Senin

Bab 2: Surat dari Selatan

 

Bab 2: Surat dari Selatan

Malam yang Membawa Pesan

Malam menjejak di tanah perbatasan dengan keheningan yang hampir magis. Langit kelam berhiaskan taburan bintang yang tampak seperti titik-titik cahaya dari masa lalu, memantulkan kilau tipis yang menari di permukaan daun basah. Angin malam berhembus membawa aroma asin dari laut selatan, menyusup lembut di antara daun kelapa dan bambu yang berdesir, seakan bersenandung lirih untuk menenangkan bumi yang terjaga. Suasana itu membuat waktu terasa beku — dunia menahan napas, menunggu sesuatu yang akan terungkap. Daun-daun bergesekan satu sama lain, menciptakan bunyi lirih yang menambah kesunyian malam, sementara bayangan candi-candi yang jauh terlihat samar di kaki langit.

Danang duduk di lantai bambu yang dingin, dikelilingi tumpukan daun lontar yang menua. Pelita minyak berayun pelan di dekatnya, menciptakan bayang-bayang menari di dinding yang menambah nuansa misteri. Ia menata ulang lembaran-lembaran naskah tua milik ibunya, membaca catatan-catatan rapuh yang tak tersentuh selama bertahun-tahun. Bau kertas kuno yang bercampur aroma minyak pelita memenuhi hidungnya, membangkitkan nostalgia akan masa lalu yang tak pernah ia saksikan, namun terasa hidup melalui kata-kata tertulis.

Di antara naskah-naskah tua itu, satu lembaran menarik perhatiannya. Terlipat rapi, hanya terdapat bekas cap lilin nyaris pudar. Dengan tangan gemetar, Danang membuka perlahan, jantungnya berdebar antara takut kehilangan, rindu membara, dan harap yang menuntunnya dari jauh. Matanya menelusuri setiap huruf, seolah kata-kata itu menyimpan denyut hidup dari masa lalu.

Tinta hitam menyapa matanya dengan tegas, bergaya bangsawan lama. Di bagian awal tertulis:

“Untuk darahku yang akan tumbuh di bawah bayang matahari selatan…”

Detak jantung Danang meningkat. Setiap kata terasa hidup, seakan suara ayahnya membisik di telinga, memanggilnya melalui ruang dan waktu. Ia membaca perlahan:

“Aku, Arya Brata, menulis ini sebelum matahari tenggelam di medan perang terakhir. Jika surat ini sampai kepadamu, berarti garis darah kita belum padam. Dengarlah, anakku — di bawah reruntuhan Candi Rawa Geni, tersimpan Kitab Kala Jayantara. Jangan biarkan siapapun menemukannya sebelum kau memahami arti waktu dan keseimbangan. Karena kitab itu bukan untuk berkuasa, melainkan untuk menebus kesalahan masa lalu.”

Tangan Danang gemetar, matanya berkaca-kaca. Ia belum pernah mendengar nama Kitab Kala Jayantara sebelumnya, namun kata-kata ayahnya terasa seperti panggilan jauh yang tak bisa diabaikan. Ia menunduk, membayangkan ayahnya di medan perang, menghadapi takdir dan keputusan yang berat. Bayangan medan perang muncul: debu, teriakan, pedang bertabrakan, dan bendera berkibar di bawah langit yang kelam. Pandangannya kemudian menatap jendela ke arah selatan, di mana bulan memantulkan cahaya perak di atas laut tenang namun penuh misteri.

Nyi Ratmi duduk di sudut ruangan, memperhatikan setiap gerak tubuh dan ekspresi putranya. Dengan suara lembut yang hampir seperti doa, ia berkata:

“Ada hal-hal yang lebih tua dari kerajaan, Nak. Dan ayahmu... ia mencoba memperbaikinya, tapi gagal. Tak semua yang hilang bisa ditemukan lagi, tapi beberapa hal harus kau jaga dengan sepenuh hati.”

Danang menatap ibunya, menyerap kata-kata itu. Ada ketakutan yang membayang di matanya, namun keberanian perlahan tumbuh. Rasa penasaran yang selama ini ia pendam kini berubah menjadi tekad yang nyata.

“Jika benar kitab itu ada, aku harus menemukannya. Bukan untuk kekuasaan, tapi untuk tahu kebenaran mengapa semuanya runtuh. Aku harus memahami, bukan sekadar memiliki.”

Nyi Ratmi menunduk, air mata jatuh perlahan di atas daun lontar yang terbuka, meninggalkan bekas samar. Ia menggenggam tangan Danang sebentar, memberikan kekuatan yang tak terlihat. Malam itu lebih dari sekadar penemuan surat — itu awal perjalanan yang tak bisa dihindari, perjalanan yang akan membawa Danang ke sisi lain sejarah dan rahasia kerajaan.

Danang duduk diam, membiarkan setiap kata meresap ke dalam jiwanya. Ia membayangkan reruntuhan candi, arca yang retak, dan gema masa lalu yang tersembunyi di setiap sudut tanah Jawa. Angin selatan semakin kencang, menyingkap bau hujan jauh di laut. Dari kejauhan, terdengar gemuruh samar, seakan bumi memperingatkan: setiap kebenaran selalu menuntut harga yang harus dibayar.

Ia teringat kisah-kisah yang pernah diceritakan ibunya tentang leluhur dan perang yang memecah kerajaan. Setiap kisah terasa hidup malam itu, menyatu dengan bisikan angin dan bayangan di lantai bambu. Danang merasa menapak jejak ayahnya, seakan langkahnya membentuk gelombang menembus waktu.

Dengan napas dalam, Danang menutup surat sejenak dan menatap langit malam. Ia merasakan tanggung jawab menumpuk di pundaknya, menyadari surat itu bukan sekadar pesan ayah, tetapi amanah yang harus dibawa sendiri. Malam itu, tanah perbatasan menjadi saksi awal fajar baru yang akan menyinari nasibnya, dan nasib tanah Jawa.

Kesadaran Takdir

Danang menarik napas panjang, membiarkan suasana malam menyelimuti dirinya sepenuhnya. Ia menutup mata, membayangkan perjalanan panjang: reruntuhan yang harus ditelusuri, rahasia yang harus dijaga, dan keputusan yang akan menentukan nasib banyak jiwa. Ia membayangkan pertemuan-pertemuan yang mungkin ia hadapi, orang-orang yang membantunya, dan bahaya yang mengintai di balik bayangan. Dalam diam, ia menaruh surat itu di dekat hatinya, seakan merasakan kehadiran ayahnya yang membimbing dari jauh. Malam itu, bukan hanya tanah perbatasan yang bersaksi, tetapi juga jiwa seorang pemuda yang mulai menapaki jalan takdirnya.

Fajar dan Janji Baru

Seiring malam berganti fajar, cahaya lembut matahari menyapu ruangan. Pelita minyak yang tadi menari kini redup, digantikan sinar pagi yang hangat. Danang berdiri, wajahnya masih memerah karena tangisan dan kegembiraan yang campur aduk. Angin selatan membawa aroma laut dan tanah basah, memeluknya seolah memberi restu. Ia menatap langit yang perlahan terang, merasakan janji baru di setiap hembusan udara. Di dadanya, rasa takut, rindu, dan harap bercampur menjadi tekad yang membara. Ia menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar mencari kitab, tetapi memahami kebenaran masa lalu, dan menjaga warisan yang kelak menjadi penuntun bagi generasi baru. Setiap langkahnya kini terasa lebih berat, namun juga lebih bermakna — karena fajar ini bukan hanya menyinari langit, tetapi juga hati seorang pemuda yang siap menulis sejarahnya sendiri di tanah Jawa.

Akhir Bab: Janji Takdir

Danang menarik napas panjang, menatap horizon yang mulai terang. Rasa takut dan rindu bergabung menjadi tekad yang membara, membentuk janji pada dirinya sendiri: untuk menjaga warisan, menemukan kebenaran, dan melangkah ke masa depan yang belum ditulis. Di tanah perbatasan yang sunyi, fajar baru bukan hanya datang dari cahaya, tetapi dari hati seorang pemuda yang siap menapaki takdirnya. Setiap desiran angin, setiap cahaya pagi, dan setiap bisikan masa lalu menjadi saksi janji itu — janji yang akan menuntunnya pada perjalanan panjang menuju sejarah yang menanti di Candi Rawa Geni dan di seluruh tanah Jawa.

