Selasa

SERAT DARMO GANDHUL Bagian 1

Serat Darmagandhul 1
Cerita berdirinya Negara Islam di Demak, hancurnya Negara Majapahit, dimana saat itulah awal mula masyarakat Jawa meninggalkan agama Buda [Shiwa Buddha] dan berganti memeluk agama Islam.) Prosa dalam bahasa Jawa kasar. Diambil dari catatan induk asli peninggalan K.R.T. Tandhanagara, Surakarta.
Diterjemahkan dan diulas kedalam bahasa Indonesia oleh Damar Shasangka

Tergerak dan terdorong hati ini, setelah mengetahui cerita indah, dari Kyai Kalamwadi (Kalam = Ucapan, Wadi = Rahasia), yang dulu pernah berguru menimba ilmu kepada Raden Budi (Buddhi = Kesadaran), mentaati dan menuruti, apa yang selalu diperintahkan oleh guru, setia menjalankan petunjuk, tekadnya sudah tiada lagi keraguan lahir maupun batin, memuja guru bagaikan dewa itu sendiri.

Apapun petunjuk Raden Budi (Buddhi = Kesadaran) sangat jernih, dijunjung dan diresapi didalam hati, benar-benar dihargai lahir maupun batin, tiada peduli walau harus hancur luluh, itulah tekad (Kyai Kalamwadi) mulai pertama (berguru) hingga akhir nanti, diterima oleh Bathara (Hyang Widdhi), segala keinginannya-pun terwujud, sangat besar anugerah Hyang Suksma (Yang Maha Gaib), selalu diberi petunjuk melalui Alam Sahir (Alam = Dunia, Sahir;Sugrho = Kecil, Alam Kecil, Micro cosmos, Jagad Cilik, Bhuwana Alit maksudnya Badan Manusia) maupun Alam Kabir (Alam = Dunia, Kabir;Kubro = Besar, Alam Besar, Macro cosmos, Jagad Gedhe, Bhuwana Agung maksudnya Alam semesta), sehingga akhirnya menjadi Auliya (Manusia Pilihan). 
Mampu membaca segala rahasia Hyang Widdhi, dan selalu bisa mematuhi dengan teguh, segala pesan gurunya, yang memerintahkan agar mengajarkan sebuah pengetahuan, agar membuat tenteram hati sesama, dan juga membuka rahasia agar seluruh ahli sastra, bisa meniru dan menyebarkannya, Kyai Kalamwadi (Kalam=Ucapan, Wadi=Rahasia) menulis, diberikan judul SERAT DARMAGANDHUL (Darma = Kebenaran, Gandhul = Menggantung, Mengambang, Darmagandhul artinya KEBENARAN YANG MENGAMBANG), dirangkai dalam syair-syair tembang Macapat (Tembang kecil) 
Saat membaca tulisan beliau, cakupan tembang-nya sangat bagus dan gampang dimengerti, jelas dan terang maksudnya, membuat hati terpana, sehingga ingin memiliki (tulisan tersebut) dan ingin menyimpannya, ingin menulisnya ulang untuk diri sendiri, semua isinya, setelah selesai membaca, segera ditulis ulang, berguna untuk menghibur hati. 
Saat berdiam diri dirumah, disela-sela waktu bekerja, tembang ini bisa dinyanyikan, sebagai petunjuk bagi orang bodoh (seperti saya, maksudnya Darmagandhul), dan bisa dibuat untuk menentramkan hati, saat beristirahat, saat menganggur tiada pekerjaan, tembang ini bisa dibuat memupuk rasa kasih kepada Hyang Widdhi, tidak banyak menyita waktu untuk menyanyikannya sehingga tak kelaparan anak istri, sekeluarga tetap sejahtera. 
Pada akhirnya pasrah kepada takdir, berserah mengikuti kehendak Hyang (Widdhi), telah tercatat di Lokhilmakpul (Laukhil Makfudz =Kitab yang konon berisi catatan-catatan takdir manusia), saat menulis ulang tepat, tanggal Duapuluh tiga hari Tumpak Manis (Sabtu Legi), bulan RUWAH (Sya’ban) tahun JE (tahun ke-empat dalam satu windu yang terdiri atas delapan tahun, yaitu Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir), windu SANCAYA (nama kumpulan windu pada urutan keempat atau terakhir, yaitu ADI, KUNTARA, SENGARA, SANCAYA), masa ke-VI (Masa adalah perhitungan mirip bulan dan dipergunakan untuk pertanian), wuku Wukir (Wuku adalah hari 30-an, dimana satu hari terdiri dari 7 hari biasa atau satu hari sama dengan satu minggu, Wukir adalah nama hari wuku ke-3), pertanda tahun Wuk Guna Ngesthi Nata (Wuk = 0, Guna = 3, Ngesthi = 8, Nata = 1. Jika dibalik 1830).   

Terjemahan asli dalam bahasa Indonesia :

Pada suatu hari Darmagandhul bertanya kepada Kalamwadi, begini pertanyaannya,” Apa awal mula penyebab orang Jawa meninggalkan agama Buda (Shiwa Buddha~bukan hanya Buddha) dan berganti memeluk agama Islam?”
Ki Kalamwadi menjawab, “Aku sendiri juga kurang tahu, akan tetapi aku pernah mendapatkan cerita dari guruku, dan guruku adalah orang yang bisa dipercaya, beliau menceritakan awal mula orang Jawa meninggalkan agama Buda (Shiwa Buddha) dan berganti memeluk agama Rasul (Islam).
Bertanya lagi Darmagandhul,”Bagaimanakah ceritanya?”
Ki Kalamwadi lantas berkata,”Hal ini sesungguhnya memang perlu diceritakan agar mereka yang belum mengetahui lantas bisa mengetahuinya.”
Pada jaman dahulu Negara Majapahit sesungguhnya bernama asli Majalengka, sedangkan nama Majapahit itu hanyalah sekedar perlambang, akan tetapi yang belum tahu kisahnya maka nama Majapahit-lah dianggap nama asli.
Di Negara Majalengka yang bertahta sebagai Raja terakhir bergelar Prabhu Brawijaya. Kala itu, Sang Prabhu tengah tergila-gila, Sang Prabhu menikah dengan Putri Cempa (Champa), padahal Putri Cempa beragama Islam. Disetiap memadu asmara, Sang Retna (Retna : Intan, maksudnya Putri Cempa) senantiasa menceritakan kepada Sang Raja, tentang keluhuran agama Islam, setiap dipanggil menghadap, tiada lain lagi yang diceritakan, selain memuliakan agama Islam, sehingga membuat ketertarikan hati Sang Prabhu kepada agama Islam.
Tidak berapa lama kemudian, seorang keponakan Putri Cempa yang bernama Sayyid Rahkmat (Sayyid Rakhmad) berkunjung ke Majalengka, serta memohon ijin kepada Sang Raja, agar diperkenankan menyebarkan syariat agama Rasul (Islam). Sang Prabhi mengabulkan apa yang diminta oleh Sayid Rakhmat. Sayid Rakhmat lantas berdiam di Ngampeldenta (daerah Surabaya) dan mensi’arkan agama Rasul (Islam). Mulai saat itu banyak para ulama dari seberang berdatangan, para ulama dan para Maulana menghadap Sang Prabhu di Majalengka, untuk meminta ijin berdiam dipesisir (utara Jawa). Permintaan merekapun dikabulkan oleh Sang Raja. Lama kelamaan apa yang diingini oleh para pendatang mendapat sambutan juga, masyarakat Jawa lantas banyak yang memeluk agama Islam.
Salah satunya adalah Sayit Kramat (Sayyid Karomah) menjadi guru dari orang Jawa yang telah memeluk agama Islam, berkedudukan di daerah Benang wilayah Tuban. Sayit Kramat adalah Maulana dari tanah Arab masih keturunan Nabi Rasulullah (Nabi Muhammad), oleh karenanya dipercayai sebagai seorang guru oleh orang Islam. Banyak orang Jawa yang terpikat dan berguru kepada Sayit Kramat. Seluruh masyarakat Jawa dipesisir utara, mulai ke barat sampai ketimur semua meninggalkan agama Buda (Shiwa Buddha), dan lantas memeluk agama Rasul (Islam). Bahkan mulai daerah Blambangan ke barat hingga daerah Banten, banyak yang pada tertarik ucapan-ucapan Sayit Kramat.
Padahal agama Buda (Shiwa Buddha) telah ada ditanah Jawa selama kurang lebih seribu tahun, semua pengikutnya menyembah kepada Budi Hawa. Budi (Buddhi : Kesadaran ~ disini yang dimaksud adalah Kesadaran Sejati) adalah Dzat Hyang Widdhi, Hawa adalah kehendak hati (maksudnya tanpa paksaan. Menyembah Buddhi Hawa artinya menyembah Kesadaran Sejati tanpa ada paksaan dari siapapun dan apapun : Damar Shashangka), manusia tidak memiliki kekuatan apapun, manusia hanya sekedar menjalani, Buddhi (Kesadaran Sejati ~ Tuhan)-lah yang menggerakkannya.
Sang Prabhu Brawijaya memiliki putra lelaki hasil perkawinannya dengan seorang putrid berkebangsaan Cina, lahir di Palembang, bernama Raden Patah.
Ketika Raden Patah telah beranjak dewasa, berniat menghadap kepada ramandanya, ikut serta saudara lain ayah satu ibu, bernama Raden Kusen. Setibanya di Majalengka Sang Prabhu sempat kebingungan untuk memberikan nama kepada putranya tersebut. Sebab jika mengambil nama dari ramandanya maka harus bernama Jawa Buda karena ramandanya beragama Jawa Buda. Jika mengambil nama menurut para leluhur dahulu, seorang putra Raja yang lahir di wilayah pegunungan harus diberinama Bambang. Jika mengambil nama dari ibunya maka lebih cocok diberinama Kao Tiang, jika mengambil nama dari Arab sesuai dengan agama yang dianut Raden Patah maka pantas diberi nama Sayid atau Sarib. Sang Prabhu lantas memerintahkan Patih dan para nayaka (pejabat) untuk menghadap, semua diminta pertimbangan untuk memberikan nama kepada putranya ini. Sang Patih mengatakan bahwasanya jika menurut leluhur maka pantas diberikan nama Bambang, akan tetapi karena ibunya berasal dari Cina maka lebih baik diberinama Babah, selain pantas juga menyiratkan maksud bahwa Raden Patah ‘pambabare ana Negara liya (lahirnya di daerah luar Jawa)’. Mendengar penuturan Sang Patih yang seperti itu, semua pejabat menyepakati. Dan pada akhirnya Sang Raja kemudian mengumumkan bahwasanya putra beliau yang lahir di Palembang tersebut diberikan gelar dan nama Babah Patah. Hingga sekarang, untuk menyebut anak blesteran Cina Jawa lumrah dinamakan Babah. Pada waktu itu, Babah Patah merasa takut jika tidak menyetujui kehendak ramandanya memberikan nama Babah padanya, sehingga seolah-olah dia juga menyukai nama itu, padahal tidak demikian, sesungguhnya dia tidak menyukai nama Babah tersebut.
Dikala itu Babah Patah lantas diangkat sebagai Bupati didaerah Demak, membawahi seluruh Bupati mulai pesisir Demak ke barat, serta pula Babah Patah dinikahkan dengan putrid dari Ngampelgadhing, cucu dari Kyai Ageng Ngampel (Sayit Rahkmat atau Sunan Ngampel/Ampel ~ keponakan Putri Cempa). Setelah sekian waktu berdiam di Majalengka lantas boyongan ke Demak, berada didesa Bintara. Karena Babah Patah semenjak di Palembang telah beragama Islam, oleh Sang Prabhu diperkenankan tetap menjalankan agamanya di Demak. Sedangkan Raden Kusen waktu itu diangkat sebagai Adipati Terung (daerah Tarik, Mojokerto sekarang), diberikan gelar Raden Arya Pecattandha.
Lama kelamaan syariat Rasul (agama Islam) semakin berkembang pesat, semua ulama meminta perkenanan Sang Prabhu untuk memakai gelar Sunan. Sunan itu artinya budi (buddhi : Kesadaran), akar kecerdasan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, Jika buah budi (Buah Kesadaran) mampu menyadari kepada segala kebaikan, maka manusia seperti itu patut dijadikan tempat ‘sinuwunan (dimintai)’ pengetahuan lahir batinnya. (Maksudnya patut dijadikan guru)

Pada saat itu para ulama budi (kesadaran)-nya masih bagus, belum memiliki keinginan untuk berbuat tidak baik, masih berfokus pada spiritualitas murni. Sang Prabhu Brawijaya melihat dan heran, para ulama Islam kok olah batinnya mirip dengan pengikut agama Buda (Shiwa Buddha), akan tetapi minta disebut Sunan. Spiritualitas yang dijalankan sama dengan pengikut agama Buda. Padahal menurut kabar, penganut sayariat Rasul (Islam) hanya menjalankan puasa tidak sedemikian kerasnya, karena merusak/melanggar syariat (Maksudnya, konon kabar yang diterima Sang Prabhu tentang aturan spiritualitas orang-orang Islam sesuai syariat, tidaklah seketat yang beliau lihat yang dijalankan para Sunan tersebut. Sang Prabhu tidak tahu bahwa para Sunan tersebut menjalankan laku Tassawuf, laku spiritualitas yang memang kadang sedikit berseberangan denga syariat Islam itu sendiri dibeberapa hal). Prabhu Brawijaya-pun mengijinkan permintaan para ulama. Agama Rasul semakin menyebar luas. Semua kejadian diatas memang sangat aneh (maksudnya begitu mudahnya Sang Prabu memberikan ijin), kita tidak menyaksikan sendiri, semua ini berasal dari ingatan para leluhur, manakala kita mendapat cerita ini, sudah sepatutnya otak kita kritis, mau mempercayainya atau tidak, harus benar-benar dipertimbangkan secara matang, sampai sekarang masih Nampak peninggalan-peninggalan sejarah yang berkaitan dengan cerita diatas, masih bisa dinyatakan keberadaannya, oleh karena itu menurutku kejadian diatas bisa dipercaya. 
 (Bersambung)

BABAD TANAH JAWA Bagian 3

Diambil Pupuh-Pupuh yang menceritakan pertemuan antara Panêmbahan Senopati, Penguasa Mataram dengan Kangjêng Ratu Kidul, Ratu Pantai Selatan.


