Sabtu

Menyingkap Rahasia Weton

Menyingkap Rahasia Weton & Kuis Interaktif Primbon Jawa
Khazanah Kosmologi Jawa Klasik

Menyingkap Rahasia Weton

Panduan Lengkap Kedudukan Hari dan Pasaran Menurut Kitab Primbon Betaljemur Adammakna No. 1

Dalam khazanah budaya Jawa, Primbon bukan sekadar buku ramalan, melainkan sebuah ensiklopedia kehidupan yang merekam hubungan timbal balik antara manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta. Salah satu rujukan paling legendaris dan menjadi babon (induk) ilmu titen adalah Kitab Primbon Betaljemur Adammakna. Pada bagian awal (No. 1), kitab ini memuat fondasi paling utama dalam astrologi Jawa, yaitu "Kedudukan Hari dan Pasaran".

Tabel ini bukanlah sekadar daftar nama linimasa. Ia adalah peta energi radial yang menggabungkan konsep Saptawara (siklus tujuh hari dalam sepekan) dan Pancawara (siklus lima pasaran Jawa) untuk mengunci identitas spiritual bawaan lahir seseorang, atau yang akrab kita sebut sebagai Weton. Melalui weton, leluhur Jawa merumuskan watak, kecocokan nasib, arah mata angin keberuntungan, hingga cerminan spiritualitas personal seseorang.

1

Tabel Kedudukan Hari dan Pasaran

Berikut adalah salinan teks lengkap yang disarikan langsung dari lembaran asli tabel Kitab Primbon Betaljemur Adammakna No. 1. Setiap entitas hari maupun pasaran membawa simbolisme alamiah yang sangat spesifik:

1. Diagram Circular Pasaran (Pancawara)

Kosmologi 5 Pasaran Jawa: Kiblat Papat (4 Mata Angin) & Limo Pancer (Pusat).

UTARA Wage (Hitam) SELATAN Pahing (Merah) TIMUR Legi (Putih) BARAT Pon (Kuning) PANCER Kliwon (Abu)

2. Diagram Circular Hari (Saptawara)

Siklus 7 Hari (Minggu-Sabtu) dengan Arah Orientasi & Nilai Neptu Masing-masing.

SAPTAWARA 7 Hari Harian MINGGU (5) Timur Laut SENIN (4) Barat Laut SELASA (3) Barat Daya RABU (7) Barat (Dhadhu) KAMIS (8) Tenggara JUM'AT (6) Utara SABTU (9) Selatan
Hari / Pasaran Warna Letak Kota Air Kayu Burung Huruf Pelindung
Minggu Abu-abu Timur Laut Merah Laut Beringin Hantu Kitab 10 Adam
Senin Kuning Barat Laut Mas Air masak Kunir/Kuniran - Kitab 4 Brahim
Selasa Biru Barat Daya Perak Biru amis Tangan Bubut Kitab 20 Isa
Rabu Dhadhu Barat Besi Hujan Nagasari Ulung Kitab 10 Musa
Kamis Merah Tenggara Tembaga Galuga Secang Perkutut Kitab 30 Idris
Jum'at Hitam Utara Baja Mangsi Arang Bethet Alip Muhammad
Sabtu Putih Selatan Rejasa Leri Widara Wangan Kitab 51 Sis
Kliwon Abu-abu Tengah Majupat Madu Gurdha Gogik Aksara Jawa Guru - Narada
Legi Putih Timur Perak Santan Putih Kuntul Aksara Jawa Brama
Pahing Merah Selatan Tembaga Darah Ingas Engkuk Aksara Jawa Kamajaya
Pon Kuning Barat Mas Manis (sarkara) Kemuning Podhang Aksara Jawa Wisnu
Wage Hitam Utara Besi Nila Tlasih Gagak Aksara Jawa Wisnu
2