 

Sinopsis Bab 2: Surat dari Selatan

Bab ini menceritakan ketika Danang Aryasena menemukan surat lama dari ayahnya, Arya Brata, yang hilang dalam perang. Surat tersebut memuat petunjuk penting tentang rahasia besar kerajaan: keberadaan Kitab Kala Jayantara, kitab kuno yang diyakini mampu mengubah nasib negeri.

Dalam bab ini, pembaca melihat campuran emosi Danang—rasa rindu pada ayahnya, kekaguman terhadap warisan leluhur, dan dorongan untuk menemukan kebenaran. Bab ini memperkuat rasa ingin tahu Danang dan memulai motivasinya untuk menjelajahi sejarah tersembunyi kerajaan.

Selain itu, interaksi Danang dengan Nyi Ratmi menegaskan ikatan keluarga, memberikan konteks batin dan dukungan emosional saat ia menghadapi misteri yang baru terungkap. Bab ini menutup dengan ketegangan dan harapan, menandai awal perjalanan Danang menuju takdir yang lebih besar.

 

Bab 1: Rumah di Tanah Gersang

 

Bab 1: Rumah di Tanah Gersang

Fajar di Tanah Gersang

Mentari pagi perlahan naik di ufuk timur, memantulkan cahaya keemasan di atas tanah yang retak dan berdebu. Udara pagi yang dingin menyapu kulit dengan sensasi geli, sementara aroma tanah panas bercampur dengan embun yang menempel di rerumputan layu. Angin berhembus membawa debu dari ladang-ladang yang gagal panen, dan suara ranting patah di bawah kaki hewan liar terdengar samar. Wajah Danang Aryasena, seorang pemuda dengan mata tajam, tertimpa cahaya lembut, sementara bayangan pepohonan dan ilalang menari di tanah gersang. Gunung-gunung di kejauhan berdiri muram, seolah menyimpan rahasia masa lalu, menunggu cerita lama kembali terungkap. Suara jangkrik dan desis angin menambah nuansa sepi yang menusuk, sementara aroma kemenyan dari altar kecil yang terbengkalai di dekat rumah menyingkap sejarah panjang keluarga yang tinggal di sana.

Di tengah tanah gersang itu berdiri sebuah rumah bambu kecil. Atapnya dari ilalang, sebagian miring, dan dindingnya bolong di beberapa tempat. Dari celah-celahnya keluar aroma harum wedang jahe dan bunyi lembut tembang yang dinyanyikan perempuan tua, menenun masa lalu dengan masa kini dan menciptakan hangatnya suasana sederhana rumah itu. Bekas ukiran kayu yang pudar di kusen pintu menjadi saksi bisu leluhur yang hanya bisa dibaca oleh mata yang teliti.

Nyi Ratmi, perempuan berwajah teduh dengan rambut memutih di tepi pelipis, tengah menumbuk rempah di lesung kayu. Gerak tangannya ritmis, menandai aliran waktu yang perlahan. Suaranya lirih, seakan berbicara pada masa lalu, menuntun Danang melalui bisikan ilmu dan ingatan. Tangannya yang gemetar sesekali tersentuh keriput tetap menumbuk rempah dengan penuh kesabaran, menghadirkan aroma yang membangkitkan kenangan masa kecil Danang.

“Waktu itu seperti air sungai, Nak. Tak bisa ditahan, tapi bisa dibaca arusnya…”

Di sudut ruangan, Danang duduk bersila di depan tumpukan daun lontar. Sebatang pena bambu dan mangkuk tinta dari arang kelapa ada di tangannya. Ia menyalin naskah-naskah tua peninggalan leluhurnya, menyerap setiap kata seolah mendengar gema suara nenek moyangnya. Udara di sekitarnya penuh bau tinta dan kayu bakar dari tungku, membangkitkan perasaan nostalgia dan kewaspadaan.

Setiap guratan huruf menjadi jembatan antara masa kini dan silam. Ia menyalin bukan hanya untuk belajar, tetapi untuk memahami — mengapa kebesaran kerajaan bisa hancur, bagaimana rakyat hidup di antara puing-puing kejayaan, dan apa yang membuat sejarah tetap hidup. Setiap huruf terasa hidup, bergetar dengan energi yang tak bisa ia jelaskan, menyimpan rahasia yang menunggu saatnya terbuka.

“Ibu,” katanya pelan, “mengapa setiap naskah tua selalu berhenti di bagian yang sama? Tentang raja yang hilang, dan kitab yang disembunyikan?”

Nyi Ratmi berhenti menumbuk dan menatap keluar jendela bambu, ke arah timur di mana bayang-bayang candi tampak samar. Matanya menerawang, menembus kabut tipis yang menutupi tanah kering. Burung-burung pipit berkicau di pohon kering dekat rumah, menambah nuansa pagi yang hening namun penuh teka-teki.

“Karena beberapa rahasia, Nak… tak ditulis untuk dibaca, tapi untuk dijaga. Ada hal-hal yang lebih besar dari yang bisa kau pahami sekarang.”

Danang menunduk, hatinya bergetar. Ia tahu ibunya menyimpan sesuatu — tentang ayahnya, tentang kerajaan yang pernah jaya, dan mungkin tentang dirinya sendiri. Bayangan ayahnya yang hilang di medan perang menari di pikirannya, memunculkan rasa rindu dan ingin tahu yang membara. Detak jantungnya berpacu, seolah tanah dan naskah menunggu langkahnya selanjutnya.

Di luar, seekor burung gagak melintas, terbang rendah melawan angin yang membawa aroma tanah kering dan daun bergesekan. Langit abu-abu menandakan hujan yang belum datang. Suara gemerisik ilalang menimbulkan kesan alam menunggu sesuatu, seakan bersiap menyambut kisah yang akan dimulai. Dari kejauhan, aliran sungai terdengar samar, menambah lapisan kesunyian yang magis dan misterius.

Hari itu, seorang pemuda menyalakan api kecil dalam dirinya — api yang kelak akan mengubah nasib tanah Jawa. Danang menatap tumpukan naskah, membayangkan reruntuhan candi, pasukan yang pernah berperang, dan rahasia tersembunyi di balik sejarah. Setiap huruf yang ia tulis adalah langkah pertama menapaki jalan takdirnya, jalan yang akan menuntunnya melalui bayangan masa lalu menuju fajar baru di tanah Jawa. Setiap hembusan angin membawa pesan leluhur, membisikkan petunjuk yang harus ia ikuti.

Ia menarik napas dalam, merasakan aroma rempah dan debu menempel di kulitnya. Suara ibunya, aroma rumah, dan angin pagi membentuk simfoni kecil di hatinya. Dalam keheningan itu, Danang berjanji pada dirinya sendiri: ia akan mencari kebenaran, menjaga warisan leluhur, dan siap menghadapi rintangan di luar tanah gersang. Malam, siang, dan fajar yang perlahan naik menyatu dalam hatinya, membentuk tekad tak tergoyahkan.

Refleksi di Ambang Hari

Saat cahaya pagi semakin terang, Danang berdiri di depan rumah bambu. Matanya menatap jauh ke horizon, mengamati bayangan bukit dan pepohonan yang terbentang di tanah kering. Getaran halus di tanah seakan membisikkan sejarah yang memanggilnya. Setiap langkah kaki terasa penuh makna, dan setiap hembusan angin membawa janji petualangan yang menantinya. Suara hewan kecil berlari di ilalang dan aroma embun bercampur tanah basah menambah kesan kehidupan baru.

Ia menoleh ke ibunya, tersenyum lembut namun penuh harap. Nyi Ratmi mengangguk pelan, seolah menyadari bahwa putranya kini memegang kunci takdir yang lebih besar. Danang menutup mata sejenak, menarik napas panjang, dan membiarkan dirinya menyatu dengan tanah, langit, dan waktu. Malam telah pergi, fajar telah datang, dan sebuah cerita baru mulai menulis dirinya di hati seorang pemuda di tanah gersang Mataram. Kabut tipis menyelimuti ladang, embun menetes dari daun kering, dan aroma tanah basah bercampur rempah membuat udara pagi hidup. Cahaya matahari menembus celah atap rumah bambu, memantulkan bayangan lembut di dinding, seolah alam memberi salam dan janji petualangan yang menanti. Dari kejauhan, gemericik sungai berkelok di antara batu dan rumput tinggi terdengar, dan bayangan awan bergerak pelan di langit biru pucat, menambah nuansa tenang namun penuh misteri.