PUPUH
DHANDHANGGULA

1. Lawan jêbeng ya sun tanya yêkti, antuk apa sira sêka sagra, Senapati lon ature, Inggih binêktan ulun, Tigan Lungsung Jagat ken nêdhi, lan Jayengkaton lisah, dwi sêrana katur, Sang Wiku wrin lon dêlingya, Katujone durung kongsi sira bukti, yen wis-a dadi apa.
Dan lagi anakku sungguh aku ingin bertanya, apa yang kamu dapatkan dari tengah samudera? (Panembahan) Senopati menjawab pelan, Yang saya peroleh, Telur Lungsung Jagad yang harus saya makan, dan Minyak Jayengkatong, kedua benda dihaturkan, Sang Wiku melihat dan berkata, Untunglah belum sempat kamu pakai, jikalau sudah kamu pakai aku tak bisa membayangkan akan menjadi apa kamu?

2. Têmah antuk sêngsareng ngaurip, yêkti wurung sira dadi Nata, nggonirarsa mêngku ngrate, sida neng samodra gung, datan bisa mulih Matawis, de wadyanta tan wikan, myang garwa putramu, labête wus salin tingal, kita dadi jodhone Ni Kidul mêsthi, sabab nir manungsanya.
Hanya akan mendapatkan kesengsaraan hidup, akan gagal keinginanmu untuk menjadi Raja, gagal impianmu menguasai dunia, kamu akan tinggal di dalam samudera, tidak akan bisa pulang ke Mataram, seluruh rakyatmu tidak akan bisa melihatmu, begitu juga istri dan anakmu, karena sudah berganti alam, menjadi pasangan Ratu Kidul, hilanglah wujud manusiamu.

3. Maneh jêbeng sun tanya kang yêkti, sira rêmên marang narpaning dyah, kaya ngapa suwarnane, Senapati lon matur, Wananipun ayu nglangkungi, sak tuwuk dereng mriksa, kêng kadya Dyah Kidul, Sang Wiku mesêm ngandika, Kêsamaran kita jêbeng Senapati, kêna ngayu sulapan.
Dan lagi aku sungguh-sungguh bertanya, kamu jatuh hati kepada Ratu Wanita, bagaimanakah wujudnya? (Panembahan) Senopati menjawab pelan, Wujudnya sangat cantik, seumur hidup belum pernah hamba melihat, wanita secantik Dyah Kidul, Sang Wiku tersenyum dan berkata, Engkau jatuh cinta, terpikat wujud cantik yang sesungguhnya hanyalah sihir belaka.

4. Sabab sira durung sidik ngeksi, nguni sun wus namun manjing Pura, Dyah supine ya sun colong, neng jênthik driji Sang Rum, iki warna dêlêngên kaki, kagyat Sang Senapatya, nggenira andulu, de supe langkung gêng-ira, pan sak wêngku tebok bolonging li-ali, tumungkul Senapatya.
Sungguh kamu belum awas, dulu aku sudah pernah memasuki Istana (samudera), cincin (Sang) Dyah aku curi, dari jari kelingking Sang Rum (Wangi), lihatlah ini anakku, terkejut Sang (Panembahan) Senapati, manakala melihat, wujud cincin sedemikian besarnya, sebesar tebok (tampah kecil tempat memilah butiran padi dengan kulitnya setelah ditumbuk, terbuat dari jalinan bambu : Damar Shashangka) lobang lingkarannya, (Panembahan) Senapati tertunduk.

5. Driya maksih maiben ing galih, Sunan Adi ing tyas wus waskitha, Senapati tyas sandeyeng, wusana ngling Sang Wiku, Payo jêbeng ya padha bali, mumpung Narpeng Dyah nendra, katon warna tuhu, mêngko jêbeng waspadakna, ri wusira Jêng Sunan lan Senapati, linggar manjing samodra.
Masih belum percaya dalam hati, Sunan Adi menangkap ketidak percayaan itu, bimbanglah hati (Panembahan) Senapati, lantas berkatalah Sang Wiku, Anakku mari kita buktikan, mumpung Ratu Wanita sedang tidur sekarang, akan terlihat wujudnya yang asli, perhatikanlah dengan seksama nanti, setelah itu Jeng Sunan dan (Panembahan) Senapati, berjalan ketengah samudera.

6. Sak praptaning jro Pureng Jêladri, Ratu Kidul wus kêpanggih nendra, nglênggorong langkung agênge, lukar ngorok mandhêkur, rema gimbal jatha mangisis, panjangnya tigang kilan, sak carak gêng-ipun, kopek nglembereh sakiyan, Senapati kamigilan wrin ing warni, tansah lêgêg tan nêbda.
Sesampainya didalam istana samudera, Ratu Kidul didapati tengah tertidur, tubuhnya rebah dan sangat-sangat besar, bahkan terdengar bunyi dengkurannya, rambut gimbal taringnya tampak mencuat, panjangnya tiga jengkal jari, sebesar carak (ceret/tempat air minum) besarnya taring, payudaranya menggelantung turun, (Panembahan) Senapati ngeri melihat wujud tersebut, terpaku tak bisa bicara sepatah katapun.

7. Sunan Adi nêbdeng Senapati, Jêbeng iku warnane sanyata, kang bisa ayu sulape, linulu mring Hyang Agung, lamun wungu sakarêp dadi, bisa salin ping sapta, sadina warna yu, yen wis tutug pandulunya, payo mulih bok mênawi mêngko tangi, gawe rêngating driya.
Sunan Adi berkata kepada (Panembahan) Senopati, Anakku itulah wujud dia yang sesungguhnya, bisa berubah wujud sangat-sangat cantik hanya karena kekuatan sihir belaka, mendapat anugerah dari Hyang Agung, manakala terjaga dari tidur wujud apapun yang diinginkannya bisa dia buat, mampu merubah wujud tujuh kali, dalam sehari dengan wujud cantik yang berbeda-beda, apabila kamu sudah cukup melihat, mari kita segera pulang jangan sampai nanti dia terbangun, tidak enak dihati jadinya nanti.

8. Wusnya nulya kentar pyagung kalih, ing samarga Sunan tansah jarwa, Ya sun tan malangi jêbeng, nggonira kita wanuh, lan Dyah Narpa sak karsa kaki, wis bênêr karsanira, nging ta cêgah ingsun, wênangira mung pêrsobat, sabab iku kang rumêksa Pulo Jawi, wênang sinambat karsa.
Setelah itu segera beranjak pulang kedua priyayi (bangsawan) agung, sepanjang jalan Sunan (Adilangu) terus menasehati, Aku tidak bermaksud menghalangi anakku, kedekatanmu, dengan Ratu Wanita terserahlah kepadamu, sesungguhnya sudah benar apa yang kamu lakukan (sebagai seorang Raja), namun aku menyarankan, sebatas pertemanan saja (antara dua orang Penguasa), sebab dialah yang menjaga pulau Jawa, tak ada salahnya jika dimintai bantuan.

9. Mayo padha mulih mring Matawis, ingsun arsa kampir wismanira, wusnya dwi gancang tindake, Sunan ing Ngadilangu, dhinerekkên lan Senapati, tindakira lir kilat, sakêdhap prapta wus, njujug dalêm pêpungkuran, Sunan Adi lawan wayah Senapati, arsa ngyêktekkên srana.
Marilah kita pulang ke Mataram, aku ingin mampir sejenak ke istanamu, setelah itu keduanya mempercepat jalan masing-masing, Sunan Adilangu, diiringi (Panembahan) Senapati, jalannya secepat kilat, hanya sekejap saja sudah sampai, langsung menuju ruang belakang, Sunan Adi dan sang cucu yaitu (Panembahan) Senapati, hendak membuktikan khasiat benda yang diperoleh dari samudera.

10. Juga Juru Taman Senapati, jalma tuwa madad karêmannya, dadya mêngguk raga ngronggok, yen angot tan tuk turu, sambat muji marang Hyang Widdhi, nuwun kuwatan rosa, pinanjangna ngumur, sabên muji pan mangkana, kantya tan wrin yen gustenira miyosi, tumrun bale krengkangan.
Tersebutlah Juru Taman (Panembahan) Senapati, sudah uzur usianya dan suka madat, sehingga terkena sakit batuk badannya kurus, jika kumat batuknya dia tak bisa tidur semalaman, memohon selalu kepada Hyang Widdhi, supaya diberikan kesehatan, agar diberikan panjang umur, setiap berdoa pasti seperti itu permintaannya, saat itu tak disadarinya jika Gustinya menghampiri, berusaha turun dia dari balai dengan susah payah.

11. Senapati wusnya lêngah angling, Heh Ki Taman mau sun miyarsa, sira muji minta kyate, iku ta apa tuhu, minta ing Hyang saras-ing sakit, lan dawane mur-ira, Juru Kêbon matur, Nggih Gusti yêktos amba, rintên dalu nênuwun maring Hyang Widdhi, panjanging umur saras.
Setelah duduk berkatalah (Panembahan) Senapati, Hai Ki Taman aku tadi melihat, engkau berdoa meminta kekuatan badan, apakah permintaanmu itu sungguh-sungguh? Meminta sembuhnya penyakitmu, meminta panjangnya usiamu, Juru Kebun (Taman) menhaturkan jawaban, Benar Gusti sungguh hamba, siang malam meminta kepada Hyang Widdhi, agar diberikan usia panjang dan kesembuhan.

12. Yen wis mantêp panuwunmu kaki, sun paringi sêsarating gêsang, dimen sirna lara kabeh, Ki Taman nêmbah nuwun, majêng sinung Tigan tinampi, laju kinen nguntala, saksana nguntal wus, Ki Taman mubêng angganya, lir gangsingan tantara jumêglug muni, wrêksa sol sangking prênah.
Kalau memang kamu sungguh-sungguh, aku akan memberikan sarana buat hidupmu, agar supaya sirna segala penyakitmu, Ki Taman menghaturkan terima kasih, bergerak mendekat diberi telur dan diterima sudah, segera disuruh memakan mentahan, segera dimakan seketika itu juga, Ki Taman berputar-putar tubuhnya, bagaikan gangsing dan menggeram keras, suaranya bagaikan pohon yang tumbang dari tempatnya.

13. Gya jênggelek warna gêng nglangkungi, Juru Taman lir gunung anakan, jatha gimbal kalih kagêt, wrin langkung tyasnya ngungun , Sang Wiku ngling mring Senapati, Iku jêbeng dadinya, yen nut mring Ni Kidul, Sang Sena mingkuh tan nebda, mitênggêngên gêgêtun uningeng warni, de kadya arga suta.
Seketika berubah wujudnya sangat-sangat besar, Juru Taman bagaikan gunung anakan besarnya, taring muncul dan rambut berubah gimbal terkejut (Panembahan Senapati), melihat kejadian itu sangat-sangat heran hatinya, Sang Wiku berkata kepada (Panembahan) Senapati, Seperti itulah kejadiannya, apabila kamu menuruti perkataan Ratu Kidul, Sang (Panembahan) Sena(pati) tak bisa berkata-kata, tertegun dan kecewa melihat akan hal itu, melihat wujud bagai anakan gunung.

14. Sunan Adi gya ngandika malih, Kari siji jêbeng nyatakêna, kang ran Lênga Jayengkatong, Sang Senapatya mêstu, nulya dhawuh kinon nimbali, pawongan nguni êmban, têngran Nini Panggung, lan gamêl nami Ki Kosa, tan adangu kalihnya wus têkap ngarsi, Sang Sena lon ngandika.
Sunan Adi(langu) segera berbicara lagi, Tinggal satu benda lagi anakku buktikanlah, apa yang dinamakan Minyak Jayengkatong tersebut, Sang (Panembahan) Senapati menurut, lantas memerintahkan untuk memanggil, seorang emban (pelayan wanita), bernama Nini Panggung, dan seorang penabuh gamelan bernama Ki Kosa, tak berapa lama kemudian keduanya telah menghadap, Sang (Panembahan) Sena(pati) pelan berkata.

15. Bibi Panggung mula sun timbali, lan si Kosa ya padha sun jajal. nggonên Lênga Jayengkatong, nggennya sung Ratu Kidul, yen wis ngarja sêkti ngluwihi, kang liningan wot sêkar, tan lêngganeng dhawuh, Panggung Kosa tinetesan, Jayengkatong gya sirna kalih tan keksi, pan wus manjing nyeluman.
Bibi Panggung kamu saya panggil, berikut Ki Kosa kalian berdua akan aku coba, untuk memakai Minyak Jayengkatong, pemberian Ratu Kidul, apabila sudah memakai pasti akan menjadi sakti luar biasa, yang diperintahkan hanya menurut, tidak membantah lagi, (Nini) Panggung (dan) Ki Kosa ditetesi, (Minyak) Jayengkatong seketika tak terlihat keduanya, beralih alam menjadi siluman.

