Serat Darmagandhul 12

Pembaca: 1289

Terjemahan dalam bahasa Indonesia.
Saat sore menjelang, sampailah di daerah Besuki. Sang Prabhu beserta rombongan bermalam disana. Keesokan paginya, bumbungan air dibuka lantas dicium, baunya malah semakin  bertambah wangi. Sang Prabhu melanjutkan perjalanan hingga matahari hampir tenggelam diufuk barat dan sampai didaerah Prabalingga (Probolinggo). Disana Sang Prabhu beserta rombongan bermalam, keesokan paginya air diperiksa kembali. Air tawar dalam bumbungan yang satu masih terasa segar untuk diminum, namun nampak berbusa. Dan busanya-pun berbau harum. Air tawar dalam bumbungan tersebut hanya tinggal sedikit, karena kerap  kali diminum disepanjang perjalanan. Akan tetapi bumbungan yang berisi air danau, manakala diperiksa airnya berubah berbau tidak enak sama sekali. Mendapati perubahan itu, air danau dalam bumbungan seketika langsung dibuang. Sang Prabhu lantas berkata kepasa Sunan Kalijaga : “Didaerah Prabalingga (Probolinggo) ini kelak akan dikenal dengan dua nama, yaitu Prabalingga (Probolinggo) dan Bangerwarih. Tempat ini kelak akan menjadi tempat berkumpulnya manusia-manusia yang suka mencari  ilmu kepintaran dan ilmu kebatinan. Kata Prabalingga bisa diartikan pula ‘PRABA-wane wong Jawa ka-LING-an prabawane tang-GA’ (Kharisma manusia-manusia Jawa terhalang oleh kharisma yang berasal dari tetangga diseberang).” Sang Prabhu beserta rombongan lantas melanjutkan perjalanannya. Tujuh hari kemudian telah sampai di Ampelgadhing (Ampeldhenta ~ Surabaya). Nyai Ageng Ampelgadhing segera menyambut kedatangan Sang Prabhu. Nyai Ampelgadhing lantas memberikan sembah bakti sembari meratapi segala hal yang telah terjadi.

Sang Prabhu lantas berkata : “Sudahlah jangan menangis, ngger (anakku), anggaplah semua ini adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Diriku dan kamu hanya sekedar menjalani, semua hal yang telah terjadi sudah tertulis didalam Lokhilmakpul (Laukhil Makhfudz) sebelumnya. Keberuntungan dan celaka sungguh tidak bisa dihindari. Sudah kewajiban manusia untuk melakukan usaha.”

Nyi Ageng Ampel lantas menuturkan kepada Sang Prabhu tentang kelakuan Prabhu Jimbun seperti yang sudah diterangkan didepan. Sang Prabhu lantas memerintahkan agar memanggil Prabhu Jimbun. Nyi Ampel lantas mengirimkan utusan ke Demak sembari membawa surat undangan. Sesampainya di Demak, surat segera dihaturkan kepada Sang Prabhu Jimbun. Tidak menunggu waktu lama Prabhu Jimbun segera berangkat menghadap ke Ampel.

Tersebutlah putra Raja Majapahit, yang bernama Raden Bondhan Kajawan yang tinggal di Tarub. Dia mendengar kabar jikalau Majapahit telah dijebol oleh Adipati Demak. Sang Prabhu konon berhasil lolos dari dalam istanadan tidak diketahui lagi kemana perginya. (Raden Bondhan Kajawan) merasa tidak tenang hatinya, lantas berangkat ke Majapahit. Disepanjang perjalanan, Raden Bondhan Kajawan senantiasa bertanya dan mencari-cari kabar dimanakah kira-kira Prabhu Brawijaya sekarang berada. Sesampainya di Surabaya, mendapat berita bahwasanya ayahanda Prabhu tengah berada di Ampel, akan tetapi jatuh sakit. Raden Bondhan Kajawan lantas menghadap dan memberikan sembah baktinya.

Sang Prabhu bertanya : “Yang memberikan sembah ini siapa?”

Raden Bondhan Kajawan menjawab bahwasanya dirinyalah yang tengah menghadap.

Sang Prabhu lantas merangkul putranya. Sakit Sang Prabhu semakin parah, merasa kalau dirinya sudah dekat hendak berpulang ke jaman keabadian, Sang Prabhu berpesan kepada Sunan Kalijaga : “Sahid, mendekatlah kemari. Diriku sudah merasa hendak berpulang ke jaman keabadian. Tulislah surat untuk dikirimkan ke Penging dan Pranaraga (Ponorogo). Nanti akan aku bubuhkan tanda tangan disana. Tulislah bahwasanya agar mereka menerima kehancuran Majapahit, jangan saling berebut tahta, semua ini sudah menjadi kehendak Yang Maha Suci. Jangan saling memerangi, hanya akan membuat kerusakan semata. Sayangkanlah kerusakan dan kerugian yang akan diderita oleh para pengikut. Menghadaplah ke Demak. Sepeninggalku, agar supaya rukun dengan saudara. Siapa saja yang memulai membuat kejahatan, aku benar-benar memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar kalah perangnya!”
Sunan Kalijaga lantas menulis surat seperti yang diperintahkan, setelah surat selesai ditulis, kemudian diberi tanda tangan oleh Sang Prabhu. Surat dikirimkan ke Pengging dan Pranaraga (Ponorogo).