Memaknai Simbolisme dalam Tabel Primbon

Leluhur Jawa menggunakan skema semiotika atau "bahasa perlambang" untuk memotret karakteristik energi semesta. Berikut adalah interpretasi mendalam untuk membaca matriks tabel di atas:

A. Arah Geografis & Teologi Kiblat Papat Limo Pancer

  • Timur (Legi): Kiblat terbitnya cahaya, menyimbolkan kesucian, awal kehidupan baru, dan dorongan spiritualitas yang murni.
  • Selatan (Pahing, Sabtu): Poros kehangatan dan stabilitas, melambangkan kemakmuran material, ketegasan watak, dan kematangan emosi.
  • Barat (Pon, Rabu): Sisi terbenamnya matahari, merepresentasikan kedalaman kontemplasi, pelepasan keduniawian, dan kematangan berpikir.
  • Utara (Wage, Jumat): Identik dengan ketenangan gulita malam, menyimbolkan keteguhan prinsip, rahasia ilmu, kepemimpinan, dan fokus batin.
  • Tengah (Kliwon/Pancer): Bertindak sebagai poros penyeimbang utama (Pancer) yang memegang kendali atas harmonisasi keempat arah mata angin lainnya, menjadikannya pribadi yang memiliki kharisma kuat serta intuisi yang tajam.

B. Representasi Watak Lewat Tanaman (Kayu) & Fauna (Burung)

  • Kayu Beringin (Minggu): Karakter layaknya pohon beringin yang kokoh, berurat kuat, rindang, serta menjadi tempat bernaung yang aman bagi orang-orang lemah di sekitarnya.
  • Burung Perkutut (Kamis): Lambang dari pribadi yang tenang, memiliki tutur kata yang tertata dan menyejukkan hati (bersuara merdu), serta lebih memilih harmoni dibanding konflik.
  • Burung Gagak (Wage): Memiliki ketajaman insting, daya tahan hidup yang luar biasa tinggi, setia pada kelompok, dan sangat pragmatis dalam menyelesaikan persoalan.

C. Sinkretisme Indah antara Figur Nabi & Dewa

  • Siklus Hari Harian (Saptawara): Dilindungi oleh representasi Nabi (Adam hingga Muhammad). Menjadi simbol nilai-nilai moralitas ketauhidan, ketabahan menghadapi cobaan hidup, dan tuntunan syariat batin yang luhur.
  • Siklus Pasaran (Pancawara): Dilindungi oleh arketipe kosmologi Dewa/Batara. Pahing dinaungi oleh Kamajaya (Dewa Cinta Kasih), membentuk karakter welas asih & memikat. Pon dan Wage dinaungi oleh Wisnu (Dewa Pemelihara Alam), menganugerahkan watak disiplin, adil, dan penopang sesama.

D. Kamus Istilah Unik: Warna & Elemen Air Jawa Kuno

  • Warna Dhadhu (Rabu): Istilah Jawa klasik untuk menyebut warna merah muda tua atau magenta (campuran guratan merah dan putih), melambangkan keceriaan yang romantis namun menyimpan ketegasan.
  • Air Galuga (Kamis): Galuga merujuk pada bahan pewarna merah alami (sepuhan kayu secang atau kunyit), mengisyaratkan luapan energi yang menyala dan dinamis.
  • Air Leri (Sabtu): Leri adalah air cucian beras pertama yang kental. Filosofinya melambangkan kerendahan hati, kemanfaatan bagi kesuburan, serta simbol kemakmuran pangan yang bersahaja.
3

Cara Menghitung Nilai Angka Neptu Weton

Tabel kedudukan energi ini diaplikasikan secara praktis oleh masyarakat Jawa lewat rumus matematika yang disebut dengan Neptu (bobot nilai numerik). Angka akumulasi neptu menjadi instrumen utama untuk mengalkulasi kecocokan jodoh, hari baik hajat pernikahan, mendirikan rumah, atau memulai peruntungan usaha.