Akhir Bab: Janji Fajar Baru

Danang mengangkat kepalanya, menatap langit yang mulai cerah. Di dadanya, perasaan takut, rindu, dan harap bercampur menjadi tekad. Ia menyadari bahwa hari ini bukan sekadar awal baru, tetapi juga janji bahwa setiap langkahnya akan membimbingnya menuju takdir besar yang menunggu di tanah Jawa. Matahari yang memuncak di ufuk menandai fajar baru — bukan hanya di langit, tetapi juga dalam hati seorang pemuda yang siap menulis sejarahnya sendiri.

 

Sinopsis Bab 1: Rumah di Tanah Gersang

Bab ini memperkenalkan Danang Aryasena, seorang pemuda keturunan bangsawan Mataram yang dibesarkan di tengah rakyat jelata, dan ibunya, Nyi Ratmi. Mereka hidup sederhana di perbatasan tanah Gersang, menghadapi kemiskinan dan tantangan sehari-hari.

Danang digambarkan sebagai sosok bijak dan tekun belajar, dengan rasa ingin tahu yang besar terhadap naskah-naskah kuno peninggalan leluhurnya. Bab ini menekankan tanda-tanda kebesaran masa lalu yang muncul di sekelilingnya, baik melalui warisan leluhur maupun simbol-simbol kecil yang memicu rasa ingin tahu Danang.

Selain itu, interaksi Danang dengan ibunya memperkuat ikatan emosional mereka, sekaligus menegaskan latar belakang keluarga dan motivasi pribadi Danang. Bab ini menutup dengan nuansa reflektif, memberikan pembaca perasaan akan perjalanan panjang dan takdir yang menunggu sang tokoh utama.

 

Prolog: Bayang di Tanah Mataram

Prolog: Bayang di Tanah Mataram

Angin fajar berhembus lembut di atas dataran tinggi Mataram, membawa aroma basah dari tanah yang baru disiram embun. Kabut pagi bergulung perlahan dari lembah-lembah, menyingkap bayang candi-candi batu yang tegak seolah menahan napas zaman. Di antara reruntuhan patung dewa yang retak dan lumut yang menua, terdengar kidung tua dari arah selatan — nyanyian yang telah berusia ratusan tahun, menggema di udara yang dingin dan suci, menembus setiap celah waktu.

Pada masa itu, Jawa belum bersatu. Tiga kerajaan besar berdiri dalam keseimbangan rapuh, masing-masing menyimpan sisa kejayaan masa lalu dan luka-luka dari perang saudara yang tak pernah benar-benar usai. Istana Mataram, pusat kebijaksanaan dan kebesaran lama, kini dibayangi oleh perebutan kuasa, intrik politik, dan bisikan rahasia dari para patih dan pendeta.

Namun di tengah kemelut itu, di sebuah dusun terpencil di perbatasan selatan, hiduplah seorang pemuda bernama Danang Aryasena. Anak seorang perempuan desa, Nyi Ratmi, yang dahulu pernah menjadi selir istana. Di rumah bambu yang dikelilingi sawah kering dan pohon siwalan, Danang tumbuh sebagai anak yang tekun, berakal jernih, dan memiliki pandangan jauh melampaui usianya.

Sejak kecil, ia gemar membaca naskah-naskah tua yang disimpan ibunya dalam peti kayu — lembaran lontar yang menuturkan kisah raja-raja terdahulu, mantra rahasia, dan kitab-kitab kuno yang dipercaya dapat mengubah nasib dunia. Bagi rakyat, semua itu hanyalah legenda; bagi Danang, itu adalah panggilan masa depan yang membara dalam hatinya.

Setiap malam, ketika angin selatan membawa aroma laut, ia duduk di depan pelita minyak yang berayun perlahan, menatap langit penuh bintang. Rasa ingin tahunya membara: siapakah ayahnya yang hilang dalam perang, dan mengapa ibunya selalu menatap ke arah utara setiap kali nama Mataram disebut. Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah terjawab, namun memupuk tekad Danang untuk menemukan kebenaran sendiri.

Suatu pagi yang sunyi, sebelum matahari naik sepenuhnya, seekor burung gagak jatuh mati di depan rumahnya. Di paruhnya tergenggam sehelai daun lontar dengan tulisan tinta pudar:

“Bayang masa lalu belum selesai. Yang lahir dari abu akan menyalakan fajar baru.”

Danang menatap daun lontar itu dengan mata terbelalak. Rasa takut, penasaran, dan harap bercampur menjadi satu. Ia merasakan denyut sejarah yang memanggilnya, sebuah janji yang harus ia tepati. Hari itu, tanpa disadari, perjalanan panjang untuk mengungkap rahasia Kitab Kala Jayantara telah dimulai — sebuah perjalanan yang akan membawanya menembus reruntuhan masa lalu, menghadapi intrik kerajaan, dan menemukan takdir yang menanti di cakrawala tanah Jawa.

Sentuhan Akhir: Awal dari Takdir

Danang menarik napas panjang, merasakan angin fajar yang menyejukkan pipinya. Di kejauhan, bayang candi-candi seakan mengangguk menyambut langkah pertama pemuda itu. Ia menutup mata sejenak, meresapi pesan dari daun lontar, dan merasakan getaran takdir yang kini menjadi bagian dari dirinya. Fajar baru bukan hanya cahaya di langit, tetapi juga semangat yang lahir dari keberanian seorang anak desa untuk menapaki jalan yang belum pernah dilalui — jalan yang akan menuntunnya pada sejarah dan misteri Kitab Kala Jayantara.

Daftar Tokoh Utama dalam Kisah Fajar Baru di Kerajaan Jawa

 

Daftar Tokoh Utama dalam Kisah Fajar Baru di Kerajaan Jawa


🗡️ 1. Danang Aryasena

Tokoh utama cerita. Keturunan bangsawan Mataram yang dibesarkan di kalangan rakyat jelata. Sosok pemikir dan pejuang yang membawa semangat perubahan. Dikenal cerdas, tenang, dan memiliki bakat memimpin serta memahami ilmu purba peninggalan leluhur.


🌾 2. Ningrum Wening Dyah (Dyah Ningrum)

Istri Danang Aryasena. Awalnya gadis tabib dari desa yang memiliki pengetahuan tentang tanaman obat dan racikan jamu Jawa kuno. Cerdas, lembut, namun tegas dan berani membela kebenaran. Mewakili kebijaksanaan perempuan Jawa.


👑 3. Prabu Mahesa Rukmi

Kaisar Agung Kerajaan Jawa. Penguasa tua yang bijak namun dihantui masa lalu dan rahasia besar tentang perang saudara yang memecah kerajaan. Ia melihat potensi besar dalam diri Danang dan ingin menjadikannya penerus spiritual kerajaan.


⚔️ 4. Arya Raksa Adiningrat

Panglima muda dan sahabat lama Danang. Ia setia namun keras kepala. Dalam perjalanan cerita, ia terjebak dalam dilema antara kesetiaan pada tahta dan persahabatan.


🐍 5. Ki Samparangin

Penjaga angin kala — pertapa misterius yang menjaga ilmu larangan Mantra Kala Jayantara. Pernah menjadi tabib kerajaan, namun mengasingkan diri setelah mengetahui rahasia kelam kerajaan. Menjadi guru spiritual bagi Danang.


🔥 6. Dyah Rananta

Putri mahkota dari cabang keluarga kerajaan Panjalu. Cerdas, ambisius, dan ahli strategi. Awalnya menjadi lawan politik Danang, namun kemudian menjadi sekutunya dalam menyatukan tanah Jawa.


🌒 7. Rakryan Sura Wardhana

Adik Prabu Mahesa Rukmi yang haus kekuasaan. Ingin merebut tahta dengan menggunakan kekuatan ilmu hitam dan siasat politik. Ia menjadi simbol kegelapan dan kerakusan manusia.


