayu Anginangin yang bertahta di laut selatan!!”

Begitu mendengar kemarahan Buta Locaya, Sunan Benang terketuk hatinya dan menyadari kesalahannya. Sadar telah membuat bermacam-macam kesusahan dalam jangka panjang, sadar telah menganiaya sesama tanpa dosa yang setimpal, dia lantas berkata : “Buta Locaya! Aku ini seorang Sunan, yang tidak bisa menarik kutuk yang sudah terlanjur aku ucapkan, tapi dengarkan, kelak setelahlima ratus tahun lagi, sungai ini akan kembali seperti semula!” (Sekali lagi coba anda artikan ucapan Sunan Benang yang simbolik ini : DS)

Mendengar ucapan Sunan Benang, Buta Locaya bertambah marah, lantas berkata kepada Sunan Benang : “Tidak bisa! Harus anda kembalikan saat ini juga! Jika tidak mampu anda saya tawan!!”

Berkatalah Sunan Benang kepada Buta Locaya : “Sudah jangan membantah lagi! Aku hendak pergi menuju ke arah timur, mulai saat ini buah dari pohon Sambi (Kusambi) ini aku namakan buah CACIL, sebagai pengingat peristiwa debat seperti anak kecil, antara demit (makhluk halus) dan manusia pe-CICIL-an (yang arogan) yang tengah berebut benar tentang kerusakan sebuah wilayah yang menyebabkan kesusahan manusia dan makhluk halus. Aku mohonkan kepada Rabbana (Tuhanku), semoga buah pohon Sambi berwarna dua macam, daging buahnya jadilah kecut, biji buahnya jadilah keluar minyak. Kecut perlambang dari kekecutan wajah, wajah sang demit (makhluk halus) dan wajah manusia yang tengah berdebat dengannya, LENGA (minyak) perlambang dari makhluk halus MLELENG JALMA LUNGA (Melotot marah ditingal pergi oleh manusia). Kelak dikemudian hari agar bisa dijadikan pengingat peristiwa, dimana aku pernah berdebat denganmu. Mulai sekarang tempat dimana kita bertemu ini, disebelah utarasana aku namakan Desa Singkal, sedangkan disini aku namakan Desa Sumbre. Dan tempat dimana anak buahmu menyingkir disebelah selatansana aku namakan Desa Kawanguran.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Sunan Benang lantas menuju ke arah timur sungai. Hingga sekarang didaerahkota Gedhah terdapat desa yang bernama Kawanguran, Sumbre dan Singkal. Kawanguran artinya ketahuan, Singkal artinya terhalang lantas mendapatkan cara untuk mengelak.

Buta Locaya terus mengejar Sunan Benang. Perjalanan Sunan Benang sampai di desa Bogem, ditempat itu Sunan Benang mendapati sebuah arca berbentuk kuda, bertubuh satu berkepala dua, terletak dibawah pohon Trenggulun (Trengguli ~ Cassia fistula L. Tinggi bisa mencapailimabelas meter, berasal dariIndia: DS). Pohon Trenggulun tadi banyak ditumbuhi buah, hingga beberapa jatuh berserakan ke tanah. Sunan Benang memegang kampak, serta merta arca kuda kepalanya dihancurkan!

Melihat perbuatan Saunan Benang menghancurkan kepala arca kuda, Buta Locaya semakin marah dan lantas berkata : “Arca ini buatan Prabhu Jayabaya, untuk menyimbolkan keadaan wanita Jawa nanti dijaman kedatangan bangsa Srenggi, siapa saja yang melihat arca ini, akan ingat kepada keadaan wanita Jawa nanti!”

Sunan Benang menjawab, “Kamu itu makhluk halus, berani sekali mendebat manusia, itu namanya makhluk halus yang sok!”

Buta Locaya berkata, “ Apa bedanya, anda Sunan saya Raja!!”

Sunan Benang tak menghiraukan bahkan berkata, “ Buah pohon Trenggulun ini mulai sekarang aku beri nama KENTHOS, agar bisa dijadikan pengingat, bahwasanya aku pernah bertengkar dengan seorang makhluk halus KEMENTHUS (yang sok) tentang sebuah arca!”

Ki Kalamwadi berkata, “ Hingga hari ini, buah pohon Trenggulun di Jawa namanya kenthos, berawal dari sabda Sunan Benang, begitu menurut Raden Budi Sukardi, guruku.”

Sunan Benang melanjutkan perjalanannya ke arah utara, berbarengan dengan masuknya waktu shalat Ashar. Sunan Benang berkeinginan untuk shalat. Diluar desa didapati sebuah sumur akan tetapi tanpa penimba. Sumur digulingkan, sehingga Sunan Benang kemudian, bisa mengambil air untuk dibuat berwudlu. (Coba anda artikan sendiri simbolisasi dari cerita Sunan Benang menggulingkan sumur ini : DS)

Ki Kalamwadi kembali berkata, “ Hingga hari ini, sumur tadi dikenal dengan nama Sumur Gumuling (Sumur yang digulingkan), Sunan Benang yang menggulingkannya, itu cerita Raden Budi guruku, tidak tahu apakah benar atau tidak.”

Seusai shalat Sunana Benang meneruskan perjalanannya, sesampainya di desa Nyahen, disana terdapat arca raksasa perempuan, berdiri dibawah pohon Dhadhap (Dhadhap Srep ~ Erythrina orientalis, tinggi bisa mencapai dua puluh dua meter : DS). Saat itu pohon Dhadhap tersebut tengah berbunga lebat. Banyak bunga yang jatuh berguguran dikanan kiri arca tadi. Bahkan terlihat merah tubuh arca tersebut karena banyak juga bunga yang jatuh ke badannya. Melihat sosok arca sebegitu besar, Sunan Benang sempat keheranan. Arca raksasa tersebut menghadap ke arah barat, tinggi enam belas tapak kaki manusia dewasa, lingkar badannya sepuluh telapak kaki manusia dewasa. Jikalau hendak dipindahkan, seandainya diangkat oleh delapan ratus orang sekalipun tidak akan kuat, kecuali jika menggunakan bantuan peralatan. Bahu kanan arca tadi dihancurkan oleh Sunan Benang, dahinya dilobangi.

Buta Locaya melihat Sunan Benang kembali merusak arca,marah dan berkata : “Jelas anda memang orang kurang kerjaan, arca raksasa sebagus itu dirusak tanpa alasan yang jelas. Sekarang jadi buruk wujudnya, padahal arca itu juga buatan Prabhu Jayabhaya, lantas apa hasilnya anda merusaknya?”

Sunan Benang menjawab, “Aku rusak arca ini agar supaya tidak diagung-agungkan oleh orang banyak. Agar jangan pula diberikan sesajian dan diberi asap kemenyan. Manusia yang memuja berhala itu namanya manusia kafir dan kufur, lahir batin telah tersesat!”

Buta Locaya berkata, “Orang Jawa-pun tahu, bahwa ini hanyalah sebuah arca batu. Yang tidak memiliki daya kekuatan apapun dan tidak punya kuasa, bukan Hyang Lattawalhujwa (maksudnya tidak dipuja sebagaimana manusia Arab dulu memuja patung Latta dan Hujwa). Mengapa di layani dengan diberi asap kemenyan berikut diberi sesajian, agar supaya semua makhluk halus yang liar (disini maksudnya Ruh-Ruh manusia mati yang tersesat dan belum menemukan jalan, bukan makhluk halus sejenis Buta Locaya atau seluruh pasukannya yang telah lahir menjadi Jin/Asura : DS) tidak bertempat tinggal sembarangan diatas tanah dan didalam pohon. Sebab tanah dan pepohonan bisa menghasilkan sesuatu. Dan hasil dari keduanya sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Oleh karenanya makkhluk halus yang semacam ini lantas diberikan tempat baru pada sebuah arca. Jika arca telah anda rusak, hendak diusir kemanakah mereka semua? Sudah lumrah brekasakan (makhluk halus liar/ Ruh-Ruh orang mati yang masih terikat dengan alam dunia) bertempat tingal disebuah gua atau disebuah arca, serta makanan mereka adalah bau-bauan yang wangi. Makhluk halus semacam ini, jika sudah mencium bau wewangian, badannya akan terasa segar. Lebih senang lagi jika bisa tinggal didalam sebuah arca utuh yang diletakkan ditempat yang sepi dan sejuk atau dibawah pohon besar. Mereka sadar mereka tidak bisa hidup berbaur dengan manusia. Sekarang mereka telah tinggal didalam arca ini tapi kemudian malah anda usik, bukankah berarti anda memang orang yang jahil dan suka menganiaya kepada sesama makhluk. Makhluk yang sama-sama diciptakan oleh Tuhan? Mendingan orang Jawa menghargai sebuah arca yang memang pantas jika memiliki Kesadaran dan nyawa, sedangkan bangsa anda orang Arab, bukankah juga menghargai Kakbatullah, yang wujudnya juga dari batu, apakah itu juga tidak sesat?!”

Sunan Benang menjawab, “Ka’batullah itu yang membuat Nabi Ibrahim. Disanalah pusat dunia. Diberi tugu dari batu dan disujudi oleh seluruh manusia. Siapa saja yang sujud kepada Kakbatullah, Gusti Allah akan memberikan ampunan atas segala dosa-dosanya selama hidup di alam pengembaraan (alam dunia) ini!”

Buta Locaya berkata, “Apa buktinya telah mendapatkan kasih Tuhan? Apa buktinya mendapatkan ampunan Tuhan dari segala dosa? Apakah mendapatkan tanda tangan dari Tuhan Yang Maha Agung berikut stempel berwarna merah sebagai tanda bukti sah?”

Sunan Benang menjawab, “Yang disebutkan dalam kitab suciku, nanti jika telah meninggal akan mendapatkan kemuliaan.”

Buta Locaya menjawab sembari menggeram, “Mana mungkin nanti jikalau telah meninggal akan tahu, sedangkan pengetahuan akan kemuliaan didunia ini saja sudah tidak utuh, sudah tersesat menyembah tugu dari batu. Jika memang benar-benar berniat menyembah cadas, lebih baik naik ke atas gunung Kelud daripada jauh-jauh, disana banyak batu yang besar-besar asli buatan Tuhan, tercipta semenjak dahulu seperti itu berasal dari sabda Kun (Jadilah), malah itu lebih baik di buat pusat bersujud. Sesungguhnya menurut kehendak Yang Maha Kuasa, seluruh manusia seyogyanya mengetahui kepada Baitullah (Rumah Tuhan)-nya sendiri, tubuh manusia inilah sesunguhnya Baitullah (Rumah Tuhan), sungguh-sungguh buatan Yang Maha Kuasa sendiri. Tempat inilah yang harus dijaga betul-betul. Siapa saja yang tahu darimana asal badan ini, siapa saja yang tahu darimana asal Buddhi dan hawa nafsu ini, patutlah dia dijadikan suri tauladan bagi sesama. Walaupun siang malam menjalankan shalat, akan tetapi apabila masih gelap pengetahuannya tentang diri sendiri, masih tersesat pengetahuannya tentang yang sejati, masih mensujudi tugu batu, tugu batu buatan Nabi (sungguh masih sesat manusia yang demikian itu). Bukankah Nabi tiu sendiri adalah manusia juga kekasih Guati Allah, diberi anugerah dengan kecerdasan dan ketajaman ingatan, terang kesadarannya, tahu hal yang belum terjadi. Anda meyakini tulisan peninggalan mereka, orang Jawa meyakini sastra peninggalan leluhur, sama-sama meyakini kabar masa lalu. Akan tetapi lebih baik meyakini sastra berisi pekabaran masa lalu dari leluhur sendiri yang peninggalannya masih bisa dilihat langsung disini. Orang Jawa yang meyakini tulisan pekabaran masa lalu dari Arab, belum menyatakan sendiri keberadaannya di sana, apakah nyata atau bohong, hanya membenarkan ucapan orang yang membawa kabar semata. Maka menurut hamba, anda datang ke Jawa hanya menjual bualan, menjual bualan bahwa negara Mekkah adalah yang termulia, padahal saya tahu sendiri bagaimana keberadaan negara Mekkah itu, tanahnya beraura panas, jarang air, tanaman apapun tidak bisa tumbuh, udaranya juga panas dan jarang hujan. Bagi akal kebanyakan manusia, tanah disana itu adalah tanah kutukan, banyak manusia menjual manusia sebagai budak dan dipakai sebagai pembantu. Anda benar-benar manusia durhaka, lebih baik saya persilakan pergi dari tanah Jawa, di Jawa ini adalah tanah suci dan mulia, dingin dan panasnya cukup, penuh kekayaan didalam tanah dan air, apa yang ditanam bisa tumbuh, yang menghuni baik lelaki maupun wanita mempunyai moral yang bagus dan cantik, berbicara-pun lemah lembut dan sopan. Jika anda ingin melihat pusat dunia, dengarkan sesungguhnya tempat yang kita injak inilah pusat dunia. Sekarang pertimbangkan kata-kata saya tadi, jika ada yang salah, pukul saya sekarang juga! Semua yang anda ajarkan banyak yang kurang tepat, pertanda kurang kecerdasan, kurang memahami pengetahuan Kesadaran, suka menganiaya sesama. Yang membuat arca ini adalah Prabhu Jayabhaya, kesaktian beliau melebihi kesaktian anda. Apakah anda mampu meramal masa depan setepat beliau? Sudahlah, saya persilakan pergi saja dari tanah Kedhiri. Jika tidak juga mau pergi, saya akan mengundang adik hamba yang ada di gunung Kelud untuk mengeroyok anda, dan akan saya bawa ke kawah gunung Kelud, apakah anda tidak takut jika nanti tidak bisa keluar dari alam siluman dan menjadi penghuni batu seperti saya? Atau mari ke Selabale saja menjadi murid saya.”

Sunan Benang berkata,”Tidak akan mempercayai kata-katamu wahai setan brekasakan!”

Buta Locaya menjawab, “Walaupun saya dhemit (makhluk halus), akan tetapi saya dhemit berpangkat Raja, mulia dan berumur panjang. Anda belum tentu semulia hamba. Niat anda selalu kotor, suka mengganggu dan menganiaya, apakah mungkin anda datang ke tanah Jawa ini dikarenakan anda di tanah Arab adalah orang hina? Jika anda manusia mulia, tentunya tidak usah pergi jauh-jauh keluar dari tanah Arab. Mungkin anda minggat karena melakukan sebuah kesalahan fatal. Tandanya sampai di tanah Jawa-pun masih juga usil, suka menghakimi adat orang lain, suka menghakimi agama orang lain, merusak segala peninggalan luhur yang bagus-bagus, merusak agama leluhur kuno. Sungguh Raja (Majalengka) berhak menangkap anda dan membuang anda ke Menadhu (Menado)!”

Sunan Benang berkata,”Pohon Dhadhap ini bunganya aku berinama Celung, buahnya aku beri nama Kledhung, sebab aku telah Kecelung (tercuri) nalar (kepintaran)-ku dan Keledhung (terbantah) ucapanku. Ini semua sebagai pengingat bahwa aku pernah berdebat dengan Raja Dhemit, kalah pengetahuan dan kalah kepintaran.”

Oleh karenanya terkenal hingga sekarang, buah Dhadhap namanya Kledhung sedangkan bunganya Celung.

Sunan Benang lantas berpamitan,” Sudahlah kalau begitu aku akan pulang ke Benang.”
Buta Locaya menjawab dengan nada marah,”Benar, segeralah pergi, disini anda hanya akan membuat tanah menjadi angker, jika anda berlama-lama disini hanya akan menambah kesusahan, menyebabkan susah tumbuh padi, menambahi panas, membuat susah air!!”

Sunan Benang lantas pergi, sedangkan Buta Locaya beserta pasukannya juga kemudian balik pulang.

Lain yang diceritakan, yaitu dinegara Majalengka, pada suatu hari, Sang Prabhu Brawijaya duduk disinggahsana dan dihadap para pejabat. Sang Patih melaporkan bahwa telah mendapatkan surat khusus dari Tumenggung Kertasana. Isi surat melaporkan bahwa daerah Kertasana sungainya mengering. Sungai yang mengalir dari arah Kedhiri aliran airnya kini menyimpang ke timur. Sebagian isi surat melaporkan seperti ini : Di sebelah utara barat Kedhiri, banyak desa rusak, semua itu disebabkan karena kutukan ulama dari tanah Arab, bernama Sunan Benang.

Mendengar laporan Patih, Sang Prabhu bangkit murkanya. Sang Patih lantas diutus ke Kertasana, untuk menyatakan sendiri keadaan disana, melihat kondisi manusia berikut hasil bumi yang terlanggar aliran air. Bahkan mewngutus beberapa pejabat untuk memanggil Sunan Benang.

Singkat cerita, seusai Sang Patih melihat sendiri kondisi Kertasana, segera melaporkan semuanya kepada Sang Prabhu. Sedangkan utusan yang diutus ke Tuban juga sudah tiba kembali, melaporkan bahwa tidak mendapatkan hasil, sebab Sunan Benang telah pergi tidak diketahui kemana.

Mendengar seluruh pelaporan para bawahannya, Sang Prabh Brawijaya semakin murka! Beliau menyatakan bahwa ternyata ulama dari Arab tidak ada yang tulus hatinya! Sang Prabhu lantas memerintahkan Patih agar mengusir seluruh orang Arab yang tinggal di Jawa, sebab telah membuat kesusahan negara! Hanya yang ada di Ngampeldhenta dan Demak saja yang masih diperbolehkan tinggal di Jawa dan diijinkan mensiarkan agama Islam. Selain dikedua tempat itu, semua harus dipulangkan ke asalnya! Jika menolak dipulangkan maka diperintahkan untuk dihancurkan saja! Sang Patih berkata, “ Gusti, benar apa yang paduka katakan. Sudah tiga tahun berselang penguasa Giripura (Giri Kedhaton atau Sunan Giri) tidak pernah menghadap dan tidak pernah memberikan upeti sebagai tanda takluk. Jelas mereka hendak merencanakan untuk mendirikan negara sendiri. Tidak sadar telah makan dan minum hanya numpang di tanah Jawa! Bahkan nama santri Giri (Sunan Giri) kini telah terkenal mengalahkan kebesaran nama paduka. Bahkan kini mengambil gelar baru Sunan Ainulyaqin. Sunan berarti Kesadaran, Ainul berarti Makrifat atau Mengetahui akan Tuhan dan Yaqin berarti benar-benar mantap lahir batin. Paduka bisa mengartikannya sendiri. Dalam bahasaa Jawa dia mengambil gelar Prabhu Satmata (Bermata Enam). Ini adalah gelar yang sangat tinggi, hampir menyerupai gelar Yang Maha Kuasa sendiri (Hyang Bathara Shiwa), Satmata berarti tahu segalanya. Dialam dunia, tidak ada lagi sosok yang menggunakan gelar Sang Prabhu Satmata kecuali dulu Bathara Wishnu manakala turun ke dunia dan menjelma sebagai Raja di Medhang Kasapta.”

Mendengar kata-kata Sang Patih, Sang Prabhu segera memerintahkan untuk menyerang Giri. Berangkatlah pasukan tempur Majapahit dibawah pimpinan Patih langsung menuju Giri. Perang pun terjadi. Orang Giri ketakutan dan tidak mampu menahan serangan pasukan tempur Majapahit. Sunan Giri lari ke Benang meminta bantuan pasukan, setelah mendapatkan pasukan lantas kembali menghadapi pasukan Majalengka. Perang sangat ramai. Waktu itu hampir separuh orang Jawa sudah memeluk agama Islam. Mereka yang tinggal dipesisir utara sudah hampir semua memeluk agama Islam. Sedangkan orang Jawa yang tinggal di selatan masih tetap beragama Buda (Shiwa Buddha). Sunan Benang sudah menyadari kesalahannya sehingga tidak berani menghadap ke Majalengka. Lantas bersama Sunan Giri melarikan diri ke Demak. Sesampainya di Demak segera mengajak Adipati Demak untuk menggempur Majalengka. Begini ucapan Sunan Benang kepada Adipati Demak : “Ketahuilah bahwa saat ini sudah tiba masanya kehancuran Majalengka. Sudah seratus tiga tahun berkuasa di nusantara. Dari penglihatan batinku, yang sanggup menjadi Raja tanah Jawa, tiada lain kecuali dirimu. Saranku, hancurkan Majalengka, tapi dengan cara halus, jangan sampai menyolok mata. Nanti pada saat garebeg Mulud (peringatan Kelahiran Nabi Muhammad) di Ngampeldhenta (Surabaya), bawalah banyak tentara Demak dengan persenjataan perang lengkap untuk menghadap ke Majapahit (seusai dari Ngampeldhenta). Ingat, 1. Pakailah cara halus, 2. Undanglah seluruh bupati yang sudah memeluk agama Islam untuk berkumpul di Demak dengan dalih hendak membangun masjid Demak. Jika nanti mereka sudah berkumpul, apapun perintahmu pasti dituruti.”

Adipati Demak menjawab, “Saya takut merusak Negara Majalengka, yang berarti memusuhi ayah dan raja sendiri, bahkan beliau juga telah memberikan anugerah kenikmatan duniawi kepada saya sebagai seorang Adipati. Lantas mengapa balasan saya seperti itu? Bukankah sudah pantas jika saya membalasnya dengan kesetiaan dan kesungguhan? Wasiat dari eyang Sunan Ngampelgadhing (Sunan Ampel), tidak diperbolehkan saya memusuhi ayahanda sendiri, walaupun beliau beragama Buda tapi beliaulah yang menjadi lantaran saya terlahir menjadi manusia didunia ini. Walaupun orang Buda dan kafir sekalipun, jika dia adalah ayahanda sendiri tetap haruslah dihormati. Apalagi beliau tidak memiliki kesalahan apapun.”

Sunan Benang berkata lagi, ”Walaupun harus melawan ayahanda atau Raja, tidak ada salahnya! Sebab dia orang kafir! Jika menghancurkan orang Buda kafir kawak (kawak : totok), maka imbalanmu adalah surga! Eyang Sunan Ampel itu hanya santri kecil, walau bercukur rambut tapi pengetahuan beliau masih kurang luas, hanya pantas menjadi ulama biasa. Berapalah pengetahuan agama Sunan Ngampelgadhing (Sunan Ampel) keturunan orang Champa itu, dibandingkan dengan diriku, Sayid Kramat, Sunan Benang yang terkenal dipenjuru bumi, keturunan langsung Rasul (Nabi Muhammad) dan menjadi panutan orang Islam Jawa. Jikalau dirimu berani menghancurkan ayahandamu, walau seandainya memang berdosa, tapi hanya berdosa kepada satu orang dan orang tersebut orang kafir. Jikalau sampai kamu bisa mengalahkan ayahandamu, seluruh orang Jawa akan memeluk agama Islam. Yang semacam itu, berapa lagi keuntunganmu mendapatkan pahala dari Tuhan, sungguh tak terhitung lagi! Tak terbilang kasih Hyang Maha Kuasa yang akan kamu dapatkan! Dengarkan, sesungguhnya ayahandamu telah menyia-nyiakan dirimu. Tandanya dirimu diberikan nama Babah, itu tidak benar dan sangat memperhinakan dirimu. Maksud ayahmu memberikan nama Babah sesungguhnya berarti Bah mati Bah urip (Biar mau mati kek biar mau hidup ~ Bah : Biar. Sunan Benaang mencoba memelintir arti nama Babah : DS). Ibumu dibuang diberikan kepada Arya Damar, Bupati di Palembang. Padahal Arya Damar adalah keturunan Raksasa (maksudnya ibu Arya Damar, yaitu Ni Endang Sasmitapura dulu adalah penganut Tantra Bhairawa yang melakukan ritual dengan memakan mayat dan meminum darah manusia, makanya dalam Babad disebut Raksasa : DS). Kelakuan ayahmu itu namanya menyakiti cinta ibumu. Sungguh ayahandamu tidak baik hatinya. Oleh karenanya, balaslah secara halus, maksudnya jangan menyolok mata, hisap darahnya dan kunyah tulangnya secara diam-diam!”