Bobot Angka Hari (Saptawara)

Minggu (5), Senin (4), Selasa (3), Rabu (7), Kamis (8), Jumat (6), Sabtu (9)

Bobot Angka Pasaran (Pancawara)

Kliwon (8), Legi (5), Pahing (9), Pon (7), Wage (4)

Simulasi Perhitungan Weton Personal (Kamis Pon):

$$\text{Kamis } (8) + \text{Pon } (7) = 15$$

Angka akumulasi 15 inilah yang nantinya dipadukan dengan weton hari hajat atau weton pasangan untuk melahirkan perhitungan klasifikasi (seperti Sri, Lungguh, Dunya, Loro, Pati atau Pegat, Ratu, Jodoh, Topo, Tinari) demi meminimalisasi rintangan di masa depan.

Klasifikasi Kategori Neptu dan Penafsirannya

Dalam analisis perjodohan atau penentuan hari hajat, total gabungan neptu biasanya dibagi dengan angka pembagi tradisional (seperti 5, 7, atau 8) untuk melihat sisa perhitungannya:

1. Sri (Rezeki & Keberkahan): Melambangkan kelimpahan sandang, pangan, dan keselamatan. Pasangan atau hari yang jatuh pada kategori Sri dipercaya membawa ketenteraman serta kemudahan rezeki.
2. Lungguh (Kedudukan & Kehormatan): Menandakan derajat, pangkat, dan penghormatan di masyarakat. Kategori ini mencerminkan stabilitas sosial serta kewibawaan.
3. Dunya (Kemakmuran Material): Fokus pada kelancaran urusan keduniawian, aset, dan kesuksesan finansial. Menandakan kehidupan yang tercukupi secara sarana fisik.
4. Loro (Ujian Kesakitan/Cobaan): Mengisyaratkan adanya potensi rintangan berupa kesehatan batin/fisik. Leluhur menyarankan adanya ritual ruwatan atau penyesuaian hari baik.
5. Pati / Pegat (Perpisahan & Tantangan Berat): Mengindikasikan potensi gesekan keras atau perpisahan. Berfungsi sebagai peringatan awal agar pasangan lebih mengedepankan kompromi.
6. Ratu & Jodoh (Keharmonisan Tinggi): Menandakan pasangan yang memang ditakdirkan cocok (mancik), disegani lingkungan sekitar, dan memiliki ikatan batin yang sangat kuat.
7. Topo & Tinari (Perjuangan Berbuah Manis): Topo mengisyaratkan perlunya prihatin/kerja keras di awal pernikahan sebelum meraih kejayaan, sedangkan Tinari menandakan kemudahan dalam mencari kebahagiaan dan keberuntungan.

Kesimpulan

Kitab Primbon Betaljemur Adammakna No. 1 meletakkan dasar pemahaman kosmologi Jawa yang kaya, di mana siklus waktu berpadu harmonis dengan elemen alam dan spiritualitas. Melalui pembagian pelindung yang akurat—Legi dipayungi Brama, Pahing oleh Kamajaya, serta Pon dan Wage yang dijaga oleh Wisnu—kita melihat klasifikasi watak yang presisi sekaligus puitis. Memahami tabel ini bukan sekadar melestarikan angka neptu, melainkan membaca kembali kearifan lokal yang mengajarkan manusia untuk mengenali diri, menjaga harmoni sosial, dan menyelaraskan langkah kehidupan dengan ritme semesta.

Jumat

Systematika Penanggalan Jawa

Systematika Penanggalan Jawa: Eksploratorium Interaktif
ꦗ

Penanggalan Jawa Interaktif

Monumen Epistemologis 1 Sura 1555 AJ / 8 Agustus 1633 M

Eksploratorium Systematika Penanggalan Jawa

Aplikasi interaktif ini menerjemahkan sintesis historis Sultan Agung Hanyakrakusuma yang memadukan tradisi surya Hindu-Saka dengan sistem qamariyah Islam-Hijriah, diselaraskan dengan horologi Pawukon 210 hari, hermeneutika matematika Primbon, dan kearifan fenologi Pranata Mangsa.