🕯️ 8. Empu Kala Jayanegara

Empu tua yang menulis Kitab Kala Jayantara. Pemegang rahasia waktu dan pelindung naskah kuno. Dalam cerita, ajarannya menjadi kunci bagi Danang untuk memahami keseimbangan antara manusia dan alam.


🪶 9. Dewi Retna Sasmita

Ibunda Danang Aryasena. Dahulu selir istana yang melarikan diri untuk menyelamatkan anaknya dari perebutan kekuasaan. Ia menyimpan banyak rahasia tentang asal-usul Danang dan masa lalu kerajaan.


⚖️ 10. Raden Jayengpati

Putra Mahesa Rukmi dan pewaris tahta sah. Bersikap tenang dan penuh tanggung jawab, namun terperangkap dalam intrik politik istana. Menjadi sekutu Danang di masa akhir kisah.


🐉 11. Ki Pananggalan

Tabib istana yang menjadi pengikut setia Rakryan Sura Wardhana. Ahli racun dan wabah, bertanggung jawab atas penyebaran penyakit buatan yang hampir menghancurkan negeri.


🌿 12. Nyi Sulastri

Pelayan dan pengawal pribadi Dyah Ningrum. Juga seorang penyihir halus yang ahli membaca tanda-tanda alam. Menjadi saksi berbagai kejadian penting dan penyelamat diam-diam di balik layar.


🕊️ 13. Raden Saka dan Raden Jayantara

Putra-putra Danang dan Dyah Ningrum. Mewakili generasi baru Jawa yang tumbuh di masa damai dan kebangkitan. Jayantara, si bungsu, mewarisi kebijaksanaan Ki Samparangin dan menjadi simbol fajar baru kerajaan.


🌅 14. Prabu Arya Candrakirana

Kaisar muda di masa Epilog. Keturunan langsung Danang Aryasena yang memimpin Jawa ke zaman pencerahan dan penyatuan Nusantara.


Catatan:
Nama-nama tokoh dipilih berdasarkan inspirasi dari nama-nama kuno Jawa yang mencerminkan watak dan peran masing-masing karakter dalam kisah epik sejarah-fantasi ini.

KERANGKA BUKU: Fajar Baru di Kerajaan Jawa

 

KERANGKA BUKU: Fajar Baru di Kerajaan Jawa


Prolog: Bayang di Tanah Mataram

Sebuah pengantar epik yang menggambarkan Jawa di masa lampau ketika kerajaan besar mulai terpecah dan kekuatan lama bangkit dari reruntuhan. Muncul tokoh utama, Danang Aryasena, keturunan bangsawan yang dibesarkan di kalangan rakyat jelata.


BAGIAN I: Bayang di Balik Candi

Bab 1: Rumah di Tanah Gersang
Danang dan ibunya, Nyi Ratmi, hidup sederhana di perbatasan Mataram. Ia dikenal bijak dan tekun belajar, memiliki rasa ingin tahu tentang naskah-naskah kuno peninggalan leluhurnya. Di tengah kemiskinan, tanda-tanda kebesaran masa lalu tampak padanya.

Bab 2: Surat dari Selatan
Danang menemukan surat lama dari ayahnya, Arya Brata, yang hilang dalam perang. Surat itu berisi petunjuk tentang rahasia besar kerajaan: keberadaan Kitab Kala Jayantara, kitab kuno yang dipercaya dapat mengubah nasib negeri.

Bab 3: Panggilan Candi Rawa Geni
Bersama sahabat masa kecilnya, Larasati, Danang memutuskan pergi ke reruntuhan Candi Rawa Geni untuk mencari kebenaran. Di sana ia menemukan simbol rahasia dan suara-suara masa lalu yang menuntunnya ke jalan takdir.


BAGIAN II: Angin Perpecahan

Bab 4: Kongres Para Tetua
Para tetua kerajaan berkumpul di Balairung Agung untuk membahas masa depan Mataram. Danang diundang untuk memaparkan temuannya tentang Kitab Jayantara. Reaksi beragam muncul: sebagian menganggapnya ancaman, sebagian menganggapnya harapan.

Bab 5: Pertarungan di Balairung Agung
Kubu konservatif yang dipimpin Patih Wiradipa menentang Danang. Intrik politik pun muncul. Pertemuan itu berakhir dengan kekacauan ketika terjadi serangan misterius terhadap Dewan Tetua.

Bab 6: Api di Selatan
Danang dituduh sebagai dalang perpecahan dan menjadi buronan. Bersama Larasati, ia melarikan diri ke selatan menuju Kadipaten Wirabhumi, tempat asal ayahnya. Di perjalanan, ia mulai mempelajari isi naskah Kitab Jayantara.


BAGIAN III: Kitab Kala Jayantara

Bab 7: Penjaga Angin Kala
Danang bertemu dengan Ki Samparangin, penjaga naskah kuno yang memahami rahasia waktu. Ia mengajarkan Danang tentang Mantra Kala—ilmu untuk membaca masa lalu dan masa depan dari angin.

Bab 8: Mantra Larangan
Ki Samparangin memperingatkan bahwa Kitab Jayantara memiliki bagian terlarang: Mantra Mengulang Detik, yang dapat mengubah sejarah. Danang mulai tergoda untuk menggunakannya demi menyelamatkan rakyat.

Bab 9: Kebangkitan di Wirabhumi
Di Wirabhumi, Danang menemukan pasukan rahasia peninggalan ayahnya dan mulai membangun kekuatan rakyat. Namun pengaruh Patih Wiradipa makin kuat di istana, menekan rakyat dengan pajak dan ketakutan.


BAGIAN IV: Fajar Perlawanan

Bab 10: Pasukan Bayang Timur
Danang mengumpulkan para pemuda dari desa-desa untuk membentuk Pasukan Bayang Timur. Mereka berlatih siasat perang dan ilmu mantra untuk melawan penindasan kerajaan.

Bab 11: Penyerbuan ke Ibu Kota
Pasukan Bayang Timur menyerbu istana. Pertempuran besar terjadi antara rakyat dan pasukan istana. Dalam kekacauan itu, Danang berhadapan langsung dengan Patih Wiradipa.

Bab 12: Takhta yang Retak
Danang berhasil menggulingkan kekuasaan lama, namun menemukan bahwa rahasia Kitab Jayantara jauh lebih kelam: kitab itu adalah ciptaan leluhurnya yang pernah memecah belah tanah Jawa.


BAGIAN V: Fajar Baru

Bab 13: Raja Tanpa Mahkota
Danang menolak naik takhta dan menyerahkan kepemimpinan pada dewan rakyat. Ia percaya masa depan Jawa harus dibangun bersama, bukan dengan satu tangan.

Bab 14: Hujan di Candi Rawa Geni
Ia kembali ke tempat awal perjalanannya bersama Larasati. Di bawah hujan pertama setelah kemarau panjang, mereka menanam pohon baru sebagai lambang kehidupan baru.

Bab 15: Fajar Baru dan Generasi Baru
Tahun-tahun berlalu. Kerajaan Jawa memasuki masa damai. Anak-anak Danang dan Larasati tumbuh menjadi penerus bijak. Sementara di kejauhan, bayangan baru mulai menampakkan diri—sebuah isyarat bahwa sejarah akan selalu berulang, namun kini dengan kesadaran baru.


Epilog: Fajar Baru dan Generasi Baru Kerajaan Jawa

Cahaya fajar menyinari candi dan sawah. Angin membawa suara gamelan dari kejauhan. Di atas tanah yang dahulu penuh darah, kini tumbuh generasi baru yang mengenal makna sejati dari perjuangan: kesetiaan pada kebenaran dan cinta pada bumi tempat berpijak.

 

Minggu

visual audio kala jayantara

import { useEffect, useRef } from "react"; import { motion } from "framer-motion"; export default function VisualKitabKalaJayantaraAudio() { const audioRef = useRef(null); useEffect(() => { if (audioRef.current) { audioRef.current.volume = 0.4; audioRef.current.play(); } }, []); return (
{/* Background scroll and smoke */} {/* Candle glow */} {/* Manuscript text */}

Kitab Kala Jayantara 🕯️

"Angin yang tidak berhembus dari arah mana pun, ialah napas yang ditahan dunia."