Sunan Giri ikut bicara,”Aku sendiri tidak mempunyai salah juga diperangi oleh ayahandamu, dituduh hendak mendirikan negara, disebabkan karena aku tidak menghadap ke Majalengka. Aku dengar sesumbar Patih Majalengka, jika aku tertangkap akan dikepang ramputkui seperti anak kecil dan disuruh memandikan anjing! Banyak orang china yang datang ke Jawa, dan di daerah Giri semua aku Islam-kan, sebab menurut ujar kitab suci, jika meng-Islam-kan orang kafir, balasannya kelak adalah surga. Oleh karenanya banyak orang china yang aku Islam-kan, dan aku anggap keluarga sendiri. Kedatanganku kemari hanya meminta perlindungan, aku takut kepada Patih Majalengka sedangkan ayahandamu sangat benci kepada para santri yang suka memuji dan berdzikir seperti aku. Katanya seperti orang sakit ayan orang berdzikir dengan menggerakkan kepala kekiri dan kekanan. Jika kamu tidak angkat senjata, pasti akan habis agama Rasul Nabi (Islam) di Jawa!”

Sang Adipati Demak menjawab,” Ayahanda menyerang Giri itu sudah benar, jika ada seorang penguasa daerah, tidak tunduk kepada Raja sebagai penguasa tertinggi, sudah semestinya diserang bahkan wajib dihukum mati. Sebab penguasa semacam itu tidak menyadari telah numpang hidup di tanah Jawa.”

Sunan Benang berkata lagi, “Jikalau tidak kamu rebut sekarang dan kamu menunggu ayahandamu turun tahta, jelas tahta Majapahit tidak akan jatuh kepadamu. Pasti akan diberikan kepada Adipati Panaraga (Ponorogo ~ yaitu Adipati Bathara Katong : DS), sebab dia terbilang putra tua (maksudnya tegas dan berwibawa), atau diberikan kepada putra menantu, yaitu Ki Andayaningrat (Adipati Andayaningrat ~ yang disebut-sebut dalam Hikayat Putri Gunung Ledang dan yang pernah bertempur dengan Hang Tuah. Cuma ada kesalahan dalam catatan Hikayat dari Malaka tersebut. Saat Hang Tuah ke Jawa, Majapahit sudah hancur dan Adipati Andayaningrat-lah yang dianggap sebagai pengganti Prabhu Brawijaya karena memang dia-lah yang berhak mewarisi tahta Majapahit. Jadi sesungguhnya Hang Tuah tidak ke Trowulan, Mojokerto, melainkan ke Pengging di sekitar Surakarta sekarang. : DS) yang ada di Pengging. Kamu terbilang putra yang paling muda, jadi tidak berhak menggantikan sebagai Raja. Mumpung sekarang kesempatan terbuka, dan masalah Giri yang menjadi alasan bagi kamu untuk menyerang Majalengka. Walaupun harus mati saat bertempur dengan orang kafir, matimu adalah dijalan Sabilullah (dijalan Allah), kematianmu tidak sis-sia, kelak akan mendapatkan surga yang mulia. Sudah benar bagi orang Islam jika terbunuh oleh orang kafir karena membela agamanya. Dan pula sudah benar manusia hidup didunia mencari kemuliaan duniawi, mencari derajat yang paling tinggi, jikalau manusia hidup tidak memahami akan tujuan hidupnya dengan jelas, maka belum benar dia hidup. Sudah sewajarnya bagi manusia menginginkan kekuasaan dan ingin memiliki kekuatan, yaitu menjadi seorang Raja. Sebab Raja adalah Khalifah, wakil Hyang Widdhi. Apa yang kamu inginkan akan terpenuhi jika kamu menjadi Khalifah. Sudah menjadi suratan takdirmu, kamu bakal menjadi Raja di tanah Jawa, menggantikan kedudukan ayahandamu. Tapi semua harus menggunakan usaha lahir yaitu dengan cara merebutnya melalui peperangan. Jikalau dirimu tidak mau menjalankan, pastilah anugerah Gusti Allah yang hendak diberikan kepada dirimu akan diambil kembali oleh-Nya. Itu namanya manusia yang menolak anugerah Gusti Allah. Diriku hanya sekedar mendukung, sebab diriku sudah tahu semua apa yang bakal terjadi nanti, bagaikan aku melihat dengan semprong (kaca yang dipergunakan untuk pelita jaman dulu) yang benar-benar berlobang begitulah aku melihat secara gaib kejadian yang bakal terjadi nanti. Dirimulah yang mendapatkan wahyu Tuhan, akan menjadi Raja di tanah Jawa, sebagai cikal bakal tersebarnya agama Suci (Islam) di Jawa. Bahkan aku yang akan meruwat segala halanganmu saat menjadi Raja nanti, aku yang akan memberikan restu agar kamu menjadi Raja beserta keturunanmu selama-lamanya.” Banyak lagi kata-kata Sunan Benang, membujuk Adipati Demak agar terbakar hatinya, dan mau angkat senjata menyerang Majalengka. Bahkan ditambah dengan cerita tentang seorang Nabi, yang berani melawan ayahnya yang kafir, ujung-ujungnya juga menemukan kesejahteraan (Nabi Ibrahim yang melawan ayahnya : DS).

Adipati Demak berkata, “Jikalau demikian kehendak paduka, saya hanya sekedar menjalani, paduka yang memegang kendali.”

Sunan Benang berkata lagi, “Sungguh seperti itulah yang aku kehendaki darimu. Sekarang dirimu sudah sepakat. Untuk itu sekarang kirimkan surat kepada Adipati Terung (adik tiri Adipati Demak yang berkedudukan disekitar ibukota Majapahit: DS), akan tetapi pakailah kata-kata yang halus tersamar, intinya tulislah apakah dia berat kepada Raja Majapahit ataukah kepada saudara seibu yang juga se-agama. Jikalau adik (tiri)-mu sudah mendukungmu, sangat gampang untuk menjebol Majalengka. Didalam keraton Majapahit saat ini siapa lagi yang diandalkan sebagai panglima perang jikalau bukan Kusen (Adipati Terung atau nama aslinya Kin-San : DS). Si Gugur (maksudnya Raden Gugur, yaitu putra bungsu Prabhu Brawijaya dengan putri Champa yang sudah resmi diangkat sebagai permaisuri. Putri sulung dinikahi Adipati Andayaningrat dan tinggal di Pengging, putra kedua Raden Lembu Peteng berkedudukan di Madura, yang bungsu Raden Gugur masih didalam keraton. Raden Gugur inilah kelak dikenal sebagai Sunan Lawu, penguasa Gunung Lawu yang terkenal hingga sekarang. : DS) masih kecil, mana mungkin dia berani maju perang. Sang Patih sudah tua, dipukul sekali sudah mati. Jika Kusen mendukungmu, siapa lagi sekarang ini yang bisa melawanmu di ibu kota Majapahit?”

Adipati Demak lantas mengirimkan surat ke Terung, tidak berapa lama berselang utusan telah kembali, sudah diterima surat balasan dari Adipati Terung, isinya bersedia membantu perang. Surat diberikan kepada Sunan Benang, membuat senang hatinya. Sunan Benang lantas memerintahkan kepada Adipati Demak, agar memberitahukan kepada semua Bupati dan semua Sunan agar datang ke Demak dengan dalih hendak membangun masjid, dan agar diberitahu bahwa Sunan Benang sudah hadir di Demak.

Singkat cerita, tidak berapa lama para Sunan dan para Bupati telah berdatangan semua. Lantas berkumpul dan membangun masjid. Setelah masjid selesai dibangun, lantas dipergunakan pertama kali untuk shalat. Seusai shalat, pintu masjid ditutup, seluruh yang hadir (para Sunan dan Bupati saja) diberitahu oleh Sunan Benang bahwasanya Adipati Demak hendak dikukuhkan sebagai Raja. Dan kemudian hendak menyerang Majapahit. Jika semua setuju, maka rencana akan segera digulirkan serta tidak menunggu waktu lama lagi. Seluruh Sunan dan Bupati semua menyetujui, hanya seorang yang tidak menyetujui, yaitu Syeh Siti Jenar. Sunan Benang murka, Syeh Siti Jenar dibunuh. Yang diperintahkan membunuh adalah Sunan Giri. Syeh Siti Jenar dijerat lehernya hingga tewas. Sebelum Syeh Siti Jenar benar-benar meninggal, dia sempat meninggalkan pesan : “Ingat-ingatlah wahai seluruh ulama Giri, kalian tidak akan aku balas kelak diakherat, namun akan aku balas didunia ini sekarang. Kelak jika ada Raja Jawa yang digandeng oleh orang tua, pada saat itulah leher kalian ganti aku jerat.” Sunan Giri menjawab, “Nanti aku berani, sekarang-pun aku berani. Tidak akan mundur diriku!”. Setelah sepakat semua, lantas mematangkan rencana yang sudah disepakati. Sang Adipati Demak lantas dikukuhkan sebagai Raja, menguasai tanah Jawa, bergelar Senapati Jimbuningrat. Patihnya berasal dari mancanegara bergelar Patih Mangkurat. Keesokan harinya Senapati Jimbuningrat sudah mempersiapkan bala tentara berikut seluruh persenjataan perang, lantas berangkat menuju Majapahit diiringi oleh para Sunan dan para Bupati. Rombongan yang berangkat mirip dengan rombongan memperingati grebeg Maulud (Peringatan Kelahiran Nabi). Seluruh prajurid tidak memahami apa maksud keberangkatan mereka, kecuali para Tumenggung, para Sunan serta para Ulama. Sunan Benang dan Sunan Giri tidak ikut dalam rombongan ke Majapahit, mereka merasa sudah tua dan hendak membantu dengan doa dari dalam masjid saja. Mereka berdua memberkati rombongan tersebut. Jadi, hanya para Sunan dan para Bupati saja yang mengiringi Adipati Bintara (Adipati Demak/Senapati Jimbuningrat). Tidak diceritakan dalam perjalanan.

Berganti kisah yang ada di Majapahit. Seusai dari Giri Sang Patih melaporkan tentang hasil penyerbuan ke Giri. Yang menjadi senapati pasukan Giri adalah orang China yang sudah memeluk agama Islam, bergelar Secasena. Dia maju kegaris depan mengamuk dengan senjata terhunus, beserta seluruh bala tentaranya sebanyak tiga ratus orang. Semuanya pandai bermain silat, berkumis tipis berkepala gundul dan memakai sorban bagaikan seorang haji. Mereka bertempur lincah bagaikan belalang. Tentara Majapahit merangsak maju, tentara Giri tidak mampu menahan serangan tentara Majapahit. Senapati Secasena tewas, sedangkan tentara Giri yang terdiri dari orang China melarikan diri kocar-kacir. Banyak yang mengungsi ke hutan dan pegunungan, sebagian ada yang melarikan diri menyeberang laut, melarikan diri ke Benang. Terus dikejar oleh prajurid tempur Majapahit. Sunan Giri dan Sunan Benang melarikan diri dalam satu kapal menyeberang lautan, mungkin saja melarikan diri ke Arab dan tidak berniat kembali ke Jawa. Sang Prabhu lantas mengutus Patih untuk mengirimkan utusan ke Demak, guna memberikan perintah kepada Adipati Demak agar supaya jika ada ulama dari Giri dan dari Benang melarikan diri kesana, segera ditangkap dan dihaturkan kepada negara. Kesalahan santri dari Benang adalah, telah melakukan perusakan didaerah Kertasana sedangkan kesalahan santri Giri adalah, tidak mau menghadap kepada Sang Prabhu dan berniat untuk membangkang!

Sesampainya di Paseban luar keraton, Sang Patih kemudian memanggil duta yang hendak diutus ke Demak. Saat masih ada di Paseban luar keraton, bertepatan datang utusan Bupati Pathi, memberikan surat khusus kepada Sang Patih. Surat lantas dibaca oleh Sang Patih. Isi surat adalah demikian. Menak Tunjungpura yang berkuasa di Pathi memberikan laporan, bahwasanya Adipati Demak, yaitu Babah Patah, sudah mengukuhkan diri sebagai Raja Demak. Yang memberikan ijin dan restu adalah Sunan Benang dan Sunan Giri. Seluruh para Bupati pesisir utara yang sudah memeluk Islam semua mendukung. Adipati Demak mengambil gelar Senapati Jimbuningrat atau Sultan Syah ‘Alam Akbar Sirullah Khalifaturrasul ‘Amirilmu’minin Tajudil ‘Abdulhamid Khaq atau Sultan Adi Surya ‘Alam Ing Bintara. Saat ini Babah Patah berikut pasukan Demak telah berangkat menuju ibukota Majapahit, hendak menantang perang ayahandanya. Babah Patah lebih berat kepada gurunya, dia menganggap enteng ayahandanya. Para Sunan dan para Bupati banyak yang memberikan bantuan pasukan untuk menjebol Majapahit. Jumlah pasukan Babah Patah kurang lebih tiga ribu prajurid dengan persenjataan perang lengkap. Mohon segera dihaturkan kepada Sang Prabhu laporan ini. Surat dari Bupati Pathi tertanggal 3 Mulud 1303 tahun Jimakir, Masa Ke-Sembilan Wuku Prangbakat (Tahun Jawa dimulai pada Jumat Legi, 1 Suro 1555 Alip. Meneruskan tahun 1555 Saka dan perhitungannya lantas diubah menjadi perhitungan tahun Hijriyyah atau menggunakan sistem Bulan. Jika ada tahun Jawa 1303, maka ini adalah semacam perhitungan mundur mirip dengan Sebelum Masehi pada tahun Masehi. : DS). Surat habis dibaca, Kyai Patih benar-benar tak menyangka. Seketika gigi bergemeletukan, menggeram, menggeleng-gelengkan kepala dan benar-benar tidak bisa mempercayainya. Wajahnya tengadah menatap angkasa sembari menyebut nama Dewa Yang Maha Luhur. Dalam hatinya benar-benar heran kepada kelakuan orang Islam yang tidak tahu budi baik Sang Prabhu dan malah membalas dengan hal yang tidak sepatutnya. Segera Kyai Patih menghadap Sang Prabu dan melaporkan isi surat yang baru diterimanya.

Mendengar laporan Patih, Sang Prabhu benar-benar terkejut. Seketika terdiam kaku tak bisa bersuara. Bagaikan sebuah tugu batu yang mati. Dalam hati beliau benar-benar tidak bisa memahami akan kemauan putranya dan kemauan para Sunan sehingga mereka memiliki niatan yang semacam itu. Sudah diberi kedudukan tapi balasannya malah sedemikian rupa, tega hendak merusak Majapahit. Benar-benar Sang Prabhu tidak dapat memahami apa yang menjadi latar belakang kemauan mereka sehingga putranya sendiri berikut para ulama hendak berniat menyerang keraton Majapahit. Lama Sang Prabu merenung, tetap juga tidak menemukan jawabannya, lahir dan batin sungguh tindakan mereka adalah tindakan yang tidak masuk akal sama sekali. Hati Sang Prabu benar-benar terliputi kegelapan, benar-benar kecewa dan sedih, kesedihan seorang Raja besar. Hati Sang Prabhu habis, seolah hati seekor kerbau yang habis dimakan oleh kutu-kutu kecil. Setelah berapa lama berselang, Sang Prabhu bertanya kepada Sang Patih, apa sebabnya sehingga putranya sendiri berikut para ulama serta didukung para Bupati tega hendak menyerang Majapahit dan tidak ingat sama sekali dengan kebaikan Sang Prabhu?

Sang Patih memberikan jawaban bahwasanya dirinya sendiri juga tidak mengerti latar belakangnya. Sunguh diluar nalar sehat. Diberikan kebaikan malah membalas dengan kejahatan. Umumnya manusia diberi kebaikan akan membalas dengan kebaikan serupa. Ki Patih-pun ikut keheranan dan kecewa, heran pada orang Islam yang memiliki kehendak yang tidak baik semacam itu. Yang telah diiberi kebaikan malah membalas dengan kejahatan.

Sang Prabhu lantas berkata kepada sang Patih, segala kejadian yang telah terlanjur ini sebenarnya juga akibat kesalahan sang Raja sendiri, meremehkan agama yang sudah dipeluk secara turun temurun oleh orang Jawa, serta terpikat oleh kata-kata Putri Champa, memberikan ijin kepada para ulama untuk menyebarkan agama Islam secara mudah di Majapahit. Begitu gelap batin Sang Raja sehingga keluarlah ucapan kutuk dari bibir beliau : Aku memohon kepada Dewa Yang Maha Agung (Dewa segala dewa/Tuhan), semoga terbalaskan kesedihan yang aku alamiini, semoga orang Islam Jawa kelak terbalik dalam menjalankan agamanya, berubah menjadi orang berkuncir, karena tak mengerti kebaikan, aku beri kebaikan balasannya malah keburukan!” (orang berkucir maksudnya : manusia yang gampang mendua, gampang terpengaruh duniawi, meremehkan spiritualitas, spiritualitas hanya dipakai kedok belaka. Spiritualitas diperdagangkan, ditukar dengan materi. Berkucir adalah rambut yang dikepang kekiri dan kekanan. Orang Islam Jawa kelak disisi lain bisa kelihatan alim tapi disisi lain sangat materialistik. Seorang haji diam-diam merangkap rentenir, seorang kyai bisa berkorupsi, tak ada rasa bersalah dan risih, semua dianggap wajar dan bisa ditebus dengan tobat jika sudah puas dengan materi kelak). Sabda Raja Besar yang tengah bersusah hati, diterima oleh Bathara (Tuhan), disaksikan oleh jagad semesta, dengan tanda tiba-tiba terdengar suara bergemuruh diangkasa bagaikan suara guntur. Semenjak itulah di Jawa mulai muncul beberapa jenis burung bangau yang berkuncir bulu kepalanya. Para ulama dan Sunan semua mempunyai nama rangkap bertolak belakang (maksudnya disatu sisi dia tampil sebagai sosok penuntun, disisi lain diam-diam menimbun kekayaan dari spiritualitas yang diajarkan. Nama rangkap bertolak belakang, disisi lain alim disisi lain masih terjerat kenikmatan duniawi), hingga sekarang banyak contoh para ulama yang demikian itu (nama rangkap bertolak belakang dan berkucir rambutnya).

Sang Prabhu meminta pendapat Sang Patih, mengenai datangnya musuh, yaitu para santriyang hendak merebut kekuasaan, baiknya dilawan atau tidak? Sang Raja merasakecewa dan heran bercampur satu, kecewa dan heran mengapa hanya karena ingin memegang kekuasaan Majapahit, Adipati Demak memilih jalan pertumpahan darah? Seandainya diminta dengan baik-baik, pasti juga akan diberikan karena Sang Rajasudah sepuh.

Sang Patih menyarankan agar melawan musuh yang datang. Sang Prabhu ragu karena merasa sangat malu jika terdengar kabar beliau berperang memperebutkan tahta dengan putra sendiri, oleh karenanya Sang Prabhu memerintahkan agar menghadang musuh tapi hindari pertumpahan darah yang besar. Lantas Sang Prabhu memerintahkanjuga agar memangil Adipati Pengging (Adipati Handayaningrat) dan Adipati Pranaraga (Ponorogo ~ Adipati Bathara Katong) untuk memimpin pasukan, sebab Raden Gugur belum saatnya untuk maju berperang. Selesai memberikan perintah Sang Prabhu berkehendak meloloskan diri dari keraton menuju Bali, diiringkan oleh Sabdo Palon dan Naya Genggong. Saat Sang Prabhu tengah memberikan perintah, pasukan Demak sudah tiba dan mengepung kota. Kepergian Sang Prabhu sangat tergesa-gesa sekali.

Pasukan Demak lantas bertempur dengan pasukan Majapahit, para Sunan sendiri yang memimpin peperangan. Patih Majapahit mengamuk hebat dimedan tempur. Begitu juga delapan orang pejabat Nayaka Bupati ikut terjun ke peperangan. Peperangan berjalan sengit, pasukan Demak berjumlah tiga juta prajurid sedangkan pasukan Majapahit yang ada di ibu kota hanya terkumpul tiga ribu prajurid. Majapahit telah diserang musuh secara besar-besaran, banyak prajurid yang gugur, Patih dan para pejabat Nayaka Bupati terus bertempur tanpa kenal mundur. Prajurid Demak yang terkena amukan mereka pasti tewas. Putra selir sang Prabhu yang bernama Lembu Pangarsa juga mengamuk dimedan laga, berhadapan dengan Sunan Kudus. Ditengah pertempuran, Patih Demak Mangkurat melemparkan tombak kearah putra selir Majapahit, gugurlah dia! Melihat putra selir gugur secara licik,sang Patih semakin mengamuk bagai banteng ketaton, tak lagi ada yang ditakuti,segala senjata tak mampu melukai tubuhnya, bagaikan tugu terbuat dari baja,segala besi tak ada yang mempan ditubuhnya! Ditempat mana yang diterjang pasti bubar semburat, yang nekat melawan pasti tewas mengenaskan. Mayat bertumpang tindih. Sang patih ditembak pelor dari kejauhan, bagaikan hujan datangnya mimis, akan tetapi mental bagai mengenai batu cadas! Sunan Ngundhung (ayah Sunan Kudus) maju kedepan menghadapi amukan sang Patih, ditikam tapi tak terluka, ganti terkena tikaman, Sunan Ngundhung tewas seketika! (makam Sunan Ngundhung masih ada di pemakaman Troloyo, Trowulan Mojokerto sampai sekarang : DamarShashangka). Begitu Sunan Ngundhung tewas, sang Patih dikeroyok begitu banyak prajurid Demak, sedangkan para prajurid Majapahit sudah banyak yang tewas.Seberapa kuatnya satu orang melawan begitu banyak orang, akhirnya sang Patih gugur. Akan tetapi jasadnya hilang dan meninggalkan suara : ” Ingat-ingatlah kalian semua orang Islam, diberikan kebaikan oleh Raja-ku malah membalas dengan keburukan, tega merebut negara Majaphit dan membuat pembunuhan sedemikian besar, ingatlah kelak akan aku balas, akan aku hajar kesadaranmu agar tahu mana yang benar dan mana yang salah, akan aku potong bersih rambutmu (maksudnya segala kebodohan mereka) dan akan aku tiup kepalamu (maksudnya akan diberikan pengetahuan yang benar)!”

Setelah sang Patih gugur, para Sunan lantas masuk kedalam keraton. Akan tetapi sang Prabhu sudah tidak ada, yang tinggal hanya Ratu Mas, yaitu Putri Champa. Sang putri diminta untuk menyingkir ke Benang dan menurut.

Para prajurid Demak masuk kedalam keraton tanpa dkomando, didalam istana mereka menjarah dan mengambil segala yang ada hingga bersih, para penduduk tidak ada yang berani melawan.Raden Gugur yang masih kecil berhasil meloloskan diri. Adipati Terung ikut masuk kedalam istana, membakar seluruh buku-buku ajaran Buda (Shiwa Buddha), pasukan yang tersisa kocar kacir melarikan diri, padahal seluruh pintu benteng dijaga pasukan Terung (coba diteruskan apa yang terjadi jika demikian? Dalam Serat Darmogandhul tidak dilanjutkan). Masyarakat Majapahit yang tidak mau tunduk lantas mengungsi besar-besaran ke gunung dan ke hutan-hutan (salah satunya pengikut Raden Jaka Seger dan Dewi Rara Anteng yang mengungsi ke daerah pegunungan Bromo. Menurunkan suku Tengger sampai sekarang. Nama Tengger diambil dari nama Dewi Rara An-TENG dan Raden Jaka Se-GER : DS).Sedangkan masyarakat yang tunduk dikumpulkan semua, lantas di Islam kan secara massal. Jasad para pejabat berikut putra-putra selir yang gugur dikumpulkan dan dikubur (tidak dibakar secara Shiwa Buddha) disebelah tenggara istana.Pemakaman tadi lantas dinamakan Bratalaya, konon katanya disanalah makam RadenLembu Pangarsa juga berada.