Standar Resmi: Kurup Asapon (Alip Selasa Pon) Siklus Lapan: 35 Hari (7x5) Siklus Pawukon: 210 Hari (30 Wuku)

✦ Genealogi Sosio-Politik & Enkulturasi Kalender Sultan Agungan

Sistem penanggalan Jawa modern ditetapkan pada 1 Sura 1555 AJ (8 Agustus 1633 M) oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Reformasi ini mengalihkan perhitungan dari peredaran matahari (*suryamāna*) ke peredaran bulan (*qamariyah*), namun **tetap mempertahankan angka tahun Saka (1555)** ketimbang beralih ke angka Hijriah. Langkah strategis ini menyatukan masyarakat pesisir Muslim dengan wilayah pedalaman Kejawen tanpa memicu gejolak sosial. Karena tahun bulan (354,36 hari) lebih pendek ~11 hari dibanding tahun surya, sistem rekalibrasi bertingkat dikembangkan melalui Windu (8 tahun) dan Kurup (120 tahun).

Kurup Operasional
Asapon
1867–1986 AJ / 1936–2052 M
Daur Windu (8 Thn)
3 Taun Wuntu
Kabisat: Ehe, Dal, Jimakir (355d)
Nilai Neptu Weton
7 s/d 18
Min: Selasa Wage | Max: Sabtu Pahing
Pranata Mangsa
12 Mangsa
Pakubuwana VII (22 Juni 1856)

✦ Kalkulator Interaktif Weton, Neptu & Petung Perjodohan

Gunakan kalkulator di bawah ini untuk menguji kalkulasi aritmetika modulo ($mod\,N$) dalam ajaran Primbon Betaljemur Adammakna. Pilih kombinasi Saptawara (Hari) dan Pancawara (Pasaran) untuk pasangan individu. Sistem akan secara otomatis menghitung akumulasi Neptu gabungan, mengevaluasi 4 metode pembagian (mod 4, mod 5, mod 7, mod 8), serta memberikan rekomendasi filosofis dan penawar bala (*pangeling/penolak bala*).

Input Kombinasi Weton

Formula: $N_w = N_d + N_p$
1 Individu Pertama (Pria / Pihak I)
2 Individu Kedua (Wanita / Pihak II)
Pihak I
Rabu Kliwon
Neptu: 15 (7 + 8)
Lakune Srengenge: Pengayom, tegas, berwibawa tinggi, terang bagi sekitarnya.
Pihak II
Jumat Pahing
Neptu: 15 (6 + 9)
Lakune Srengenge: Pengayom, tegas, berwibawa tinggi, terang bagi sekitarnya.

Hasil Petung Perjodohan (Primbon Betaljemur)

Neptu Gabungan ($N_1 + N_2$): 30

Sangat Cocok
Pembagian 8 (Betaljemur)
Jodoh

Sangat cocok, saling menerima kekurangan, rukun hingga usia tua.

Pembagian 5 (Pancasuda)
Pati

Memerlukan keteguhan spiritual & ikhtiar penolak bala.

Pembagian 7
Bumi Kepetak

Bekerja keras, tahan menderita, butuh perjuangan membangun ekonomi.

Pembagian 4
Gembili

Dikaruniai banyak keturunan dan rezeki anak melimpah.

Mekanisme Penawar & Pangeling: Perhitungan matematis ini bukanlah dogmatisme fatalistik, melainkan kerangka ilmu titen agar pasangan senantiasa eling lan waspada. Jika hasil tergolong rentan (seperti Pegat atau Padu), Primbon menyediakan mekanisme penawaran (penolak bala) melalui pemilihan hari pernikahan berneptu tinggi atau pelaksanaan doa syukuran.