Sang Prabhu lantas berkata : “Sahid, sepeninggalku dirimu harus bisa momong anak cucuku. Terutama aku titipkan anak ini. Momonglah hingga seluruh keturunannya. Jika memang nanti ada keberuntungan bagi dirinya, kelak anak inilah yang akan menurunkan ‘LAJERE TANAH JAWA’ (Tokoh-tokoh kuat di Tanah Jawa sesudah Majapahit). Dan lagi pesanku kepada kamu, jikalau nanti aku sudah berpulang ke jaman keabadian, makamkan aku di Majapahit, buatkanlah aku makam di sebelah utara timur kolam segaran. Namailah makamku Sastrawulan. Dan sebarkanlah berita bahwasanya yang dimakamkan disitu adalah istriku Putri Champa. Pesanku lagi, bagi keturunanku kelak jangan sampai menikahi orang berbeda bangsa, dan juga jangan mempercayakan jabatan senopati kepada lain bangsa.”

Sunan Kalijaga setelah mendapatkan pesan semacam itu lantas bertanya : “Apakah Sang Prabhu tidak memberikan restu kepada putra paduka Prabhu Jimbun untuk bertahta sebagai Raja ditanah Jawa ini?”

Sang Prabhu menjawab : “Aku memberikan restu, akan tetapi restuku hanya berhenti sampai pada keturunannya yang ketiga!”

Sunan Kalijaga meminta penjelasan mengapakah makam sang Prabhu kelak harus diberinama Sastrawulan.

Sang Prabhu menjawab : “Sastra maksudnya adalah Tulisan, Wulan artinya pelita dunia, ini melambangkan keutamaanku hanya seperti cahaya bulan (tidak stabil seperti matahari). Jikalau masih ada cahaya bulan, kelak, biar semua orang Jawa tahu bahwa saat aku meningal dunia, diriku telah memeluk agama Islam. Dan aku meminta padamu agar kelak dikabarkan bahwa yang dimakamkan disana adalah Putri Champa, bukan diriku, sebab diriku telah dianggap bagaikan seorang wanita (disepelekan) oleh si Patah, tidak lagi dianggap sebagai seorang lelaki, hingga sedemikian teganya Patah menyia-nyiakan ayahandanya sendiri. Diriku hanya memberikan restu kepada Raja Demak hanya sampai keturunan ketiga, sebab Patah berasal dari tiga benih, yaitu Jawa (Sang Prabhu Brawijaya), China (ibu Raden Patah Eng Kian) dan Raksasa (Adipati Arya Damar ~ Adipati Arya Damar adalah keturunan Ni Endang Sasmitapura, penganut ajaran Tantra Bhairawa yang dalam ritualnya menyertakan memakan daging mayat dan meminum darah manusia, sehingga disebut Raksasa : Damar Shashangka), oleh karenanya tega kepada ayahnya sendiri serta kotor tingkah lakunya. Pesanku, jangan sampai keturunanku mendapatkan jodoh lain bangsa, sebab dengan menikahi bangsa lain, disetiap kesempatan pastinya sedikit demi sedikit akan memberikan pengaruh dan menggoyahkan keyakinan yang sudah dipegangnya, hal ini akan menciptakan kesengsaraan hidup. Dan pesanku yang terakhir agar jangan sampai mempercayakan jabatan senopati kepada lain bangsa, sebab pastinya kurang kesetiaannya kepada Raja. Dikala tengah menghadapi pertempuran, pasti akan terbagi kesetiaannya. Sudahlah Sahid, semua pesanku tulislah!”

Selesai memberikan wasiat, Sang Prabhu segera bersendekap, dan meninggal dunia. Jenasahnya lantas dimakamkan di Astana Sastrawulan, Majapahit. Hingga hari ini, terkenal bahwasanya yang dimakamkan disana adalah Putri Champa, padahal sesungguhnya Putri Champa wafat di Tuban, makamnya berada di Karang Kumuning.

Tiga hari kemudian, Sang Sultan Bintara baru hadir ke Ampelgadhing serta bertemu dengan Nyai Ageng.
Nyai Ageng berkata :”Sudah menjadi nasibmu Prabhu Jimbun, dirimu tidak bisa melihat detik-detik terakhir ayahandamu meninggal sehingga tidak sempat memberikan sembah bakti serta meminta restu untuk bertahta sebagai Raja. Dirimu juga tidak sempat memohon maaf atas segala kesalahan yang telah kamu lakukan.”
Prabhu Jimbun mengatakan kepada Nyai Ageng, dirinya sudah pasrah kepada nasib, semua sudah terjadi dan semua harus dijalani.
Sultan Demak berada di Ampel selama tiga hari lantas pulang.


(Bersambung)

0 comments:

Luncurkan toko Anda hanya dalam 4 detik dengan 
 
Top