Tiga hari kemudian, Sultan Demak berangkat ke Ngampel, yang dipercaya menjaga di istana Majapahit adalah Patih Mangkurat dan Adipati Terung, untuk menjaga keamanan istana dari serangan-serangan pasukan Majapahit yang mungkin masih tersisa.Sunan Kudus juga ikut menjaga istana, seolah-olah menjadi pengganti Sang Prabhu. Wilayah Terung dijaga ulama tiga ratus, setiap malam melaksanakan shalat hajat serta membaca Kur’an. Separuh pasukan dan beberapa sunan mengiringi Sultan Demak menuju Ngampeldhenta.

Sunan Ngampel sudah wafat, hanya tinggal sang istri yang ada di Ngampel. Sang istri berasal dari Tuban, putri Adipati Arya Teja. Sepeninggal Sunan Ngampel, Nyi Ageng (istri Sunan Ngampel) dituakan oleh masyarakat Ngampel. Sang Prabhu Jimbuningrat (Raden Patah/Sultan Demak) sesampainya di Ngampel, segera memberikan sembah bakti kepada Nyi Ageng. Bergiliran, para sunan juga menghaturkan sembah baktinya. Prabhu Jimbuningrat lantas melaporkan bahwa telah berhasil menjebol Majapahit, melaporkan lolosnya Sang Ayahanda dan Raden Gugur,serta tewasnya Patih Majapahit serta mengabarkan bahwa dirinya sudah mengukuhkan diri sebagai Raja yang menguasai tanah Jawa, berjuluk : Senopati Jimbun atau Panembahan Palembang. Maksud kedatangannya ke Ngampel hendak meminta restu agar lestari menjadi Raja hingga keturunanya kelak.

Usai mendengar laporan Prabhu Jimbun, Nyi Ageng seketika menangis dan merangkul Sang Prabhu (Jimbuningrat). Hatinya bagai diiris-iris, beginilah ucapan yang keluardari bibir beliau :”Cucuku, kamu telah melakukan tiga buah dosa. Berani melawan Raja-mu sekaligus Orang tua-mu, orang yang telah memberikan kemuliaan duniawi, namun kamu hancurkan tanpa dosa. Jika mengingat kebaikan paman Prabhu Brawijaya,dimana para ulama diberikan tempat tinggal sehingga bisa mencari makan ditempat masing-masing, serta diberi kebebasan untuk menyebarkan agama, seharusnya sebagai manusia patut mengucapkan terima kasih. Tetapi mengapa akhirnya dibalas dengan kejahatan, sekarang beliau wafat atau masih hidup tidak diketahui lagi bagaimana nasibnya!”

Nyi Ageng berkata lagi kepada Sang Prabhu : “Ngger, aku hendak bertanya kepadamu, jawablah sejujurnya, siapakah ayahmu yang sesungguhnya? Siapakah yang mengukuhkan kamu menjadi Raja tanah Jawa dan siapa yang merestui? Apa sebabnya kamu melakukan pembunuhan kepada orang Majapahit sedangkan mereka tanpa memiliki kesalahan kepadamu?”

Sang Prabhu menjawab, konon Prabhu Brawijaya memang ayahandanya yang sesungguhnya.Yang mengangkat dirinya menjadi Raja tanah Jaya tak lain para Bupati pesisir utara. Yang merestui para Sunan. Majapahit diserang, sebab Sang Prabhu Brawijaya tidak mau masuk Islam, tetap bersikukuh memeluk agama kafir kufur,agama Buda (Shiwa Buddha) totok yang sudah keras bagai kerasnya kuwuk (batu laut).

Mendengar penuturan Prabhu Jimbun, Nyi Ageng menjerit seketika dan merangkul sambilberkata : “Ngger! Ketahuilah! Kamu telah berbuat dosa tiga macam. Pasti akan mendapatkan hukuman Gusti Allah. Kamu telah berani melawan Raja-mu dan Orangtuamu sendiri, yang telah memberikan kemuliaan duniawi bagimu, kamu tega telah melakukan kekerasan kepada orang yang tanpa salah. Adanya manusia Islam dan Kafir siapa yang menciptakan, kecuali hanya satu Gusti Allah sendiri.Manusia berganti agama itu tidak bisa dipaksa, jika bukan kehendak pribadinya sendiri. Ketahuilah manusia yang gugur karena memegang teguh keyakinannya termasuk manusia yang utama! Jika Gusti Allah menghendaki, pastinya tak usah disuruh, pasti akan memeluk agama Islam sendiri. Gusti Allah yang bersifat Rahman (Kasih) tidak memerintahkan untuk memaksa orang masuk agama tertentu,semua sesuai kehendak manusia sendiri-sendiri. GUSTI ALLAH TIDAK AKAN MENYIKSA MANUSIA KAFIR YANG TAK BERSALAH DAN TIDAK AKAN MEMBERIKAN PAHALA KEPADA ORANG ISLAM YANG PERBUATANNYA TIDAK BENAR! HANYA PERBUATANNYA YANG AKAN DIADILI SECARA ADIL, BUKAN KARENA AGAMANYA APA! Ibumu China menyembah Pek-Kong, yang diwujudkan dalam kertas bergambar atau arca dari batu. Tidak benar membenci orang Buda. Itu tandanya matamu masih terlapisi, sehingga tidak terang penglihatanmu, tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah! Konon kamu putra Sang Prabhu, tapi mana ada putra yang tega menghancurkan ayahandanya sendiri, menghancurkan tanpa ada kesalahannya. Beda dengan mata orang Jawa asli, Jawa atau Jawi ( Jawa maksudnya paham atau sadar, orang Jawa yang tidak paham etika atau sadar sopan santun lumrah disebut ORA JAWA! : DamarShashangka), penglihatannya satu, paham mana yang benar dan mana yang salah, sadar mana yang baik dan mana yang buruk! Pasti takut berbakti kepada orangtua, kedua berbakti kepada Raja yang telah memberikan anugerah kemuliaan duniawi, orang tua maupun Raja wajib diberikan dharma bakti. Niatnya berbakti kepada orang tua, bukan melihat kafirnya! Kamu aku beritahu, Agung Kuparman beragama Islam dan mempunyai mertua kafir. Mertuanya benci kepadanya karena beda agama, senantiasa mencari jalan agar menantunya mati. Akan tetapi Agung Kuparman senantiasa berbakti dan menghormati karena mengingat dia adalah mertuanya yang bagaikan orangtua sendiri, tidak melihat kafirnya! Itulah contoh manusia utama, tidak seperti perbuatanmu, menganiaya orang tua hanya karena beliau beragama Buda dan tidak mau berganti agama Islam. Perbuatanmu tidak patut. Dan lagi aku hendak bertanya, apakah kamu pernah meminta secara pribadi kepada ayahandamu agar bersedia berganti agama? Lantas apa yang menyebabkan kamu nekad merusak negara Majapahit?”

Prabhu Jimbun menjawab, belum pernah meminta kesediaan ayahandanya agar berganti agama, datang ke Majapahit langsung menyerang.

Nyi Ageng Ngampel tertawa dan berkata, “Perbuatanmu semakin terlihat salah! Para Nabi pada jaman dulu, berani menentang orang tuanya, sebab sudah setiap hari meminta kesediaan orang tua mereka agar berganti agama, akan tetapi tidak mau juga,bahkan hingga diberi bukti mukjijat segala, mukjijat sudah saatnya berganti agama Islam, akan tetapi permintaan itu tidak digubris, orang tua mereka masih tetap memegang teguh agama lama, lantas mereka dimusuhi oleh orang tua mereka.Jika begitu kejadiannya, kalaupun harus bermusuhan dengan orang tua, mereka tidak salah. Sedangkan dirimu, apa mukjijatmu? Jika memang nyata Khalifatullah(Wakil Allah) yang berhak mengganti agama lama sekarang perlihatkan mukjijadmu aku ingin menyaksikannya!”

Prabhu Jimbun menjawab jika tidak memiliki mukjikat apapun, hanya menuruti bunyi kitab, katanya jika meng-Islam-kan orang kafir kelak mendapat anugerah surga.

Nyi Ageng Nganpel tertawa dan semakin marah, ” Hanya katanya kok dituruti, bahkan bukan ujar leluhur. Kata-kata orang pengembara kok dituruti, akhirnya yang rusak dirimu sendiri. Itu tanda masih mentah pengetahuan agamamu! Berani kepada orang tua, hanya karena ingin menjadi Raja, kesengsaraan masyarakat banyak tidak kamu fikirkan. Dirimu bukan santri ahli Budi (Kesadaran), hanya manusia yang berikat kepala putih, bagaikan putihnya burung bangau, yang putih hanya kulitnya saja,didalamnya masih merah menyala! Saat kakekmu (Sunan Ngampel) masih hidup, dirimu pernah meminta ijin untuk menyerang Majapahit, kakekmu tidak memberikan ijin, bahkan wanti wanti jangan sampai bermusuhan dengan orang tua. Sekarang kakekmu sudah wafat, larangannya kamu langgar, kamu tidak takut melanggar wasiatnya. Jikalau dirimu sekarang meminta restu padaku untuk menjadi Raja tanah Jawa, diriku tidak berwenang memberikan ijin, diriku orang kecil, seorang wanita lagi. Nanti terbalik akhirnya. Sebab seharusnya dirimu yang berwenang memberikan restu kepadaku, sebab dirimu adalah Khalifatullah di tanah Jawa.Dirimu adalah orang tua, apa yang kamu ucapkan bagaikan ludah berisi api (maksudnya bakal dituruti banyak orang), diriku hanya tua tanpa arti, dirimulah yang tua karena kamu sekarang Raja!”

Lantas Nyi Ageng Ngampel berkata lagi, “ Cucuku, dengarkanlah aku akan menceritakan empat kisah lama yang bisa dijadikan suri tauladan. Dalam sebuah kitab hikayat telah diceritakan, di tanah Mesir (yang benar cerita ditanah Israel atau Isroil, penulis Darmagandhul membuat kesalahan disini. Ini membuktikan sang penulis bukan misionaris Kristiani seperti yang dituduhkan oleh beberapa kalangan akhir-akhir ini. Jika benar sang penulis adalah misionaris Kristiani, mana mungkin melakukan sebuah kesalahan semacam ini, dimana kisah Nabi Daud dikatakan cerita dari Mesir. Dalam Kitab Perjanjian Lama sudah jelas diketahui Daud adalah orang Israel dan Raja Israel, dan seorang Kristiani tak mungkin akan salah jika bertutur tentang Daud dan Israel-nya. : DS) bahwa pernah suatu ketika putra Kangjeng Nabi Daud pernah merebut tahta ayahnya. Nabi Daud sampai harus meloloskan diri dari kerajaan dan sang putra mengukuhkan diri sebagai Raja. Tidak berapa lama Nabi daud berhasil merebut kerajaannya. Sang putra lari dengan menunggang kuda ke hutan, kuda berlari tak bisa dikendalikan hingga sang putra tersangkut pohon dan batu, dan tewas dengan tubuh tersangkut pada sebatang pohon. Itulah yang disebut hukum Allah. Ada lagi cerita dari Prabhu Dewatacengkar, dia juga merebut tahta ayahandanya, dikutuk oleh sang ayah menjadi raksasa, setiap hari harus memakan daging manusia, tidak berapa lama kemudian, datanglah seorang Brahmana dari tanah seberang (India) ke Jawa, bernama Aji Saka, membawa kesaktian ditanah Jawa. Seluruh masyarakat Jawa mengasihi Aji Saka, dan membenci Dewatacengkar. Aji Saka diangkat menjadi Raja, Dewatacengkar dilawan hingga lari menceburkan diri ke samudera, berubah menjadi buaya, tidak berapa lama kemudian meninggal. Ada lagi cerita dari negara Lokapala, Sang Prabhu Danaraja berani melawan ayahandanya, hukuman yang diterima juga tak jauh beda dengan cerita sebelumnya, semua menemui kesengsaraan. Dan sedangkan kamu, melawan ayah tanpa dosa, pastilah kamu menemui kesengsaraan, jika kelak meninggal pasti akan masuk neraka, itulah hukum Allah bagimu!”

Mendengar penuturan sang nenek, Sang Prabhu Jimbun dalam hati merasa menyesal, akan tetapi semua sudah terlanjur.

Nyi Ageng Ngampel masih meneruskan penuturannya,”Ketahuilah dirimu itu diperalat oleh para Ulama dan para Bupati, mengapa kamu menurut saja? Yang akan menerima kesengsaraan pastilah hanya dirimu seorang, sudah kehilangan ayah, seumur hidup namamu akan tercemar. Kebanggaan apa yang kamu dapatkan unggul berperang dengan ayah sendiri yang patut dihormati? Walau kamu bertaubatl kepada Yang Maha Kuasa, menurutku tidak akan diterima taubatmu. Kesalahan pertama kamu berani melawan ayahanda sendiri, kesalahan kedua berani menentang Raja, kesalahan ketiga membalas kebaikan dengan kejahatan serta melakukan perusakan dan pembunuhan tanpa ada dosa. Ingat, Adipati Pranaraga (Bathara Katong) dan dipati Pengging (Adipati Andayaningrat) tidak akan mungkin bisa menerima kehancuran Majapahit, pasti mereka akan membela ayah mereka, menghadapi hal itu saja sudah sangat berat buatmu.” Banyak lagi penuturan Nyi Ageng kepada Prabhu Jimbun. Sesudah Sang Prabhu selesai dinasehati, lantas disuruh pulang ke Demak serta disuruh mencari kemana perginya ayahandanya. Jika sudah ditemukan supaya diminta pulang kembali ke Majapahit, sebelumnya diminta mampir ke Ngampelgadhing. Akan tetapi jika tidak berkenan, tidak boleh dipaksa, sebab jikalau sampai membuat kemarahan beliau lagi dan sampai mengeluarkan kutuk, pasti akan terjadi kutukan itu.

Sesampainya di Demak, Sang Prabhu Jimbun melihat seluruh prajuridnya tengah bersuka cita dan bersenang-senang merayakan kemenangan, sedangkan para santri semua memukur rebana sembari berdzikir, mengucapkan syukur dan suka dihati melihat Sang Prabhu pulang sembari membawa kemenangan.

Sunan Benang menyambut kedatangan Sang Prabhu Jimbun, Sang Raja lantas melaporkan kepada Sunan Benang bahwa Majapahit sudah bisa dijebol, seluruh kitab-kitab Buda sudah dibakar semua, serta melaporkan bahwasanya ayahandanya berikut Raden Gugur lolos dari istana, sedangkan Patih Majapahit tewas ditengah medan peperangan. Putri Cempa dibawa mengungsi ke Benang, semua prajurid Majapahit yang menyerah dipaksa masuk Islam.

Mendengar laporan Sang Prabhu Jimbun, Sunan Benang tertawa sembari mengangguk-angguk dan berkata kalau sudah sesuai dengan apa yang sudah dilihatnya secara gaib.

Sang Prabhu berkata lagi, sebelum pulang ke Demak menyempatkan mampir ke Ngampeldhenta, sowan kepada eyang Nyi Ageng Ngampel, melaporkan kepada beliau jika baru saja berhasil menjebol Majapahit dan meminta restu untuk menjadi Raja. Akan tetapi di Ngampel malah dimarahi habis-habisan karena menurut beliau dirinya tidak bisa melihat kebaikan Sang Prabhu Brawijaya. Sesudah itu, diutus oleh beliau agar mencari jejak kepergian ayahandanya, semua yang diucapkan Nyi Ageng Ngampel dihaturkan semua kepada Sunan Benang.

Sesudah mendengar penuturan Sang Raja, didalam hati Sunan Benang merasa menyesal, menyadari kesalahannya, dimana dirinya tidak mengingat semua kebaikan Sang Prabhu Brawijaya yang telah diberikan kepadanya. Akan tetapi perasaan sesal itu segera ditepis dengan ucapan bahwasanya tindakan menjebol Majapahit itu sudah benar karena Sang Prabhu Brawijaya dan Patih tidak mau memeluk agama islam.

Sunan Benang lantas berkata bahwasanya seluruh penuturan Nyi Ageng Ngampel tidak perlu dirisaukan, sebab akal seorang wanita itu pasti kurang sempurna dibandingkan dengan akal pria, lebih baik usaha menjebol Majapahit terus dilanjutkan. Jikalau Prabhu Jimbun menuruti nasehat Nyi Ageng Ngampeldhenta, Sunan Benang memutuskn hendak pulang ke Arab. Prabhu Jimbun berkata kepada Sunan Benang, bahwasanya jikalau tidak menuruti perintah Nyi Ngampel, pastinya akan mendapatkan kutuk yang tidak baik, oleh karenanya dirinya merasa takut.

Sunan Benang memberikan jalan keluar kepada Sang Prabhu, jikalau memang Sang Prabhu Brawijaya diusahakan kembali ke Majapahit, maka Sang Prabu Jimbun harus menghadap dan memohon maaf atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Namun jika hendak diangkat kembali menjadi Raja, jangan diangkat di Jawa, sebab pastinya akan menjadi penghalang bagi mereka yang hendak memeluk agama Islam. Seyogyanya dikukuhkan sebagai Raja diluar pulau Jawa, dimana saja diwilayah Majapahit asal tidak di pulau Jawa!

Sunan Giri lantas menyambung, dia berpendapat jalan yang terbaik agar tidak sampai terjadi pertumpahan darah yang berkelanjutan, Sang Prabhu Brawijaya beserta para putra-putra yang masih memiliki kuasa dibeberapa daerah seyogyanya ditenung (di santet) saja, membunuh orang kafir itu tidak ada dosanya!

Sunan Benang dan Prabhu Jimbun akhirnya menyetujui pendapat Sunan Giri tersebut.

Berganti cerita, perjalanan Sunan Kalijaga yang tengah berusaha melacak jejak Sang Prabhu Brawijaya, hanya didampingi dua orang murid. Perjalanan mereka terlunta-lunta. Setiap desa dimasuki hanya demi mencari kabar berita. Perjalanan Sunan Kalijaga sampai dipesisir timur pulau Jawa, dimana disanalah Sang Prabhu Brawijaya tengah berada.

Perjalanan dari Prabhu Brawijaya sendiri sudah sampai di Blambangan. Karena rombongan merasa lelah lantas beristirahat disamping danau. Pada saat itu suasana hati Sang Prabhu sangat gelap. Yang menghadap didepan beliau hanya dua orang abdi terkasih, tak lain adalah Nayagenggong dan Sabdapalon. Kedua abdi ini terus mengcoba menghibur hati Sang Prabhu agar tidak terus larut dalam kesedihan karena kejadian yang baru dialami. Tidak berapa lama datanglah Sunan Kalijaga, menghaturkan sembah dibawah kaki Sang Prabhu.

Sang Prabhu lantas bertanya kepada Sunan Kalijaga,” Sahid, mengapa kamu ada disini? Ada perlu apa menguntit perjalananku?”

Sunan Kalijaga menjawab, “Sowan hamba ini diutus oleh putra paduka untuk mencari keberadaan paduka. Jika bertemu dimanapun, agar supaya sembah sujud sang putra dihaturkan kepada paduka. Memonon maaf atas segala kesalahan yang telah diperbuat yang telah berani merebut tahta. Disebabkan kebodohan hati seorang muda, yang belum memahami tata krama, terlalu lancang menuruti keinginan hati agar bisa menjadi seorang Raja yang mempunyai banyak wadyabala dan dihadap oleh banyak Bupati. Dan saat ini, putra paduka telah menyadari segala kekeliruannya. Dimana dia yang telah memiliki seorang ayah Raja Besar, yang telah mengangkat derajatnya dari orang rendah menjadi seorang Adipati Demak, akan tetapi balasannya seperti ini. Saat ini putra paduka telah menyadari, setelah paduka lolos dari istana dan tidak diketahui lagi keberadaannya, putra paduka merasa menyesal dan takut mendapatkan hukuman Tuhan. Oleh karenanya hamba diutus untuk melacak keberadaan paduka, pesannya jika bertemu dimana saja diharapkan sudilah kiranya kembali ke Majapahit, kembali bertahta seperti sediakala, mennguasai para prajurid dan dihadap para punggawa, lestari menjadi sesepuh yang dihormati oleh para putra dan cucu serta para kawula alit. Dihormati dan dimintai restunya. Jikalau paduka berkenan pulang, putra paduka rela menyerahkan tahta kembali kepada paduka, putra paduka berserah diri hidup dan matinya kepada paduka. Namun jika diperkenankan, putra paduka hanya memohon agar dimaafkan segala kesalahannya yang telah dibuat dan agar diperkenankan tetap menjabat sebagai Adipati Demak, seperti yang sudah-sudah. Akan tetapi jika paduka tidak berkenan menerima tahta kembali, jika menginginkan mendirikan istana di mana saja, walaupun dilereng gunung-pun, dimanapun yang paduka senangi, putra paduka akan membuatkan dan akan menjamin sandang dan pangan paduka, akan tetapi memohon agar berkenan memberikan pusaka (tahta) tanah Jawa. Tahta diminta dengan segala kerendahan dan kerelaan hati.”

Sang Prabhu Brawijaya berkata,”Telah ku dengar semua penuturanmu, Sahid! Akan tetapi tidak aku pedulikan lagi, sebab diriku sudah kapok mendengarkan ucapan para santri yang mempunyai mata tujuh buah (maksudnya banyak akalnya), dan semua mata tersebut mata yang dilapisi, sehingga tidak terang dan jelas penglihatannya. Baik dimuka tapi memukul dari belakang. Kata-katanya hanya manis dibibir, akan tetapi hatinya penuh dengan debu kotoran yang dilemparkan ke wajahku sehingga butalah mataku ini. Sudah aku berikan kebaikan, balasannya bagaikan tingkah makhluk yang berekor. Apa salahku sehingga dirusak tanpa dosa, meninggalkan segala tata cara dan etika manusia, mengobarkan peperangan tanpa tantangan, apakah memakai cara babi, sehingga tidak memakai etika manusia?”

Mendengar jawaban Sang Prabhu, Sunan Kalijaga merasa ikut bersalah karena secara tidak langsung ikut membiarkan kehancuran Majapahit, dalam batin sangat-sangat menyesal, semua sudah terlanjur, sehingga akhirnya keluarlah keluhannya, “Apapun kemarahan yang paduka ungkapkan, tetap akan hamba jadikan jimat utama, hamba junjung dan hamba ikat diatas rambut kepala, hamba letakkan diubun-ubun, semoga bisa menambahi cahaya nurbuat yang bening sehingga membuat keselamatan bagi hamba dan semua putra dan cucu paduka. Karena hamba sudah menyadari kesalahan ini, apalagi yang hendak hamba minta, kecuali hanya kerelaan paduka untuk memberikan maaf. Lantas kalau boleh hamba bertanya, selanjutnya paduka hendak pergi kemanakah?”