Distribusi Frekuensi Neptu Weton (35 Kombinasi Lapan)

Grafik distribusi di bawah menggambarkan rentang Neptu dari nilai terendah (7 - Selasa Wage) hingga nilai tertinggi (18 - Sabtu Pahing) dalam satu Lapan (35 hari).

✦ Sistem Pawukon: Horologi 210 Hari & Semiotika Simbolis

Sistem Pawukon berlangsung selama 210 hari yang terbagi menjadi 30 Wuku (masing-masing 7 hari). Berakar dari mitologi Prabu Watugunung dan 29 putranya, Pawukon tidak terikat pada gerak bulan maupun matahari. Setiap wuku dinaungi oleh Batara (dewa pelindung), flora (pohon), fauna (burung), serta watak kepribadian. Klik kartu Wuku untuk mengeksplorasi atribut simbolis lengkapnya.

✦ Pranata Mangsa: Kalender Agraris Ekologis Berbasis Surya

Dikodifikasikan secara resmi oleh Sunan Pakubuwana VII di Surakarta pada 22 Juni 1856 M, Pranata Mangsa membagi satu tahun surya (365/366 hari) menjadi 12 mangsa dengan durasi bervariasi (23–43 hari). Penanggalan ini memandu aktivitas pertanian berbasis fenologi alam, perilaku fauna, dan pergerakan rasi bintang Waluku (Orion).

Proporsi 4 Musim Utama (365 Hari)

Visualisasi siklus Terang (Kemarau), Semplah (Paceklik), Udan (Hujan), dan Pangarep-arep (Harapan/Panen).

Katalog 12 Mangsa & Bio-Sinyal Alami

12 Mangsa Surya

✦ Arsitektur Multidimensional & Matriks Rekalibrasi (Kurup)

Waktu Jawa beroperasi melalui tumpang-tindih beberapa siklus (*interlocking cycle system*). Untuk menyelaraskan peredaran bulan yang lebih pendek 11 hari per tahun dibanding matahari, diterapkan rekalibrasi bertingkat via **Windu** (8 tahun) dan **Kurup** (120 tahun / 15 windu). Pada akhir siklus 32 tahun Masehi/Jawa, posisi hari dan pasaran akan kembali pada titik simetris yang sama persis, fenomena ini disebut **tumbuk**.

Saptawara (7 Hari)

Siklus aksial benda langit harian:

  • • Radite/Ahad (5) • Senen (4)
  • • Selasa (3) • Rebo (7)
  • • Kemis (8) • Jumat (6) • Setu (9)

Pancawara / Pasaran (5 Hari)

Siklus sikap (*patrap*) bulan:

  • • Legi (5) – Mungkur
  • • Pahing (9) – Madep
  • • Pon (7) – Sare • Wage (4) – Lenggah
  • • Kliwon (8) – Jumeneng

Sadwara / Paringkelan (6 Hari)

Domain perlindungan naas (*ringkel*):

  • • Tungle (Daun) • Aryang (Manusia)
  • • Warungkung (Hewan) • Paningron (Ikan)
  • • Uwas (Burung) • Mawulu (Benih)
Matriks Rekalibrasi Siklus Kurup 120-Tahunan (15 Windu) Tabel 1.1 Document Reference
Nama Kurup Pola Awal (1 Sura Tahun Alip) Periode Berlaku Status Operasional & Dampak
Kurup Aboge Rabu Wage (Rebo Wage) 1749–1866 AJ / ~1817–1936 M Kedaluwarsa (Komunitas Adat)
Kurup Asapon ⭐ Selasa Pon 1867–1986 AJ / 1936–2052 M STANDAR BAKU KERATON & PUBLIK
Kurup Anenhing Senin Kliwon Proyeksi Lanjutan Masa Depan
Kurup Abah Minggu Legi Proyeksi Lanjutan Masa Depan