– Petikan dari Mantra Samparangin, Lembar ke-7 Kitab Kedua: Mantra Larangan.

{/* Audio ambient */}
); }

visual Naskah kuno berisi catatan waktu dan mantera alam semesta

Kitab Kala Jayantara — Gulungan Angin Kala

Kitab Kala Jayantara

Babak Sang Peniup Sunyi

"Angin yang tidak berhembus dari arah mana pun, ialah napas yang ditahan dunia."
— Petikan dari Mantra Samparangin, lembar ke-7 Kitab Kedua: Mantra Larangan
✦ ✦ ✦

Kata Pengantar

Wahai para pencari keheningan, dan engkau yang masih bernapas dalam pusaran waktu yang cepat. Hamba, Ki Bablasvandanu, menyerahkan lembaran sunyi ini, yang ditarik dari antara daun-daun Kitab Kala Jayantara yang tersembunyi. Naskah ini bukan sekadar cerita tentang kemenangan manusia, melainkan catatan abadi tentang harga sebuah keseimbangan yang berani dibayar.

Di dalamnya terungkap kisah Ki Samparangin, Sang Peniup Sunyi, seorang manusia yang berani menahan napas dunia demi sebuah kebenaran, dan kemudian harus melunasi Hutang Sunyi kepada Kala Jayantara. Bacalah dengan hati yang hening. Ketahuilah bahwa setiap angin yang berhenti adalah janji yang harus dibayar oleh langit.

𓋹

Daftar Isi

  • Bab I: Asal-Usul Angin Mati
  • Bab II: Wajah Peniup Sunyi
  • Bab III: Tiga Larangan dan Hutang Langit
  • Bab IV: Hikayat Hilangnya Sang Wiku
  • Bab V: Hening di Tengah Gempita
  • Bab VI: Tiga Pusaran Hampa
  • Bab VII: Perjalanan Menuju Utara Batin
  • Bab VIII: Di Ambang Hembusan Sunyi
  • Bab IX: Pertemuan di Gerbang Utara
  • Bab X: Penjaga dan Pusara
  • Bab XI: Kitab Mantra Angin dan Pusaka Hening
✧ ✧ ✧

Glosarium Istilah

Kitab Kala Jayantara: Naskah kuno berisi catatan waktu dan mantera alam semesta.

Samak Kala: Kain mistis dari serat waktu, tidak menua dan memberi kekekalan.

Gunung Samagandha: Gunung kabut abadi, tempat Ki Samparangin dilahirkan.

Pusara Angin: Pusaran abadi tempat Samparangin ditahan oleh waktu, penanda keseimbangan dunia.

Dibukukan oleh Ki Bablasvandanu — Wiku Lembah Sunyi

Visual Kitab Kala Jayantara Babak Sang Peniup Sunyi

Kitab Kala Jayantara

Kitab Kala Jayantara

Babak Sang Peniup Sunyi

"Angin yang tidak berhembus dari arah mana pun, ialah napas yang ditahan dunia."
— Petikan dari Mantra Samparangin, lembar ke-7 Kitab Kedua: Mantra Larangan
✦ ✦ ✦

Kata Pengantar

Wahai para pencari keheningan, dan engkau yang masih bernapas dalam pusaran waktu yang cepat. Hamba, Ki Bablasvandanu, menyerahkan lembaran sunyi ini, yang ditarik dari antara daun-daun Kitab Kala Jayantara yang tersembunyi. Naskah ini bukan sekadar cerita tentang kemenangan manusia, melainkan catatan abadi tentang harga sebuah keseimbangan yang berani dibayar.

Di dalamnya terungkap kisah Ki Samparangin, Sang Peniup Sunyi, seorang manusia yang berani menahan napas dunia demi sebuah kebenaran, dan kemudian harus melunasi Hutang Sunyi kepada Kala Jayantara. Bacalah dengan hati yang hening. Ketahuilah bahwa setiap angin yang berhenti adalah janji yang harus dibayar oleh langit.

𓋹

Daftar Isi

  • Bab I: Asal-Usul Angin Mati
  • Bab II: Wajah Peniup Sunyi
  • Bab III: Tiga Larangan dan Hutang Langit
  • Bab IV: Hikayat Hilangnya Sang Wiku
  • Bab V: Hening di Tengah Gempita
  • Bab VI: Tiga Pusaran Hampa
  • Bab VII: Perjalanan Menuju Utara Batin
  • Bab VIII: Di Ambang Hembusan Sunyi
  • Bab IX: Pertemuan di Gerbang Utara
  • Bab X: Penjaga dan Pusara
  • Bab XI: Kitab Mantra Angin dan Pusaka Hening
✧ ✧ ✧

Glosarium Istilah

Kitab Kala Jayantara: Naskah kuno berisi catatan waktu dan mantera alam semesta.

Samak Kala: Kain mistis dari serat waktu, tidak menua dan memberi kekekalan.

Gunung Samagandha: Gunung kabut abadi, tempat Ki Samparangin dilahirkan.

Pusara Angin: Pusaran abadi tempat Samparangin ditahan oleh waktu, penanda keseimbangan dunia.

Dibukukan oleh Ki Bablasvandanu — Wiku Lembah Sunyi

Kitab Kala Jayantara - Babak Sang Peniup Sunyi

 

Kitab Kala Jayantara - Babak Sang Peniup Sunyi

🕯️ Ki Samparangin — Penjaga Angin Kala

“Angin yang tidak berhembus dari arah mana pun, ialah napas yang ditahan dunia.”

Petikan dari Mantra Samparangin, lembar ke-7 Kitab Kedua: Mantra Larangan.

 

Kata Pengantar (Teks Ditemukan)

Ditemukan dan Disusun oleh: Ki Bablasvandanu, Wiku Lembah Sunyi

Wahai para pencari keheningan, dan engkau yang masih bernapas dalam pusaran waktu yang cepat.

Hamba, Ki Bablasvandanu, menyerahkan lembaran sunyi ini, yang ditarik dari antara daun-daun Kitab Kala Jayantara yang tersembunyi. Naskah ini bukan sekadar cerita tentang kemenangan manusia, melainkan catatan abadi tentang harga sebuah keseimbangan yang berani dibayar.

Di dalamnya terungkap kisah Ki Samparangin, Sang Peniup Sunyi, seorang manusia yang berani menahan napas dunia demi sebuah kebenaran, dan kemudian harus melunasi Hutang Sunyi kepada Kala Jayantara. Ini adalah petunjuk bagi kita bahwa alam semesta tidak mengenal gratis; setiap gerak dan diam memiliki timbangan abadi.

Bacalah dengan hati yang hening. Ketahuilah bahwa setiap angin yang berhenti adalah janji yang harus dibayar oleh langit. Dan di balik setiap detik yang berlalu, Ki Samparangin masih menanti, terperangkap dalam Pusara Angin, demi keselamatan kita semua. Semoga ketiadaan suara membimbing langkahmu.

 

Ringkasan Cerita (Sinopsis)

Kisah ini menuturkan asal-usul Ki Samparangin, seorang manusia tanpa tangis yang dibesarkan oleh Penjaga Kabut di Gunung Samagandha, yang menguasai tiga Mantra Larangan dari Kitab Kala. Untuk menghentikan keserakahan raja, Samparangin menggunakan mantera-mantera tersebut untuk mematikan udara dan membekukan pasukan. Tindakan ini menciptakan Hutang Sunyi—kekacauan waktu yang mengancam alam semesta. Untuk melunasi hutangnya, Samparangin memulai perjalanan spiritual ke Utara Batin, tempat segala angin berhenti. Di sana, ia bertemu dengan Kala Jayantara, Sang Wiku Waktu, yang menuntut bayaran berupa keabadian. Samparangin menerima takdirnya, memasuki Pusara Angin untuk menjadi penanda waktu abadi, dan meninggalkan warisannya, Kitab Mantra Angin, sebagai peringatan bagi dunia agar tidak mengganggu keseimbangan alam.