Sang Prabhu Brawijaya menjawab, “Sekarang aku memutuskan hendak ke pulau Bali, menemui adikku Prabhu Dewa Agung di Klungkung. Aku hendak memberitahu segala tindakan Patah, menganiaya orang tuanya sendiri yang tanpa dosa. Aku hendak meminta adikku Prabhu Dewa Agung untuk menghubungi seluruh Raja bawahan Majapahit diluar pulau Jawa, agar mempersiapkan diri dengan persenjataan perang lengkap! Serta aku hendak meminta tolong kepada adikku Prabhu Dewa Agung agar Adipati Palembang diberitahu, jikalau kedua anaknya sesampainya di Jawa sudah aku angkat sebagai Bupati, akan tetapi tidak tahu jalan yang benar, dan berani melawan ayah dan Raja-nya sendiri, aku hendak meminta kerelaan Adipati Palembang untuk merelakan anaknya (Raden Kusen/Kin Shan ~ Adipati Terung Pecattandha) aku bunuh. Bahkan melalui adikku Prabhu Dewa Agung aku hendak meminta tolong menghubungi Hong Te di China, untuk mengabarkan bahwasanya putrinya yang menjadi istriku telah melahirkan seorang cucu baginya (Raden Patah ~ Adipati Demak), tapi tidak tahu jalan yang benar, berani melawan ayah dan Raja-nya, aku juga hendak meminta kerelaan Hong Te untuk merelakan cucunya aku bunuh. Tidak hanya itu, aku juga akan mengutus Prabhu Dewa Agung untuk menghubungi Keraton China, meminta bantuan prajurid dengan persenjataan lengkap dan segera datang ke Bali bersiap menggempur Jawa! Pasti Raja China masih memperhatikan nama besarku, pasti Raja China tidak tega melihat Raja yang sudah bungkuk terlunta-lunta seperti aku. Nama besarku pasti akan membuat prajurid China bakal dikirimkan ke Bali. Akan aku kerahkan semua pasukan tadi menyerang tanah Jawa, merebut tahtaku kembali. Sekarang, jika memang harus terjadi perang besar antara ayah melawan anak, aku sudah tidak peduli lagi! Sebab diriku selama ini tidak pernah memulai membuat kesalahan, diriku selama ini tidak pernah meninggalkan tata cara seorang Raja bijak!”

Mendengar kata-kata Sang Prabhu yang demikian, Sunan Kalijaga tercenung dan berkata dalam hati, “Benarlah apa yang dikatakan oleh Nyi Ageng Ngampelgadhing, bahwasanya eyang wungkuk (Prabhu Brawijaya) masih mempunyai nama besar dan masih punya kuasa. Sungguh tidak melihat diri sendiri, kulit yang sudah keriput punggung yang sudah bungkuk. Jikalau sampai menyeberang ke pulau Bali, pastilah akan terjadi perang besar dan dapat dipastikan kekuatan Demak tidak akan bisa menang. Sebab jelas-jelas Demak melakukan kesalahan yang tidak akan menarik simpati Negara manapun. Kesalahan pertama berani melawan ayahanda sendiri. Kesalahahn kedua berani melawan Raja tanpa ada masalah yang jelas dan kesalahan ketiga berani membalas kebaikan dengan kejahatan. Pastilah semua penduduk Jawa (Majapahit) yang belum masuk Islam akan membela Raja tua, mereka akan ikut memperkuat barisan, dan pastilah akan kalah orang Islam, habis binasa dalam peperangan yang bakal terjadi.”

Akhirnya Sunan Kalijaga pelan berkata,” Duh paduka yang mulia Kangjeng Sang Prabhu. Jikalau seandainya paduka terlaksana menyeberang ke Bali, terlaksana menggalang kekuatan para Raja bawahan Majapahit diluar Jawa, pastilah bakal terjadi perang besar. Apakah paduka tidak sayang akan kerusakan tanah Jawa kelak ? Sudah dapat dipastikan putra paduka (Raden Patah) yang akan menemui kekalahan. Paduka lantas kembali naik tahta, tak lama kemudian akan turun tahta karena jelas paduka sudah sepuh. Tahta Jawa lantas dikuasai oleh yang bukan keturunan darah paduka. Bagaikan anjing yang berebut bangkai, anjing yang bertengkar tak ada yang mengalah dan binasa kedua-duanya, sedangkan daging yang diperebutkan akhirnya dimiliki oleh anjing yang lain.”

Sang Prabhu Brawijaya menjawab, “Jikalau memang harus seperti itu kejadiannya nanti, semua aku pasrahkan kepada kehendak Dewa Yang Maha Lebih. Diriku ini Raja Besar, setia pada satu mata, tidak mempergunakan dua mata, hanya satu mata melihat kebenaran, kebenaran yang sudah ditetapkan turun temurun oleh leluhur tanah Jawa. Seandainya si Patah mengakui aku ayahnya, jika hanya ingin menjadi Raja, seharusnya mintalah tahta secara baik-baik. Tahta tanah Jawa pasti akan aku berikan dengan baik-baik pula. Diriku sudah tua, sudah bosan menjadi Raja, dan sudah saatnya menjadi Pandhita, menyepi dilereng gunung. Akan tetapi sekarang kenyataannya si Patah tega menyia-nyiakan diriku, demi Dewata Yang Agung pastilah sekarang diriku tidak akan rela jika tanah Jawa dikuasainya, begitu pula seluruh abdi-abdiku, tak ada yang rela jika tanah Jawa dikuasai Patah!”

Sunan Kalijaga, begitu mendengar kata-kata Sang Prabhu merasa sudah tidak bisa mencegah lagi. Sontak dia menyembah kaki Sang Prabhu. Kemudian melepas keris yang terselip dipinggang belakang serta disodorkan kepada Sang Prabhu sembari menyatakan, jikalau Sang Prabhu tidak mendengarkan kata-kata Sunan Kalijaga, Sunan Kalijaga memohon agar Sang Prabhu berkenan membunuhnya saat itu juga. Sunan Kalijaga merasa malu jika kelak harus melihat peperangan besar terjadi di Jawa antara ayah dan anaknya.

Melihat apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga sedemikian itu, hati Sang Prabu beku dan teriris, lama tak mampu bersuara. Dada beliau seketika sesak dan tak terasa menetes air mata Prabhu Brawijaya. Bergetar suara Sang Prabhu, “Sahid, duduklah kembali, sudah akan aku pikirkan kembali kata-kataku, akan aku renungkan lagi semua ucapanmu, benar atau tidaknya, jujur atau bohong. Sebab aku khawatir apa yang kamu ucapkan semua tadi hanya bohong belaka. Ketahuilah Sahid, jika seandainya aku benar pulang kembali ke Majapahit, lantas si Patah menghadap dihadapanku. Kebenciannya tak mungkin bisa hilang, sebab merasa memiliki ayah orang Buda totok kafir kufur. Hanya sesaat dia bisa menghargaiku. Lain hari pasti akan lupa lagi. Mungkin aku nanti bisa juga dikebiri (sunat) olehnya, atau mungkin bisa juga disuruh menjaga pintu gerbang belakang. Pagi sore dipaksa melaksanakan sembahyang. Jika tidak bisa-bisa diguyur air dikolam dan dikosok tubuhku mengunakan daun alang-alang kering!”

Sang Prabhu melanjutkan ucapannya kepada Sunan Kalijaga, “Renungkanlah, Sahid. Bagaimana sedihnya hatiku, sudah tua, bungkuk, diperlakukan bagai anak kecil direndam di kolam sedemikian rupa.”

Sunan Kalijaga tersenyum sembari berkata,”Tak mungkin hingga sedemikian itu perlakuan putra paduka. Sungguh kelak saya yang akan bertanggung jawab. Saya pastikan putra paduka tidak akan berani berlaku sia-sia kepada paduka. Jika masalah agama, semua tergantung kepada pribadi pasuka sendiri. Akan tetapi akan lebih baik jika paduka memang berkenan berganti agama Buda dengan syari’at Rasul. Menyebut asma Allah. Jikalau memang tidak berkenan, tidak juga menjadi masalah. Agama bukan jaminan (menemukan kesejatian). Keyakinan orang Islam yang utama hanyalah sahadat. Walaupun shalat jempalitan, manakala belum memahami sahadat, tetap saja dinamakan kafir.”

Sang Prabhu berkata,”Apa Sahadat itu? Aku kok belum tahu, jelaskanlah akan aku dengarkan!”

Sunan Kalijaga lantas mengucapkan kalimat Sahadat: “Ashadualla illa haillallah, wa ashadu anna Muhammadarrasulullah. Artinya Aku bersaksi, tidak ada Tuhan yang sejati kecuali Allah. Dan aku bersaksi, Kangjeng Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

Lantas Sunan Kalijaga mengatakan lagi,”Manusia yang melakukan penyembahan kearah kiblat semata, akan tetapi tidak juga memahami maksudnya, tetaplah dinamakan kafir. Dan lagi manusia yang menyembah sesuatu yang berwujud dan berwarna, itu disebut menyembah berhala. Maka oleh karenanya, manusia wajib memahami dirinya dari lahir hingga batin. Manusia mengucapkan sesuatu harus tahu apa yang diucapkan. Sesungguhnya yang disebut Nabi Muhammad Rasulullah, Muhamad itu sejatinya adalah bagaikan makam atau kuburan. Badan sejati manusia ini (Ruh) ibarat tempat tertanamnya/melekatnya segala gejolak batin. Sesungguhnya yang mengucapan sahadat adalah menyaksikan Diri-nya sendiri (Ruhnya sendiri sebagai utusan Allah), bukan naik saksi kepada Muhammad yang ada di Arab. Badan (sejati) manusia ini adalah Percikan Dzat Tuhan. Diibaratkan sebagai kubur atau makam segala rasa dan gejolak batin. (Diri sejati sebagai) Rasul (utusan) akan dapat di-Rasa-kan (oleh Ruh). Bukan dirasakan bagai merasakan Rasa makanan (dan segala rasa pancaindriya, akan tetapi Rasa sadar bahwa diri ini adalah utusan Tuhan). Rasul (utusan/Ruh) ini murni illahi. Lullah (dari Allah) bisa juga diartikan bagaikan luluh. Seperti lumpur yang luluh. Rasulullah (Utusan Allah/Ruh ini) sesungguhnya adalah illlahi yang diselimuti oleh rasa negative dan segala yang jelek. Muhammad Rasulullah (Ruh adalah utusan Allah). Untuk menyadarinya pertama-tama harus memahami apa badan (kasar) ini, kedua memahami segala keinginan (gejolak batin/badan halus). Sudah wajib semua manusia mencermati segala rasa (gejolak batin yang ditimbulkan oleh badan halus). Rasa dan Tedhi (semua gejolak batin yang halus) itulah yang melekati Muhammad Rasulullah (Ruh utusan Allah). Oleh karenanya setiap melakukan shalat orang Islam harus mengawali dengan ucapan ‘Usholi’ artinya berniat sungguh-sungguh untuk mengetahui asal-usul (Ruh ini). Raga manusia ini berasal dari bayangan Ruh Idhofi, yaitu Muhammad Rasulullah itu sendiri. Yang dimaksud Rasul adalah utusan yang harus bisa di Rasa (disadari) bahwsanya kita ini utusan sejati. Dari sanalah benih segala kehidupan. Akan bisa dicapai dengan kesadaran terbuka. Diawali memahami ashadualla (sahadat). Jika tidak memahami apa arti sahadat sesungguhnya, maka tidak sempurna rukun Islam dan tidak akan mengetahui awal asal usul kehidupan kita!”

Banyak yang dihaturkan oleh Sunan Kalijaga sehingga Prabhu Brawijaya akhirnya tertarik dan berkenan memeluk agama Islam. Lantas kemudian Sunan Kalijaga memohon agar diperkenankan memotong rambut panjang Sang Prabhu akan tetapi tidak bisa terpotong saat digunting. Oleh karenanya Sunan Kalijaga lantas menyarankan agar Sang Prabhu benar-benar sungguh-sungguh masuk Islam lahir batin. Sebab jika hanya lahir saja, rambut tidak akan mempan digunting. Sang Prabhu lantas berkata bahwa dirinya sudah lahir batin, oleh karenanya rambut lantas bisa dipotong.

Selesai dipotong rambutnya Sang Prabhu lantas berkata kepada Sabda Palon dan Naya Genggong, “Kalian semua aku jadikan saksi, bahwa mulai hari ini aku meninggalkan agama Buda dan memeluk agama Islam. Menyebut asma Allah Yang Sejati. Keinginanku, kalian berdua aku harapkan ikut berganti memeluk agama Rasul dan meninggalkan agama Buda!”

Sedih Sabda Palon menjawab, “ Hamba ini adalah Raja Dang Hyang (makhluk gaib) yang menjaga tanah Jawa. Siapapun yang menjadi Raja, adalah momongan hamba. Mulai dari leluhur paduka dulu, yaitu Wiku Manumanasa, Raden Sakutrem hingga Bambang Sakri, turun temurun hingga sekarang ini, semua menjadi momongan hamba dan hamba ajari ajaran Jawa sejati. Jika hamba tidur, mampu tidur selama 200 tahun. Selama saya tidur di Jawa akan banyak terjadi peperangan antar saudara. Yang kuat akan memangsa sesame manusia, menghancurkan sesame bangsanya sendiri. Hingga sat ini usia hamba 2003 tahun. Hamba telah momong ajaran Jawa, semua yang hamba momong selama ini tak ada yang berubah agamanya. Memegang teguh agama Buda. Hanya paduka sekarang saja yang berani meninggalkan ajaran leluhur Jawa. Jawa artinya paham , yang sudah paham disebut Jawan (Sadar). Sadar bahwa badan sejati ini hanya sementara tinggal didunia, tujuannya adalah meraih moksha!”

Ucapan Wiku Utama dibarengi seketika oleh suara gemuruh guntur!

Sang Prabhu Brawijaya oleh para Dewa disindir karena telah memeluk agama Rasul. Tiga sindiran yang muncul di bhumi Jawa mulai sat itu adalah 1. Suket Jawan (Rumput Jawan), 2. Pari Randhanunut (Padi Randhanunut, Randha : Janda, Nunut : ikut tinggal/Numpang Randhanunut ~ Seorang jandha yang ikut tinggal/numpang hidup) dan 3. Pari Mriyi (Padi Mriyi).

(Konon mulai saat itulah muncul Padi dan Rumput dengan nama seperti diatas. Rumput Jawan, maksudnya Kesadaran yang telah rendah serendah rumput yang bisa diinjak-injak. Padi Randhanunut, maksudnya padi/makanan batin/ajaran agama milik seorang janda yang tinggal numpang dirumah seseorang, alias kebenaran yang dimiliki oleh sekelompok manusia yang kehilangan pasangan sejati/Tuhan yang numpang di Jawa dan Padi Mriyi adalah Padi yang kecil-kecil, maksudnya makanan batin/ajaran yang masih berupa jenis yang kecil : DS)

Sang Prabhu berkata lagi, “Aku Tanya lagi bagaimana niatanmu, mau atau tidak meninggalkan agama Buda berganti memeluk agama Rasul. Menyebut nama Nabi Muhammad Rasulullah, panutan para Nabi dan menyebut asma Allah Yang Sejati?”

Sabda Palon sedih berkata,”Silakan paduka sendiri saja yang masuk, hamba tidak tega melihat kelakuan sia-sia mereka, seperti watak orang Arab. Sia-sia artinya suka menghukum (menghakimi), menghakimi semua yang berbadan. Jikalau hamba berganti agama, jelas akan membuat tak berguna tujuan moksha hamba kelak. Yang mengaku paling mulia itu hanya orang Arab saja dan diikuti oleh orang Islam semua. Memuji dan meninggikan kelompoknya sendiri. Menurut hamba lebih baik tidak usah mengurusi (menghakimi) tetangga (agama lain). Perbuatan semacam itu (suka menghakimi agama lain) hanya akan menunjukkan rendahnya pemahaman diri. Saya tetap menyukai agama lama, tetap suka menyebut Tuhan dengan nama Dewa Yang Maha Lebih!”

Semesta ini adalah perwujudan dari Dewa yang mempunyai sifat Maha Sadar dan Maha Berkehendak. Sudah menjadi kewajiban manusia agar senantiasa berpegang pada Kewaspadaan diri dan Kesadaran diri untuk terus dapat mengamati keinginan-keinginan (liar) diri sendiri supaya tidak sia-sia dalam menjalani kehidupan. Apabila paduka memilih menyebut Nabi Muhammad Rasulullah, (maka mohon dengarkan) , seperti yang sudah dikatakan oleh Sunan Kalijaga bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah Roh yang bagaikan makam, makam dari segala gejolak batin manusia yang buruk. Gejolak batin yang liar dan seringkali kita agung-agungkan. Bisa juga disimbolkan sebagai kuburan, kuburan dari segala kenikmatan ragawi, rasa kenikmatan raga yang berasal dari unsur tanah ini. (Muhammad atau Roh disimbolkan sebagai ) Kuburan dari segala sifat badani, sifat yang hanya ingin menikmati makanan (kenikmatan) yang enak-enak, dan sifat yang tidak merenungkan bagaimana keberadaan diri nanti pada akhirnya (jika sudah meninggal).

Benarlah jikalau Muhamad (Roh) adalah makam kubur dari segala macam kecenderungan liar manusia. Muhammad juga (bisa dilambangkan) sebagai Roh Idhofi, maksudnya Ruh yang dilapisi oleh segala kecenderungan negatif. Kecenderungan negatif yang suatu saat akan sirna kembali ke asalnya lagi (maksudnya selain bisa dianalogikan sebagai kubur/makam segala gejolak batin manusia, Muhammad/Roh juga bisa dianalogikan sebuah kesucian yang terlapisi kekotoran : DS). (Jadi apa yang dijelaskan Sunan Kalijaga sebenarnya sama saja dengan ajaran Buda tentang Atma atau Badan Sejati), Sekarang saya bertanya, paduka Prabhu Brawijaya memilih untuk meyakini/menganut yang mana? (Dengarkanlah lagi, oh paduka), Adam dan Hyang Brahim (Ibrahim ~ Adam leluhur manusia, Ibrahim leluhur orang Arab dan orang Israel) sama-sama ‘kebrahen’ (berkeinginan besar untuk memiliki keturunan banyak) saat mereka berdua masih hidup dulu. Merekalah yang memperbanyak makhluk-makhluk fana, makhluk fana yang sulit menemukan ‘kesejatian’ rasa, makhluk-makhluk fana yang hanya cenderung terjebak rasa badani belaka. Makhluk fana yang disebut Muhammadun yaitu Ruh yang terlapisi kekotoran duniawi, Ruh yang menjadi kuburan dari segala macam gejolak batin yang liar. Ruh yang menurunkan Kesadaran kecil dan mewujud dalam bentuk manusia yang memiliki segala rasa ini. (Bukankah sama juga dengan kisah Manu leluhur manusia sesuai ajaran Buda?). Manakala kelak diambil kembali segala yang fana ini (yaitu badan halus yang memiliki kecenderungan liar dan badan kasar yang suka menikmati kenikmatan inderawi) oleh Yang Maha Kuasa, diri paduka yang berwujud manusia akan tinggal wujud JADI (maksudnya wujud Sejati/Ruh/Atma). Itulah wujud kita pribadi (yang sejati). Untuk bisa terlepas dari badan halus dan badan kasar, harus dengan lantaran menjauhi segala kecenderungan buruk.

Ayah dan Ibu tidak membuat wujud Sejati ini, makanya dinamakan ‘anak’ (anak ~ ana anane dhewek : ada dengan sendirinya :DS), mewujud dengan sendirinya, menjadi dari sesuatu yang gaib dan samar, atas kehendak Lattawalhuzza (penyebutan nama ini demi menyindir Sunan Kalijaga, dimana umat Islam sangat membenci Lattawalhuzza. Sabda Palon sengaja menghindari penyebutan Hyang Widdhi atau Brahman. Lattawalhuzza adalah nama berhala yang disembah orang Arab sebelum Islam muncul dan dianggap memiliki saham dalam penciptaan manusia. Maksud Sabda Palon sebenarnya, atas kehendak Yang Tak Tergambarkan, diri kita adalah percikan dari Yang Tergambarkan tersebut : DS). Dia-lah yang meliputi segala wujud ini. Dan seluruh wujud ini semua sebenarnya adalah wujud-Nya juga. Kelak segalanya akan sirna dan kembali ditarik kepada wujud-Nya, (sesunguhnya kita ini tak ada) lantas yang paduka miliki hanya perasaan bahwa diri ini ‘ada’ dan berwujud sendiri diluar wujud-Nya, itulah pemahaman keliru yang kita bawa kemana-mana. Jika memiliki ketetapan hati yang keliru sedemikian itu, maka pada saat kematian tiba, akan menjadi Roh penasaran (demit) yang berkeliaran diatas tanah, menunggui jasadnya sendiri yang sudah busuk terkubur, sungguh sia-sia. Itulah salah satu akibat kurangnya Kesadaran dan wawasan dari sang Roh. Saat hidup dulu belum sempat memakan buah pohon Pengetahuan dan buah pohon Kesadaran, sama saja memasrahkan diri kelak jika meninggal untuk lahir manjadi setan (Roh Penasaran).

Memakan tanah atau mengharap-harap manusia lain memberikan sesajian dan mengharapkan upacara selamatan untuk kematiannya (karena hanya sesajian dan doa waktu upacara selamatan yang dilakukan keluarganya saja yang bisa memuaskan dahaga sang Roh penasaranh tersebut : DS), dan sebagai ucapan terima kasih, Roh semacam ini akan berusaha memenuhi permintaan anak cucunya walau sesungguhnya malah membikin kesesatan bagi mereka.

Manusia yang meninggal dunia, selamat atau tidaknya tidak berdasarkan hukum Raja duniawi;. Sudah pasti suksma (badan halus) berpisah dengan Buddhi (Kesadaran Roh). Jika perbuatannya dulu penuh kebaikan, tentu akan mendapatkan kemuliaan, jika sebaliknya pasti akan mendapatkan penderitaan (jadi bukan ditentukan oleh agama atau hukum dari penguasa duniawi). (Maksud Sabda Palon, untuk memperoleh Kesejatian, harus dimulai dengan pemahaman bahwa diri ini hanyalah perwujudan-Nya, kita ini tak ada. Kemudian harus melakukan perbuatan yang baik selama hidup. Kesejatian bukan didapat dari berpindah-pindah agama seperti itu : DS). Sekarang jawablah jika telah meninggal anda hendak pergi kemana (sesuai ajaran yang baru anda terima)?”

Sang Prabhu menjawab, “Kembali ke asal mulaku, berasal dari Nur (Cahaya) akan kembali menuju Nur (Cahaya).” Sabda Palon berkata lagi : “Itu pemahaman manusia bingung, hidupnya sia-sia, tidak memiliki pemahaman akan kewaspadaan diri, belum pernah memakan buah pengetahuan dan buah kesadaran, dari satu kembali menuju satu. Apa yang paduka sebutkan bukanlah kematian yang utama. Kematian dari manusia utama bisa dilambangkan dengan kalimat SATUS TELUNG PULUH (Seratus tiga puluh). Makna SATUS adalah PUTUS (Melampaui), TELU adalah TILAS (Tanpa bekas), PULUH adalah PULIH (Pulih kembali). Seluruh wujudnya rusak, akan tetapi yang rusak adalah yang melekati Roh Idhafi. Hidupnya abadi, hanya jasad kasar beserta suksma (jasad halus) yang terpisahkan dari kita. Inilah hakikat Sahadat tanpa Ashadu (Kesaksian tanpa ada subyek maupun obyek yang dipersaksikan), wujud kita kembali menjadi bagian Roh Idhafi. Bagaikan bulan yang tenggelam, tahu kemana tepat tenggelamnya yang tepat. Demikian pula kita manusia harus tahu asal mula tempat kita sebelum menjadi manusia. Kata SURUP (Tengelam) mengandung makna SUMURUPA (Ketahuilah) awal, pertengahan dan akhir kehidupan ini. Jadilah pengembara yang waspada, jangan sampai salah saat memahami awal mula tempat kita dulu, awal mula pertama kali meenjadi manusia yang membawa SIR (Keinginan) dan CIPTA (Pikiran) ini.”