16. Sak sirnanya ngungun Senapati, abdi tiga pan salah kêdadyan, wusana lon ngandikane, Heh Kosa bibi Panggung, de wong roro padha tan keksi, umatur kang sinêbdan, Inggih Gusti ulun, keng cêthi tan kesah-kesah, sangking ngarsa wit pinaringan lisah Gusti, de mawi tan katinggal.
Begitu keduanya sirna tak terlihat heranlah (Panembahan) Senapati, ketiga abdinya berubah tidak lumrah, lantas pelan dia berkata, Hai (Ki) Kosa (dan) Bibi Panggung, kalian sekarang tidak bisa dilihat oleh mata lagi. Menjawab yang telah tak terlihat, Benarlah demikian Gusti, namun saya tidak akan pergi jauh (dari istana Mataram), semenjak saat diberi Minyak oleh Gusti, walaupun kami tak akan bisa dilihat mata.

17. Sunan Adi lon nambungi angling, Heh Ni Panggung sira lan si Kosa, padha narimaa karo, pan wus karseng Hyang Agung, sira dadi wadaling Gusti, dede jatining jalma, mêngko tan kadulu, pan wis dadi ê-Jim padha, nging ta sira aja lunga sing Matawis, êmongên Gustinira.
Sunan Adi(langu) pelan menyahut, Hai kamu Ni Panggung dan si Kosa, ikhlaskanlah ini semua, sudah menjadi kehendak Hyang Agung, kalian semua dijadikan tumbal oleh Gusti kalian, kalian sekarang bukanlah manusia, sudah tidak bisa dilihat, kalian sudah berubah menjadi Jin, akan tetapi janganlah kalian meninggalkan Mataram, dampingilah Gusti kalian.

18. Prayogane jêbeng Senapati, bocahira têlu ingsun prênah, Panggung Kosa ing ênggone, anenga wringin sêpuh, Juru Taman neng Gunung Mrapi, ngêreha lêmbut ngarga, rumêksa-a kêwuh, mungsuh kirdha jroning praja, Juru Taman kang katêmpuh mapag jurit, mêstu kang sinung sêbda.
Sepertinya akan lebih baik oh anakku Senapati, apabila ketiga abdi ini aku tempatkan, (Nini) Panggung dan (Ki) Kosa, penunggu di pohon Beringin tua, sedangkan Juru Taman aku tempatkan di Gunung Merapi, memimpin seluruh makhluk halus yang ada di gunung tersebut, menjaga keamanan, menghadang musuh yang hendak merusak kerajaan, Juru Taman yang bertugas menghadapi, semua yang diperintah mematuhinya.

19. Katrinya wus kinon manggon sami, Panggung Kosa lawan Juru Taman, sang kalih dugi karsane, gya kondur dalêmipun, Senapati ngungun ing galih, duk aneng pureng sagra, de meh sisip nglakur, Sunan Adi gya ngandika, Senapati wismamu tan dipagêri, kêbo glar neng pêgungan.
Ketiganya sudah menempati tempat yang diperintahkan, (Nini) Panggung (Ki) Kosa dan Juru Taman, setelah selesai membuktikan, kedua priyagung (Sunan Adilangu dan Panembahan Senapati) masuk kedalam istana, (Panembahan) Senapati terus terheran-heran dalam hati, hasil dari istana samudera, hampir saja membuat dia celaka salah jalan, Sunan Adi(langu) mendadak berkata, Senapati istanamu tanpa pagar pembatas, bagaikan seekor kerbau yang dibiarkan terumbar.

20. Tanpa kandhang ya kang kêbo sapi, heh ta jêbeng Senapati Nglaga, iku pan sisip pasrahe, karana Allah dudu, piyangkuhmu aneng Matawis, sebarang karsanira, kadhinginan ujub, kêbo sapi tanpa kandhang, wahanane sapa wani marang mami, dursila satru kridha.
Tanpa kandang, oh anakku Senapati Ngalaga, hal ini adalah kepasrahan yang keliru, bukan kepasrahan kepada Allah yang benar, bahkan terkesdan angkuh kerajaan Mataram, semua perbuatanmu, selalu didahului kecongkakan, bagai kerbau dan sapi tanpa kandang, menampakkan siapa yang berani dengan aku, akan memancing orang jahat dan musuh.

21. Bêcik nganggo ênêng lawan êning, lumakuwa sokur lawan rêna, wisma-a lan pêpagere, kêbo sapi yen ucul, kêluhana dipuncêkêli, yen mulih prapteng wisma, kandhangna sadarum, sêlarahe pacêlana, tunggonana yen turu kêlawan wengi, pasrahna mring Kang Murba.
Kenakanlah kesadaran yang jernih (ening) dan penuh ketenangan (eneng), berjalanlah dengan hati penuh syukur dan tulus, istana dengan diberi pagar (adalah wujud kepasrahan yang benar), ibarat kamu memiliki kerbau dan sapi jika berontak hendak lepas, pegang erat keluh (tali pengikat yang ada dihidung)-nya, apabila didalam kandang, masukkanlah semuanya, kunci rapat pintu kandang, jagalah baik-baik siang maupun malam, itulah bentuk kepasrahan yang benar kepada Sang Penguasa Sejati.

22. Anganggoa andum lawan milih, dipatuta lan lakuning praja, lungguh-ira lan ngelmune, istiyar-mu di-agung, anganggowa sumêndhe Widdhi, sêbarang tingkahira, anganggoa sokur, karane dipun prayitna, laku linggih solah muna lawan muni, pracihna dadi nata.
Pilahlah dan pilihlah, apa saja yang pantas bagi sebuah kerajaan, yang sesuai dengan kedudukan dan kecerdasan kamu, perbanyaklah ikhtiyar, dan bersandar kepada (Hyang) Widdhi, setiap tindakanmu, warnailah dengan rasa syukur, senantiasa ingat, baik saat berjalan duduk berbicara, ingatlah bahwa kamu adalah Raja.

23. Mêngko jêbeng ingsun mêrtikêli, karya kitha mrih kukuh prajanta, salamêta prapta ing têmbe, jêbeng ngambila ranu, aja akeh kêbak kang kêndhi, Senapati wot sêkar, dhawuh cêthi mundhut, tirta ing kêndhi pratala, kang liningan sandika nulya nyaosi, tirta mungging lantingan.
Nanti akan aku berikan petunjuk anakku, bagaimana membangun kota agar kokoh kerajanmu, selamat sejahtera hingga nanti, ambilkan air anakku, jangan terlalu banyak air didalam kendhi secukupnya saja, (Panembahan) Senapati memenuhi permintaan, segera menyuruh agar mengambil, air didalam kendhi tanah, yang diperintahkan segeramengambilkan dan tak lama kembali membawa apa yang diminta, air didalam kendhi.

24. Nulya linggar wau Sunan Adi, ngasta pandêlêngan isi tirta, tindak ngidêri dhadhahe, Senapati tut pungkur, sarwi mbêkta ingkang têtali, ngethengi rut-ing tirta, ngandika Sang Wiku, Heh ya jêbeng Senapatya, ge turutên sak tilase banyu iki, karyanên kuthanira.
Lantas bergeraklah Sunan Adi(langu), sembari membawa kendhi berisi air, berjalan mengelilingi perbatasan, (Panembahan) Senapati mengiringi dibelakang, sembari membawa tali, untuk mengukur tanah dimana air dicueahkan, berkata Sang Wiku (Sunan Adilangu), Hai anakku Senapati, ikutilah bekas dimana air aku curahkan, bangunlah tembok kota disitu.

25. Jêbeng rehne tumitah ngaurip, aja kandhêg laku panarima, lan diwêruh wêwekane, ingon-ingonmu sagung, uga padha kêlawan kasih, yen kurang pangrêksanya, têmah praja eru, saking datan wruh ing wêka, nora ngrasa yen manungsa mung sinilih, marang Kang Murbeng Alam.
Karena dititahkan menjadi makhluk hidup oh anakku, jangan berhenti menjalankan hati yang dipenuhi syukur, dan seyogyanya bias memperhatikan kebutuhan, dari semua rakyatmu, perlakukan dengan kasih, manakala kurang diperhatikan, bakal mencibpatak rusauhnya kerajaan, disebabkan kurangnya perhatianmu, tidak merasa bahawa semua ini hanyalah pinjaman, pinjaman dari Yang Menguasai Alam.

26. Lawan sira diwaspadeng gaib, lamun kita marentah mring wadya, enakêna kabeh tyase, tuhunên ujar ingsun, nuli siram rêntaha dasih, awita konên nyithak, wongira Matarum, sak pakolehe nggon karya, bêcingahên kuthanira den bêcik, dadya tilar sun wuntat.
Dan waspadalah selalu, manakala kamu memberikan perintah kepada seluruh rakyat, buatlah nyaman hati mereka, turutilah nasehatku, lsiramilah hati mereka denga kasih, sekarang mulailah mencetak, suruhlah orang-orang Mataram, dalam bekerja, usahakan mengerjakan sebagus mungkin, sehingga bisa bertahan lama sampai nanti.

27. Jêbeng yen wis jumbuh traping urip, sasat sira wus madêg narendra, mêngkoni ngrat Jawa kabeh, nêtêpi manungsa gung, lan Hyang Sukma kinarya silih, mêngkoni ngalam padhang, kang kuwasa tuhu, asung sak warneng gumêlar, pan manungsa kang winênang andarbeni, lêstari tanpa kara.
Anakku manakala sudah sesuai dengan laku hidup yg sesungguhnya, sungguh bagaikan sudah menjadi Raja, sesuai dengan kelakuan manusia utama, menjadi wakil Hyang Suksma, menguasai alam dunia, yang bernar-benar berkuasa, kepada seluruh yang hidup, karena memang manusia seperti itulah yang berhak memiliki, dan akan kuat tanpa rintangan.

28. Lan diwêruh kahananing Widdhi, jêbeng uga nggene kang sênyata, pan ya sira sak solahe, nging kêsampar kêsandhung, dene sira nora ngulati, nggone cêdhak asamar, tan ana kang dunung, ngalela neng ngarsanira, Gustinira neng ngarsa katon dumêling, anging kalingan padhang.
Ketahuila keberadaan (Hyang) Widdhi, oh anakku keberadaan-Nya yang sejati, sesungguhnya tak berpisah dengan segala aktifitasmu, akan tetapi tiada kamu hiraukan, bahkan tiada kamu ketahui, sangat dekat namun samar, tiada bertempat jauh disana, benar-benar nyata didepanmu, Tuhan sesungguhnya ada didepan matamu, tetapi terliputi alam dunia.

29. Senapati wot sêkar nuwun sih, jarweng Sunan Adi wus kadriya, nging mêksih sandeya tyase, de naluri kang tinut,……………………………….., ………………………., ……………………………….., ……………………………., ………………………………., ……………………………….
(Panembahan) Senapati mematuhi dan menghatrukan terima kasih, semua nasehat Sunan Adi(langu) sudah dimasukkan dalam hati, namun masih gelisah hatinya, masih berat dengan keberadaan Ratu Kidul, ……………………………….., ……………………………., ……………………………, …………………………….., ………………………….., ………………………………., ………………………….

(Selesai)

BABAD TANAH JAWA Bagian 2

Diambil Pupuh-Pupuh yang menceritakan pertemuan antara Panêmbahan Senopati, Penguasa Mataram dengan Kangjêng Ratu Kidul, Ratu Pantai Selatan.

PUPUH
M I J I L

1. Dhuh mas mirah aja sumlang ati, titenana ingong, lamun supe marang sira angger, marcapada myang dêlahan yayi, nggon-ingsun mangabdi, ditulus sihipun.
Aduh emas merahku janganlah gundah dihati, buktikanlah, aku tidak akan lupa kepadamu, dari hidup sampai mati yayi (dinda), pengabdian cintaku, tulus dan murni.

2. Nadyan ingsun pas wus sugih krami, tur sami yu kaot, gênging trêsna wus tan liya angger, ingkang dadi têlêng ingsun kang sih, mung andika Gusti, nggen sun ngawu-awu.
Walaupun aku banyak memiliki istri, yang sangat cantik-cantik, besarnya cintaku hanya untukmu, yang menjadi cinta utamaku, hanya kamu Gusti (Ayu), aku benar-benar tergila-gila.

3. Malawija neng jro tilam sari, tan lêngganing pangkon, mung pun kakang timbangana angger, ingsun yekti anandhang wiyadi, dereng antuk jampi, tan lyan sira masku,
(Tidakkah kau lihat) besarnya hasratku diatas ranjang kepadamu, tak lepas-lepas aku memangkumu, hanya saja aku meminta buktikan cintamu, pastilah aku akan tetap menderita sakit, yang tak mendapatkan penyembuhan, hanya kamu obat penyembuhku.

4. Ambirata rêntênging tyas kingkin, satêmah sun-antos, nadyan kinen laju jrak neng kene, tan suminggah sakarsa mêstuti, nging kapriye yayi, solahe wadyengsun.
Lenyapkanlah gundahnya hati yang menderita, sungguh aku nantikan, walau harus aku menunggu disini, aku akan melakukannya, akan tetapi bagaimana yayi (dinda), dengan para rakyatku?

5. Narpaning Dyah tyasnya lir jinait, kapraneng pamuwos, kemanisen kakung pangrengihe, dadya luntur sihira Sang Dewi, mring kakung lon angling, Pangran nuwun tumrun.
Bagaikan tertusuk jarum pemintal hati Ratu Wanita, terperangah oleh kata-kata, ucapan manis sang pria (Panembahan Senopati) yang manis, merebaklah cinta Sang Dewi sepenuhnya, kepada Sang pria (Panembahan Senopati0 pelahan dia berkata, Turunkan aku Pangeran.