 

Daftar Isi

  • Kata Pengantar (Ditemukan oleh Ki Bablasvandanu)

  • Bab I: Asal-Usul Angin Mati (Kelahiran tanpa suara tangis di Gunung Samagandha)

  • Bab II: Wajah Peniup Sunyi (Deskripsi wujud dan gelar-gelar kuno Ki Samparangin)

  • Bab III: Tiga Larangan dan Hutang Langit (Penjelasan mantra Sampar Wening, Ngurip Arwah Angin, dan Palem Kala)

  • Bab IV: Hikayat Hilangnya Sang Wiku (Keputusan Samparangin menolak raja dan menghilang menuju Utara Batin)

  • Bab V: Hening di Tengah Gempita (Penggunaan Mantra Sampar Wening dan Ngurip Arwah Angin di medan perang)

  • Bab VI: Tiga Pusaran Hampa (Konsekuensi mantra yang menciptakan Hutang Sunyi dan kekacauan waktu)

  • Bab VII: Perjalanan Menuju Utara Batin (Perjalanan spiritual Samparangin mencari sumber waktu)

  • Bab VIII: Di Ambang Hembusan Sunyi (Kedatangan di Gerbang Utara, titik nol mutlak)

  • Bab IX: Pertemuan di Gerbang Utara (Dialog Samparangin dengan Kala Jayantara)

  • Bab X: Penjaga dan Pusara (Samparangin menerima takdir abadi dalam Pusara Angin)

  • Bab XI: Kitab Mantra Angin dan Pusaka Hening (Warisan Samparangin sebagai penanda waktu yang hilang)

     

Glosarium Istilah Kunci

Kitab Kala Jayantara

Naskah kuno dan rahasia yang dipercaya berisi semua catatan waktu dan mantera yang terkait dengan pergerakan alam semesta. Ini adalah kitab asal dari Tiga Mantra Larangan yang digunakan Ki Samparangin.

Samak Kala

Jenis kain mistis yang ditenun dari serat waktu, bukan serat alam biasa. Pakaian yang terbuat dari Samak Kala tidak akan pernah menua atau rusak, memberikan wibawa kekal kepada pemakainya.

Gunung Samagandha

Sebuah gunung fiktif di wilayah timur Panjalu yang diselimuti kabut abadi. Dikenal sebagai tempat berdiamnya para Wiku dan Penjaga Kabut.

Penjaga Kabut

Makhluk-makhluk tua yang bertugas menjaga batas antara dunia nyata (sadar) dan dunia mimpi (tidak sadar) di puncak-puncak gunung sunyi. Mereka adalah guru spiritual Ki Samparangin.

Utara Batin

Bukan arah mata angin di peta biasa, melainkan titik spiritual di mana segala bentuk pergerakan dan hembusan angin fana berhenti. Dipercaya sebagai gerbang menuju dimensi waktu itu sendiri.

Hutang Sunyi

Konsekuensi kosmik yang ditanggung Samparangin setelah menggunakan mantra larangan. Merupakan kekosongan yang ia ciptakan pada aliran waktu dan hembusan angin penyeimbang dunia.

Kala Jayantara

Sang Wiku Waktu, entitas abadi yang bertugas menjaga keseimbangan dan aliran waktu di seluruh semesta. Sosoknya bukan tua dan bukan muda, melainkan perwujudan dari titik nol, di mana masa lalu, kini, dan nanti berpadu. Pakaiannya ditenun dari benang detik, dan di tangannya selalu tersedia mangkuk batu yang berisi debu dari segala yang telah hilang.

Pusara Angin

Tempat peristirahatan abadi Ki Samparangin, yang diciptakan oleh Kala Jayantara. Bukan kuburan fisik, melainkan pusaran udara beku yang menahan Samparangin dari pergerakan waktu, menjadikannya penanda abadi.

Kitab Mantra Angin

Buku warisan Samparangin yang ditulis dari dalam Pusara Angin. Isinya bukan mantera, melainkan daftar panjang Pantangan dan Peringatan Waktu tentang bahaya mengganggu keseimbangan alam.

 

Bab I: Asal-Usul Angin Mati

Di timur wilayah Panjalu, berdiri tegak Gunung Samagandha, yang puncak-puncaknya selalu diselimuti kabut abadi. Kabut ini bukan uap air biasa; ia adalah batas tipis antara kenyataan dan ketiadaan, tempat waktu berhembus sangat lambat, hingga segala sesuatu tampak kekal.

Konon, pada masa ketika waktu masih bisa diputar, lahirlah seorang bayi tanpa suara tangis di lereng timur Samagandha. Bayi itu diberi nama Samparangin, karena pada malam kelahirannya, angin berhenti bertiup selama tiga puluh enam jam, dan semua unggas jatuh diam seperti patung, seolah dunia menahan napas untuk kehadirannya.

Fenomena kelahirannya adalah duka dan misteri: Ibunya mati tanpa luka, ayahnya hilang tanpa jejak, seolah ditarik oleh kehampaan yang baru lahir.

Didikan Para Penjaga Kabut

Samparangin dibesarkan oleh Penjaga Kabut. Mereka adalah Wiku kuno yang wujudnya samar, hidup di antara batas mimpi dan sadar (sadar-mimpi). Mereka tidak berbicara dengan lidah manusia, tetapi berkomunikasi melalui getaran hening dan kilasan memori masa depan.

Dari mereka, Samparangin menerima didikan yang tidak pernah diterima manusia:

  1. Mendengar Bahasa Angin: Belajar memahami arah angin bukan sebagai tiupan, tetapi sebagai kehendak kosmik yang membawa takdir.

  2. Membaca Arah Kematian: Mengetahui bahwa kematian adalah perpindahan, bukan akhir. Ia belajar melacak jiwa yang larut dalam hembusan udara.

  3. Menulis Embun Pagi: Mencatat rahasia alam dengan tinta dari embun pagi yang mengembun, yang hanya akan terlihat saat matahari menolak untuk bersinar.

Samparangin tumbuh menjadi anak manusia yang pertama kali bernapas dalam keheningan total, menjadikannya Wiku yang paling berbahaya, sebab ia mengenal ketiadaan sebelum ia mengenal keberadaan.

 

Bab II: Wajah Peniup Sunyi

Ki Samparangin dikenal sebagai lelaki berwajah pucat, seolah darahnya telah diserap oleh kabut pegunungan. Matanya laksana retakan kaca, dingin dan tanpa emosi. Rambutnya panjang, hitam legam, selalu bergerak meski udara di sekitarnya tenang—seperti ada angin pribadi yang hanya mengelilingi dirinya. Bila ia berjalan, dedaunan di sekitarnya berputar tanpa arah, menolak hukum gravitasi bumi.

Pakaiannya adalah jubah dari anyaman serat Samak Kala — kain yang konon tak tersentuh oleh pergerakan waktu, memberinya wibawa yang melampaui usia.

Dalam kitab para pujangga Panjalu, ia dijuluki:

  • Sang Peniup Sunyi

  • Wiku Angin Mati

  • Penjaga Timur Kala

 

Bab III: Tiga Larangan dan Hutang Langit

Ki Samparangin menguasai tiga mantra larangan dari Kitab Kala, yang ia curi bukan untuk kesenangan, melainkan untuk menegakkan keadilan yang ia yakini. Ketiga mantra ini bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga penolakan terhadap hukum alam semesta. Setiap hembusan darinya adalah perampasan hak waktu itu sendiri.

1. Mantra Sampar Wening (Angin Keheningan Total)

Kekuatan ini adalah larangan yang paling mematikan. Sampar Wening ('Angin yang Menjernihkan') bukan sekadar menghentikan gerak udara, melainkan menciptakan Ruang Hampa Batin dalam radius luas. Ketika mantra diucapkan, koneksi antara tubuh dan prana (napas kehidupan yang dibawa oleh angin) akan terputus.

  • Dampak: Memadamkan napas dan suara secara serentak. Korban tidak mati oleh kekurangan oksigen, tetapi karena ruh mereka ditahan oleh keheningan mutlak. Mereka menjadi patung dari daging yang kaku, abadi dalam detik kematiannya.

2. Mantra Ngurip Arwah Angin (Pembangkit Sunyi)

Mantra kedua ini adalah konsekuensi dari yang pertama. Ngurip Arwah Angin ('Menghidupkan Roh Angin') digunakan untuk mengikat roh-roh yang baru saja lepas karena Sampar Wening. Karena roh-roh tersebut masih terperangkap dalam udara yang mati, Ki Samparangin dapat memanggil kembali mereka.

