Sabtu

Menyingkap Rahasia Weton

Menyingkap Rahasia Weton & Kuis Interaktif Primbon Jawa
Khazanah Kosmologi Jawa Klasik

Menyingkap Rahasia Weton

Panduan Lengkap Kedudukan Hari dan Pasaran Menurut Kitab Primbon Betaljemur Adammakna No. 1

Dalam khazanah budaya Jawa, Primbon bukan sekadar buku ramalan, melainkan sebuah ensiklopedia kehidupan yang merekam hubungan timbal balik antara manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta. Salah satu rujukan paling legendaris dan menjadi babon (induk) ilmu titen adalah Kitab Primbon Betaljemur Adammakna. Pada bagian awal (No. 1), kitab ini memuat fondasi paling utama dalam astrologi Jawa, yaitu "Kedudukan Hari dan Pasaran".

Tabel ini bukanlah sekadar daftar nama linimasa. Ia adalah peta energi radial yang menggabungkan konsep Saptawara (siklus tujuh hari dalam sepekan) dan Pancawara (siklus lima pasaran Jawa) untuk mengunci identitas spiritual bawaan lahir seseorang, atau yang akrab kita sebut sebagai Weton. Melalui weton, leluhur Jawa merumuskan watak, kecocokan nasib, arah mata angin keberuntungan, hingga cerminan spiritualitas personal seseorang.

1

Tabel Kedudukan Hari dan Pasaran

Berikut adalah salinan teks lengkap yang disarikan langsung dari lembaran asli tabel Kitab Primbon Betaljemur Adammakna No. 1. Setiap entitas hari maupun pasaran membawa simbolisme alamiah yang sangat spesifik:

1. Diagram Circular Pasaran (Pancawara)

Kosmologi 5 Pasaran Jawa: Kiblat Papat (4 Mata Angin) & Limo Pancer (Pusat).

UTARA Wage (Hitam) SELATAN Pahing (Merah) TIMUR Legi (Putih) BARAT Pon (Kuning) PANCER Kliwon (Abu)

2. Diagram Circular Hari (Saptawara)

Siklus 7 Hari (Minggu-Sabtu) dengan Arah Orientasi & Nilai Neptu Masing-masing.

SAPTAWARA 7 Hari Harian MINGGU (5) Timur Laut SENIN (4) Barat Laut SELASA (3) Barat Daya RABU (7) Barat (Dhadhu) KAMIS (8) Tenggara JUM'AT (6) Utara SABTU (9) Selatan
Hari / Pasaran Warna Letak Kota Air Kayu Burung Huruf Pelindung
Minggu Abu-abu Timur Laut Merah Laut Beringin Hantu Kitab 10 Adam
Senin Kuning Barat Laut Mas Air masak Kunir/Kuniran - Kitab 4 Brahim
Selasa Biru Barat Daya Perak Biru amis Tangan Bubut Kitab 20 Isa
Rabu Dhadhu Barat Besi Hujan Nagasari Ulung Kitab 10 Musa
Kamis Merah Tenggara Tembaga Galuga Secang Perkutut Kitab 30 Idris
Jum'at Hitam Utara Baja Mangsi Arang Bethet Alip Muhammad
Sabtu Putih Selatan Rejasa Leri Widara Wangan Kitab 51 Sis
Kliwon Abu-abu Tengah Majupat Madu Gurdha Gogik Aksara Jawa Guru - Narada
Legi Putih Timur Perak Santan Putih Kuntul Aksara Jawa Brama
Pahing Merah Selatan Tembaga Darah Ingas Engkuk Aksara Jawa Kamajaya
Pon Kuning Barat Mas Manis (sarkara) Kemuning Podhang Aksara Jawa Wisnu
Wage Hitam Utara Besi Nila Tlasih Gagak Aksara Jawa Wisnu
2

Memaknai Simbolisme dalam Tabel Primbon

Leluhur Jawa menggunakan skema semiotika atau "bahasa perlambang" untuk memotret karakteristik energi semesta. Berikut adalah interpretasi mendalam untuk membaca matriks tabel di atas:

A. Arah Geografis & Teologi Kiblat Papat Limo Pancer

  • Timur (Legi): Kiblat terbitnya cahaya, menyimbolkan kesucian, awal kehidupan baru, dan dorongan spiritualitas yang murni.
  • Selatan (Pahing, Sabtu): Poros kehangatan dan stabilitas, melambangkan kemakmuran material, ketegasan watak, dan kematangan emosi.
  • Barat (Pon, Rabu): Sisi terbenamnya matahari, merepresentasikan kedalaman kontemplasi, pelepasan keduniawian, dan kematangan berpikir.
  • Utara (Wage, Jumat): Identik dengan ketenangan gulita malam, menyimbolkan keteguhan prinsip, rahasia ilmu, kepemimpinan, dan fokus batin.
  • Tengah (Kliwon/Pancer): Bertindak sebagai poros penyeimbang utama (Pancer) yang memegang kendali atas harmonisasi keempat arah mata angin lainnya, menjadikannya pribadi yang memiliki kharisma kuat serta intuisi yang tajam.

B. Representasi Watak Lewat Tanaman (Kayu) & Fauna (Burung)

  • Kayu Beringin (Minggu): Karakter layaknya pohon beringin yang kokoh, berurat kuat, rindang, serta menjadi tempat bernaung yang aman bagi orang-orang lemah di sekitarnya.
  • Burung Perkutut (Kamis): Lambang dari pribadi yang tenang, memiliki tutur kata yang tertata dan menyejukkan hati (bersuara merdu), serta lebih memilih harmoni dibanding konflik.
  • Burung Gagak (Wage): Memiliki ketajaman insting, daya tahan hidup yang luar biasa tinggi, setia pada kelompok, dan sangat pragmatis dalam menyelesaikan persoalan.