Sang Prabhu berkata : “Pikiranku aku sandarkan kepada manusia yang lebih/mulia.” Sabda Palon berkata : “Itu sikap dari seorang manusia yang tersesat. Bagaikan benalu yang menempel pada pohon-pohon besar. Tidak percaya pada diri sendiri. Mempercayai kemuliaan orang dan menurut apa yang mereka katakan. Jika demikian halnya, paduka tak akan dapat menemukan kematian yang utama. Hanya akan mendapatkan kematian nista. Semenjak hidup sukanya menempel orang lain, mengikut, tidak mempercayai diri sendiri, kelak jika meninggal-pun akan mengalami hal serupa, menjadi Roh yang kesana-menari menempel, jika diusir lantas kebingungan, penasaran, menjadi Roh penasaran, dan mencari tempat menempel lainnya!” Sang Prabhu berkata lagi : “Aku berasal dari kosong akan kembali kekosongan. Saat aku belum menjadi, tidak ada apa-apa, jadi kelak aku juga akan menuju kepada kosong tersebut!” Sabda Palon menjawab, “Itu kematian manusia yang tersesat, tidak memakai iman dan ilmu (keyakinan dan pengetahuan. Sabda Palon sengaja menunjukkan istilah-istilah Arab demi menunjukkan bahwa dirinya juga memahami ajaran baru Sang Prabhu : Damar Shashangja). Hidup hanya seperti binatang, hanya sekedar mencari makan dan minum serta hanya sekedar menikmati tidur. Manusia yang demikian hanya menimbun daging, sangat bodoh. Tidak usah mencari pengetahuan kesejatian, cukup meminum air kencing saja sudah puas. Mereka menganggap kelak jika meninggal sirna juga dirinya.” Sang Prabhu : “Aku akan menjaga pekuburan, menjaga jasadku yang sudah luluh jadi debu!” Sabda Palon : “Itulah kematian manusia bodoh, menjadi setan kuburan, menjaga daging dipekuburan, daging yang sudah luluh menjadi tanah. Tidak memahami bahwa dirinya adalah Roh Idhafi. Itulah jawaban manusia bodoh, maaf paduka!” Sang Prabhu menjawab lagi : “Aku akan moksha beserta ragaku!” Sabda Palon tertawa, “Dalam ajaran agama Rasul tidak ada tuntunan meraih moksha. Tidak ada tuntunan menarik jasad fisik, karena kebanyakan golongan mereka terlalu memanjakan kulit daging (hukum agama semata). Dan lagi moksha beserta raga itu tidak diajarkan dalam ajaran Buda. Manakala manusia mati dan tidak meninggalkan jasad, berarti tidak bisa diyakinkan apakah dia memang sudah mati atau hanya sekedar berpindah alam saja. Belum bisa dipastikan akan mewujud menjadi Roh Idhafi murni, kebanyakan hanya akan berpindah alam kealam demit (Jin).” Jawaban Sang Prabhu : “Aku tidak akan memilih tujuan, aku tak akan berusaha, sudahlah terserah Yang Maha Kuasa saja!” Sabda Palon : “Paduka melupakan sifat kemanusiaan paduka, apakah paduka lupa bahwa manusia dijadikan sebagai titah yang mulia. Paduka telah meninggalkan keharusan sebagai manusia. Manusia memiliki hak untuk memilih dan menolak. Lebih baik menjadi batu saja, jadi tidak perlu mencari ilmu kemuliaan untuk meraih kesempurnan kematian!” Sang Prabhu : “Aku berkehendak pulang ke akhirat, naik surga, menghadap kepada Yang Maha Kuasa.”

Sando Palon menjawab : Akherat, surga, semua sudah paduka bawa dalam diri paduka, telah paduka bawa kemanapun juga. Didalam diri manusia ini sesungguhnya semua sudah ada, oleh karenanya diri manusia juga disebut alam sahir (mikrokosmos) karena apa yang ada di alam kabir (makrokosmos), juga ada didalam diri manusia. Sudah semenjak tapel Adam (didalam kandungan usia 9 bulan), semua sudah lengkap : surga, neraka, arasy kursi. Lantas paduka hendak pergi ke akherat yang mana? Jangan sampai tersesat, lho? Padahal kondisi akherat (diluar diri manusia) itu mirip sekali dengan kondisi manusia yang melarat. Banyak tingkatan akherat (yang ada diluar diri manusia), segala akherat semacam itu sangat saya hindari, jangan sampai saya pulang ketempat yang kondisinya bagaikan kondisi manusia melarat, jangan sampai saya menuju akherat diluar diri yang konon disebut Negara yang adil (padahal bukan). Jikalau sampai salah tempat, pasti akan mendapat hukuman, pasti akan diikat, disuruh kerja paksa yang berat serta tidak mendapatkan bayaran. Salah satu akherat yang sesat adalah akherat di pulau Srenggi, nusa artinya tempat manusia, sreng artinya kerja berat dan enggi artinya kondisi.

Jadi disana, roh manusia dipaksa bekerja untuk Raja Nusa Srenggi. Sungguh celaka. Sedangkan manusia yang hidup didunia saja jikalau mengalami kondisi semacam itu, mengalami kondisi sekeluarga hanya mendapatkan jatah beras sedikit, tanpa lauk, tanpa sayur, sudah demikian menyedihkannya, apalagi akherat tempat manusia yang meninggal di nusa Srenggi, malah lebih menyedihkan dari kodisi didunia. Paduka jangan mencari jalan pulang ke akherat yang ada diluar diri, jangan mengharap-harapkan naik surga, itu bukan tempat sejati, banyak hewan yang ada ditempat itu, semua hanya menerima tidur dengan berselimut tanah, setiap hari harus menurut untuk bekerja paksa, malah ada yang tidak salah lantas disembelih. Paduka jangan mencari jalan pulang ke akherat tempat Gusti Allah, (itu bohong, sebab Gusti Allah tidak bertempat), Gusti Allah itu tak ber-Wujud dan ber-Rupa, Wujud yang bisa dikenali manusia hanya Nama-Nya saja, (Gusti Allah itu) meliputi dunia dan akherat, paduka belum mengenal-Nya. Yang paduka kenali hanya perwujudan-Nya serupa cahaya bintang atau serupa cahaya bulan, atau perwujudan-Nya bagaikan dua cahaya bintang dan bulan yang menyatu. Gusti Allah itu tidak menyatu juga tidak pisah dengan kita, sangat jauh tanpa batasan tetapi juga dekat namun tak bersentuhan dengan kita. Hamba saja belum bisa menguak inti-Nya, apalagi paduka. Nabi Musa (yang diagung-agungkan orang Yahudi, Kristiani dan Islam sebagai Nabi yang mampu berbicara langsung dengan Allah : Damar Shashangga) saja tidak mampu melihat Wajah-Nya. Gusti Allah itu melampaui segala yang terlihat tetapi Dzat-Nya menyelimuti segala perwujudan ini. Paduka ini adalah manusia yang berasal dari benih Ruhani (percikan-Nya) jadi mengapa ingin menjadi seperti Malaikat yang tinggal disurga segala? Raga manusia berasal dari nutfah (air mani/sperma), jika sudah rusak akan terurai kembali kepada Hyang Latawalhuzza (kembali Sabda Palon menggunakan istilah Lattawalhuzza). Jika raga sudah tua, lebih baik meminta untuk mendapatkan raga baru (dan lahir menjadi manusia lagi, bukan malah ingin hidup di surga), sehingga tidak bolak-balik tertunda (perjalanan Punarbhawa/evolusi Ruh dalam wujud selain manusia) walaupun memang harus tetap lahir dan mati. Yang dimaksud hidup sebagai makhluk itu jika nafas terlihat masih ada, akan tetapi sesungguhnya yang disebut HIDUP itu adalah Yang Abadi, Yang Stabil dan Yang Tak Berubah selamanya. Jadi yang mati hanya raga semata. Raga hancur dan tidak lagi bisa merasakan kenikmatan. Oleh karenanya bagi yang beragama Buda, manakala kematian menjelang, saat suksma (dan Hidup/Atma) keluar dari raga, lebih baik meminta raga manusia yang baru, kembali lahir melalui nutfah manusia (tidak malah mengharapkan lahir dialam surga menjadi makhluk lain). Diri sejati manusia ini kekal, tidak berubah dan stabil, yang berubah itu hanya tempat indriya/rasa (maksudnya suksma dan raga), tubuh materi yang hanya bayangan dari Roh Idhafi (Atma/Hidup) itu sendiri.

Sesungguhnya yang dinamakan Prabhu Brawijaya itu tidak juga tua dan tidak juga muda, abadi berada dipusat semesta, berjalan tapi tiada bergerak dari kedudukan semula, berada didalam goa sir (kehendak) dan cipta (pikiran) yang hening (maksudnya diselimuti oleh sir/kehendak dan cipta/pikiran : DS). Bawalah bawaanmu yang sesungguhnya (Kesadaran), bawaan yang tanpa adanya Raga. Hilang segala tulisan. Seluruh perhitungan manakala dijumlah menjadi Kumpul (Menyatu), keterpisahan dengan duniawi menjadikan murni. Jalan kesempurnaan kematian, fokus pada detak jantung disebelah kiri saat kematian menjelang, disanalah jalan sirnanya sir dan cipta (kehendak dan pikiran), kembali menuju cetha (yang nyata ~ lambang KANG GAWE URIP/Atma), cethik (yang membuat ~ lambang KANG NGURIPI/PURUSHA/Nur Muhammad/Nukat Gaib), cethak (yang maha tinggi ~ lambang URIP/Brahman/Allah). Inilah kesempurnaan ilmu orang Buda.

Terciptanya Roh mulai dari cethak (yang tinggi), berhenti didalam cethik (yang membuat) keluar lewat kalamwadi (ucapan rahasia/penis ~ atau cetha/yang nyata), hanyut dalam lautan cinta masuk kedalam goa Indrakila wanita (Indra : Sarana merasakan sensasi ragawi, Kila/Kukila : Burung ~ Tempat merasakan sensasi penis ~ Goa Indrakila artinya Vagina : DS), jatuhnya nikmat didasar bumi kasih, disana Ki Budi (Kesadaran Roh) menciptakan istana Baitullah (Rumah Tuhan ~ yaitu suksma dan raga manusia) yang mulia. Tercipta dari sabda KUN (Jadi) dan berdiam ditengah semesta disurga orang tua wanita. Oleh karenanya manusia seyogyanya tetap berdiam ditengah semseta (maksudnya stabil Kesadarannya). Jagad manusia itu dilekati apa yang disebut goa sir (kehendak) dan cipta (pikiran), dibawa kemana-mana tiada juga berkurang dan usia manusia sudah ditentukan oleh karma, tidak bisa berubah, sudah tertulis didalam Laukhil Makfudz (Kitab Nasib. Kitab Nasib sesungguhnya adalah Alam Semesta yang merekam segala perbuatan kita : DS). Keberuntungan dan Kecelakaan tergantung pada Budi (Kesadaran), Nalar (Pertimbangan) dan Kawruh (Wawasan) kita sendiri. Yang kurang berusaha (menimbun kebaikan), bakalan kurang pula Keberuntungannya.

Awal mula arah mata angin, dihitung dari arah timur lantas barat, selatan dan utara. Wetan (Timur) lambang : Wiwitan manusa maujud (awal mula manusia mewujud), Kulon (Barat) lambang : Lelaki berhasrat untuk bercinta (Kelonan), Kidul (Selatan) lambang : Wanita disogok bagian selangkangannya tepat ditengah (Didudul), Lor (Utara) lambang : Jabang bayi lahir (Lair). Dilambangkan lagi TANGGAL SAPISAN KAPURNAMAN, SENTEG SAPISAN TENUNAN SAMPUN NIGASI (KELUAR SEKALI SUDAH PURNAMA, SEKALI HENTAK TENUNAN KAIN SUDAH MENJADI ~ Maksudnya mengambarkan penciptaan manusia dalam sebuah persenggamaan. Sekali memancarnya sperma kedalam rahim, sudah cukup membuat seluruh wadah bagi Roh mulai tercipta : DS) Pur artinya Kumpul/Menyatu, Na artinya Adanya wujud, Ma artinya Terikat oleh wujud. Yang dimaksud Kumpul artinya begitu memancar sperma semua lengkap menyatu, yaitu menyatunya segala materi fisik dan materi non fisik. Keluarnya/Lahirnya manusia melalui orang tua perempuan, bersamaan keluarnya saudara yang bernama Kakang Mbarep (Kakang Kawah) dan Adhine Wuragil (Adhi Ari-Ari). Kakang Mbarep tak lain adalah Kawah (Ketuban) sedangkan Adine Wuragil tak lain adalah Ari-Ari (Usus terakhir yang menempel dipusar/tali pusar). Keduanya muncul pertama dan terakhir kali (Ketuban pecah dulu, baru keluar Darah, kemudian Jabang Bayi, lantas Plasenta dan terakhir Tali Pusar atau Ari-Ari : DS). Ketahuilah sang paduka, saudara kita yang keluar bersamaan dengan kita, senantiasa menjaga kita bagaikan matahari yang terus bersinar, berwujud cahaya, membantu Kesadaran, mampu menyertai Kesadaran untuk hidup didunia yang penuh beraneka warna perwujudan ini, saat keluar dan saat peleburan mereka seyogyanya diketahui, inilah pengetahuan orang Jawa yang beragama Buda. Raga ini diibaratkan perahu, sedangkan suksma (badan halus/sadulur papat tadi) ibarat manusia yang mengendalikan perahu, yang menentukan arah hendak kemana, jikalau laju perahu salah arah, pasti akan menemui kecelakaan, perahu pecah, yang menaiki akhirnya juga hancur.

Oleh karenanya harus waspada dan penuh kesadaran, mumpung perahu masih berfungsi, manakala tidak waspada dan penuh kesadaran pada saat hidup ini, mana mungkin bisa waspada dan sadar jika sudah meninggal nanti. Sadar untuk mencari asal usul manusia. Manakala telah rusak/mati, seharusnya suksma juga berpisah dengan Kesadaran Roh. Inilah yang dinamakah Sahadat, pisahnya Kawula dengan Gusti. Sah bisa dimaknai Pisah, Dat bisa dimaknai Dzat Gusti. Jikalau Raga dan Suksma telah berpisah (namun Suksma dengan Bud/Kesadarani/Atma, belum mampu berpisah) maka Kesadaran Roh akan berganti Baitullah (Rumah Tuhan atau Badan fisik baru ~ Punarjanma/Reinkarnasi). Kembali hidup dengan bertalikan nafas dan wajib terus memuji kebesaran Gusti (agar selamat dalam penjelmaan baru itu). Manakala Raga berpisah dengan Suksma dan Suksma berpisah dengan Budi (Kesadaran Roh), maka akan menjelma kepada yang tidak berwujud apapun, menyatu, menjadi maha besar, dan tiada akan redup cahayanya untuk selamanya. Oleh karenanya harus senantiasa waspada, senantiasa ingat akan asal usul Kawula. Seorang Kawula juga wajib meminta kepada Gusti, meminta Baitullah (Rumah Tuhan/Badan manusia) yang baru dan yang lebih baik, melebihi yang sudah rusak. Raga manusia inilah Baitullah, atau juga bisa diibaratkan Perahu buatan Allah, menjadi dari sabda KUN. Namun, Perahu manusia Jawa mampu berganti dengan Perahu yang baru (Reinkarnasi). Sedangkan orang Islam tidak meyakini bisa mendapat Perahu baru, jikalau sudah meninggal nanti, maka mereka yakin tidak akan menjelma kealam dunia lagi, tak ada manusia yang menjelma kembali, menurut mereka jika manusia bisa menjelma, dunia akan terus bertambah dan akan penuh sesak. Kehidupan menurut mereka hanya sekedar menjadi muda, tua dan mati saja. Ketahuilah paduka, walaupun Roh manusia, manakala sesat perbuatannya, kelak jika meninggal akan menjelma menjadi kuwuk (binatang laut), akan tetapi Roh hewan, bisa menjelma menjadi manusia. Semua sudah tertata dalam hukum keadilan Yang Maha Kuasa, setiap makhluk akan mendapatkan hasil perbuatan dari apa yang dilakukannya.

Dikala Bathara Wishnu menjelma menjadi Raja di Kerajaan Medhang Kasapta dulu, seluruh hewan dan makhluk halus dibantu menjelma menjadi manusia, semua lantas dijadikan bala tentara Sang Raja. Kala Eyang paduka Rsi Palasara membangun kerajaan di Gajahoya, seluruh binatang dan makhluk halus juga dibantu menjelma menjadi manusia, oleh karenanya waktu itu bau badan tiap manusia berbeda-beda, sesuai bau badan saat masih berwujud hewan atau makhluk halus sebelumnya.

Tersebut dalam Serat Tapak Hyang, yang juga disebut dengan Sastrajendrayuningrat, Serat yang tercipta dari Sabda Kun (maksudnya berasal dari wahyu juga), yang dinamakan JITHOK (KUDUK MANUSIA) sesungguhnya bermakna pu-JI THOK (Hanya Pujian semata). Dewa Yang Agung, yang telah menciptakan cahaya menyala yang menyelimuti sekujur tubuh manusia sesungguhnya ada dekat, sedekat dengan kuduk manusia. (Kuduk manusia sangat dekat, namun sulit manusia melihat kuduknya sendiri kalau tidak bercermin). JILING (KENING) sesungguhnya bermakna pu-JI e-LING (Memuji dan Ingat) kepada Gusti. PUNUK (BAHU) sesungguhnya bermakna PANAKNA (TEMPATKANLAH ~ maksudnya Tempatkanlah Kesadaran kamu pada posisi yang sesungguhnya). TIMBANGAN (TULANG BAHU YANG MENONJOL) sesungguhnya bermakna SALANG (Terhubung ~ maksudnya Terhubung dengan Gusti). PUNDHAK (PUNDAK) sesungguhnya bermakna PANDUK (Mencari), hidup dialam dunia ini hanya mencari dua hal, Buah Pengetahuan dan Buah Kuldi (Keduniawian), jika mendapatkan banyak Buah Kuldi, hasilnya akan gemuk, jika mendapatkan Buah Pengetahuan yang banyak, bisa dibuat bekal untuk hidup, HIDUP YANG KEKAL ABADI YANG TIDAK TERKENA MATI. TEPAK (DADA) sesungguhnya bermakna TEPA TAPANIRA (Tetapkan Tapa-mu). WALIKAT (BELIKAT) sesungguhnya bermakna WALIKANE GESANG (Dibalik Hidup). ULA-ULA (TULANG BELAKANG MANUSIA) sesungguhnya bermakna ULATANA (Perhatikanlah dengan seksama), amatilah punggungmu dengan seksama (maksudnya amatilah sesuatu yang dekat denganmu tapi sulit untuk dilihat secara langsung seperti halnya punggung kita). SUNGSUM (SUMSUM TULANG) sesungguhnya bermakna SUNGSUNGEN (Persembahkanlah ~ maksudnya, Persembahkanlah kehidupanmu bagi Gusti). LAMBUNG sesungguhnya bermakna, Dewa Yang Maha Agung yang menciptakan alam ini secara bersambungan, bersambungan antara INGAT-LUPA, HIDUP-MATI (maksudnya Rwabhineda atau Dualitas duniawi). LEMPENG (BAGIAN PINGGIR PERUT) kiri dan kanan, maksudnya Kuatkan tekad dan LEMPENG (LURUS)-kanlah tekadmu lahir batin, luruskanlah agar bisa membedakan mana benar dan mana salah, mana baik dan mana buruk. MATA maksudnya lihatlah semuanya ini dengan kesatuan batin yang utuh, lihatlah kiblat yang benar, banyak kiblat namun yang benar hanyalah satu saja. TENGEN (KANAN) maksudnya TENGENEN (Benar-benar utamakan) hingga jelas dan terang, bahwasanya didunia ini hanya sekedar memakai Raga fana semata, Raga yang tidak susah-susah membuat sendiri dan tidak juga beli. KIWA (KIRI) maksudnya Raga ini berisi HAWA keinginan, dan sulit untuk dimatikan segala keinginan tersebut. Begitulah apa yang tertulis dalam Serat.

Manakala paduka meragukan siapakah yang membuat Raga? Siapakah yang telah memberikan nama? Sesungguhnya tak lain hanya Lata wal Huzza (sekali lagi Sabda Palon memakai istilah Tuhan dengan nama Latta wal Huzza). Manakala paduka tetap meragukan, jelas paduka bisa disebut kafir, kapiran (sia-sia) kelak jika paduka meninggal. Tidak mempercayai tulisan Gusti (yang ada didalam tubuh paduka sendiri), serta telah murtad kepada para leluhur Jawa semua. Kelak saat mati, Roh paduka akan menempel pada besi (pusaka), kayu, batu, menjadi demit yang menjaga tanah. Itu akan terjadi jika paduka tidak bisa membaca serat/wahyu yang ada didalam tubuh paduka sendiri, jelas kelak jika meninggal akan menjelma/lahir kembali menjadi kuwuk (binatang laut). Akan tetapi jika mampu membaca sastra yang tertulis didalam tubuh paduka, berasalnya manusia akan lahir kembali menjadi manusia. (Sungguh kelahiran kembali ini juga diceritakan dalam ajaran Timur Tengah), salah satu contohnya konon dulu saat Kangjeng Nabi Musa hidup, ada orang yang telah meninggal dan telah berada didalam kuburan, bisa hidup kembali, hidupnya bahkan bisa berganti menjadi Roh yang murni, bahkan bisa mencapai kedudukan (evolusi jiwa) yang baru.

Jika paduka memeluk agama Islam, seluruh masyarakat Jawa pasti akan ikut memeluk agama Islam semua. Kalau hamba ini, Badan Kasar berikut Badan Halus hamba sudah hamba gengam dan hamba kuasai, sudah mampu hamba jadikan satu, tak ada beda mana yang disebut dalam dan mana yang disebut luar lagi. Jadi hanya sesuai dengan keinginan hamba semata, menghilang dalam wujud gaib (berbadan halus) maupun mewujud (berbadan kasar seperti sekarang) bisa hamba lakukan seketika dan kapanpun juga. Jika hamba tengah berkeinginan mewujud, inilah wujud yang hamba pilih. Jikalau hamba berkeinginan untuk berwujud gaib, bisa terjadi seketika, jikalau hamba berkeinginan untuk berwujud wadag, bisa terlihat seketika juga. Raga hamba ini sudah bersifat Illahi, seluruh Raga hamba ini satu persatu memiliki nama sendiri-sendiri. Silakan ditunjuk, mana yang disebut Sabda Palon, sudah hamba halangi dengan wujud ragawi. Begitu mewujudnya hingga tidak bisa diketahui lagi mana sesungguhnya Sabda Palon. Hanya nama yang bisa dikenali. Sabda Palon sesungguhnya tidak tua juga tidak muda, tidak mati juga tidak hidup, hidupnya meliputi matinya dan matinya meliputi hidupnya, abadi selama-lamanya.”

Sang Prabhu bertanya :”Dimanakah Tuhan Yang Sejati?”