6. Sing ngêmbanan wus tumrun Sang Dewi, long lênggah sêkaron, malih Sang Dyah matur mring kakunge, Pangran nuwun ngapuntên kang cêthi, dene kumawani, dosa gungan kakung.
Sang Dewi telah turun dari pangkuan, pelan duduk berjajar, berkata lagi Sang Dyah kepada Sang pria (Panembahan Senopati), Mohon maafkan hamba, karena telah berani, kepada seorang pria yang hamba berbakti kepadanya.

7. Datan langkung panuwuning cêthi, sih trêsnanya yektos, sampun siwah putra wayah tembe, tinulusna darbe cêthi mami, kakung ngrakêti ngling, Dyah ingras pinangku.
Tiada lain permintaan hamba, hanyalah kesungguhan cinta, jangan sampai terputus hingga anak cucu kangmas nanti, seterusnya menjadi kekasihku, Sang pria (Panembahan Senopati) memeluk sembari berkata, dan memangku kembali serta menciumi mesra.

8. Ya mas mirah aja sumlang galih, sok bisaa klakon, malih Sang Dyah matur mring kakunge, Nggih Pangeran yen wus mangguh wêsthi, praptanireng jurit, mrih enggal lun tulung.
Baiklah emas merahku janganlah ragu, kelak pasti akan terjadi, lagi Sang Dyah berkata, Terima kasih Pangeran apabila tengah menghadapi bahaya, ditengah peperangan, agar supaya saya bisa secepatnya membantu.

9. Magut Sang Dyah kakung lon winangsit, ubayaning têmon, Sêdhakêpa myang mêgêng napase, anjêjaka kisma kaping katri, yêkti amba prapti, ngirit wadya lêmbut.
Sang Dyah mendekatkan wajahnya kepada sang pria (Panembahan Senopati) sembari pelan memberikan petunjuk, sebagai akhir pertemuan mereka, Bersendekaplah kangmas sembari menahan nafas, jejakan kaki ketanah sebanyak tiga kali, pastilah hamba akan datang, bersama para prajurid makhluk halus.

10. Lawan amba atur araneng jurit, mrih dibya kinaot, Tigan Lungsung Jagad nggih namine, dhinahara gung sawabe ugi, panjang yuswa yêkti, kyating sara timbul.
Dan hamba haturkan agar senantiasa unggul dalam peperangan, agar supaya sakti tak terkalahkan, sebutir Telur bernama Lungsung Jagad, makanlah akan besar khasiyatnya, panjang usia, kekuatan tersembunyi akan timbul.

11. Lawan Lisah Jayengkatong nami, dewa kang sih mring ngong, kalih sampun ngaturkên kakunge, Senapati sawusnya nampeni, langkung trustheng galih, antuk sraneng pupuh.
Dan juga Minyak bernama Jayengkatong, pemberian Dewa kepada hamba. Kedua benda telah dipasrahkan kepada Sang pria (Panembahan Senopati), (Panembahan) Senapati setelah menerima, sangat gembira dihati, karena mendapat sarana ampuh untuk keunggulan dalam perang.

12. Malih Sang Dyah mangsit marang laki, ngelmining keraton, mrih kinedhêp mring lêlêmbut sakeh, Senapati wus kadriyeng wangsit, wusana Sang Dewi, ngrakêt wêcêng kakung.
Kembali Sang Dyah memberikan petunjuk kepada sang pria (Panembahan Senapati), Ilmu Keraton Pantai Selatan, agar supaya disegani, seluruh makhluk halus, (Panembahan) Senapati telah memahami semua petunjuk, setelah itu Sang Dewi, memeluk erat-erat Sang pria (Panembahan Senopati).

13. Dhuh Pangeran yen marengi karsi, ing panuwun ingong, sampun age-age kondur mangke, wilangun lun yekti dereng dugi, paran polah mami, yen paduka kondur.
Aduh Pangeran jika bersedia, memenuhi permintaan hamba, tundalah kepulangan kangmas, menurut hamba belum saatnya, bagaimana dengan saya nanti, apabila paduka pulang sekarang?

14. Raka ngimur mrih lipuri yayi, Adhuh mirah ingong kang sih trêsna marang ing dasihe, myang sak jarwa wus sun trima yayi, nging sun mêksa amit, mêgat oneng masku.
Sang Raka (Kanda) menghibur hati Sang Yayi (Dinda), Aduh emas merahku, cinta kasihku sudah jelas kamu buktikan, bahkan petunjukmu telah aku terima yayi (dinda), bagaimanapun juga aku memaksakan diri untuk pamit, berpisah dengan engkau emas merahku.

15. Aja brangta mirah wong akuning, lilanana ingong, ingsun kondur mring Mataram prajeng, nora lama mêsthi nuli bali, mring Pureng Jêladri, tuwi dika masku,
Jangan tersedihkan oleh karena rindu emas merahku, relakanlah aku, pulang ke Kerajaan Mataram, tidak akan lama aku pasti kembali, ke Istana Samudera, menemui engkau oh emasku.

16. Saking labêt datan bêtah mami, pisah lan mas ingong, sangking wrate wong mêngkoni prajeng, Sang Dyah ngungsêp pangkyan ngling ing laki, Pangran sampun lami, nggih nuntêna wangsul.
Sungguh sebenarnya tidak tahan aku, berpisah dengan emasku, hanya karena berat tanggung jawab seorang Raja yang memiliki rakyat (maka terpaksa aku harus pulang), Sang Dyah menjatuhkan kepala ke pangkuan dan berkata, Jangan terlalu lama oh Pangeran, segeralah kembali.

17. Dugi nggusthi mêgat onenging sih, gya mijil sang anom, Ratu Kidul ndherekkên kondure, asarimbit kêkanthen lumaris, rawuh Srimanganti, gya kakung nglingnya rum.
Dan pada akhirnya waktu perpisahan tiba, segera keluar Sang Anom (Muda), Ratu Kidul melepas kepulangannya, beriringan sembari bergandeng tangan, tiba di Srimenganti, segera sang pria (Panembahan Senopati) berkata manis.

18. Wus sun trima sih-ira mas yayi, nggennya ngatêr mring ngong, among ingsun minta sih-ira-ngger, srana tumbal usadaning kingkin, Sang Dyah manglêgani, sih katrêsnane kakung.
Sudah cukup aku terima bakti cintamu yayi (dinda), dengan mengantarkan kepergianku, sebelum berpisah aku minta bukti cintamu sekali lagi, sebagai tumbal terampuh untuk mengobati kerinduanku. Sang Dyah menuruti, permintaan Sang pria (Panembahan Senapati).

19. Atur gantyan manglungkên sing lathi, tinampen waja lon, gêrêgetan ginigit lathine, Sang Dyah kagyat Raka sru pinulir, purna kang karon sih, sewangan lêstantun.
Segera pasrah menyediakan bibir indahnya, bertaut bibir dan gigi pelan, gemas digigit bibir ranumnya, Sang Dyah terkejut namun segera membalas ciuman, selesailah yang tengah dimabuk cinta, lantas berpisah.

20. Senapati praptanireng njawi, puranya Sang Sinom, sirna wangsul keksi samodrane, Senapati nggenya napak warih, lir mangambah siti, tinindakkira laju.
(Panembahan) Senopati telah sampai diluar, istana Sang Awet Muda (Kangjeng Ratu Kidul), sirna seketika wujud istana dan berganti samudera, (Panembahan) Senapati saat menapaki air laut, bagaikan berjalan ditanah rata, dia berjalan terus.

21. Senapati sak praptaning gisik, wêspadeng pandulon, kang pitêkur neng Parangtritise, wus saestu lamun Guru yêkti, niyakaning Sunan Adilangu.
Sesampainya (Panembahan) Senopati dipesisir pantai, waspada seketika, manakala melihat siapa yang tengah bertafakur di pantai Parangtritis, jelas terlihat adalah Sang Guru, tak lain adalah Sunan Adilangu (putra Sunan Kalijaga).

22. Senapati gepah nggen mlajengi, mring Guru sang kaot, prapta laju, mangusweng padane, pamidhangan ngasta mring Sang Yogi, luwarnya ngabekti, lengser lenggah bukuh.
Cepat (Panembahan) Senapati berlari, mendekati Sang Guru yang mulia, bersujud dikakinya, lantas mencium tangan Sang Yogi, selesai berbakti, segera duduk bersila takjim.

23. Sunan Adi gya ngandika aris, Jêbeng sokur ingong, lamun sira katêmu neng kene, sabab ingsun arsa anjarwani, pratingkah kang yêkti, mrih arjaning laku.
Sunan Adilangu segera berkata pelan, Anakku sangat bersyukur diriku, bisa bertemu denganmu disini, sebab aku memang ingin memberikan nasehat kepadamu, tentang perbuatan yang patut, agar selamat senantiasa dirimu.

24. Sira sinung digdaya lan sêkti, ngluwihi sagung wong, sun prêlambang samodra pamane, kita ambah tan têlês kang warih, lir dharatan ugi, tyasnya aja ujub,
Dirimu diberi anugerah digdaya dan sakti, melebihi manusia umumnya, terbukti ditengah samudera, kamu berjalan diatasnya tanpa terbasahi oleh air sedikitpun, bagaikan kamu berjalan di daratan, walau begitu janganlah sombong.

25. Riya Kibir Sumêngah tan keni, sêgahe Hyang Manon, Nabi Wali Oliya sêdene, yen nêraka tuk sikuning Widdhi, karseng Hyang Piningit, bab catur piyangkuh.
Riya’ (Pamer) Kibir (Sombong) congkak itu semua tidak sepatutnya, larangan Hyang Manon (Yang Maha Agung), juga larangan para Nabi Wali dan Auliya’ semua, akan mendapatkan neraka sebagai kutuk Hyang Widdhi, begitulah larangan Yang Maha Tersembunyi, tentang keangkuhan.

26. Wong gumêdhe anglungguhi kibir, sapa padha lan ngon, larangane Hyang Sukma Kang Murbeng, kibir riya piyangkuhing jalmi, mrih ngalêma luwih, keringan sawêgung.
Manusia yang merasa tinggi dan sombong, siapa yang bisa menandingi aku, benar-benar larangan Hyang Suksma (Yang Maha Samar) Sang Penguasa Sejati, kesombongan, suka pamer serta keangkuhan, agar supaya dipuji lebih dari yang lain, lebih terkenal dari sesama.

27. Amêmadha marang ing Hyang Widdhi, wong pambêg mengkono, kalokeng rat mring praja liyane, ujubira piyangkuh ngêngkoki, gawoka kang ngeksi, lumaku gumunggung.
Seolah-olah mempersamakan dirinya dengan Hyang Widdhi, manusia yang seperti itu, terkenal di dunia dan kerajaan lainnya, keangkuhan dan ingin memperlihatkan dirinya terus menjadi, agar supaya kagum yang melihat, agar supaya senantiasa dipuji-puji.

28. Sak solahe was tan darbe maning, mung lêgane batos, sakeh patrap ja mêngkono jêbeng, Senapati tuhunên kang kapti, lan sun plambang maning, kan tan lungguh ngelmu
Setiap tindakan sudah tidak memiliki pertimbangan, hanya menuruti kepuasan diri sendiri, janganlah seperti itu anakku, ingatlah akan tujuan hidup yang sesungguhnya oh Senapati, dan aku nasehatkan satu hal lagi, bahwa manusia yang benar-benar memegang ilmu.

29. Aja sira pambêg kaya langit, bumi gunung argon, lan samodra plambang patrap kabeh, pan ya kaki pambêganing langit, saengganing jalmi, ngêndêlkên yen luhur.
Janganlah bersikap seperti langit, seperti bumi seperti gunung, dan seperti samudera, yang dimaksud bersikap seperti langit, adalah seorang manusia, yang mengandalkan keluhurannya.

30. Bumi kandêl jêmbare ngluwihi, dwi lir pambêging wong, wus tan ana mung iku dayane, myang kang gunung digung gêng inggil, sagra jro tirtaning, gurnita kang alun,
Jangan bersikap seperti bumi yang tebal dan luasnya melebihi apapun, jikalau manusia, bersikap seolah tidak ada lagi yang melebihi luasnya kekuasaannya, bersikap seperti gunung merasa besar dan tinggi, bersikap seperti samudera merasa paling dalam pengetahuannya, dan merasa paling dahsyat ombaknya.

31. Ngêndêlakên digdayane sami, bumi samodra rob, langit arga pambêg jalma kabeh, wus tan ana polataning maning, sisip pambêg jalmi, kurang jêmbar kawruh.
Semua mengandalkan kedigdayaannya, bumi dan samudera, langit dan gunung adalah seumpama watak-watak jelek manusia, sudah tiada kebaikannya lagi, sesat kelakuan manusia yang seperti itu, kurang luaslah wawasannya.

32. Yen sira yun wigya dadi Aji, mangreh sagunging wong, aja pêgat istiyarmu jêbeng, laku pasrah mring Kang Murbeng Bumi, neng musik di-êning, mrih uning Sukma Gung.
Jikalau kamu menginginkan untuk menjadi Aji (Raja), menguasai seluruh orang, jangan pernah putus usahamu anakku, senantiasa berpasrah kepada Yang Maha Menguasai Bumi, heningkanlah segala keliaran batinmu, agar supaya bisa mengetahui Suksma Agung (Maha Samar Yang Agung).

33. Ginampangan sêka karseng Widdhi, di-têrang pandulon, aja sêrêng sak pêkoleh bae, ngibadaha nglungguhana gami, nging driya di eling, mrih manise wadu.
Pastilah akan gampang terwujud apa yang kamu kehendaki atas kehendak (Hyang) Widdhi, buatlah terang penglihatan kesadaranmu, jangan suka bertindak seenaknya, perbanyak ibadah penuhilah perintah agama, dalam hati senantiasa diingat, agar manis jalan hidupmu.