  • Dampak: Mengikat roh dengan partikel udara mati di lembah, memaksa mereka melayani keheningan yang diciptakan Samparangin. Mereka menjadi penjaga tak terlihat (Wiku Angin Mati) yang tugasnya hanyalah memastikan tidak ada suara yang mengganggu lembah tersebut.

3. Mantra Palem Kala (Jeda Waktu)

Mantra ini adalah larangan terhadap Sang Pencatat Takdir. Palem Kala ('Menyembunyikan dari Waktu') memungkinkan pengguna untuk memasuki Dimensi Jeda, sebuah ruang semu di mana waktu tidak berjalan.

  • Dampak: Menyembunyikan seseorang dari perhitungan waktu, sehingga orang itu tidak tua, tidak muda, dan tidak dapat ditemukan oleh takdir. Namun, tindakan ini menciptakan kekosongan besar dalam catatan kosmik, dan inilah yang menghasilkan Hutang Sunyi—Samparangin melarikan diri dari takdir, menjadikannya debitur abadi kepada Alam Semesta.

Setiap kali ia memakai satu mantra, satu arah angin dunia akan mati selama seratus hari. Karena itulah, langit selalu berhutang padanya atas kekosongan yang diciptakannya.

 

Bab IV: Hikayat Hilangnya Sang Wiku

Dikisahkan, Ki Samparangin menolak menjadi pelayan para raja yang haus kuasa dan senang menumpahkan darah. Ia memilih jalan sunyi untuk menegakkan keseimbangan alam, yang ia yakini telah rusak oleh ambisi manusia.

Setelah melakukan perlawanan terakhir dengan Mantra Palem Kala, ia menghilang menuju utara, tempat angin bertemu dirinya sendiri, tempat yang disebut Utara Batin.

Pendeta-pendeta tua mengatakan:

“Bila dunia tak lagi bergerak, bila detik terasa berat dan udara tak masuk ke dada—itu tanda Ki Samparangin berjalan kembali.”

Beberapa naskah menyebut ia masih hidup, tersimpan dalam Pusara Angin, tempat di mana waktu hanya berhembus searah doa.

 

Bab V: Hening di Tengah Gempita

Kisah kepergian Samparangin bermula dari kemarahan seorang raja di wilayah timur Panjalu, yang ingin menguasai takdir dengan mengorbankan ribuan nyawa tak berdosa. Raja tersebut menggerakkan pasukan gempita yang membawa kematian di setiap langkah.

Melihat ketidakadilan ini, Ki Samparangin turun dari lereng Samagandha. Ia berdiri di tengah medan perang yang riuh. Debu terangkat, darah memercik, teriakan pedih dan raungan kemenangan menjadi irama gila di lembah. Samparangin menutup matanya, mengambil napas, dan menahan napasnya sendiri.

Saat Samparangin mengucapkan Mantra Sampar Wening—yang diucapkan tanpa suara, hanya kehendak yang mematikan—gempita tiba-tiba berhenti.

Udara, medium semua suara dan pergerakan, membeku menjadi kaca tak terlihat. Mata para prajurit yang sedang berteriak terbelalak, beku dalam momen kegilaan. Pedang berhenti di tengah ayunan, percikan darah yang baru terlepas dari tubuh beku menggantung seperti permata merah di udara. Bahkan debu yang berterbangan pun terhenti. Lembah yang sebelumnya adalah neraka suara kini menjadi galeri patung kematian yang sempurna dan sunyi. Waktu di tempat itu, untuk sesaat, menjadi nihil.

Namun, raga yang mati tidak serta serta merta menjadi tenang. Melihat ribuan roh korban yang masih bergentayangan dalam udara yang mati, terikat pada kekosongan yang ia ciptakan, Samparangin membuka matanya yang seperti retakan kaca. Ia membentangkan tangannya, mengalirkan Mantra Ngurip Arwah Angin. Ia tidak menghidupkan mereka, tetapi ia mengikat mereka.

Ia mengubah roh-roh tersebut menjadi penjaga sunyi, yang tugasnya hanyalah memastikan tidak ada suara atau pergerakan yang mengganggu lembah tempat mereka gugur. Dengan dua mantra ini, ia membalikkan kekuasaan raja dan menciptakan kedamaian yang mengerikan, namun ia telah merampas hembusan alam.

 

Bab VI: Tiga Pusaran Hampa

Setelah dua mantra larangan diucapkan, kosmos bereaksi. Tiga arah angin utama dunia—angin timur yang membawa kehidupan, angin selatan yang membawa kehangatan, dan angin barat yang membawa hujan—semuanya merasakan kekosongan. Tiga arah tersebut seolah memiliki lubang di jubahnya.

Kala Jayantara mencatat peristiwa ini sebagai Tiga Pusaran Hampa, lubang-lubang yang menyebabkan waktu di wilayah itu menjadi liar; membusukkan makanan dalam hitungan jam dan mempercepat penderitaan yang masih hidup. Ini adalah harga dari mantra Samparangin.

Mengetahui bahwa alam akan menuntut bayaran yang jauh lebih mahal dari nyawanya, Ki Samparangin mengucapkan mantra terakhir: Mantra Palem Kala. Ia menyembunyikan keberadaannya dari perhitungan takdir, melepaskan dirinya dari rantai waktu. Dengan demikian, ia menciptakan Hutang Sunyi—ia melarikan diri dari takdir, tetapi menjadi debitur abadi kepada Alam Semesta. Ia hilang, meninggalkan kekosongan udara yang melumpuhkan dunia.

 

Bab VII: Perjalanan Menuju Utara Batin

Samparangin tidak lagi bepergian dengan kaki, tetapi dengan kehendak. Ia bergerak melalui jalur-jalur yang diciptakan oleh ketiadaan angin. Setelah melepaskan diri dari waktu, ia menyadari bahwa satu-satunya entitas yang dapat menuntut hutang darinya adalah sumber waktu itu sendiri.

Ia mulai berjalan menuju Utara Batin, arah yang tidak ada di peta manusia. Perjalanannya adalah perjalanan spiritual, hanya mengandalkan suara hening yang ia ciptakan di dalam dirinya. Matanya yang laksana retakan kaca kini menjadi penunjuk arah; setiap retakan mencerminkan garis yang menghubungkan kehampaan di dalam dirinya dengan kehampaan yang menanti di utara. Ia tidak mencari kehidupan, ia mencari keseimbangan.

Selama perjalanan ini, ia melewati kerajaan-kerajaan yang telah hancur oleh waktu yang dipercepat, menguatkan keyakinannya bahwa hutangnya harus dibayar, bukan oleh kematian, tetapi oleh keabadian pengawasan.

 

Bab VIII: Di Ambang Hembusan Sunyi

Setelah menempuh perjalanan yang tak terhitung lamanya, yang mungkin hanya sedetik di dunia luar, Samparangin akhirnya tiba. Ia mencapai batas terakhir dari semesta yang dapat dicapai oleh angin fana, sebuah titik yang disebut Gerbang Utara.

Di sana, udara tidak hanya diam; udara tidak pernah ada. Suhu di tempat itu adalah nol mutlak, tempat segala konsep kecepatan dan gerakan melebur. Langit dan bumi tidak terpisah, membentuk horizon tunggal berwarna perak buram.

Ki Samparangin berdiri di atas permukaan yang terasa seperti ketiadaan. Dengan wawasannya yang telah terasah oleh keheningan, ia merasakan kehadiran yang menunggu. Bukan kehadiran fisik, melainkan pusat dari segala kepastian. Di balik kabut perak, ia merasakan tarikan napas kosmik yang sangat lambat, yang ia tahu hanya milik satu entitas: Kala Jayantara, Sang Wiku Waktu, siap untuk menagih hutang sunyi yang telah dibebankan pada dunia.

 

Bab IX: Pertemuan di Gerbang Utara

Dikisahkan dalam Lembar Sunyi, Ki Samparangin berjalan menuju utara, bukan berdasarkan arah mata angin dunia, melainkan menuju Utara Batin, tempat di mana peta manusia tidak berlaku. Ia berjalan tanpa jejak, tanpa bayangan, hingga mencapai batas terakhir dari Hembusan Sunyi.