C. Sinkretisme Indah antara Figur Nabi & Dewa

  • Siklus Hari Harian (Saptawara): Dilindungi oleh representasi Nabi (Adam hingga Muhammad). Menjadi simbol nilai-nilai moralitas ketauhidan, ketabahan menghadapi cobaan hidup, dan tuntunan syariat batin yang luhur.
  • Siklus Pasaran (Pancawara): Dilindungi oleh arketipe kosmologi Dewa/Batara. Pahing dinaungi oleh Kamajaya (Dewa Cinta Kasih), membentuk karakter welas asih & memikat. Pon dan Wage dinaungi oleh Wisnu (Dewa Pemelihara Alam), menganugerahkan watak disiplin, adil, dan penopang sesama.

D. Kamus Istilah Unik: Warna & Elemen Air Jawa Kuno

  • Warna Dhadhu (Rabu): Istilah Jawa klasik untuk menyebut warna merah muda tua atau magenta (campuran guratan merah dan putih), melambangkan keceriaan yang romantis namun menyimpan ketegasan.
  • Air Galuga (Kamis): Galuga merujuk pada bahan pewarna merah alami (sepuhan kayu secang atau kunyit), mengisyaratkan luapan energi yang menyala dan dinamis.
  • Air Leri (Sabtu): Leri adalah air cucian beras pertama yang kental. Filosofinya melambangkan kerendahan hati, kemanfaatan bagi kesuburan, serta simbol kemakmuran pangan yang bersahaja.
3

Cara Menghitung Nilai Angka Neptu Weton

Tabel kedudukan energi ini diaplikasikan secara praktis oleh masyarakat Jawa lewat rumus matematika yang disebut dengan Neptu (bobot nilai numerik). Angka akumulasi neptu menjadi instrumen utama untuk mengalkulasi kecocokan jodoh, hari baik hajat pernikahan, mendirikan rumah, atau memulai peruntungan usaha.

Bobot Angka Hari (Saptawara)

Minggu (5), Senin (4), Selasa (3), Rabu (7), Kamis (8), Jumat (6), Sabtu (9)

Bobot Angka Pasaran (Pancawara)

Kliwon (8), Legi (5), Pahing (9), Pon (7), Wage (4)

Simulasi Perhitungan Weton Personal (Kamis Pon):

$$\text{Kamis } (8) + \text{Pon } (7) = 15$$

Angka akumulasi 15 inilah yang nantinya dipadukan dengan weton hari hajat atau weton pasangan untuk melahirkan perhitungan klasifikasi (seperti Sri, Lungguh, Dunya, Loro, Pati atau Pegat, Ratu, Jodoh, Topo, Tinari) demi meminimalisasi rintangan di masa depan.

Klasifikasi Kategori Neptu dan Penafsirannya

Dalam analisis perjodohan atau penentuan hari hajat, total gabungan neptu biasanya dibagi dengan angka pembagi tradisional (seperti 5, 7, atau 8) untuk melihat sisa perhitungannya:

1. Sri (Rezeki & Keberkahan): Melambangkan kelimpahan sandang, pangan, dan keselamatan. Pasangan atau hari yang jatuh pada kategori Sri dipercaya membawa ketenteraman serta kemudahan rezeki.
2. Lungguh (Kedudukan & Kehormatan): Menandakan derajat, pangkat, dan penghormatan di masyarakat. Kategori ini mencerminkan stabilitas sosial serta kewibawaan.
3. Dunya (Kemakmuran Material): Fokus pada kelancaran urusan keduniawian, aset, dan kesuksesan finansial. Menandakan kehidupan yang tercukupi secara sarana fisik.
4. Loro (Ujian Kesakitan/Cobaan): Mengisyaratkan adanya potensi rintangan berupa kesehatan batin/fisik. Leluhur menyarankan adanya ritual ruwatan atau penyesuaian hari baik.
5. Pati / Pegat (Perpisahan & Tantangan Berat): Mengindikasikan potensi gesekan keras atau perpisahan. Berfungsi sebagai peringatan awal agar pasangan lebih mengedepankan kompromi.
6. Ratu & Jodoh (Keharmonisan Tinggi): Menandakan pasangan yang memang ditakdirkan cocok (mancik), disegani lingkungan sekitar, dan memiliki ikatan batin yang sangat kuat.
7. Topo & Tinari (Perjuangan Berbuah Manis): Topo mengisyaratkan perlunya prihatin/kerja keras di awal pernikahan sebelum meraih kejayaan, sedangkan Tinari menandakan kemudahan dalam mencari kebahagiaan dan keberuntungan.

Kesimpulan

Kitab Primbon Betaljemur Adammakna No. 1 meletakkan dasar pemahaman kosmologi Jawa yang kaya, di mana siklus waktu berpadu harmonis dengan elemen alam dan spiritualitas. Melalui pembagian pelindung yang akurat—Legi dipayungi Brama, Pahing oleh Kamajaya, serta Pon dan Wage yang dijaga oleh Wisnu—kita melihat klasifikasi watak yang presisi sekaligus puitis. Memahami tabel ini bukan sekadar melestarikan angka neptu, melainkan membaca kembali kearifan lokal yang mengajarkan manusia untuk mengenali diri, menjaga harmoni sosial, dan menyelaraskan langkah kehidupan dengan ritme semesta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar anda disini, bisa berupa: Pertanyaan, Saran, atau masukan/tanggapan.