BABAD TANAH JAWA Bagian 1


Diambil Pupuh-Pupuh yang menceritakan pertemuan antara Panêmbahan Senopati, Penguasa Mataram dengan Kangjêng Ratu Kidul, Ratu Pantai Selatan.
 

PUPUH
KINANTHI  

1. Alon tindak kalihipun, Senapati lan Sang Dewi, sadangunya apêpanggya, Senapati samar ngeksi, mring suwarna Narpaning Dyah, wau wanci nini-nini.
Keduanya berjalan pelahan, (Panêmbahan) Senopati dan sang Dewi, sekian lama mereka bertemu, (Panêmbahan) Senopati tiada jelas melihat, kepada wujud Ratu Wanita, tadi terlihat bagai wanita tua.


2. Mangke Dyah warnane santun, wangsul wayah sumengkrami, Senapati gawok ing tyas, mring warna kang mindha Ratih, tansah aliringan tingal, Senapati lan Sang Dewi.
Sekejap nanti Dyah (Ayu) wujudnya berubah, kembali terlihat sangat menarik hati, (Panêmbahan) Senopati terpesona dalam hati, menyaksikan wujud bagaikan (Dewi) Ratih, senantiasa saling mencuri pandang, antara (Panêmbahan) Senopati dan Sang Dewi.


3. Sak praptanira kêdhatun, Narpeng Dyah lan Senapati, luwar kanthen tata lênggah, mungging kanthil kêncana di, Jêng Ratu mangênor raga, Senapati tansah ngliring.
Sesampanya di istana, Ratu Wanita dan (Penêmbahan) Senopati, saling melepas genggaman tangan lantas duduk, naik di atas ranjang keemasan, Jeng Ratu menggeliat, (Panembahan) Senopati terus melirik.


4. Mring warnanira Jêng Ratu, abrangta sak-jroning galih, engêt sabil jroning driya, yen Narpeng Dyah dede jinis, nging sinamun ngêgar karsa, midêr wrin langêning puri.
Kepada wujud Jeng Ratu, terpikat dalam hati, mendadak teringat, jikalau Ratu Wanita bukanlah sejenis manusia, seketika dialihkannya perhatian untuk melepaskan diri dari hasrat, dengan berkeliling melihat-lihat keasrian istana.


5. Udyana asri dinulu, balene kêncana nguni, jaman purwa kang rinêbat, Gathutkaca lan Wre Putih, bitutaman dirgantara, bale binucal jêladri,
Mendapati pemandangan asri, sebuah ranjang kencana berasal dari jaman dulu, saat terjadi perebutan, antara Gathutkaca dan Kera Putih, berkelahi di angkasa, ranjang terlempar ke samudera.

6. Dhawah têlêng samodra gung, kang rinêksa sagung ê-Jim, asri plataran rinêngga, sinêbaran gung rêtna di, widuri mutyara mirah, jumantên jumrut mawarni.
Jatuh di tengah-tengah samudera raya, yang dikuasai oleh Jin, tampak juga halaman yang tertata asri, yang ditebarani intan indah dan megah, biduri mutiara merah delima, emas dan jamrud berwarna-warni.

7. De jubine kang bêbatur, grêbag suwasa kinardi, sinêlan lawan kêncana, ing têpi sêlaka putih, sinung cêplok pan rinêngga, rukma tinaretes ngukir.
Lantainya-pun dihiasi, dengan emas yang dibuat begitu indah, dan diselingi hiasan dari kencana, serta ditambah perak putih dipinggirnya, dibentuk berwujud bunga-bunga mekar, indah terukir gemerlap.

8. Tinon rênyêp ting pêlancur, rêngganing kang bale rukmi, sumorot sundhul ngakasa, gêbyare rêrênggan adi, surêm ponang diwangkara, kasorotan langên puri.
Terlihat sejuk berkilauan, hiasan ranjang tersebut, sinarnya menggapai angkasa, gemerlapnya hiasan megah, membuat redup cahaya matahari, tersaingi keindahan istana.

9. Gapurane gêng aluhur, sinung pucak intên adi, sumorot mancur jwalanya, lir pendah soroting rawi, yen dalu kadi rahina, siyang latriya pan sami.
Gapuranya besar dan tinggi, puncaknya berhias intan yang indah, bersinar memancarkan cahaya, bagai sinar matahari, jika malam seperti siang, siang maupun malam tiada beda.

10. Sigêg rêngganing kadhatun, wau ta Sang Senapati, kêlawan Sang Narpaneng Dyah, tan kêna pisah neng wuri, anglir mimi lan mintuna, nggennya mrih lunturireng sih.
Cukup sudah menikmati keindahan istana, nampak Sang (Panembahan) Senapati, terus dikuntit Sang Ratu Wanita, yang tidak mau berjauhan terus mengikut dibelakang, tak mau berpisah bagai pasangan abadi, (Sang Ratu Wanita) berbuat demikian agar supaya mendapatkan cinta.

11. Yen tinon warna Jêng Ratu, wus wantah hapsari swargi, tuhu Sang Dyah Wilutama, kadya nurcaya ingeksi, sak polahe karya brangta, ayune mangrêspateni.
Apabila diperhatikan wajah Sang Ratu, sudah berubah bagai seorang hapsari (penari) surga, sudah benar-benar bagai Sang Dyah Wilutama, seperti cahaya manakala disaksikan, dan setiap gerakannya sangat memikat birahi, kecantikannya benar-benar menawan hati.

12. Kadibyaning warna Sang Rum, ping sapta sadina salin, ayune tan kawoworan, têrkadhang sêpuh nglangkungi, yen mijil pradanggapatya, lir dyah prawan keling sari.
Kesaktian Sang Ratu dalam merubah wujud, sehari mampu berubah wujud tujuh kali, kecantikannya tiada cacat, kadang terlihat sangat-sangat tua, manakala muncul matahari, terlihat Sang Dyah bagai perawan suci.

13. Yen sêdhawuh jwaleng Sang Rum, lir randha kêpaten siwi, yen praptaning lingsir wetan, warna wantah widadari, têngange lir Dyah Ngurawan, kumuda duk nujwa kingkin.

Apabila tengah memberi perintah, menakutkan bagaikan seorang janda yang kehilangan anaknya karena mati, ketika menjelang pagi hari, wujud seperti bidadari, saat matahari sepenggalah bagai (putri) Dyah (dari kerajaan) Ngurawan, seorang pemudi yang tetap cantik walau sedang bersusah hati.

14. Lamun bêdhug kusuma yu, mirip putri ing Kêdhiri, yen lingsir lir Banowatya, lamun asar pindha Ratih, compêting sapta sadina, yen latri êmbah nglangkungi.

Ketika menjelang tengah hari Sang Kusuma Ayu (Sang Bunga Cantik), mirip putri dari (kerajaan) Kedhiri, ketika matahari condong ke barat bagai Dewi Banowati, ketika menjelang asar bagai (Dewi) Ratih, genap tujuh kali sehari, apabila malam hari sangat-sangat tua sekali.

15. Lawan sinung sêkti punjul, Dyah lawan samining ê-Jim, warna wigya malih sasra, mancala putra pan bangkit, mila kedhêp ing sak-jagad, saking sêktining Sang Dewi.

Dan lagi dianugerahi kesaktiaan yang lebih, melebihi sesama Jin, mampu merubah diri seribu wujud, berwujud laki-laki pun bisa, oleh karenanya disegani diseluruh dunia, karena sangat saktinya Sang Dewi.

16. Sintên ingkang mbotên têluk, gung lêlembut nusa Jawi, Pra Ratu wus têluk samya, mring Ratu Kidul sumiwi, ajrih asih kumawula, bulu bêkti sabên warsi.

Siapa yang tidak tunduk, seluruh mahluk halus di pulau Jawa, para Raja-nya sudah takluk semua, kepada Ratu Kidul menganggap orang tua, ditakuti dicintai dan menjadi tempat mengabdi, diberi persembahan setiap tahun.

17. Ngardi Mrapi Ngardi Lawu, cundhuk Narpa ing Jêladri, narpa Pace lan Nglodhaya, Kêlut ngarga miwah Wilis, Tuk Sanga Blêdug sumewa, Ratu Kuwu sami nangkil.

Penguasa Gunung Merapi dan Gunung Lawu, tunduk kepada Penguasa Samudera, Penguasa Pace dan Nglodhaya, Penguasa Gunung Kelut dan Gunung Wilis, Penguasa Tuk Sanga dan Bledug, bahkan Ratu Kuwu pun mengabdi.

18. Wringin Pitu Wringin Rubuh, Wringin Uwok, Wringin Putih, ing Landheyan Alas Ngroban, sêdaya wus kêreh jladri, Kêbareyan Têgal Layang, ing Pacitan miwah Dlêpih.

Penguasaa Wringin Pitu dan Wringin Rubuh, Penguasa Wringin Uwok dan Wringin Putih, yang berada di Landheyan dan Hutan Roban, semua telah takluk kepada Penguasa Samudera, Penguasa Kabareyan Penguasa Tegal Layang, Penguasa di Pacitan dan Penguasa (Kahyangan) Dlepih.

19. Wrata kang neng Jawa sagung, para Ratuning Dhêdhêmit, sami atur bulu bêktya, amung Galuh kang tan nangkil, kêreh marang Guwatrusan, myan Krêndhawahana Aji.

Merata yang ada di seluruh Jawa, para Raja dari dhemit (mahluk halus), semua menghaturkan persembahan pengabdian, hanya daerah Galuh yang tidak takluk, karena dikuasai (Kerajaan) Guwatrusan, yang diperintah oleh Aji (Raja) Krendhawahana.

20. Wuwusên malih Dyah Kidul, lawan Risang Senapati, menuhi kang boja-boja, minuman kêras myang manis, kang ngladosi pra kênyendah, sangkêp busana sarwa di.

Kembali menceritakan Dyah (Ratu) Kidul, bersama Sang (Panembahan) Senapati, tengah menikmati makan bersama, dihidangkan juga minuman keras dan minuman yang manis, yang melayannya adalahi para wanita cantik, lengkap dengan busana mereka yang indah.

21. Bêdhaya sumaos ngayun, gêndhing sêmang munya ngrangin, weh kenyut tyasnya kang mriksa, wilêting bêksa mrak ati, keh warna solahing bêksa, warneng bêdhaya yu sami.

Para penari bedhaya maju kedepan, alunan gending Semang berbunyi nyaring, membuat terhanyut perasaan bagi yang melihat, gemulai tarian menawan hati, banyak macam gerak tarian, berbagai tarian yang indah semua.

22. Senapati gawok ndulu, mring solahe Dyah kang ngrangin, runtut lawan kang brêdangga, wilêt rarasnya ngrêspati, acêngêng dangu tumingal, de warneng dyah ayu sami.

(Panembahan) Senopati terpesona melihatnya, melihat gerakan Dyah yang tengah ikut menari, gerakannya menyatu seiringin alunan gamelan, ditambah untaian merdu bunyi gamelan yang menentramkan hati, hingga lama terpesona, melihat wujud para Dyah yang cantik-cantik.

23. Tan lyan kang pinêlêng kayun, mung juga mring Narpa Dewi, brangteng tyas saya kawentar, de sang Dyah punjul ing warni, kênyataning waranggana, soroting êmas sinangling.

Tiada lagi yang diingini, hanya Ratu Wanita semata, hasrat hati semakin membara, karena hanya Sang Dyah yang paling cantik, dibandingkan dengan para penari yang lain, cahayanya bagaikan cahaya emas yang murni.

24. Wuyunging driya sinamun, tan patya mangumbar liring, tan pêgat sabil ing nala, wau Risang Senapati, engêt yen dene jinisnya, Dyah Narpa tuhuning ê-Jim.

Hasrat hati coba untuk dia tutupi, tiada begitu mengumbar tatapan mata, tiada henti terus menahan hasrat, demikianlah Sang (Panembahan) Senopati, terus mengingatkan diri bahwa bukan dari jenis manusia, sesungguhnya Dyah Ratu itu adalah sebangsa Jin.

25. Rinaos jroning kung, kagugu saya ngranuhi, têmah datan antuk karya, nggenira mrih mêngku bumi, nging Narpeng Dyah wus kadriya, mring lungite Senapati.

Teringat seketika, keinginannya yang semakin menjadi, tidak akan terlaksana, kehendaknya untuk menguasai dunia (jika dia tetap berada di istana ini), akan tetapi Ratu Wanita bisa membaca, apa yang tengah dipikirkan (Panembahan) Senopati.

26. Ngunandika dalêm kalbu, Narpaning Dyah ing Jêladri, Yen ingsun tan nggango krama, nora kudu dadi estri, enak malih dadi priya, nora na kang mêjanani.

Berbicara dalam hati, Ratu Penguasa samudera, Jikalau aku tidak menikah, tidak seharusnya aku seorang wanita, lebih baik aku adalah seorang pria, sebab tidak bakalan ada yang menggangguku.

27. De wis dadi ujar ingsun, anggon sun wadad salamining, ngarsa-arsa pêngajapan, têmah arsa ngapirani, sun bekane mêngko jajal, piyangkuhe ngadi-adi.

Sudah menjadi niatku dulu, aku tidak akan menikah selamanya, demi mengharapkan keinginan yang lebih, tetapi ternyata malah sia-sia, coba aku akan merayunya, aku akan mencairkan keangkuhannya.

28. Wong Agunge ing Mêtarum, dimene lali kang nagri, krasan aneng jro samodra, kawêntar mesêm Sang Dewi, tumungkul tan patya ngikswa, Senapati tyasnya gimir.

Manusia Agung dari Mataram (Panembahan Senopati), agar supaya melupakan negaranya, dan kerasan tinggal didalam samudera. Terlontar senyum Sang Dewi, sembari menundukkan kepala seolah tiada peduli, namun sesungguhnya hati (Panembahan) Senopati tergetar dibuatnya.