Sabda Palon menjawab: “Tiada jauh juga tiada dekat, paduka adalah perwujudan-Nya, dinyatakan telah menyatu, Budi (Kesadaran), Hawa (Keinginan) dan Badan (Jasad Fisik), ketiganya adalah sarana-Nya mewujud. Tiada terpisah, akan tetapi tidak juga menyatu. Sesungguhnya paduka adalah Raja Yang Utama, pastilah akan memahami apa yang hamba ucapkan!”Sabda Palon menjawab sedih : “Hamba menuruti aturan agama yang lama, kepada agama yang baru hamba tidak menuruti. Apa sebabnya paduka memutuskan berpindah agama akan tetapi tidak meminta pertimbangan kepada hamba? Apakah paduka lupa akan arti nama hamba Sabda Palon? Sabda artinya Ucapan, Palon : artinya Ketetapan. Naya artinya Wajah, Genggong : Langgeng tak berubah. Jadi ucapan hamba ini, adalah ketetapan bagi wajah/bentuk dari tanah Jawa, langgeng selamanya!”Sang Prabhu berkata : “Bagaimana ini, aku sudah terlanjur memeluk agama Islam, sudah disaksikan oleh Sahid, aku tidak boleh kembali memeluk agama Buda lagi. Akan memalukan dan ditertawakan bumi serta langit (jika aku tidak konsekwen)!”

Sabda Palon berkata : “Sudah terlanjur, silakan paduka jalani sendiri, hamba tidak ikut-ikut.”

Sunan Kalijaga lantas berkata kepada Sang Prabhu, yang isinya menyarankan agar tidak perlu berfikir macam-macam, sebab agama Islam itu adalah agama yang mulia. Sunan Kalijaga memohon ijin untuk menjadikan air didalam danau sebagai tanda bukti, bagaimanakah nanti baunya. Jika air danau nantinya bisa berbau wangi, itu berarti Sang Prabhu sudah mantap memeluk agama Rasul. Sunan Kalijaga lantas menyabda air danau dan seketika berbau wangi dan harum. Sunan Kalijaga berkata kepada Sang Prabhu, sebagaimana sudah terbukti, jikalau Sang Prabhu nyata telah mantap memeluk agama Rasul, tandanya air danau berbau harum.

Berkata Sabda Palon kepada Sang Prabhu : “Ini hanya kesaktian belaka. Kesaktian kecil yang hanya seimbang dengan air kencing hamba. Kesaktian seperti ini dipamerkan didepan hamba. Jikalau saya imbangi, sama saja sama melawan air kencing hamba sendiri, apa yang hendak saya perebutkan? Paduka sudah terlanjur terkecoh, sudah berkehendak menjadi manusia yang sekedar menumpang, tidak memiliki ketetapan hati, sukanya hanya ikut-ikutan. Sungguh tiada guna hamba momong paduka selama ini, hamba malu kepada bumi dan langit, telah momong manusia bodoh, HAMBA HENDAK MENCARI MOMONGAN LAIN YANG HANYA BERMATA SATU, hamba sudah tidak akan momong paduka lagi. Jikalau hamba mau, air danau ini akan hamba jadikan minyak wangi dengan lantaran kentut hamba saja. Ketahuilah, yang disebut MANIKMAYA oleh masyarakat Jawa itu tak lain adalah hamba ini! Yang menciptakan kawah diatas gunung Mahameru dulu adalah hamba. Adi Guru (Bathara Shiwa) yang memberikan ijin-Nya. Pada waktu itu tanah dipulau Jawa masih belum stabil. Didalam tanah mengeram api yang siap keluar setiap saat. Oleh karenanya, hamba kentuti setiap puncak gunung agar supaya api tersebut bisa mengalir dari sana saja. Oleh karenanya, tanah Jawa lantas menjadi stabil dan banyak gunung di Jawa yang aktif memiliki kawah berapi, berisi air panas dan air tawar. Hamba yang membuat sedemikian itu dulu. Semua atas kehendak Lata wal Huzza, yang telah menciptakan bumi dan langit. Apa kurangnya agama Buda? Setiap pemeluknya bisa memohon sendiri kepada Yang Maha Kuasa. Percayalah, jikalau paduka berganti agama Islam, meninggalkan agama Buda, keturunan paduka akan senantiasa dalam kesusahan, Jawa hanya tinggal nama, Jawa-nya hilang dan sukanya akan mengikut bangsa lain. Tapi kelak suatu saat akan diperintah oleh orang Jawa yang memahami (ajaran leluhur lagi)!”

“Silakan paduka buktikan, kelak sebelum menjelang purnama jarang diikuti tampaknya bulan mulai tanggal pertama, biji padi banyak yang susah tumbuh, ditolak oleh para Dewa, dipaksa untuk ditanampun akan tumbuh menghasilkan biji Mriyi (padi kecil), hanya bisa dibuat makanan burung. Mriyi itu padi yang tidak enak rasanya, hal ini dikarenakan paduka telah berbuat kurang tepat, mengikut menyembah batu. Buktikanlah, kelak tanah Jawa berubah hawa-nya, terasa lebih panas dan kurang hujan, berkurang hasil pertanian, banyak manusia yang suka berbohong, suka berbuat nista dan mudah mengucap janji. Hujan tiba tapi salah waktu, membuat kebingungan para petani. Mulai hari ini, hujan akan berkurang, sebab merupakan hukuman bagi manusia Jawa yang berani berpindah keyakinan. Kelak jika sudah kembali Kesadaran-nya, sudah ingat kepada agama Buda lagi, serta manusia Jawa sudah gemar mencari buah Pengetahuan lagi, Tuhan akan memberikan ampunan, suasana Jawa akan makmur tenteram kembali seperti jaman Buda lagi!”

Mendengar ucapan Sabda Palon, Sang Prabhu dalam hati merasa menyesal telah berpindah agama. Hingga lama tak bersuara, lantas berkata, mengapa dirinya tertarik kepada agama Islam karena terpikat ucapan putri Champa, yang mengatakan bahwasanya kelak manusia yang memeluk agama Islam jika meninggal akan mendapatkan surga yang melebihi surga orang kafir.

Sabda Palon menjawab, sudah semenjak dahulu, jika suami terlalu menuruti istri, pasti akan menemukan kesengsaraan. Karena wanita ibaratnya adalah tempat rasa (penuh emosi), jarang yang bisa menggunakan penalaran tanpa terbalut emosinya, Sabda Palon menasehati banyak hal kepada Sang Prabhu.

Sang Prabhu berkata :”Kamu nasehati bagaimanapun juga sudah tiada guna lagi, semua terlanjur. Sekarang, sekali lagi aku hendak menanyakan ketetapan hatimu. Diriku sudah terlanjur masuk agama Islam dan telah disaksikan oleh si Sahid, sudah tidak mungkin lagi kembali ke Buda lagi.”

Sabda Palon mengatakan hendak berpisah. Manakala ditanya hendak pergi kemana, menjawab tidak hendak pergi jauh tapi sudah tidak bertempat di Jawa lagi. Karena bagaimanapun untuk memegang tugasnya sebagai Semar, tetap juga akan meliputi Jawa walau tiada terlihat nyata. Sang Prabhu diberikan janji, JIKA KELAK ADA MANUSIA JAWA BERNAMA TUA, BERSENJATAKAN KAWRUH (PENGETAHUAN KESADARAN) DIALAH YANG DI MOMONG SABDA PALON, MANUSIA JAWA YANG SUDAH KEHILANGAN JAWANYA AKAN DIAJARI AJARAN BENAR DAN SALAH LAGI!

Sang Prabhu berkehendak ingin merangkul Sanda Palon dan Naya Genggong, akan tetapi keduanya sirna seketika itu juga. Sang Prabhu terkejut dan tak terasa keluarlah buliran air bening dari matanya, lantas kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga : “Kelak dikemudian hari, negara Blambangan akan berganti nama Banyuwangi. Akan menjadi pengingat bahwasanya kelak Sabda Palon akan pulang ke Jawa sembari membawa momongannya. Sekarang dia ada ditanah seberang!” Sunan Kalijaga lantas disuruh mengamati air danau, jikalau bau wangi akibat disabdakan oleh Sunan Kalijaga tadi hilang , maka itu pertanda, kelak orang Jawa akan meninggalkan agama Islam dan berganti agama Kawruh (Pengetahuan).

Sunan Kalijaga lantas membuat bumbungan dari bambu dua buah, yang satu diisi air tawar dan yang satu diisi air danau. Air danau nanti akan dijadikan pertanda, jikalau bau wanginya hilang, maka orang Jawa kelak akan berpindah agama Kawruh (Pengetahuan). Bumbungan setelah diisi air, lantas ditutup menggunakan daun Pandhan Sili, lantas dibawa oleh dua orang murid Sunan Kalijaga.

Sang Prabhu berikut rombongan lantas berangkat diikuti oleh Sunan Kalijaga dan muridnya. Perjalanan terhalang malam, lantas bermalam di daerah Sumberwaru. Waktu pagi bumbungan dibuka, air dicium masih berbau wangi, perjalanan lantas dilanjutkan. Sore menjelang, telah sampai di Panarukan, Sang Prabhu berikut rombongan bermalam disana. Pagi harinya, air didalam bumbungan dibaui masih wangi, Sang Prabhu lantas melanjutkan perjalanannya.

Saat sore menjelang, sampailah di daerah Besuki. Sang Prabhu beserta rombongan bermalam disana. Keesokan paginya, bumbungan air dibuka lantas dicium, baunya malah semakin bertambah wangi. Sang Prabhu melanjutkan perjalanan hingga matahari hampir tenggelam diufuk barat dan sampai didaerah Prabalingga (Probolinggo). Disana Sang Prabhu beserta rombongan bermalam, keesokan paginya air diperiksa kembali. Air tawar dalam bumbungan yang satu masih terasa segar untuk diminum, namun nampak berbusa. Dan busanya-pun berbau harum. Air tawar dalam bumbungan tersebut hanya tinggal sedikit, karena kerap kali diminum disepanjang perjalanan. Akan tetapi bumbungan yang berisi air danau, manakala diperiksa airnya berubah berbau tidak enak sama sekali. Mendapati perubahan itu, air danau dalam bumbungan seketika langsung dibuang. Sang Prabhu lantas berkata kepasa Sunan Kalijaga : “Didaerah Prabalingga (Probolinggo) ini kelak akan dikenal dengan dua nama, yaitu Prabalingga (Probolinggo) dan Bangerwarih. Tempat ini kelak akan menjadi tempat berkumpulnya manusia-manusia yang suka mencari ilmu kepintaran dan ilmu kebatinan. Kata Prabalingga bisa diartikan pula ‘PRABA-wane wong Jawa ka-LING-an prabawane tang-GA’ (Kharisma manusia-manusia Jawa terhalang oleh kharisma yang berasal dari tetangga diseberang).” Sang Prabhu beserta rombongan lantas melanjutkan perjalanannya. Tujuh hari kemudian telah sampai di Ampelgadhing (Ampeldhenta ~Surabaya). Nyai Ageng Ampelgadhing segera menyambut kedatangan Sang Prabhu. Nyai Ampelgadhing lantas memberikan sembah bakti sembari meratapi segala hal yang telah terjadi.

Sang Prabhu lantas berkata : “Sudahlah jangan menangis, ngger (anakku), anggaplah semua ini adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Diriku dan kamu hanya sekedar menjalani, semua hal yang telah terjadi sudah tertulis didalam Lokhilmakpul (Laukhil Makhfudz) sebelumnya. Keberuntungan dan celaka sungguh tidak bisa dihindari. Sudah kewajiban manusia untuk melakukan usaha.”

Nyi Ageng Ampel lantas menuturkan kepada Sang Prabhu tentang kelakuan Prabhu Jimbun seperti yang sudah diterangkan didepan. Sang Prabhu lantas memerintahkan agar memanggil Prabhu Jimbun. Nyi Ampel lantas mengirimkan utusan ke Demak sembari membawasuratundangan. Sesampainya di Demak,suratsegera dihaturkan kepada Sang Prabhu Jimbun. Tidak menunggu waktu lama Prabhu Jimbun segera berangkat menghadap ke Ampel.

Tersebutlah putra Raja Majapahit, yang bernama Raden Bondhan Kajawan yang tinggal di Tarub. Dia mendengar kabar jikalau Majapahit telah dijebol oleh Adipati Demak. Sang Prabhu konon berhasil lolos dari dalam istanadan tidak diketahui lagi kemana perginya. (Raden Bondhan Kajawan) merasa tidak tenang hatinya, lantas berangkat ke Majapahit. Disepanjang perjalanan, Raden Bondhan Kajawan senantiasa bertanya dan mencari-cari kabar dimanakah kira-kira Prabhu Brawijaya sekarang berada. Sesampainya di Surabaya, mendapat berita bahwasanya ayahanda Prabhu tengah berada di Ampel, akan tetapi jatuh sakit. Raden Bondhan Kajawan lantas menghadap dan memberikan sembah baktinya.

Sang Prabhu bertanya : “Yang memberikan sembah ini siapa?”

Raden Bondhan Kajawan menjawab bahwasanya dirinyalah yang tengah menghadap.

Sang Prabhu lantas merangkul putranya. Sakit Sang Prabhu semakin parah, merasa kalau dirinya sudah dekat hendak berpulang ke jaman keabadian, Sang Prabhu berpesan kepada Sunan Kalijaga : “Sahid, mendekatlah kemari. Diriku sudah merasa hendak berpulang ke jaman keabadian. Tulislahsuratuntuk dikirimkan ke Penging dan Pranaraga (Ponorogo). Nanti akan aku bubuhkan tanda tangan disana. Tulislah bahwasanya agar mereka menerima kehancuran Majapahit, jangan saling berebut tahta, semua ini sudah menjadi kehendak Yang Maha Suci. Jangan saling memerangi, hanya akan membuat kerusakan semata. Sayangkanlah kerusakan dan kerugian yang akan diderita oleh para pengikut. Menghadaplah ke Demak. Sepeninggalku, agar supaya rukun dengan saudara. Siapa saja yang memulai membuat kejahatan, aku benar-benar memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar kalah perangnya!”

Sunan Kalijaga lantas menulissuratseperti yang diperintahkan, setelahsuratselesai ditulis, kemudian diberi tanda tangan oleh Sang Prabhu.Suratdikirimkan ke Pengging dan Pranaraga (Ponorogo).

Sang Prabhu lantas berkata : “Sahid, sepeninggalku dirimu harus bisa momong anak cucuku. Terutama aku titipkan anak ini. Momonglah hingga seluruh keturunannya. Jika memang nanti ada keberuntungan bagi dirinya, kelak anak inilah yang akan menurunkan ‘LAJERE TANAH JAWA’ (Tokoh-tokoh kuat di Tanah Jawa sesudah Majapahit). Dan lagi pesanku kepada kamu, jikalau nanti aku sudah berpulang ke jaman keabadian, makamkan aku di Majapahit, buatkanlah aku makam di sebelah utara timur kolam segaran. Namailah makamku Sastrawulan. Dan sebarkanlah berita bahwasanya yang dimakamkan disitu adalah istriku Putri Champa. Pesanku lagi, bagi keturunanku kelak jangan sampai menikahi orang berbeda bangsa, dan juga jangan mempercayakan jabatan senopati kepada lain bangsa.”

Sunan Kalijaga setelah mendapatkan pesan semacam itu lantas bertanya : “Apakah Sang Prabhu tidak memberikan restu kepada putra paduka Prabhu Jimbun untuk bertahta sebagai Raja ditanah Jawa ini?”

Sang Prabhu menjawab : “Aku memberikan restu, akan tetapi restuku hanya berhenti sampai pada keturunannya yang ketiga!”

Sunan Kalijaga meminta penjelasan mengapakah makam sang Prabhu kelak harus diberinama Sastrawulan.

Sang Prabhu menjawab : “Sastra maksudnya adalah Tulisan, Wulan artinya pelita dunia, ini melambangkan keutamaanku hanya seperti cahaya bulan (tidak stabil seperti matahari). Jikalau masih ada cahaya bulan, kelak, biar semua orang Jawa tahu bahwa saat aku meningal dunia, diriku telah memeluk agama Islam. Dan aku meminta padamu agar kelak dikabarkan bahwa yang dimakamkan disana adalah Putri Champa, bukan diriku, sebab diriku telah dianggap bagaikan seorang wanita (disepelekan) oleh si Patah, tidak lagi dianggap sebagai seorang lelaki, hingga sedemikian teganya Patah menyia-nyiakan ayahandanya sendiri. Diriku hanya memberikan restu kepada Raja Demak hanya sampai keturunan ketiga, sebab Patah berasal dari tiga benih, yaitu Jawa (Sang Prabhu Brawijaya), China (ibu Raden Patah Eng Kian) dan Raksasa (Adipati Arya Damar ~ Adipati Arya Damar adalah keturunan Ni Endang Sasmitapura, penganut ajaran Tantra Bhairawa yang dalam ritualnya menyertakan memakan daging mayat dan meminum darah manusia, sehingga disebut Raksasa : DS), oleh karenanya tega kepada ayahnya sendiri serta kotor tingkah lakunya. Pesanku, jangan sampai keturunanku mendapatkan jodoh lain bangsa, sebab dengan menikahi bangsa lain, disetiap kesempatan pastinya sedikit demi sedikit akan memberikan pengaruh dan menggoyahkan keyakinan yang sudah dipegangnya, hal ini akan menciptakan kesengsaraan hidup. Dan pesanku yang terakhir agar jangan sampai mempercayakan jabatan senopati kepada lain bangsa, sebab pastinya kurang kesetiaannya kepada Raja. Dikala tengah menghadapi pertempuran, pasti akan terbagi kesetiaannya. Sudahlah Sahid, semua pesanku tulislah!”

Selesai memberikan wasiat, Sang Prabhu segera bersendekap, dan meninggal dunia. Jenasahnya lantas dimakamkan di Astana Sastrawulan, Majapahit. Hingga hari ini, terkenal bahwasanya yang dimakamkan disana adalah Putri Champa, padahal sesungguhnya Putri Champa wafat di Tuban, makamnya berada di Karang Kumuning.

Tiga hari kemudian, Sang Sultan Bintara baru hadir ke Ampelgadhing serta bertemu dengan Nyai Ageng.

Nyai Ageng berkata :”Sudah menjadi nasibmu Prabhu Jimbun, dirimu tidak bisa melihat detik-detik terakhir ayahandamu meninggal sehingga tidak sempat memberikan sembah bakti serta meminta restu untuk bertahta sebagai Raja. Dirimu juga tidak sempat memohon maaf atas segala kesalahan yang telah kamu lakukan.”

Prabhu Jimbun mengatakan kepada Nyai Ageng, dirinya sudah pasrah kepada nasib, semua sudah terjadi dan semua harus dijalani.

Sultan Demak berada di Ampel selama tiga hari lantas pulang.

Tersebutlah Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga (Ponorogo) yaitu Adipati Andayaningrat IV di Pengging dan Adipati Bathara Katong di Ponorogo, sudah mendengar bahwasanya negara Majapahit berhasil dijebol oleh Adipati Demak dengan cara berpura-pura hendak memperingati hari raya Islam di Ampel. Sang Prabhu beserta Raden Gugur konon berhasil meloloskan diri dari istana. Tidak diketahui kemana kepergiannya.. Kemarahan Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga (Ponorogo) tak terbendungkan lagi. Oleh karenanya, mereka masing-masing telah mengumpulkan kekuatan untuk menggempuir Demak. Berkehendak untuk berbakti kepada Ayahhanda Prabhu sekaligus hendak merebut tahta. Seluruh prajurid sudah siap sedia dengan persenjataan tempur lengkap, tinggal diberangkatkan. Akan tetapi, utusan Sang Prabhu Brawijaya datang. Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga (Ponorogo), begitu selesai membaca isisurat, segera disembahnyasurattersebut dengan hati yang benar-benar teriris dan perih. Mereka hanya bisa menggeram marah dengan gigi bergemeretakan! Wajah mereka memerah bagai api! Hingga keluarlah ucapan sumpah dari mereka, bahwasanya semoga mereka tidak hidup lebih lama lagi agar tidak menanggung malu berkepanjangan.

Kedua Adipati tidak bersedia menghadap ke Demak. Dikarenakan sangat sedih hatinya, sehingga keduanya jatuh sakit. Tidak berapa lama kemudian mereka meninggal dunia. Menurut kabar berita, kematian Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga (Ponorogo) dikarenakan karena telah ditenung oleh Sunan Giri. Hal ini dilakukan agar kelak tidak menjadi penghalang dikemudian hari.

Cerita kehancuran Majapahit sesungguhnya penuh dengan perlambang (simbolisme). Sungguh tidak masuk diakal sehat manakala negara sebesar itu, yang luas jajahannya hancur dikarenakan kekuatan-kekuatan mukjijat Wali. Simbolisme dibuat juga dikarenakan para pujangga malu menceritakan kejadian permusuhan antara anak melawan ayahnya sendiri. Beberapa perlambang (simbolisme) kehancuran Majapahit yang dibuat oleh para bijak adalah sebagai berikut :
Dikartenakan kekeramatan para Wali, keris milik Sunan Giri manakala dihunus keluarlah berjuta-juta tawon yang menyengat prajurid Majapahit sehingga menimbulkan kekalahan.
Badhong (penutup kemaluan) milik SunanCirebon(Sunan Gunungjati) manakala dikibaskan keluar beribu-ribu tikus yang memakan perbekalan serta makanan kuda prajurid Majapahit, sehingga menimbulkan bubarnya mereka karena melihat begitu banyaknya tikus.
Peti yang dibawa dariPalembang(ceritanya konon diberikan oleh Adipati Arya Damar) manakala dibuka ditengah pertempuran keluar demit (mnakhluk halus)-nya. Prajurid Majapahit geger tewas karena diteluh oleh para demit (makhluk halus).
Konon Sang Prabhu Brawijaya meninggal secara MEKRAD/MEKRAT (Wafat tanpa meninggalkan jasad di Gunung Lawu)

Kyai Kalamwadi selanjutnya menjelaskan beberpa simbolisme diatas kepada muridnya yang bernama Darmagandhul seperti dibawah ini :

Itu semua hanyalah cerita simbolik semata, sesungguhnya jatuhnya Majapahit ceritanya seperti yang sudah aku paparkan diatas. Nagara Majapahit itu bukanlah sebuah barang remeh temeh yang mudah dihancurkan dan dirusak, tidaklah mungkin hancur hanya karena dikeroyok sepasukan tikus. Yang masuk akal adalah, tawon bisa bubar manakala kayu-kayu tempat bersarang mereka dirusak oleh manusia.Parademit (makhluk halus) bisa pula bubar manakala hutan-hutan dijarah oleh manusia. Akan tetapi jika Majapahit bisa rusak hanya karena tawon, tikus dan demit (makhluk halus), siapa yang bisa percaya? Mereka yang mempercayainya berarti manusia yang pendek nalarnya, sebab cerita yang sedemikian itu tidaklah masuk diakal dan tidaklah sesuai dengan nalar manusia. Semua cerita itu hanya sekedar simbolis belaka. Jika diceritakan apa adanya berarti bisa membuka rahasia kehancuran Majapahit itu sendiri. Tetapi, sedikit dari simbol-simbil itu akan aku jelaskan disini.

Binatang yang bernama tikus itu berwatak suka memakan segala, jika dibiarkan saja lama-lama akan menjadi-jadi, maksudnya : para ulama pada jaman dahulu, pertama kali datang meminta perlindungan kepada sang Prabhu Majapahit, akan tetapi manakala sudah diberi perlindungan, balasannya malah merusak. Sedangkan tawon adalah binatang yang membawa madu yang manis, senjatanya ada dipantat, kediamannya ada dilobang pohon atau tempat bercelah yang tinggi, maksudnya : pertama kali datang dengan ucapan yang manis, akan tetapi ujung-ujungnya menyengat dari belakang, kediaman tawon diberi nama tala, bisa diartikan ‘MEN-TALA (TEGA)’ merusak Majapahit, siapapun yang mendengar hal ini akan keheranan.