12 Sasi (Bulan) Jawa, Padanan Hijriah & Orientasi Ritual

1. Sura (30 Hari)
Muharram
Bulan tirakat, pembersihan pusaka & penyucian jiwa.
2. Sapar (29 Hari)
Safar
Kewaspadaan diri & penataan harmoni spiritual.
3. Mulud (30 Hari)
Rabiul Awal
Peringatan kelahiran Nabi SAW & Garebeg Mulud.
4. Bakda Mulud (29 Hari)
Rabiul Akhir
Konsolidasi nilai agama & tatanan kemasyarakatan.
5. Jumadilawal (30 Hari)
Jumadil Awal
Evaluasi tatanan kerja pertengahan semester pertama.
6. Jumadilakir (29 Hari)
Jumadil Akhir
Refleksi pertengahan tahun sebelum bulan tirakat.
7. Rejeb (30 Hari)
Rajab
Pembersihan ruhani & persiapan kalbu.
8. Ruwah (29 Hari)
Sya'ban
Penghormatan leluhur via Nyadran & ziarah.
9. Pasa (30 Hari)
Ramadhan
Penyucian total melalui puasa & pengendalian nafsu.
10. Sawal (29 Hari)
Syawal
Kemenangan spiritual & Garebeg Sawal.
11. Sela (30 Hari)
Dulkangidah
Masa tenang & jeda persiapan penutup tahun.
12. Besar (29/30 Hari)
Dzulhijjah
Puncak ritual Garebeg Besar & penutupan siklus.

Systematika Penanggalan Jawa: Integrasi Kosmologi & Ekologi

Disusun dari khazanah Kitab Primbon Betaljemur Adammakna, Kalender Sultan Agungan & Pranata Mangsa

© 1633–2026 Pelestarian Kebudayaan Nusantara. All rights reserved.

Senin

Doa Penutup Tahlil & Yasin serta Doa Khatam Al-Qur’an: Teks, Transliterasi, dan Artinya

Dalam banyak majelis tahlil dan Yasin, rangkaian doa biasanya ditutup dengan permohonan ampunan, syafaat, serta keselamatan dari musibah. Setelah itu, apabila majelis dilanjutkan dengan khatam Al-Qur’an, terdapat pula doa khusus yang dibaca sebagai penyempurna amalan. Berikut teks Arab, transliterasi, dan artinya yang telah disusun ulang serta diperiksa harakat dan transliterasinya.


1. Potongan Doa Penutup Tahlil & Yasin

Doa ini biasanya dibaca setelah doa arwah utama sebagai permohonan syafaat Al-Fatihah dan keselamatan dari musibah.

a. Teks Arab

وَاعْفُ عَنَّا يَا كَرِيمُ، وَاعْفُ عَنَّا يَا رَحِيمُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. اللَّهُمَّ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ، وَسِرِّ الْفَاتِحَةِ، يَا فَارِجَ الْهَمِّ، وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ، يَا مَنْ لِعِبَادِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ، يَا دَافِعَ الْبَلَاءِ يَا اللهُ، وَيَا دَافِعَ الْبَلَاءِ يَا رَحْمَانُ، وَيَا دَافِعَ الْبَلَاءِ يَا رَحِيمُ.

b. Transliterasi

Wa’fu ‘annaa yaa Kariimu, wa’fu ‘annaa yaa Rahiimu, bi rahmatika yaa Arhamar raahimiin. Allahumma bi haqqil Faatihah, wa sirril Faatihah, yaa faarijal hammi, wa yaa kaasyifal ghammi, yaa man li ‘ibaadihi yaghfiru wa yarham, yaa daafi’al balaa-i yaa Allah, wa yaa daafi’al balaa-i yaa Rahmaan, wa yaa daafi’al balaa-i yaa Rahiim.