29. Duk liniring mring Sang ing Rum, tambuh surasaning galih, wusana lon anandika, Dhuh wong ayu karsa mami, wus dangu nggon ingsun ningal, mring langêne ing jro puri,

Mendapati lirikan manja Sang Rum (Yang Wangi/Ratu Kidul), berdebar tiada menentu hatinya, lantas berkata pelan, Duh cantik sesungguhnya keinginanku sekarang, sudah terlalu lama aku menyaksikan, keindahan istana ini.

30. Pêsareyanta durung wêruh, kaya ngapa ingkang warni, nging Dyah Tan sae warninya, yen kêdah sumangga karsi, sintên yogi ndarbenana, lun mung darmi anênggani.

Akan tetapi tempat tidurmu aku belum melihatnya, bagaimanakah wujudnya? (Sang) Dyah menjawab Tidak bagus wujudnya, jika ingin melihat silakan, karena sesungguhnya ranjang tersebut tiada yang memiliki, selama ini saya bagaikan sekedar menjadi penjaga ranjang semata.

31. Wusira gya jêngkar runtung, Sang Sena lan Narpa Dewi, rawuh jrambah jinêm raras, alon lênggah sang akalih, mungging babut pan rinêngga, Senapati gawok ngeksi.

Segera mereka beranjak bersama, Sang (Panembahan) Senopati dan sang Ratu Dewi, masuk ke tempat tidur yang nyaman, keduanya pelahan duduk, diatas permadani yang indah, (Panembahan) Senopati kagum melihatnya.

32. Warneng pajang Sri Kumêndhung, tuhu lir suwargan ngalih, Sang Dyah matur marang priya, Nggih punika ingkang warni, tilêmane randha papa, labêt tan wontên ndarbeni.

Bermacam-macan hiasan Sri Kumendhung terpajang, sungguh bagai surga yang berpindah tempat (ke bumi), Sang Dyah berkata kepada sang pria (Panembahan Senopati), Inilah keadaannya, tempat tidur seorang janda yang kesepian, sunyi seolah tiada yang memiliki.

33. Kakung mesêm ngling-ira rum, Anglêngkara têmên yayi, ujare wong randha dama, ing yêktine angluwihi, kabeh purane pra Nata, tan padha puranta yayi.

Sang pria (Panembahan Senopati) tersenyum bisiknya manis, Kamu terlalu merendah Yayi (dinda), kamu bilang dirimu seorang janda, padahal sesungguhnya lebih dari itu, seluruh istana para Raja, tiada menandingi istana yayi (dinda).

34. Pêpajangan Sri Kumêndhung, ingsun têmbe nggon-sun uning, pêsareyan warna endah, pantês lawan kang ndarbeni, warna ayu awiraga, bisa têmên ngrakit-ngrakit.

Bahkan hiasan Sri Kumendhung, baru kali ini aku melihatnya, ditambah tempat tidur yang sangat indah, sesuai benar dengan pemiliknya, sangat cantik dan sangat menarik, sungguh pandai sekali kamu menatanya.

35. Baya sungkan yen sun kondur, marang nagari Matawis, kacaryan uningeng pura, cacatira mung sawiji, purendah tan nganggo priya, yen darbeya kakung becik.

Menjadi malas aku untuk pulang, ke negeri Mataram, terpesona setelah menyaksikan istana, tapi kekuranganmu hanya satu, istana seindah ini tiada seorang pria-pun yang mendampingimu, apabila memiliki seorang pria pendamping itu lebih bagus lagi.

36. Wanodyane dhasar ayu, imbang kakunge kang pêkik, kêng runtut bisa mong garwa, wanodyane bêkti laki, tur drêman asugih putra, Senapati den pleroki.

Seorang wanita yang cantik, seharusnya didampingi oleh laki-laki yang tampan, yang setia dan bisa membimbing seorang istri, sedang sang wanita patuh kepada suami, dan suka memiliki banyak anak, (Panembahan) Senopati dilirik tajam dengan lirikan manja.

37. Dyah merang lênggah tumungkul, sarwi mesêm turira ris, Sae botên mawi priya, mindhak pintên tyang akrami, eca mung momong sarira, botên wontên kang ngrêgoni.

(Sang) Dyah lantas sengaja duduk dengan menundukkan kepala, sembari tersenyum ujarnya lembut, Lebih baik tidak ada lelaki, apa keuntungannya menikah? Lebih enak merawat diri sendiri, tidak ada yang membuat kerepotan.

38. Eca sare glundhang-glundhung, neng tilam mung lawan guling, lan tan ngronkên keng ladosan, Senapati mesêm angling, Bênêr yayi ujarira, enak lamban sira yayi.

Lebih enak tidur bergulingan, diatas ranjang dengan hanya ditemani guling, dan tidak harus dilayani melayani siapapun, (Panembahan) Senapati tersenyum dan berkata, Benar Yayi (dinda) apa yang kamu katakan, memang lebih enak sendirian.

39. Mung gawoke Nimas ingsun, na wong ledhang aneng gisik, tur priya kawêlas arsa, lagya rêna wrin ing jladri, semang ginandheng pinêksa, kinon kampir mring jro puri.

Hanya yang membuat aku menjadi heran oh Nimas, ada seorang yang tengah sendirian ditepi pantai, seorang lelaki yang sangat menghiba hati, tengah berjalan menghibur diri dipinggir pantai, malahan digandeng dengan paksa, dibawa mampir ke dalam istana.

40. Jêng Ratu kêpraneng wuwus, merang tyas wêtareng lungit, kakung ciniwêl lambungnya, mlerok mesêm datan angling, Senapati tyasnya trustha, wusana ngandika aris.

Jeng Ratu (Kidul) terpana malu mendengar ucapan tersebut, benar-benar mengena dihatinya, seketika dicubitnya sang pria (Panembahan Senopati), melirik manja sembari tersenyum dan tak dapat berkata apa-apa, (Panembahan) Senopati terpikat hatinya, lantas berucap lirih.

41. Ya sun pajar mirah ingsun, nggon sun praptaneng jêladri, labêt sun anandhang gêrah, alama tan antuk jampi, kaya paran saratira, usadane lara brangti.

Lebih gampangnya oh permata hatiku, kedatanganku di tengah samudera ini, karena aku tengah menderita sakit, sudah lama tak mendapatkan obat, bagaimana caranya, mengobati sakit cinta?

42. Midêr ing rat nggon sun ngruruh, kang dadi usadeng kingkin, tan lyan mung andika mirah, pantês yen dhukun prêmati, bisa mbirat lara brangta, tulus asih marang mami.

Berkeliling dunia aku telah berusaha, mencari obat penyembuh, tiada lain hanya engkau oh permataku, yang pantas disebut sang tabib, karena mampu mengobati sakit cintaku, dengan kasih tulusmu kepadaku.

43. Sang Dyah maleruk tumungkul, uning lungit Senapati, nging tansah ngewani priya, mangkana usik Sang Dewi, Wong iki mung lamis ujar, sun batanga nora slisir

Sang Dyah sengaja cemberut, tahu maksud (Panembahan) Senapati, tahu watak laki-laki yang suka berbohong merayu, dalam hati Sang Dewi berkata, Ini orang hanya bermanis-manis dimulut saja, perkiraanku pasti tidak salah.

44. Minta tamba ujaripun, pan dudu lara sayêkti, lara arsa madêg Nata, ewuh mungsuh guru darmi, wus pêrsasat ingkang yoga, kang amêngku Pajang nagri.

Meminta obat katanya? Padahal bukan sakit cinta maksud dia sesungguhnya, tapi sakit karena berkeinginan besar untuk menjadi seorang Raja, segan karena harus berhadapan dengan orang tua (angkat), yang sudah menganggap dirinya bagai anak sendiri, yaitu dia penguasa negara Pajang.

45. Wusana dyah matur kakung, Kirang punapa Sang Pêkik, kang pilênggah ing Mataram, lêlana prapteng jêladri, tan sagêd lun sung usada, nggih dhatêng kêng gêrah galih.

Akhirnya (Sang) Dyah berkata, Apa kekurangan dari Sang Tampan, yang duduk di Mataram, sehingga harus berkelana ditepian samudera, tidak bisa aku memberikan obat penyembuh, kepada yang tengah sakit hatinya.

46. Yêkti amba dede dhukun, api wuyung ingkang galih, mangsi dhatênga palastra, tur badhe nalendra luwih, kang amêngku tanah Jawa, keringan samining Aji.

Sungguh saya bukan dukun, api cinta dalam hati, tidak akan menyebabkan kematian bukan? Bukankah (engkau kangmas) bakal menjadi Raja yang besar, yang menguasai tanah Jawa, ditakuti oleh sesama Aji (Raja).

47. Kang pilênggah ing Matarum, mangsi kirangana putri, ingkang sami yu utama, kawula estri punapi, sumêdya lun mung pawongan, yen kanggea ingkang cêthi.

Sang penguasa Mataram, masa kekurangan wanita, yang cantik-cantik? Para kawula wanita yang seperti apapun, bersedia memasrahkan diri, jika memang (kangmas) inginkan.

48. De sêlamen lamban ulun, kêpengin kinayan nglaki, kang tuk bulu bêkti praja, labêt blilu tyang pawestri, tan wigya mangenggar priya, labêt karibêtan tapih.

Selama ini dalam kesendirian saya, memang ingin memiliki seorang suami, yang bisa membantu mengabdikan diri kepada kerajaan, bagaimanapun juga pengabdian seorang wanita sebagai Ratu, tak akan mampu menyamai seorang pria, karena terjerat oleh kemben busana kewanitaannya (terbatas karena kodrat kewanitaannya).

49. Lamun kanggeya wak ulun, kalilan among anyêthi, ngladosi Gusti Mataram, wau ta Sang Senapati, sarêng myarsa sabdeng Sang Dyah, kêmanisan dennya angling.

Namun apabila memang hamba dibutuhkan, serta hamba diijinkan mendampingi, maka saya rela melayani Gusti (Penguasa) dari Mataram, demikianlah Sang (Panembahan) Senapati, begitu mendengar sabda Sang Dyah, yang sangat-sangat manis tersebut.

50. Saya tan dêraneng kayun, asteng Dyah cinandhak ririh, Sang Rêtna sêndhu turira, Dhuh Pangeran mangke sakit, kadar ta arsa punapa, srita-sritu nyêpêng driji.

Semakin tak bisa menahan hasrat, digenggamnya tangan (Sang) Dyah dengan lembut, Sang Ratna (Intan) berkata sendu, Aduh sakit Pangeran, apa sih maunya, menggenggam jari jemari hamba?

51. Asta kelor driji ulun, yen putung sintên nglintoni, nadyan Wong Agung Mataram, mangsi sagêd karya driji, kakung mesêm lon dêlingnya, Dhuh wong ayu sampun runtik.

Jari jemari hamba kecil dan rapuh bagai daun kelor, kalau sampai putus siapa yang akan mengganti, walaupun Manusia Agung dari Mataram, tidak akan mungkin bisa menciptakan jari-jemari, sang pria (Panembahan Senopati) tersenyum pelan bisiknya, Jangan marah cantik.

52. Nggon sun nyêpêngasteng masku, yayi aja salah tampi, mung yun uning sotyanira, Dyah Narpa nglingira aris, Yen têmên nggen uning sotya, king têbih andene keksi.

Aku menggenggam tanganmu, jangan salah sangka, hanya ingin melihat cincin yang kamu kenakan, Ratu Dyah berkata lirih, Kalau memang hanya ingin melihat cincin yang hamba kenakan, dari kejauhan sebetulnya bisa kan?

53. Yêkti dora arsanipun, sandinya angasta driji, yêktine mangarah prana, kêtareng gêtêr ing galih, dene durung mangga karsa, paring jangji sih mring cêthi.

Pasti (kangmas) berbohong, hanya berpura-pura menggenggam jari, padahal menginginkan sesuatu yang lain, terlihat jelas gemetaran, sebelum terlanjur jauh, berikanlah hamba janji cinta yang bisa meyakinkan hamba.

54. Kakung mesêm sarwi ngungrum, swara rum mangênyut galih, Narpaning Dyah wus kagiwang, mring kakung asihnya kêngis, esêmnya mranani priya, Senapati trênyuh galih.

Sang pria (Panembahan Senopati) tersenyum lantas bernyanyi, suaranya merayu merdu menghanyutkan hati, Ratu Wanita terpikat, kepada sang pria (Panembahan Senopati) cintanya meluap, senyum manisnya memabukkan, (Panembahan) Senopati luluh hatinya.

55. Narpaning Dyah lon sinambut, pinangku ngras kang pênapi, Sang Dyah tan lêngganeng karsa, labêt wus katujweng galih, jalma-jalma dera ngantya, pangajapan mangke panggih,

Ratu Wanita ditarik lembut, dipangku dengan mesranya, Sang Dyah tidak menolak, apa yang diinginkan hati (Panembahan Senopati), hasrat alami seluruh makhluk, yang diimpikan sekarang terwujud.

56. Lan titisnya Sang Hyang Wiku, kang mêngkoni ngrat sêkalir, Senapati nir wikara, karênan mring Narpa Dewi, tansah liniling ngêmbanan, de lir ndulu golek gadhing.

Bagaikan keinginan Sang Hyang Wiku, yang menguasai seluruh alam, begitulah (Panembahan) Senopati tiada yang bisa menghalangi kehendaknya, terhanyun kecantikan Ratu Wanita, terus ditatapnya dia yang ada dipangkuan, bagai melihat boneka cantik yang indah.

57. Binêkta manjing jinêm rum, tinangkêban ponang samir, kakung ndhatêngaken karsa, datansah brêmara sari, mrih kilang mêkaring puspa, kang neng madya kuncup gadhing.