Sedangkan demit (makhluk halus) yang berada didalam peti yang dibawa dariPalembang, setelah peti dibuka menimbulkan bunyi menggelegar, maksudnya :Palembangitu berarti bisa diartikan ‘MLEMBANG (GOYAH)’, dimana orang-orangnya gampang berpindah agama. Peti sendiri berarti tempat yang tertutup untuk menutupi benda yang samar, demit (makhluk halus)-pun berarti samar, rahasia, tersembunyi, demit juga cenderung suka meneluh. Maksudnya adalah sebagai berikut : Kehancuran Majapahit akibat diteluh dengan rapi dan tersembunyi, jelasnya saast hendak melakukan penyerangan tidak ada tersiar berita apapun, berpura-pura hendak mengadakan perayaan gerebeg maulid, mengejutkan kedatangannya. Prrajurid Majapahit tidak melakukan persiapan sama sekali, tahu-tahu Adipati Terung telah membantu Adipati Demak.

Tidak ada kerajaan besar semacam Majapahit yang kehancurannya hanya karena disengat oleh tawon serta diserang oleh tikus, apalagi bubarnya prajurid hanya karena diteluh oleh demit (makhluk halus) semata.

Kehancuran Majapahit menimbulkan suara menggelegar, hingga terdengar sampai kemana-mana. Terdengar jikalau hancur dikarenakan dijebol oleh putra sang Prabhu sendiri dengan dibantu oleh delapan Wali, semua berkhianat kepada sang Raja.

Dan lantas Kyai Kalamwadi menjelaskan : Menurut guruku Raden Budi Sukardi, sebelum Majapahit runtuh, burung bangau tidak ada yang berbulu kuncir dikepalanya. Manakala negara sudah berpindah ke Demak, keadaan berubah, muncul burung bangau dengan bulu kepala berkuncir.

Ini adalah sindiran dari Sang Maha Gaib bagi Prabhu Brawijaya, kebo kombang atine entek dimangsa tuma kinjir (kerbau kumbang hatinya habis dikakan kutu-kutu babi hutan). Kerbau melambangkan Raja yang kaya raya, kumbang melambangkan suaranya hanya bisa berdengung saja, suara Prabhu Bnrawijaya menyaksikan kehancuran Majapahit dengan hati yang habis terkikis dan hanya bisa menggeram tak mampu berbuat apa-apa, tidak melakukan perlawanan. Sedangkan kutu babi hutan (tuma kinjir : kutu yang biasa menempel dibulu babi hutan : DS), TUMA (KUTU) artinya TUMAN (KETERLALUAN), CELENG (BABI HUTAN) artinya berada dibawah, menggambarkan manakala Raden Patah saat datang pertama kali ke Majapahit menghaturkan sembah bakti kepada ayahandanya, lantas diberikan kedudukan, mendapatkan hati dari Sang Prtabhu, akan tetapi pada akhirnya mengobarkan peperangan merebut tahta, tidak menimbang salah dan benar, membuat habis hati Sang Prabhu.

Sedangkan burung bangau yang berkuncir adalah sindiran bagi Sultan Demak yang telah menyia-nyiakan ayahanda Prabhu sendiri, mentang-mentang beliau beragama Buda totok kafir kufur, oleh karenanya Gusti Allah menyindir dengan munculnya burung bangau yang berkucir bulu kepalanya. Sindiran itu bermaksud, lihatlah leher belakangmu sendiri, ibumu sendiri berasal dariChina, tidak sepatutnya berlaku sia-sia kepada orang lain bangsa. Sang Prabhu Jimbun itu memiliki benih dari tiga orang, yang pertama benih Jawa, tak lain benih dari Sang Prabhu Brawijaya, oleh karenanya Sang Prabhu Jimbun mempunyai kecenderungan ingin menjadi Raja yang berkuasa. Cenderung pada kekayaan karena mempunyai benih dariChina, sedangkan cenderung berani tapi tanpa perasaan akibat mempunyai benih dari Sang Arya Damar, sebab Arya Damar ibunya adalah seorang raksasa (penganut ajaran Tantra Bhairawa : DS), suka menghisap darah, kelakuannya suka menyakiti. Oleh karenanya muncul burung bangau berkuncir itu semua atas kehendak Allah. Bukan hanya Sultan Demak saja yang disindir agar menyadari kesalahannya, akan tetapi seluruh para Wali yang lain juga disindir agar menyadari kesalahannya. Jikalau tidak juga segera menyadari kesalahan yang telah dibuat, akan menangung dosa lahir batin. Oleh karenanya sebutan Wali bagi orang Jawa juga bisa diartikan WALIKAN (BERBALIK), diberi kebaikan balasannya malah membalas dengan kejahatan.

Sedangkan adanya orang China datang ke Jawa itu dikarenakan, dahulu kala, saat para orang-orang bijak di Jawa belum begitu banyak pengetahuannya, saat mereka meninggal dunia, suksma mereka banyak yang terbawa angin dan lahir kembali di tanah China. Oleh karenanya lantas rindu untuk pulang kembali ke tanah Jawa. Dengan demikian, orang-orangChinayang datang ke Jawa sesungguhnya dulu suksma mereka pernah hidup di Jawa.

Kyai Kalamwadi meneruskan penuturannya : “Adapun menurut guruku Rahaden Budi Sukardi adalah seperti ini : Ibadah yang bisa diterima oleh Allah harus bersandarkan Dharudhemble. Kata DHAR maksudnya WUDHAR (TERURAI), RU maksudnya RUWET lan RUNGSIT (KUSUT dan MISTERIUS). Sedangkan DHEMBLE maksudnya DHEMBEL DADI SIJI (MENGUMPUL JADI SATU).Jikalau sudah menyadari kesatuan hukum, syari’at, thariqah, haqiqat dan ma’rifat, disanalah pepujian tanpa ucapan berlaku. Sarak (Syar’i : Hukum/Aturan) adalah syarat untuk hidup dimasyarakat, disana terletak aturan untuk tidak melakukan, apa yang harus dilakukan, bagaimana berusaha yang benar dan bagaimana memperoleh penghidupan yang benar. Syari’at itu lebih meningkat lagi, sebuah aturan untuk diri sendiri dan orang lain yang sudah menyentuh peningkatan kesadaran (saringane kawruh agal alus : alat penyaring segala hal yang bersifat kasar [badani] dan halus [rohani] ), Thariqat adalah sarana untuk menimbang hal yang benar dan salah serta sudah betul-betul dijalankan dalam pola perilaku sehari-hari, Haqiqat adalah keadaan manakala kita sudah menyadari wujud ini semua adalah atas kehendak Allah. Segalanya yang menggerakkan Kesadaran hanya Allah. Tingkatan Haqiqat adalah tingkatan seseorang yang sudah menyadari dan tidak khilaf bahwa semua ini hanya wujud Allah. Jikalau dirimu sudah memahami makna DHARUDHEMBLE, pasti akan puas dengan kesadaran yang bakal kamu dapatkan. Sudah memakan buah pengetahuan dan buah kesadaran sekaligus. Sembahmu bagaikan besi yang dibakar didalam bara api, setelah membara akan hancur dengan api dan menyatu. Yang Di sembah dan yang menyembah sudah manunggal dan menyatu, DHEMBLE (KUMPUL) menjadi satu. Jikalau dirimu sudah bisa memahami makna apa yang aku ucapkan, pasti segera kamu akan ber-munajad. Bagaikan orang yang mengincar burung dengan sumpit, jika tak tahu letaknya burung ada dimana, jelas tidak akan kena sasaran. Saat melepaskan sumpitan hanya ngawur belaka. Pengetahuan manusia yang cerdas tidak sulit dikenali, semua itu keluar dari otak. “(Maksudnya, pengetahuan rasional tidak sulit dipelajari, karena itu hasil oleh pikir. Tapi pengetahuan rohani, susah untuk dikenali, hanya bisa dijalani. : DS)

Darmagandhul berkata, mohon untuk dijelaskan tentang hal Nabi Adam dan Ibu Hawa yang telah dikutuk oleh Tuhan disebabkan karena memakan buah pohon Pengetahuan yang ditanam ditengah taman Firdaus.Adajuga kitab yang menerangkan, yang dimakan Nabi Adam dan Ibu Hawa adalah buah Khuldi, yang ditanam di Surga. Oleh karenanya mohon dijelaskan, jikalau menurut orang Jawa bagaimana, mengapa yang mencatat hanya Kitab dari ‘Arab (Al-Qur’an) dan Kitab orang Srani (Orang Srani : Nashrani).

Kyai Kalamwadi lantas menjelaskan. Didalam kitab Jawa tidak diceritakan hal yang sedemikian itu. Kitab sejarah Jawa yang menghubungkan manusia Jawa keturunan Adam, hanya Kitab Manik Maya saja.

Kyai Kalamwadi lantas melanjutkan : “Setelah kitab-kitab agama Buda banyak yang dibakar dikarenakan takut menjadi penghalang perkembangan agama Rasul (Islam). Bahkan kitab-kitab yang disimpan oleh beberapa orang secara sembunyi-sembunyi, juga dipaksa untuk diambil dan dibakar. Hal itu terjadi setelah runtuhnya Majapahit. Siapa yang tidak mau memeluk agama Islam boleh dijarah harta bendanya, oleh karenanya banyak manusia Jawa yang ketakutan atas kebijakan Raja yang demikian ini. Sedangkan mereka yang mau memeluk Islam, kebanyakan diberi hadiah pangkat atau tanah bahkan ada juga yang dibebaskan dari pajak. Oleh karenanya masyarakat Majapahit banyak yang memeluk agama Islam, selain takut juga karena tergiur iming-iming hadiah. Pada saat itu Sunan Kalijaga berinisiatif, kearifan leluhur agar jangan sampai terputus, lantas menciptakan kreasi wayang kulit, sebagai media pengganti catatan dalam kitab-kitab kuno yang sudah banyak dibakar. Pada saat jaman Mataram, banyak Raja-Raja-nya yang membuat cerita sejarah leluhur Jawa. Kitab-kitab yang selamat tersimpan, lantas dikumpulkan, walau sudah banyak yang rusak disana-sini. Seluruh masyarakat Mataram diperintahkan oleh Raja-Raja Mataram agar mengumpulkan kitab-kitab kuno yang mereka simpan. Namun ternyata banyak sejarah yang telah terputus dan tidak diketahui lagi. Semenjak jaman Kerajaan Gilingwesi hingga Mataram, banyak sudah yang tidak bisa diketahui lagi ceritanya. Buku-buku yang berasal dari Demak dan Pajang juga dikumpulkan. Tapi ternyata hanya didapati kitab-kitab bertuliskan huruf Arab , kitab Fiqh dan Taju Salatin. Semua terhenti pada cerita Surya Alam (Sultan Demak pertama). Raja Mataram mendapatkan kekecewaan karena keinginannya untuk menyusun sejarah leluhur Jawa menemui kesulitan mendapatkan sumber rujukan. Oleh karenanya, Raja Mataram lantas menitahkan para pujangga mengarang naskah Babad Tanah Jawa. Dikarenakan cerita yang diketahui hanya sebatas akhir Majapahit dan juga dikarenakan banyak para pujangga yang diperintahkan membuat, maka muncullah berbagai versi. (yang kebanyakan hanya berkisar seputar keruntuhan Majapahit hingga jaman Mataram). Sedangkan kisah sebelum Majapahit diambil dari kisah Lokapala (Jadi dihubungkan dengan cerita Mahabharata langsung). Dan hasilnya adalah sebagai berikut.”

Cucu Nabi Adam , yaitu putra Nabi Syits (Seth), bernama Sayyid Anwar. Sayyid Anwar mendapat marah dari ayah dan kakeknya dikarenakan telah bernai memakan buah pohon Budi (Kesadaran) yang tertanam di Surga. Keinginan Sayyid Anwar agar dirinya memiliki kuasa mirip dengan kuasa Tuhan. Bukan hanya terima memakan buah pohon Pengetahuan dan buah Khuldi semata, namun buah dari pohon Budi (Kesadaran) juga dimakannya. Sayyid Anwar lantas membuat Syari’at (aturan agama) sendiri, tidak mau memakai aturan yang dibuat oleh ayahnya maupun kakeknya. Oleh karenanya dia murtad dan menolak memakai agama leluhurnya. Serta tidak mau mengakui sebagai keturunan dari Nabi Adam dan Nabi Syits (Seth). Menurutnya, dirinya berwujud dengan sendirinya, hanya jasadnya saja yang berasal dari Adam dan Syits. Dirinya berasal dari Budi Hawa (Kesadaran dan Kehendak) Tuhan langsung. Pendapat yang demikian itu sangat dipegang teguh oleh Sayyid Anwar, alasan dia : Yang berasal dari kosong, kelak akan kembali kepada kekosongan tersebut. Oleh karenanya Sayyid Anwar lantas pergi dari kediamannya menuju ke timur, ke tanah Dewani. Disana lantas bertemu dengan Raja Jin Prabhu Nur Adi. Sayyid Anwar ditanya asal usulnya dan dia lantas menceritakan semuanya. Pada akhirnya Sayyid Anwar diambil menantu dan diberikan warisan tahta kerajaan, menjadi Raja Jin dengan gelar Prabhu Nur Cahya. Nama Dewani lantas diubah menjadi Jawa. Sudah terkenal diseluruh tempat, Raja Jawa memahami segala ilmu yang kasar hingga yang halus. Lantas Sang Prabhu (Nur Cahya) membuat sastra yang hanya berjumlah Dua Puluhsatu huruf, seluruh ucapan orang Jawa bisa diwakili oleh aksara ini. Aksara ini lantas diberi nama Satra Endra Prawata. Kata Jawa lantas diartikan dari kata ngu-JA ha-WA (Menuruti Kehendak). Keinginan Sang Prabhu agar dirinya hingga seluruh keturunannya bisa menduduki tahta. Sang Prabhu mempunyai satu orang putra bernama Sang Hyang Nur Rasa. Juga menikahi seorang putri Jin. Memiliki satu orang putra bernama Sang Hyang Wenang. Sang Hyang Wenang juga menikahi seorang putri Jin, juga memiliki satu orang putra bernama Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal juga menikahi seorang putri Jin. Memiliki putra Sang Hyang Guru. Sang Hyang Guru merasa memiliki kuasa seperti Gusti Allah lantas membuat kerajaan diatas puncak Gunung Mahameru serta mengajarkan bahwa alas-usul kehidupan keluar dari BUDI HAWA NAFSU (KESADARAN dan KEHENDAK). Mengambil gelar sebagai Dewa dan beragama Buda Budi, menyembah kesaktiannya sendiri dan mengaku sebagai Gusti Allah. Kehendak yang demikian itu diijinkan oleh Yang Maha Kuasa, serta diijinkan untuk mengimbangi kuasa dari Yang Maha Kuasa sendiri. Dewa bisa dimaknai dua arti pertama bu-DI ha-WA (Kesadaran dan Kehendak) serta wa-DI da-WA (Rahasia Memanjang) dan menamai agamanya agama Buda. Sedangkan Dewi maksudnya : DE-ning W-ad-I-ning wadon iku bisa ngêtokake êndhas bocah. (Melalui tempat rahasia seorang wanita bisa mengeluarkan kepala manusia).

Darmagandhul lantas diperintahkan untuk menimbang mana yang benar dan mana yang salah, memakan buah pohon Pengetahuan, atau memakan buah pohon Budi (Kesadaran) atau memakan buah pohon Khuldi?

Menurut Darmagandhul semua itu benar, mana yang disenangi harus di mantapkan dalam hati. Jika yang dimakan buah pohon Budi, maka menyebut Tuhan dengan nama Dewa. Jika yang dimakan buah pohon Pengetahuan, menyebut nama Kangjeng Nabi Isa, agamanya Srani (Nashrani). Jika yang dimakan buah pohon Khuldi, agamanya Islam. Memuji Nabi panutan, yaitu Kangjeng Nabi Rasul. Manakala menyukai daun Pengetahuan dan daun Budi, menyembah Pik-Kong, menuruti aturan agama Sisingbing dan Sicim. Semuanya sudah benar. Namun jika bisa, tiga macam buah tadi dimakan semua. Jika manusia tidak memakan ketiga-tiganya akan menjadi manusia bodoh. Hidupnya bagai batu, tidak memiliki tujuan serta tidak bisa membedakan baik dan buruk. Akan tetapi menurutku pribadi, manusia itu menuruti kondisi alam saja, jika Khalifah (Penguasa) memakan buah Budi, ikuti saja memakan buah Budi. Jika Khalifah (Penguasa) memakan buah Pengetahuan, ikuti saja memakan buah Pengetahuan. Jika Khalifah (Penguasa) memakan buah Khuldi, ikuti saja memakan buah Khuldi. Masalah benar atau salah, Khalifah juga yang bakal mempertangung jawabkannya. Sebab seorang Khalifah itu menjadi panutan banyak orang. Jika diibaratkan sebagai pohon, Khalifah seumpama batangnya. Jikalau ada bagian pohon yang tidak sesuai dengan batangnya, ibarat ikan yang keluar dari dalam air. Jilalau buah tidak mau menempel pada pohon, akan terhampar tanpa tempat bersandar. Oleh karenanya, sebaiknya manusia mengikuti agama yang sudah diwariskan kepadanya. Seumpama salah, Gusti Allah pasti akan memberikan pengampunan-Nya. Darmagandhul lantas meminta kejelasan perbedaan antara agama Rasul dengan agama lainnya.

Kyai Kalamwadi lantas menerangkan perbedaannya, menurut petunjuk Yang Maha Kuasa, manusia diwajibkan untuk memuja agama. Akan tetapi lantas banyak yang telah keliru memuja kepada benda yang terlihat. Seperti halnya keris, tombak dan berbagai macam barang pusaka, lantas melupakan Tuhan, disebabkan telah mendua dengan men-Tuhan-kan benda. Manusia hidup harus mempunyai agama sebagai pegangan, sebab jika tidak memiliki agama dipastikan banyak melakukan kesalahan tak sengaja, baik kesalahan yang besar atau sedikit. Yang bisa membuat sirnanya kesalahan-kesalahan tadi, hanyalah air suci, yaitu tekad lahir batin (dan itu yang diajarkan agama). Yang dimaksudkan dengan air suci tekad maksudnya milikilah pikiran yang ening (hening), itulah cara mandi manusia yang sesungguhnya, mampu membersihkan lahir dan batinnya. Manusia utama dalam beragama tidak mengharap-harapkan memperoleh surga, yang dicari hanyalah keutamaan suci melebihi manusia lainnya, jangan sampai menemukan penderitaan, mempunyai nama yang baik, mempunyai sesebutan utama, mendapatkan ketentraman lahir batin, mulia seperti dulu-dulunya saat masih berada di alam samar, tidak terkena kesedihan dan keprihatinan. Bersihkan-lah pintu surgamu, berilah hiasan dengan tekad utama, supaya tidak menimbulkan masalah, bisa selamat lahir dan batin. Yang aku maksudkan dengan pintu surga dan pintu neraka, adalah sarana menuju kebahagiaan atau penderitaan. Jika baik adanya akan menarik keuntungan, jika buruk keadaannya akan menuai celaka. Pintu surga dan pintu neraka tak lain adalah ucapanmu. Jika buruk mengundang celaka, masuk pada penderitaan. Jika baik, akan mendapatkan keuntungan.

Darmagandhul bertanya lagi. Manusia didunia hanya berwujud lelaki dan perempuan, akan tetapi mengapa jadinya bermacam-macam bentuk, ada Jawa, Arab, Belanda danChina. Mengapa pula agamanya berbeda. Mengapa tidak diberikan satu ajaran saja?

Kyai Kalamwadi lantas menjelaskan. Semua adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Oleh karena ajaran dibuat berbeda-beda, dimaksudkan agar seluruh manusia bisa dipicu menemukan buah pohon Kesadaran dan buah pohon Pengetahuan. Dengan sarana kecerdasan yang diberikan, sampai dimana mampu memetik buah Pengentahuan dan buah Kesadaran. Ketahuilah, Gusti Allah telah menciptakan sastra yang gaib, disebut sastra Hidup. Manusia jarang yang bisa memahaminya, walaupun para Auliya maupun para Nabi tetap saja memahami sebatas yang mereka bisa. Segala buah pohon Pengetahuan dan buah pohon Kesadaran diwujudkan dalam tulisan, diguratkan diatas DALWANG (kertas) dengan MANGSI (tinta) agar bisa terlihat wujudnya. Oleh karen disebut DALWANG sebagai sarana me-DAL WANG-ngune (Keluar wewujudannya), MANGSIT (Memicu) manusia agar memakan buah pohon Pengetahuan (mendapat Pemahaman/Pengertian sebelum mendapatkan buah pohon Budi atau Kesadaran : DS). Alat tulisnya dinamakan KALAM, sebab buah pengetahuan yang tergurat disana bagaikan ucapan alam.

Segala macam sastra/ajaran pemberian Yang Maha Kuasa, wajib dimakan, agar kaya pengertian dan kaya pemahaman, hanya manusia yang tidak memahami sastra/ajaran pemberian Gusti Allah tidak akan memahami WANGSIT (Pengetahuan Rahasia).

(Aulia) yang terhormat Gong Cu (Kong Hu Cu) terlalu terburu-buru meniru sastra/ajaran gaib pemberian Gusti Alah, sehingga mewujudkan dalam aksara tidak sempurna dan banyak pengucapan yang cedal karenanya. Para Auliya yang lain diseluruh dunia sabar mencoba meniru dan mampu menciptakan aksara dengan batasan pasti untuk mewujudkan sastra/ajaran Hidup tersebut. Hanya aksaraChinayang terlampau banyak jumlahnya, pengucapanya juga cedal, sebab Auliya disana yang membuat aksara tersebut terlalu terburu-buru memakan buah Pengetahuan dan lupa memakan buah Kesadaran, lupa jikalau dirinya dititahkan sebagai manusia. Akan tetapi memaksakan diri memakai kuasa Yang Maha Kuasa, meraih sesuatu yang belum saatnya, terburu-buru membuat aksara hingga jumlahnya tak bisa dihitung. Aku menyebutnya sastra Godhong (Daun). Yaitu Daun dari pohon Kesadaran dan daun pohon Pengetahuan, diambil sedikit-sedikit, ditata dan dikumpulkan, diwujudkan dalam aksara dan ternyata jumlahnya ribuan. AuliyaChinahendak meniru semua sastra Hidup buatan Gusti Allah. Auliya Jawa sebelum mencipta aksara sudah mencapai tahap Kesadaran, oleh karenanya saat hendak mewujudkan ajaran/sastra Hidup milik Gusti Allah dengan kesabaran, sehingga mampu menciptakan aksara yang jumlahnya bisa dibatasi. Auliya Arab memakan buah pohon Kuldi, membuat aksara demi untuk mewujudkan sastra/ajaran Hidup Gusti Allah juga bisa dibatasi. Tapi sesungguhnya sastra/ajaran Hidup buatan Gusti Allah, berasal dari Sabda (AUM ~ Logos : DS), berwujud sendiri, berbunyi jelas dan bentuknya berbeda-beda serta tak terhitung.

Darmagandhul lantas disuruh menimbang, dari semua ajaran buatan para Auliya tadi yang bisa menunjukkan tingkatan tinggi rendahnya Kesadaran aksara yang mana?

Menurut pertimbangan Darmagandhul, semua ajaran bisa dianggap benar, jikalau semua keluar dari Kesadaran. Sedangkan aksara yang berjumlah lebih sedikit sebagai sarana mewujudkan ajaran tersebut dalam bahasa manusia, menurut Darmagandhul itu hanya karena kepintaran/kemahiran sang pencipta aksara tersebut (tidak ada hubungannya dengan Kesadaran sama sekali. : DS).