Di tengah ketiadaan itu, duduklah sosok yang bukan tua dan bukan pula muda, berwajah seperti kabut yang menyimpan seribu musim. Inilah Kala Jayantara, Sang Wiku Waktu. Wajahnya seolah mencerminkan jutaan wajah manusia dari setiap zaman; ia adalah segala sesuatu, namun tidak ada apa-apa.

Ia tidak bergerak, namun setiap tarikan napasnya adalah perjalanan ribuan tahun. Kain yang membungkusnya terbuat dari anyaman benang detik, dan di telapak tangannya terdapat mangkuk batu yang berisi debu dari segala yang telah hilang.

Ki Samparangin berdiri diam.

“Aku tahu kedatanganmu, Samparangin,” suara Jayantara berbisik, tetapi gema suaranya seolah datang dari masa depan dan masa lalu. “Kau datang dengan membawa Hutang Sunyi.”

“Hutang ini kuambil demi menolak kuasa raja-raja yang membusuk,” jawab Samparangin, suaranya kering seperti dedaunan di musim kemarau. “Tiga mantra larangan telah kuhembuskan. Tiga arah angin telah mati seratus hari.”

Kala Jayantara tersenyum, senyumnya adalah pergerakan jarum jam yang tak terlihat. “Angin yang kau matikan adalah Napas Penyeimbang. Tanpa ia berhembus, maka waktu di lembah-lembah itu akan berputar lebih cepat, membusukkan segala yang hidup. Itulah harga dari Mantra Larangan.”

 

Bab X: Penjaga dan Pusara

Jayantara tidak meminta nyawa Ki Samparangin sebagai bayaran. Ia meminta sesuatu yang lebih berharga daripada kehidupan: Keabadian tanpa Pembeda.

“Anginmu adalah ketidakpastian. Waktuku adalah kepastian. Untuk melunasi hutang ini, kau harus menjadi penyeimbang abadi,” titah Kala Jayantara.

Ia kemudian membuka telapak tangan satunya, dan di sana tampaklah sebuah pusara kecil, terbuat dari pusaran udara yang membeku.

“Masuklah ke dalam Pusara Angin ini. Kau akan terlepas dari perhitungan waktu, namun kau akan tetap hidup sebagai penanda. Bila ada yang mencuri dari waktu, atau membengkokkan arah angin alam, Pusara ini akan bergetar dan kau akan bangkit kembali.”

Ki Samparangin mengangguk, menerima takdir yang bukan lagi miliknya. Ia tidak akan mati, tetapi ia juga tidak akan hidup. Ia akan menjadi jeda, sebuah hening di antara dua tarikan napas semesta.

Sebelum Samparangin memasuki pusara, Kala Jayantara memberinya satu titah terakhir:

“Tuliskan semua yang kau tahu. Jadikan semua mantra larangan itu Peringatan, bukan Senjata. Sebab, Kitab Kala Jayantara tidak boleh memiliki kelanjutan yang merusak.”

 

Bab XI: Kitab Mantra Angin dan Pusaka Hening

Dari dalam Pusara Angin, jari-jari Ki Samparangin yang abadi mulai menulis di atas lembaran-lembaran yang terbuat dari keheningan. Kitab ini, yang disebut Kitab Mantra Angin, bukanlah kumpulan mantera, melainkan daftar panjang dari Pantangan dan Peringatan Waktu.

Kitab ini tidak memiliki wujud fisik, melainkan terukir pada lapisan kabut di Utara Batin. Konon, isinya hanya dapat dibaca oleh mereka yang napasnya telah berhenti sesaat, mereka yang telah mencapai tahap hening sempurna.

Di dalamnya tertulis Hukum Nol:

"Bila manusia membangkitkan Angin Mati (Mantra Sampar Wening), maka yang tertinggal adalah waktu yang tak dapat diulang."

Setelah selesai menulis, Pusara Angin itu tidak diam. Ia menjadi Pusaka Hening, sebuah Penanda Waktu yang Hilang. Bila sebuah bencana besar terjadi, atau bila seorang penguasa terlalu lama menindas, sehelai debu dari mangkuk Kala Jayantara akan jatuh ke bumi—debu itu adalah pesan dari Samparangin, yang berbisik: "Aku masih menunggu waktu kembali berhembus."

 

Pantangan Waktu dari Pusara Angin

Berikut adalah petikan dari tiga belas Pantangan Waktu yang diyakini ditulis oleh Ki Samparangin, yang ditujukan kepada para Wiku yang kelak membaca naskah ini:

  1. Dilarang Menghitung Tetes Air Mata: Barang siapa menghitung kesedihan orang lain untuk diukir menjadi sejarah, ia telah mencuri waktu penyembuhan. Air mata yang dihitung akan menjadi racun yang mempercepat pembusukan batin.

  2. Dilarang Mengikat Angin Selatan: Angin Selatan membawa kehangatan dan kebaikan. Barang siapa mengikatnya demi kekuasaan, akan menemukan bahwa semua janji manisnya akan membusuk dalam tujuh hari.

  3. Dilarang Berhenti di Tengah Jembatan Kabut: Jembatan kabut adalah peralihan antara niat dan tindakan. Berhenti di tengahnya berarti menolak takdir, dan akan dibayar dengan hilangnya semua kenangan indah masa lalu.

  4. Dilarang Memanggil Nama Kala Dua Kali: Nama Kala Jayantara hanya boleh disebut sekali dalam hidup. Menyebutnya dua kali sama dengan menantang waktu, dan nyawa akan ditukar dengan ketiadaan suara.

  5. Dilarang Mengingat Angin yang Hilang: Siapa pun yang terlalu meratapi hilangnya Angin Mati (angin yang dimatikan Samparangin), maka ia akan dipaksa hidup mengulang hari yang sama, abadi dalam kebosanan.

  6. Dilarang Mengucapkan Janji di Bawah Pohon Tiga Cabang: Pohon itu adalah penanda tiga Pusaran Hampa. Janji yang diucapkan di sana akan diserap oleh kekosongan dan akan kembali sebagai kutukan di generasi ketujuh.

  7. Dilarang Menyimpan Air Mata Leluhur: Air mata leluhur adalah penyesalan yang telah berlalu. Menyimpannya berarti menunda pengampunan alam, dan waktu akan berputar mundur hanya untuk menunjukkan kesalahan yang sama.

  8. Dilarang Mengubur Harapan di Tanah Kering: Harapan adalah benih waktu. Menguburnya di tanah yang menolak kehidupan sama dengan mengundang kelaparan abadi.

  9. Dilarang Menatap Bayangan di Samak Kala: Kain mistis itu hanya untuk dipakai, bukan ditatap. Bayangan di Samak Kala adalah refleksi dari diri yang abadi tanpa tujuan, yang akan menelan kehendak yang menatapnya.

  10. Dilarang Menolak Bisikan Kabut: Kabut Gunung Samagandha adalah napas para Penjaga. Menolak bisikannya adalah menolak petunjuk kebenaran, dan ia akan tersesat dalam Utara Batin saat masih berjalan di selatan.

  11. Dilarang Menghukum Anak Tanpa Tangis: Anak tanpa tangis (seperti Ki Samparangin) adalah cermin kehampaan. Menghukumnya berarti menghukum takdirmu sendiri.

  12. Dilarang Mencari Kitab Kedua: Kitab yang kedua adalah kehampaan. Pencarian itu adalah tindakan sia-sia yang akan menguapkan jiwamu menjadi debu ringan di mangkuk Kala Jayantara.

  13. Dilarang Beristirahat di Tempat Angin Berputar: Tempat itu adalah batas Pusara Angin. Beristirahat di sana akan mengikatmu pada waktu abadi Ki Samparangin, tanpa pernah bisa bergerak maju atau mundur.

Sejak saat itu, setiap pujangga dan wiku yang mencapai tingkat tertinggi ilmu angin akan tahu, bahwa mereka tidak boleh mencari Kitab Mantra Angin, melainkan harus mendengarkan hembusan yang hilang di dalam diri mereka sendiri. Ki Samparangin, Sang Peniup Sunyi, telah menyelesaikan takdirnya sebagai pelunas hutang, terperangkap abadi di antara dua detik.

 

Belajar Pemrograman Python dari Nol

Mastering Python: Tutorial Interaktif ...