Dibopong menuju ketempat tidur, ditutuplah kelambu, sang pria (Panembahan Senopati) melepaskan hasrat, bagaikan kumbang, yang menikmati bunga yang tengah mekar, menikmati sari yang berada ditengah kuncup kelopak bunga gading.

58. Jim Prayangan miwah Lêmbut, neng jrambah sami mangintip, mring Gusti nggen awor raras, kapyarsa pating kalêsik, duk Sang Dyah katameng sara, ngrêrintih sambate lalis.

Jin Perayangan dan Makhluk halus, diluar berebut ingin mengintip, ingin melihat Gusti-nya yang tengah memadu hati, terdengar suara mereka berbisik berisik, ketika Sang Dyah terkena senjata, tak terasa merintih mengaduh lirih.

59. Kagyat katemben pulang yun, Sang Dyah duk senanira nir, nggeladrah rempu ning tilam, ukel sosrah njrah kang sari, kongas ganda mrik mangambar, bedhahe Pura Jeladri.

Terkejut kesakitan manakala tertimpa hasrat, Sang Dyah pecahlah mahkotanya, menyemburat membasahi tempat tidur, berpautan erat jatuhlah sari-sari kenikmatan, tercium bau wangi membersit, mengiringi pecahnya mahkota penguasa istana samudera.

60. Dyah ngalintreg neng tilam rum, jwala nglong kerkatira nir, Senapati wlas tumingal, Sang Dyah lin sinambut ririh, sinucen dhateng patirtan, wusira gya lenggah kalih.

Maka terbaring lemaslah (Sang) Dyah diatas ranjang wangi, seolah tanpa kekuatan, (Panembahan) Senopati iba melihatnya, dipeluknya Sang Dyah, dibopong menuju tempat mandi, sehabis mandi keduanya duduk berdampingan.

61. Dyah sareyan pangkyan kakung, tan pegad dipun-arasi, mring kakung Sang Senapatya, nyengkah ngeses Sang Retna Di, raket sih kalihnya sama, penuh langen ngasmara di.

(Sang) Dyah tiduran diatas pangkuan sang pria (Panembahan Senopati), tiada henti-henti terus dicium, oleh sang pria (Panembahan) Senopati, mengerang mendesis Sang Retna Adi ( Sang Intan yang indah), berpelukan erat keduanya, dipenuhi kenikmatan asmara yang indah.

62. Cinendhak rengganing kidung, pasihane sang akalih, dugi ngantya sapta dina, Senapati neng jeladri, ing mangke arsa kondura, marang prajanya Matawis.

Singkat diceritakan, kedua insan yang tengah memadu hasrat, hingga sampai tujuh hari, keberadaan (Panembahan) Senapati didalam samudera, genap tujuh hari berkehendak untuk pulang, kembali ke negara Mataram.

63. Kakung nabda winor rungrum, Dhuh mas mirah ingsun Gusti, ya sira kariya arja, ingsun kondur mring Matawis, wus lama aneng samodra, mesthi sun diarsi-arsi,

Sang Pria (Panembahan Senopati) bersabda dengan berat hati, Aduh Gusti (Ayu) emas merahku, semoga kamu senantiasa bahagia, aku pamit hendak pulang ke Mataram, sudah terlampau lama berada di (istana) samudera, pastilah aku dinanti-nantikan.

64. Marang wadyengsun Matarum, wus dangu tugur ing nagri, Narapaning Dyah sareng myarsa, yen kakung mit kondur nagri, sekala manca udrasa, druwaya badra dres mijil.

Oleh rakyatku di Mataram, sudah lama menjaga negeri sendirian (tanpa ditemani Raja-nya), Ratu Wanita begitu mendengar, bahwa Sang Pria (Panembahan Senopati) berpamitan hendak pulang ke negerinya, seketika meluap kesedihannya, air matanya keluar deras.

65. Dereng dugi onengipun, mring kakung kemangganing sih, alon lengser sangking pangkyan, udrasa sret dennya angling, Kaya mengkono rasanya, wong tresna den timbangi.

Belum puas hasrat hati, kepada Sang Pria yang dicintainya, segera beranjak pelan dari pangkuan, berat dia berkata, Betapa indah rasanya, apabila cinta bisa berimbang saling memberi.

66. Kaya timbang tresnaingsun, yen sun bisa nyaput pranti, myang nguja sakarsanira, mesthi kanggo nggon sun nyethi, kakung uning wus kadriya, mring udrasa Sang Retna Di.

Cinta ini akan terasa lebih sempurna, apabila aku bisa memenuhi, dan memberikan apapun yang dikehendaki kangmas, pasti akan berguna apabila aku bisa membantu, Sang Pria (Panembahan Senopati) menyadari apabila (Sang Ratu Kidul) tengah berniat dalam hati untuk membantunya, hal itu tampak dari ucapan Sang Retna Adi (Sang Intan yang Indah.


67. Lon ngudhar paningsetipun, cindhe puspa pinrada di, Dyah sinambut gya ingemban, binekta mider kuliling, marang kebon petamanan, kinidung ing pamijil.

Pelan-pelan melepas kain setagen (kain pengikat kemben), berhias bunga-bunga emas, (Sang) Dyah segera dipeluk, dibawa berkeliling, menikmati indahnya taman, sembari terlantun kidung Mijil.
______________________________________
Damar Shashangka: BABAD TANAH JAWA (1)
==================================


Sujudku pada Maha Pertapa, ............nan Suci tanpa noda
Sujudku pada Dhamma nan Mulia, yang telah dibabarkan dengan sempurna
Sujudku pada Sangha nan Agung yang ber-Sila dan ber-Pandangan Suci
Sujudku pada Sang Tiratana, yang Mulia berkahnya dengan ‘aum’
Sujudku pada Tiratana, yang telah bebas dari kekejaman.
Dengan kekuatan sujudku ini, semoga semua gangguan lenyap.
Dengan kekuatan sujudku ini, semoga semuanya sejahtera.
Dengan kekuatan sujudku ini, semoga saya sukses adanya.
Berkat kekuatan Sang Tiratana
Berkat keampuhan sang Tiratana
Semoga penderitaan, penyakit, bahaya, permusuhan
Kesedihan, malapetaka, bencana dan kesukaran
Serta segala macam rintangan
Semua lenyap tanpa sisa
Kejayaan, keberhasilan, kekayaan, keuntungan
Keselamatan, kemujuran, kebahagiaan, kekuatan
Kemakmuran, panjang usia, kecantikan
Kesejahteraan dan kemashuran, semoga bertambah
Dan panjang usia seratus tahun
Semoga keberhasilan dalam penghidupan menjadi milik anda
Semoga semua berkah ada pada anda
Semoga para dewa melindungi
Dengan kekuatan semua Alam
Semoga kesejahteraan ada pada anda 
 http://kivandanu.blogspot.com/

“Ya iku tengeranira, Nayagenggong bali mring tanah Jawi, anggawa momonganipun, mata siji kang wignya, wani lungguh anjajari maring ingsun, tan wruh asal sobat kenal, yen nakal binuwang tebih. Tyasira angkara murka, kumet loma krenah pitenah dadi, dana kawruh dana laku, mrih arja tanah Jawa. Wong Jawa ganti agama, akeh tinggal agama Islam benjing, aganti agama kawruh.” - Dharmo Gandhul.
 

Sabdo Palon sangat kecewa Damarwulan meninggalkan agama lamanya, karena itu ia berkata, "Sekarang saya pamit, paduka. Tapi 2000 tahun lagi saya kembali." Lalu Sabdo Palon berkata, "Baik, jika nanti ada pemuda jawa yang sudah lupa jawanya, memakai nama tua, dan suka memberitahu penduduk jawa benar salahnya sesuatu, itulah yang akan diasuh." 2000 tahun kemudian, Damarwulan yang lahir kembali di bumi mekkah dengan nama mesir tua En Sabah Nur, kembali diasuh oleh Sabdo Palon dan Naya Genggong.
Uga Wangsit Siliwangi: "Anak Gembala muncul di daerah yang ribut-ribut karena mempertengkarkan tanah yang menjadi masalah senusantara, mengundang pemuda gendut Gus Dur untuk memimpin referendum disana." menunjukkan asal dari Satria Pinandhita.
Tapi dikatakan juga di ramalan Jayabaya bahwa bukan semua orang bumi mekkah mendapat kesempatan menjadi Satria Pinandhita, melainkan cuma satu orang saja dengan ciri-ciri tabiat: "aja kleru pandhita samudra, larinen pandhita asenjata trisula veda, senenge anggoda anjejaluk cara nista. sing mbregadul musti mati, ora tuwo enom pada dene bayi." yang menunjukkan tabiat Satria Pinandhita sebagai Pandhita Laku Raksasa.
Jatidiri Satria Pinandhita digambarkan sebagai berikut, "Hiya iku putrane batara indra kang pembayun. Nganggo simbol ratu tanpa mahkota, bisa nyembadani ruwet rentenging wong sak pirang-pirang sing padha nyembah reca dhaplang." Terjemahannya adalah: "Itulah putra sulung Yahweh, memakai logo Israel di lengannya, bisa membantu kesulitan banyak orang beragama kristen."

Dalam babon kraton yogya disebutkan lebih jelas akan jatidiri Satria Pinandhita, "Timbuling ratu adil hiya iku kanjeng nabi isa buddha wekasan, akedaton tengah-tengahing bumi mataram jumeneng satria pinandhita kasbut sultan herucakra." - Babon Kraton Yogya.

("Ratu adil itu ya Nabi Isa yang kelak setelah mati di bumi hidup disurga lahirlagi dibumi jutaan tahun lagi sebagai Metteya Buddha yang akan mengambil tubuh Buddhanya di surga saat dewasa, rumahnya di tengahYogya, bernama satria pinandhita disebut juga Sultan Herucakra.")

Tapi Satria Pinandhita tidak lama berada di Yogya karena selanjutnya ia pindah ke Jawa Barat, daerah Lebak Cawene. Setelah lama tinggal di Jawa Barat, barulah Satria Pinandhita pindah ke Ngawi, disebuah wilayah yang sekarang masih hutan, di bawah Gunung Lawu, di sebelah Sungai Brantas. Dari situ barulah ia membangun lagi istana yang lain di Jerusalem diatas bukit Zion. Sehingga dikatakanlah bahwa istananya itu ada 2, yaitu satu di Jawa dan satu lagi di Arab. Ini karena setelah kematian Imam Mahdi phase I, ia diangkat oleh seluruh rakyat Arab sebagai Imam Mahdi phase II. Kejadian itu masih lama akan terjadi karena sampai sekarang Imam Mahdi masih belum lahir di Arab, begitupula Pemuda Bani Tamim.

Di Jawa Barat, ramai pemuda pun mendaftarkan diri mereka menjadi anggota COBRA, yang mendukung Ratu Adil. Kelak pasukan elit ini akan dilanjutkan dengan terbentuknya CIF (Ceylon Imperial Forces) yang menggantikan nama lama yaitu TNI.

Ada dua makhluk terkuat saat ini di dunia:
1. Lord Kalki.
Lahir di india, dikirim ke shambala setelah dewasa, ahli dalam mesin dan senjata. Dan menyukai seni perang.
2. Lord Mahavatar.
Lahir di daerah bumimekkah Indonesia, diubah tubuhnya oleh Lord Kalki setelah dewasa, ahli dalam agama, menyukai seni musik.

Hal ini samaseperti dulu dimana saat Wild Bill terbagi 2, Hitler tidak mampu belajar ilmugaib, karena bagian ilmugaib ada di Yogananda. Sebagai gantinya Hitler ahli dalam persenjataan bahkan membuat UFO dan mecha (robot raksasa) yang keduanya ada fotonya.
Kelak di Timur Tengah pada akhirnya keduanya kembali bergabung menjadi satu tubuh Nabi Isa yang disebut Kalki Avatar.
Saat dimana Lord Mahavatar kekurangan energy matahari, ia memecah tubuhnya jadi banyak sekali, dan berganti memakai kekuatan listrik dari ayahnya Yahweh (Indra).
Ra adalah ayah Lord Mahavatar, Indra juga ayah Lord Mahavatar. Karena itulah di perang kurusetra saat berhadapan dengan Arjuna, awan hitam melingkupi keduanya, bukan cuma Arjuna. Cuma saja untuk Lord Mahavatar ditambah sinar mentari menyorot wajahnya.
Tujuan Dewa Indra adalah agar Karna lahir jadi Parikesit dan mendapat Hastinapura.
Kalau Karna memenangkan perang, ia tidak dapat tahta karena rajanya tetap Duryudhana (skr Anand Khrisna).
Dalam satu kesempatan, Yogananda mengatakan “saya dulu hidup sebagai arjuna”. Itu adalah satu kesilapan dari sang guru. Ia mungkin hidup sebagai arjuna tapi arjunasasrabahu. bukan arjuna.
Saya rasa kita harus melihatnya sebagai sosok guru yoga tapi bukan sumber kebenaran karena setiap orang bisa salah, kecuali ia sudah jadi Buddha.