Kyai Kalamwadi berkata : “Jika manusia hendak melihat sastra/ajaran Gusti Allah, aksaranya tidak bisa dilihat dengan mata lahir, hanya bisa dilihat dengan mata Kesadaran. (Ajaran Hidup atau ajaran Tuhan itu adalah Rta/Dharma/Kebenaran/Hukum Alam ini. Itulah sastra/ajaran Tuhan yang sesungguhnya : DS). Gusti Allah Tunggal ada-Nya, akan tetapi Dzat-Nya meliputi seluruh perwujudan. Untuk bisa melihat harus dengan Kesadaran yang jernih, tidak boleh tercampuri kehendak yang aneh-aneh. Harus teliti dan sabar, supaya menyadari kenyataan Dia yang sebenarnya.

Kyai Kalamwadi duduk dihadap istrinya yang bernama Endhang Prejiwati. Darmagandhul serta para cantrik (murid) yang lain menghadap. Saat itu Kyai Kalamwadi tengah memberikan wejangan kepada istrinya. Itulah kewajiban seorang suami harus memberikan pengajaran yang baik bagi istrinya. Yang tengah diwejangkan adalah pengetahuan Kesejatian dan pengetauan yang diperlukan jika sudah datang saatnya kematian. Seorang istri diibaratkan seperti halnya rumah. Walau kondisinya sudah baik, akan tetapi setiap hari harus tetap dibersihkan, dipelihara dan diperbagus. Kyai Kalamwadi lantas menuturkan, bahwasanya didalam raga manusia ini banyak firman Tuhan yang memberikan pengetahuan. Hanya sebatas berupa tanda-tanda yang tertulis disekujur badan.

Kyai Kalamwadi berkata : “Dikarenakan diriku ini orang bodoh, oleh karenanya aku tidak bisa memberikan wejangan yang terangkai dengan kata-kata indah. Aku hendak bertanya kepada jasadmu, dan dari jasadmu akan banyak ditemukan jawaban.”

Lantas beginilah ucapan Kyai Kalamwadi. Tangan kirimu itu memiliki arti sendiri, bisa dibuat contoh nyata kebaikan, menunjukkan ragamu itu dipenuhi wujud hawa (Keinginan) belaka. Kata ‘KI’ maksudnya ‘i-KI’ (Ini) ‘WA’ maksudnya ‘we-WA-dhah’ (Tempat). Jasadmu itu ibarat perahu dan perahu ibarat dari seorang wanita. WONG maksudnya ‘ngelo-WONG’ (Memiliki ruang), WADON (Wanita) maksudnya hanya sebagai WADHAH (Tempat). Isinya hanya tiga perkara, yaitu KAR-RI-CIS. Maksud dari KAR-RI-CIS adalah sebagai berikut :
KAR artinya dza-KAR (Penis). Maksudnya jikalau lelaki bisa memenuhi kelelakiannya (memenuhi kebutuhan biologis istrinya), sang wanita pasti merasa puas, sehingga akan langgeng dalam perjodohan suami istri.
RI maksudnya pa-RI (Padi). Maksudnya makanan. Jikalau sang suami bisa mencukupi kebutuhan makanan sang istri, pastilah sang istri tenteram hatinya.
CIS maksudnya pi-CIS atau uang, maksudnya jikalau sang suami mampu memberikan uang yang cukup kepada sang istri, pastilah sang istri akan tenteram.

Jika sebaliknya, jikalau sang suami tidak mampu memenuhi ketiga-tiganya, sang istri bisa resah hatinya. Sedangkan tangan TENGEN (Kanan) maksudnya ‘etung-NGEN’ (Telitilah) tingkah lakumu. Setiap hari harus bersedia melayani bahkan sang wanita wajib pula membantu sang suami mencari sandang dan pangan.

Bahu atau KANTHI (Damping), maksudnya seorang istri adalah pendamping suami untuk melakukan segala pekerjaan yang perlu.

SIKUT (Siku) maksudnya SINGKUREN (Belakangilah) segala perbuatan salah. UGEL-UGEL (Pergelangan) melambangkan, walau terjadi pertengkaran, seyogyanya tidak akan terpisahkan selamanya (Pergelangan adalah tempat sambungan antara dua tulang yang terpisah. Suami dan istri walau memiliki keinginan yang berbeda, tetaplah menjadi satu ibarat pergelangan tangan tersebut). EPEK-EPEK (Telapak tangan), maksudnya nge-PEK (Meminta) nama suami. Sebab wanita jika sudah bersuami, namanya lantas dipanggil dengan nama suaminya. Inilah perlambang dari Warangka (Sarung Keris) masuk kedalam Curiga (Keris). Warangka adalah sang wanita, Keris-nya adalah nama dari suaminya.

RAJAH ditelapak tangan, memberikan petunjuk agar seorang istri menganggap suaminya adalah Raja-nya.

DRIJI (Jemari) maksudnya adalah DREJEG atau pagar. Kelilingilah jiwamu dengan pagar keutamaan, seorang wanita harus memiliki watak utama. Setiap jemari memiliki arti sendiri-sendiri.

JEMPOL artinya EMPOL (Bagian renyah didalam batang pohon kelapa yang bisa dimakan), maksudnya seorang istri manakala diingini oleh seorang suami, haruslah mudah dan renyah bagaikan renyahnya empol kelapa.

DRIJI PANUDUH (Jari telunjuk) maksudnya seorang wanita harus menjalani apa saja sa-PITUDUH-e (Segala yang ditunjukkan) oleh sang suami.

DRIJI PANUNGGUL (Jari tengah), maksudnya agar seorang wanita bisa ng-UNGGUL-ake (Mengunggulkan) suaminya agar mendapat keberkahan.

DRIJI MANIS (Jari manis) maksudnya seorang wanita harus memiliki wajah dan tingkah laku yang MANIS, berbicara yang MANIS dan sewajarnya.

JENTHIK (Jari kelingking) maksudnya sebagai seorang istri, seorang wanita kuasanya daam rumah tangga hanya seperlima dari kuasa suami, oleh karenanya harus setia dan menurut kepada suaminya.

KUKU maksudnya harus KUKUH (Kuat dan rapat) menjaga bagian rahasianya, jangan sampai gampang kendor tapih (kemben)-nya.

Pegangan hidup (PIKUKUH) berumah tangga, bagi wanita harus setia dan penurut kepada suaminya serta harus menjalani empat perkara, yaitu : PAWON (DAPUR) PATURON (RANJANG), PANGREKSA (MENJAGA DIRI) serta menghindari PADUDON (PERTENGKARAN).

Hidup berumah tangga manakala bisa menetapi aturan ini, dapat dipastikan akan selamat dan tenteram.

Kyai Kalamwadi memberikan petunjuk lagi tentang ketetapan berumah tangga. Menurut Kyai Kalamwadi, hidup berumah tangga harus berketetapan pada hati yang ingat, jangan sampai berbuat yang tidak baik. Bukan harta benda dan wajah sebagai pegangannya, tapi hati yang senantiasa ingat. Jika gampang sangat-sangat gampang, jika sulit, sangat-sangat sulit menjalaninya. Jika gagal gagal sekalian, jika dapat harus dapat sekalian (tidak boleh setengah-setengah maksudnya), jikalau sampai salah jalan tidak bisa diberikan ganti rugi dengan harta dan perwajahan tampan/cantik (jika sudah melakukan kesalahan, tak pandang punya harta banyak atau wajah bagus, tetap akan mendapatkan malu). Seorang istri harus senantiasa ingat jika dirinya dimiliki oleh seorang suami. Jikalau tidak mengingat akan hal ini, akan seenaknya dalam bersikap, sebab jika sampai ingkar, bisa menghilangkan keberkahan hidup berumah tangga. Yang dimaksud dengan ingkar bukan hanya ber-zina dengan lelaki lain saja, akan tetapi segala hal perbuatan yang berakibat tidak baik, juga bisa disebut ingkar, oleh karenanya seorang istri harus apa adanya (jujur) lahir dan batin, sebab jika tidak, pasti akan mendapatkan dua maca dosa, pertama berdosa kepada suami dan kedua berdosa kepada Gusti Allah, dapat dipastikan tidak akan mendapatkan kehidupan yang nyaman dikemudian harinya. Oleh karenanya hati harus senantiasa ingat, sebab perbuatan badan menuruti keinginan hati, sebab hati adalah raja bagi badan. Hidup berumah tangga bisa diibaratkan sebuah perahu besar, jalannya perahu terletak pada layar dan kemudi, walaupun layar sudah benar manakala kemudi salah menjalankan, perahu-pun tidak akan bisa berjalan baik. Suami ibarat memegang layar sedangkan sang istri ibarat memegang kemudi. Walaupun sudah benar menjalankan kemudi, namun jika layar tidak benar, maka jalannya perahu juga tidak bisa tegak. Jikalau keduanya sudah benar, maka akan menuai ketentraman dan akan sampai apa yang diinginkan, sebab kedua-dua orang menjalankan tugasnya dengan baik. Singkatnya, hidup berumah tangga kedua pasang suami istri harus sama tujuannya, oleh karenanya harus rukun, kerukunan akan membuahkan kebahagiaan. Bukan hanya yang tengah menjalankan hidup berumah tangga saja yang akan bahagia, jika bisa belajar hidup rukun, tetangga kiri dan kanan-pun juga ikut bahagia.

Aku katakan padamu, jalan memperoleh kemuliaan hidup itu ada empat perkara :
Mulia karena nama
Mulia karena harta
Mulia karena banyak ilmu
Mulia karena banyak keahlian

Yang dimaksudkan dengan mulia karena nama, itu manusia utama, bisa mendapatkan keuntungan besar, dan keuntungan tersebut bisa dirasakan oleh orang lain pula. Sedangkan mulia karena harta, mulia karena banyak ilmu dan mulia banyak keahlian, dimanapun tempatnya akan dihargai orang.

Jalan menuju kesengsaraan juga ada empat perkara :
Rusaknya hati (moral) manusia itu jikalau moralnya rusak, raganya juga ikut menemui kerusakan.
Rusaknya raga, yaitu manusia berpenyakitan
Rusaknya nama, yaitu manusia miskin.
Rusaknya Budi (Kesadaran), itulah manusia bodoh. Manusia bodoh sempit pikirannya dan kebanyakan pemarah.

Manusia yang mendapatkan anugerah dari Gusti Allah adalah manusia yang sehat, cukup rejeki dan tentram hatinya.

Manusia hidup yang ingin menjadi manusia utama, maka milikilah nama baik agar bisa dijadikan contoh oleh mereka yang ditinggalkan kemudian.”

Ki Darmagandhul lantas memohon agar diterangkan perbandingan kecerdasan orang dulu dengan sekarang, mana diantara kedua generasi yang pintar, banyak orang memiliki pendapat yang bermacam-macam tentang hal itu.

Kyai Kalamwadi menjawab : “Orang dulu dengan orang sekarang sama-sama cerdasnya. Hanya saja orang jaman dulu kurang bisa mewujudkan kepintaran mereka, sehingga terlihat seolah bodoh. Sedangkan orang jaman sekarang, telah mampu mewujudkan kepintaran mereka sehingga terlihatlah mereka pintar. Kepintaran orang sekarang merupakan limpahan dari kepintaran orang dimasa lalu. Jika orang dulu tidak ada yang pintar, tentunya tidak ada yang bisa dibuat suri tauladan oleh orang jaman sekarang. Orang sekarang masih banyak mencontoh kebijakan masa lalu. Orang yang hidup sekarang juga memberikan sentuhan perubahan, apa yang kurang baik dijadikan lebih baik lagi. Orang jaman sekarang, tidak terbiasa mengemas kebijakan mereka dalam wujud sastra/simbolik. Tapi sesungguhnya, manusia tidaklah layak merasa pintar, karena dia hanya sekedar hamba. Hanya sekedar menjalani. Hanya sekedar memakai jasad fisik. Gerak manusia sesungguhnya sudah ada yang melakukannya. Namun jikalau kamu ingin tahu bagaimanakah manusia yang benar-benar pintar, hal itu sisimbolkan pada sosok wanita yang tiap hari memilah padi (nutu). Tampah (wadhah terbuat dari anyaman rotan) diisi beras hasil ditumbuk. Lantas diputar sejenak. Kulit padi akan beterbangan semua. Sehingga terpisahlah mana beras dan mana kulitnya. Lantas tinggal diambil untuk dipilah-pilah kembali. Singkatnya, beras sebelum diolah untuk dimasak menurut selera harus dibersihkan dulu. Begitulah kesadaran manusia hidup, harus mencontoh wanita tengah memilah padi diatas tampah. Jika kamu bisa berlaku demikian, kamu manusia unggul. Akan tetapi sesungguhnya, tanggung jawab yang sedemikian itu ada pada seorang Raja, yang menguasai seluruh hamba-hambanya. Sedangkan dirimu harus mentaati peraturan negara agar hidupmu tidak diasingkan sesama dan selamat. Dirimu akan menjadi sontoh bagi mereka yang ingin setia pada negara. Oleh karenanya pesanku, jangan sekali-kali dirimu mengaku pintar, itu bukan kewajiban manusia. Jika merasa pintar akan mendapat murka dari Yang Maha Kuasa. Kuasa Gusti Allah tidak bisa digapai oleh manusia. Sadarilah manusia hidup itu hanya sekedar menjalani semata. Jika ada orang pintar, pasti akan ada yang lebih pintar lagi. Bahkan ada manusia pintar kalah dengan orang bodoh. Bodoh maupun pintarnya manusia itu atas kehendak Yang Maha Kuasa. Apapun yang dimiliki manusia, apapun kebisaan manusia, semua hanya diberi pinjaman oleh Yang Maha Kuasa. Jika sudah diambil, semua bakal musna seketika. Karena kuasa Gusti Allah, bisa saja hal yang telah diambil tersebut di berikan kepada manusia bodoh, sehingga manusia bodoh bisa mengalahkan manusia pintar. Oleh karenanya pesanku lagi, carilah pengetahuan nyata, yaitu pengetahuan yang behubungan dengan moksha.”

Ki Darmagandhul lantas bertanya lagi, memohon agar dijelaskan tentang petilasan keraton Kedhiri, yaitu keraton Prabhu Jayabaya. Kyai Kalamwadi menjawab, “Sang Prabhu Jayabaya tidak berdiam di Kedhiri (sekarang), namun berdiam di Daha, terletak disebelah timur sungai Brantas. SedangkankotaKedhiri terletak di barat sungai Brantas dan disebelah timur gunung Wilis. Di Desa Klotok, disana terdapat batu bata putih, itulah tempat petilasan Sang Pujaningrat. Sedangkan keraton beliau terletak di Daha, sekarang disebut dengan nama Desa Menang. Peninggalan keraton sudah tidak didapati lagi karena terurug oleh pasir akibat muntahan lahar gunung Kelud. Semua bekas istana dan semua petilasan tersebut sudah hilang. Pesangggrahan Wanacatur dan Taman Bagendhawati juga sudah sirna. Begitu juga Pasanggrahan Sabda kadhaton milik Ratu Pagêdhongan juga sudah sirna. Yang tertinggal hanya arca buatan Prabhu Jayabaya yang ada di candi Prudhung, Tegalwangi yang terletak disebelah timur laut dari Menang, serta arca Raksasa perempuan yang diputus tangannya oleh Sunan Benang saat masuk ke wilayah Kedhiri. Arca tadi duduk menghadap ke barat.Adalagi arca kuda berkepala dua, terletak disesa Bogem, wilayah distrik Sukareja (Sukorejo)

Di daerah Lodhaya (Lodaya) ada seorang Raksasa wanita yang hendak ngunggah-unggahi (melamar) Sang Prabhu Jayabhaya. Akan tetapi belum sempat bertemu dengan Sang Prabhu, Raksasa wanita tadi dikeroyok oleh para prajurid. Sang Raksasa jatuh terkapar, tapi belum meninggal dunia, begitu ditanya, dia menjawab bahwa hendak melamar Sang Prabhu Jayabhaya. Sang Prabhu lantas menanyakan hal itu kepada Sang Raksasa, Sang Prabhu mendapatkan jawaban serupa. Sang Prabhu lantas berkata : Wahai Raksasa! Sepeninggalku kelak, disebelah barat dari daerah ini akan ada seorang Raja, letak istananya ada di Prambanan. Dialah nanti yang bakal jadi jodohmu. Akan tetapi janganlah kamu berwujud seperti itu, berwujudlah (ber-inkarnasi-lah menjadi) manusia, bergantilah nama Rara Jonggrang.”

Setelah diberitahu akan hal itu, sang Raksasa lantas meninggal dunia. Sang Prabhu lantas memerintahkan kepada para abdi dalem, agar supaya tempat dimana meninggalnya putri Raksasa tadi diberi nama Desa Gumuruh. Tidak begitu lama kemudian Sang Prabhu Jayabhaya lantas memerintahkan membuat arca didesa Bogem. Arca tadi berwujud kuda utuh dengan dua kepala. Kiri kanannya diberikan batas. Patih sang Prabhu yang bernama Buta Locaya serta Senapati yang bernama Tunggulwulung bersamaan menghaturkan pertanyaan apa yang menjadi alasan Sang Prabhu menyuruh membuat arca yang sedemikian itu. Sang Prabhu lantas menjawab, latar belakang beliau membuat arca sedemikian itu hanya untuk perlambang kejadian yang akan terjadi nanti, siapa saja yang melihat perwujudan arca tadi akan paham akan kelakuan wanita jaman nanti, jika sudah tiba masa jaman Nusa Srenggi. Bogem artinya tempat perhiasan indah, arti simboliknya bahwa wanita itu tempat menyimpan barang-barang rahasia. Laren (Batasan) yang mengelilingi arca kuda maksudnya juga larangan. Kuda yang dijaga berarti ibarat wanita yang dilindungi. Berkepala dua adalah perlambang jika wanita Jawa kelak kebanyakan tidak setia, walaupun tidak kurang-kurang dalam menjaganya, tetap saja bisa ingkar janji, Lagaran maksudnya adalah tempat tunggangan yang tanpa piranti apapun. Pada jaman nanti kebanyakan manusia hendak menikah tidak lagi meminta restu kedua orang tua, sebab sudah melakukan ‘lagaran’ dahulu, jika cocok ya jadi untuk menikah, tapi jika tidak cocok, maka urunglah dinikahi.

Sang Prabhu juga membangun candi, sebagai tempat bagi masyarakat yang meninggal dan jenasahnya dibakar disana, agar bisa kembali sempurna pulang ke alam sunyi. Kerak kali, sat upacara pembakaran mayat, Sang Prabhu berkenan hadir untuk memberikan penghormatannya.

Itulah adat kebiasaan para Raja dijaman dulu. Oleh karenanya aku memohon kepada Dewa (Tuhan), semoga Sang Prabhu (Raja sekarang) juga bersedia membangun candi untuk membakar mayat, sebagaimana adat para Raja jaman dulu, sebab diriku ini putra dhalang, jangan sampai lama-lama menjadi roh penasaran, jangan lama-lama jasadku berwujud utuh tanpa nyaea, aku berharap agar secepatnya bisa kembali ke asalnya. (Disini jelas, guru Darmagandhul, penulis buku ini seorang beragama Syiwa Buddha/Buda : DS).

Setelah Sang Prabhu Jayabhaya moksha, diikuti kemudian oleh Patih Buta Locaya dan Senapati Tunggulwulung, begitu juga putri Sang Prabhu Ni Mas Pagedhongan, semua ikut moksha. (Sang Prabhu Jayabhaya benar-benar moksha, artinya menyatu kembali dengan Brahman, sedangkan ketiga tokoh yang lain hanya sekedar berpindah alam : DS)

Buta Locaya lantas menjadi Raja Makhluk Halus di Kedhiri. Tunggulwulung menjadi Raja Makhluk halus di Gunung Kelud sedangkan Ni Mas Ratu Pagedhongan lantas menjadi Raja Makhluk halus di Laut Selatan, bergelar Ratu Anginangin.

Adapula orang yang disayangi oleh Sang Prabhu Jayabhaya, bernama Kramatruna. Kala Sang Prabhu belom moksha, Kramatruna diperintahkan tinggal di danau Kalasan. Setelah tiga ratus tahun kemudian, putra Raja di Prambanan, bernama Lembumardadu atau Sang Pujaningrat naik tahta di Kedhiri, istananya terletak di barat sungai. KEDHI berarti wanita yang sudah tidak mendapatkan datang bulan (menopause) sedangkan DHIRI berarti tubuh. Yang memberi nama adalah Dewi Kilisuci, disesuaikan dengan kondisi beliau. Oleh karenanya Kedhiri diangap negara wanita, jika berperang kebanyakan menang, akan tetapi jika diserang banyak kalahnya. Watak para wanita Kedhiri, besar hati (percaya diri) sebab terkena aura Sang Retna Dewi Kili Suci. Retna Dewi Kilisuci itu adalah saudara tua Raja di Jenggala (Putra prabhu Airlangga, leluhur Raja-Raja Kedhiri dan Jenggala : DS). Pertapaan Sang Retna Dewi Kili Suci ada di sebuah gua, bernama Selamangleng, terletak dilereng gunung Wilis.

KETERANGAN TAMBAHAN.

Kanjeng Susuhunan Ampeldênta mempunyai seorang putri bernama Ratu Patimah kala menikah dengan Nyi Ageng Bela. Ratu Patimah menikah dengan Pangeran Ibrahim di Karang Kemuning. Setelah Pangeran Ibrahim Karang Kemuning wafat, Ratu Patimah lantas bertapa di Manyura. Pernikahan Ratu Patimah dengan Pangeran Ibrahim memiliki seorang putri bernama Nyi Ageng Malaka, dijdohkan dengan Raden Patah.

Raden Patah (Raden Praba), putra Prabhu Brawijaya dengan putriChinayang lantas diberikan kepada Arya Damar Adipati Palembang. Setelah naik tahta bergelar Sultan Syah ‘Alam Akbar Sirullah Kalifaturrasul Amirilmu’minin Rajudil ’Abdu’l Hamid Khaq, atau Sultan Adi Surya ‘Alam ing Bintara (Dêmak)

Putri Champa yang bernama Dewi Anarawati (Ratu Emas) yang diperistri Prabhu Brawijaya mempunyai tiga putra.
Putri bernama Rêtna Pambayun, dijodohkan dengan Adipati Andayaningrat penguasa Pêngging, kala jaman pemberontakan negaraBalikepada Majapahit.
Raden Arya Lêmbupêtêng Adipati di Madura
Masih teramat muda dan suka bertapa, bernama Raden Gugur, setelah muksa bergelar Sunan Lawu.

Kakak Putri Champa bernama Pismanhawanti dinikahi putra Syeh Jumadil Kubro yang terlahir dari Siti Fatimah Kamarumi, masih keturunan Kangjeng Nabi Muhammad, bernama Maulana Ibrahim, berasal dari Jedah, lantas pindah ke Champa, menjadi imam di tanah Asmara di Champa, sehingga lantas terkenal dengan gelar Syeh Maulana Ibrahim Asmara. Beliaulah ayahanda Susuhunan Ampeldênta (Sunan Ampel),Surabaya. Sedangkan adik putrid Champa laki-laki bernama Aswatidab. Sudah memeluk agama Islam, berguru kepada Syeh Maulana Ibrahim, lantas naik tahta menjadi Raja Pandhita di Champa menggantikan kedudukan ayahandanya. Berputra satu bernama Raden Rahmad. Sedangkan kakak putrid Champa yang dinikahi Maulana Ibrahim, berputra Sayid Ali Rahmad, dijaa terkenal dengan gelar Susuhunan Katib ing Surabaya, bertempat di Ampeldhenta lantas terkenal dengan gelar Susuhunan Ampeldênta (Sunan Ampel). Champa adaah wilayah yang terletak di India Belakang (IndoChina). Sayyid Kramat yang diceritakan dalam buku ini bergelar Susuhunan ing Bonang (Sunan Benang).

TAMAT

0 comments:

Luncurkan toko Anda hanya dalam 4 detik dengan 
 
Top