c. Artinya

“Maafkanlah kami, wahai Zat Yang Maha Pemurah; maafkanlah kami, wahai Zat Yang Maha Penyayang; dengan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Paling Pengasih. Ya Allah, dengan hak kebenaran Al-Fatihah dan rahasia Al-Fatihah, wahai Zat Yang Melapangkan kesedihan, wahai Zat Yang Menghilangkan kesusahan, wahai Zat Yang Mengampuni dan Menyayangi hamba-hamba-Nya. Wahai Zat Yang Menolak bala, ya Allah; wahai Zat Yang Menolak bala, ya Rahman; wahai Zat Yang Menolak bala, ya Rahim.”


2. Bagian Akhir Doa Khatam Al-Qur’an

Doa ini dibaca di sela-sela permohonan agar Allah menerima amalan ibadah serta memberikan petunjuk hidup melalui Al-Qur’an.

a. Teks Arab

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا يَا مَوْلَانَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ. وَاهْدِنَا وَوَفِّقْنَا إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ بِبَرَكَةِ خَتْمِ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ. وَبِحُرْمَةِ حَبِيبِكَ وَرَسُولِكَ الْكَرِيمِ. وَاعْفُ عَنَّا يَا كَرِيمُ وَاعْفُ عَنَّا يَا رَحِيمُ. وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا بِفَضْلِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

b. Transliterasi

Rabbanaa taqabbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim. Wa tub ‘alainaa yaa maulaanaa innaka antat Tawwaabur Rahiim. Wahdinaa wa waffiqnaa ilal haqqi wa ilaa thariiqin mustaqiimin, bi barakati khatmil Qur-aanil ‘azhiim. Wa bi hurmati habiibika wa rasuulikal Kariim. Wa’fu ‘annaa yaa Kariimu wa’fu ‘annaa yaa Rahiimu. Waghfir lanaa dzunuubanaa bi fadhlika wa karamika yaa Arhamar raahimiin.

c. Artinya

“Ya Tuhan kami, terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami, wahai Tuan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Berilah petunjuk dan taufik kepada kami menuju jalan yang haq dan jalan yang lurus dengan perantara berkah khatam Al-Qur’an yang agung, juga dengan perantara kemuliaan kekasih dan utusan-Mu yang terhormat. Maafkan kami, wahai Yang Maha Pemurah; maafkan kami, wahai Yang Maha Penyayang. Dan ampunilah dosa-dosa kami dengan karunia dan kemurahan-Mu, wahai Zat Yang Paling Pengasih.”


Catatan Transliterasi dan Harakat

Beberapa penyesuaian yang dilakukan dalam penulisan ulang ini antara lain:

  1. وَاعْفُ ditulis wa’fu, bukan wa’fu tanpa alif.

  2. الْغَمِّ ditransliterasikan ghammi, bukan ghommi.

  3. رَحْمَانُ ditulis Rahmaan untuk menandai bacaan panjang.

  4. الْفَاتِحَةِ ditulis Faatihah.

  5. Hamzah qat’ pada إِنَّكَ، أَنْتَ، إِلَى، أَرْحَمَ ditulis sesuai kaidah.

  6. طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ ditransliterasikan thariiqin mustaqiimin karena tanwin kasrah.

  7. التَّوَّابُ ditulis Tawwaabur dengan alif panjang.

  8. الْقُرْآنِ ditulis Qur-aan agar mendekati bacaan panjang.

  9. ذُنُوبَنَا dapat ditulis dzunuubanaa; dalam ejaan lain bisa juga dhunuubanaa atau zunuubanaa.


Penutup

Demikian susunan lengkap doa penutup tahlil & Yasin serta bagian akhir doa khatam Al-Qur’an. Teks di atas dapat digunakan sebagai panduan bacaan bersama, baik dalam majelis tahlil, Yasin, maupun khataman. Semoga menjadi amal yang diterima dan mendatangkan keberkahan.