Ki Ageng Pandan Arang adalah bupati pertama Semarang. Sepeninggal Ki Ageng Pandan Arang, putranya, Pangeran Mangkubumi, menggantikannya sebagai bupati Semarang kedua. Alkisah, ia menjalankan pemerintahan dengan baik dan selalu patuh dengan ajaran – ajaran Islam seperti halnya mendiang ayahnya. Namun lama-kelamaan terjadilah perubahan. Ia yang dulunya sangat baik itu menjadi semakin pudar. Tugas-tugas pemerintahan sering pula dilalaikan, begitu pula mengenai perawatan pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah.Sultan Demak Bintara, yang mengetahui hal ini, lalu mengutus Sunan Kalijaga dari Kadilangu, Demak, untuk menyadarkannya. Terdapat variasi cerita menurut beberapa babad tentang bagaimana Sunan Kalijaga menyadarkan sang bupati. Namun, pada akhirnya, sang bupati menyadari kelalaiannya, dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan duniawi dan menyerahkan kekuasaan Semarang kepada adiknya.Pangeran Mangkubumi kemudian berpindah ke selatan (entah karena diperintah sultan Demak Bintara ataupun atas kemauan sendiri, sumber-sumber saling berbeda versi), didampingi isterinya, melalui daerah yang sekarang dinamakan Salatiga, Boyolali, Mojosongo, Sela Gringging dan Wedi, menurut suatu babad. Konon sang pangeran inilah yang memberi nama tempat-tempat itu). Ia lalu menetap di Tembayat, yang sekarang bernama Bayat, Klaten, dan menyiarkan Islam dari sana kepada para pertapa dan pendeta di sekitarnya. Karena kesaktiannya ia mampu meyakinkan mereka untuk memeluk agama Islam. Oleh karena itu ia disebut sebagai Sunan Tembayat atau Sunan Bayat.Begitulah kisahnya. Disebutkan bahwa lokasi Ratu Amisan tadi di dekat Gunung Perahu, ada yang mengartikan gunung perahu itu adalah Tangkuban Perahu di Jawa Barat ada juga yang mengartikan Gunung Perahu di Dieng. Kemudian banyak dari para pencari Ratu Adil/Ratu Amisan, mengatakan bahwa “Semarang Tembayat” adalah di Semarang Bagian Barat Daya. Ada yang mengartikan itu adalah daerah di dekat Gunung Perahu di Pegunungan Dieng. Ada yang mencoba mengartikan tempat yang dimaksut adalah di Jabalkat, Bayat, Klaten tempat kuburan dari Sunan Bayat tapi kemudian menganulirnya karena menganggap Klaten sangat jauh dari Gunung Perahu.

“Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.” Begitulah Prabu Joyoboyo tuliskan, artinya kita harus pecahkan dulu teka-teki “Semarang Tembayat” ini. Dalam cerita Sunan Bayat tadi disebutkan bahwa beliau berjalan/pindah dari Semarang ke Bayat memenuhi perintah Sunan Kalijaga. Kemudian beliau meninggal dan dikuburkan di Bukit Jabalkat, Bayat, Klaten. Tapi di Klaten tidak kita temui Gunung Perahu, yang kita temui Cuma bukit-bukit saja. Hmmm... coba kita cari lebih giat lagi. Coba kita googling “Bayat Klaten Perahu”, maka kita akan terkejut, bahwa di Klaten ada miniatur kembaran Gunung Tangkuban Perahu yang bernama Watu Prau (Batu Perahu).

Di watuprau ini terdapat fosil-fosil dan bermacam-macam batuan, diantaranya adalah Fosil Kece (Kerang Sungai), menurut orang sekitar fosil kerang sungai yang mirip uang logam tersebut adalah uang dari Joko Tuo tadi yang membatu bersama perahu yang ditendangnya kemudian terbalik.Sekarang Watu Prau menjadi milik Fakultas Geologi UGM yang digunakan sebagai sarana penilitian. Diatas Watu Prau telah ada lobang bor guna mengambil sampel isi batuan tadi. Menurut kabar, Watu Prau ini batuan yang usianya sangat tua dan mengandung mineral dan fosil yang menarik untuk diteliti, bahkan dari Luar Negeri pun ikut melakukan penelitian. Tapi belum ada hasil penelitian yang di publish atas Watu Prau ini. Kalau melihat bahwa ada Fosil Kerang Sungai di Watu Prau maka bisa diambil kesimpulan sementara bahwa dulu disitu adalah bekas aliran sungai.Mencari Tempuran (Pertemuan 2 Sungai)Coba kita cari pertemuan 2 sungai (tempuran) di Klaten, kita dapatkan pertemuan sungai Bengawan Solo dan Kali Dengkeng, tepatnya di Desa Serenan, Kecamatan Juwiring, Klaten. Kok, agak jauh dari Bayat. Coba kita cari lagi. Sekarang kita coba dengan Wikimapia.org untuk mencari tempuran di Klaten, setelah kita pelototi peta Klaten akhirnya dapat juga “tempuran”. Ada nama Dukuh Tempuran Kulon dan Tempuran Wetan di Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Kab. Gunung Kidul. Dukuh Tempuran terletak di sebelah selatan Bayat, Klaten dan jaraknya cukup dekat. Silahkan lihat di Google Earth. Tapi cukup bingung juga, di Dusun Tempuran tadi, lewat Google tidak kita temukan pertemuan 2 sungai (tempuran). Banyak tempat di Jawa yang bernama tempuran, dan diberi nama itu karena lokasinya dekat dengan pertemuan 2 sungai. Tempuran sendiri berarti bertemunya/bertempurnya arus 2 sungai. Maka bisa kita ambil kesimpulan bahwa nama Dusun Tempuran tadi punya sejarah, kemungkinan besar dulu tempat tersebut adalah pertemuan 2 sungai yang sekarang sudah mengering atau tertibun. Ingat Watu Prau yang ada fosil Kerang Sungai tadi? Berarti disitu dulu pernah ada sebuah sungai yang sekarang kering/tertimbun.Kita lanjutkan petualangan kita dengan wikimapia.org, setelah bayat dan tempuran, coba kita geser ke barat daya sedikit. Disana ada Gunung Api Purba Nglanggeran. Letaknya di Patuk, Gunung Kidul. Gunung ini sudah tidak aktif lagi setelah dulu pernah meletus dahsyat. Menurut penelitian usianya lebih tua dari Merapi, bahkan waktu Gunung Nglanggeran masih aktif, Gunung Merapi belum ada. Dan sudah menjadi pengetahuan kita semua, bahwa Gunung Berapi dibawahnya mengalir sungai-sungai. Seperti Gunung Arjuno yang dibawahnya mengalir sungai arjuno, atau Kaligendol, Kali Code yang mengalir dari Gunung Merapi. Dusun Tempuran tadi berada di timur Gunung Api Purba Nglanggeran, jadi sangatlah mungkin bahwa dulu di Dusun tersebut mengalir sebuah sungai, bahkan 2 buah sungai sehingga terjadi pertemuan 2 sungai di dusun tadi. Setelah kita dapatkan hasil bahwa yang dimaksud Semarang Tembayat adalah Bayat Klaten dan Gunung Perahu adalah Watu Prau di Bayat Klaten serta Tempuran adalah Dusun Tempuran, Desa Kampung, Kec. Ngawen, Kab. Gunung Kidul, maka menurut tulisan Prabu Jayabaya tadi bahwa lokasi Ratu Amisan berada di Dekat Gunung Perahu sebelah Barat Tempuran, maka coba kita lihat ke barat lokasi tempuran, maka akan kita dapati Yogya. Ratu Amisan berarti dari Yogya.

Urutan gelar Brawijaya:Brawijaya I: Raden Wijaya (1292-1309 M)
Brawijaya II: Raden Damarwulan (1292-1309 M)
Brawijaya III: Prabu Kertawijaya (1447-1451 M)
Brawijaya IV: Prabhu Rajasawardhana (1451-1453 M)
Brawijaya V: Raden Kertabhumi (1453-1478 M)
Setelah dikejar-kejar anaknya yang masuk Islam, Brawijaya II moksa di Gunung Lawu, bersama dengan moksanya dua abdinya Semar dan Narada. Brawijaya II inilah yang saat ini hidup lagi di Yogyakarta.

Dalam Orbu atau Era Buddha yang akan menggantikan Orla dan Orba (orde reformasi tidak ada, cuma fiktif, karena tidak ada tokoh yang diakui), sp tidak akan memerintah sebagai parikesit. Apasebabnya? Karena parikesit itu cuma kepanjangan tangan pandawa, cuma akan meneruskan kebijakan pandawa. Tapi berhubung yudistira sendiri sudah menjadi seorang biksu maka dengan sendirinya saya tak akan memerintah sebagai parikesit tapi sebagai:
- Padmasambhava bagi orang buddhist.
- Jesus bagi orang kristen.
- Karna bagi orang hindu.
- Sultan Herucakra bagi orang ciwabuddha.
- Zhang San Feng bagi orang tao.
- En Sabah Nur bagi orang konghucu, karena sebagai diri saya sehari-hari, orang konghucu terlanjur mengenal saya sering berceramah ilmu agama new konghucu. Saya berkawan dengan nabi konghucu yang pernah hidup sebagai patih suwanda, marcopolo, dan john lennon.
Serat yasadipura “ing akhir jaman madeg raja parikesit” cuma menegaskan bahwa saya muncul, tapi bukan dalam pola pikiran saya sewaktu hidup sebagai parikesit dulu.

Agama saya tetap buddha, tapi kelak oleh orang konghucu saya dianggap telah memurnikan kembali konghucu, dalam bentuk baru yang modern dan kembali diminati karena memiliki jualan baru, seperti bisa mengcopy ilmu dsb.
Agama new konghucu ini pembuatnya bukan saya tapi nabi konghucu itu sendiri yang dijaman sekarang hidup sebagai anak indigo cina. itulah sebabnya kelak mereka itu mendukung saya, daridulu juga mendukung. “cina eling sihsih sabda hiya gidrang-gidrang.” (kaum cina teringat gurunya ratu adil, melompat menerima perintah ratu adil).

Ilmu beladiri memang ditentukan oleh agama yang beredar di sekitar daerah itu. Karena itulah hari ini saya telah menciptakan ilmu beladiri yang bernama Kungfu Prajnaparamita. Kungfu ini adalah beladiri dasar, tapi untuk menghadapi big boss musuh sudah saya persiapkan Kungfu Tapak Buddha yang baru akan saya pelajari besok.
sp adalah seorang bhikkhu, tapi kondisi membuat tubuhnya tiba-tiba diliputi armor perang. Hal itu membuat ia menjadi satria pinandhita, yaitu pendekar buddhist yang kawin.




Dulu setelah Prabu Jimbun tiba di Demak, para pengikutnya menyambutnya dengan gembira dan berpesta ria. Para santri bermain rebana dan berdzikir, mengucap syukur dan sangat gembira atas kemenangan mereka dan kepulangan Sang Prabu Jimbun atau Raden Patah. Sunan Bonang menyambut kepulangan Sang Prabu Jimbun. Sang Raja kemudian melaporkan kepada Sunan Bonang bahwa Majapahit telah jatuh, buku-buku agama Buddha sudah dibakari semua, serta melaporkan kalau ayahandanya dan Raden Gugur lolos. Patih Majapahit tewas di tengah peperangan, Putri Cempa sudah diajak menugungsi ke Bonang. Pasukan Majapahit yang sudah takhluk kemudian disuruh masuk Islam. Suanan Bonang mendengar laporan Sang Prabu Jimbun, tersenyum sambil mengangguk-angguk. Ia mengatakan peristiwa itu cocok dengan perkiraan batinnya.
Sang Prabu melaporkan bahwa ia telah mampir ke Ampeldenta (pesantren Ampel Gading) untuk menghadap Eyang Nyai Ageng Ampel. Kepada Eyang Nyai Ageng Ampel ia mengatakan kalau baru saja dari Majapahit, serta memohon izin bertahta menjadi raja tanah Jawa. Akan tetapi di Ampel ia malah dimarahi dan diumpat-umpat. Ia dikatakan tidak tahu membalas kebaikan Sang Prabu Brawijaya II. Akhirnya ia diperintahkan supaya mencari dan mohon ampun kepada ayahandanya. Semua kemarahan Nyai Ageng Ampel dilaporkan kepada Sunan Bonang.

Mendengar hal itu Sunan Bonang, dalam batin merasa menyesal dan bersalah karena khilaf akan kebaikan Prabu Brawijaya II. Tetapi karena gengsi dan sudah kepalang tanggung, rasa yang demikian tadi ditutupi dengan pura-pura menyalahkan Prabu Brawijaya dan Patih, karena tidak mau pindah agama Islam. Sunan Bonang mengatakan agar perintah Nyai Ageng Ampel tidak perlu dipikirkan benar, karena pertimbangan wanita itu pasti kurang sempurna, lebih baik penghancuran Majapahit dilanjutkan.
Jika Prabu Jimbun menuruti perintah Nyai Ampeldanta, Sunan Bonang lebih baik akan pulang ke Arab. Akhirnya Prabu Jimbun berjanji kepada Sunan Bonang untuk tidak menjalani perintah Nyai Ampel.

Sunan Bonang memerintahkan kepada Sang Prabu, jika ayahandanya memaksa pulang ke Majapahit, Sang Prabu diperintahkan menghadap dan meminta ampun akan semua kesalahannya. Akan tetapi bila beliau ingin bertahta lagi, jangan di tanah Jawa, karena pasti akan mengganggu orang yang pindah agama Islam. Ia disuruh bertahta di negara lain di luar Jawa.
Sunan Giri kemudian menyambung, agar tidak menganggu pengislaman Jawa, Prabu Brawijaya dan putranya lebih baik di tenung saja. Karena katanya terhadap orang kafir itu tidak ada dosanya. Sunan Bonang serta Prabu Jimbun sudah mengamini pendapat Sunan Giri yang demikian tadi.

Sementara itu Prabu Brawijaya II (Damarwulan) berjalan kaki melarikan diri bersama Sabdo Palon dan Naya Genggong. Setelah ketiganya moksha di Gunung Lawu, Damarwulan lahir kembali di Bumi Mekkah, dan dibawa kembali oleh Naya Genggong ke Pulau Jawa, untuk kembali menjadi raja.

Nomor Hoki